ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 255


__ADS_3

Siang ini Alan dan dokter Rania sudah janjian untuk makan siang bersama. Hal itu membuat Alan merasa harus tampil sempurna saat bertemu dengan dokter cantik itu nanti. Veby yang melihat Alan beberapa kali berkaca lewat kamera depan ponselnya mengeryit. Tidak biasanya Alan begitu centil menurutnya.


Karena penasaran, Veby pun bangkit dari duduknya kemudian mendekat pada Alan. Sejak menceritakan masalahnya siang itu Alan memang terlihat kembali semangat dan sumringah seperti biasanya. Alan juga mengucapkan terimakasih padanya yang Veby sendiri tidak tau kata terimakasih tersebut untuk apa.


“Ekhem, yang lagi lagi memastikan kegantengan.” Sindir Veby di sertai dekheman pelan.


Alan langsung menoleh kemudian tertawa sendiri. Entah kenapa Alan juga tidak tau. Tapi Alan benar benar tidak ingin terlihat berantakan saat bertemu dengan dokter Rania beberapa menit lagi.


“Bisa aja kamu Veb..”


Veby tersenyum geli.


“Pasti kakak mau ketemu sama dokter cantik itu kan?” Tanya Veby memancing.


“Dokter Rania maksud kamu?” Tanya balik Alan dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


“Ciee.. Yang langsung mengakui. Emang beneran kak Alan mau ketemu sama dia? Em maksud aku dokter Rania.”


Alan tersenyum.


“Ya.. Kita ada janji mau makan siang bersama siang ini.” Jawab Alan.


“Iya deh.. Iya yang harus tampil perfect didepan dokter Rania. Yang pengin-nya selalu ganteng.”


Alan hanya tertawa saja. Saat itu juga waktu istirahat tiba. Alan yang tidak ingin terlambat menjemput dokter Rania langsung bergegas membereskan meja kerjanya yang tampak sedikit berantakan itu.


“Ya sudah Veb, aku duluan yah.” Ujar Alan sembari bangkit dari duduknya.


“Aku ikut boleh?” Iseng Veby bertanya.


“Hah?!” Alan terkejut mendengar pertanyaan Veby. Mana mungkin dirinya bertemu dengan dokter Rania tapi mengajak Veby.


“Hahaha... Bercanda kali kak. Serius amat. Lagian aku aku juga nggak mau kali jadi obat nyamuk buat kalian. Ya udah deh sukses ya kak.. Jangan kelamaan di pendam kak. Segera ungkapkan kalau memang cinta.” Ujar Veby tertawa dengan godaan di akhir kalimatnya.


“Kamu ini.. Ya sudah, duluan ya.. Jangan lupa kamu juga..”

__ADS_1


“Aku mah nggak usah di ingetin buat makan siang pasti tau kak. Aku itu sayang sama kesehatan.” Sela Veby yang membuat kedua mata Alan sedikit menyipit.


“Bukan itu maksud aku. Kalau masalah makan semua teman teman disini juga tau kamu itu hobinya makan. Maksud aku kamu juga jangan kelamaan ngejomblo, keburu tua loh.”


Kedua mata Veby membulat mendengarnya. Veby tidak menyangka Alan akan mengatakan hal seperti itu padanya.


Sementara Alan, dia sudah lebih dulu lari dari hadapan Veby sebelum terkena amukan dari wanita itu.


“Ck, nyebelin banget kamu kak.” Kesal Veby mengerucutkan bibirnya.


Alan tertawa begitu sampai disamping motornya. Veby memang adalah salah satu teman sekantor yang dekat dan perduli padanya. Meski dulu memang mereka tidak sedekat sekarang.


Alan menghela napas kemudian segera mengenakan helmnya. Pria itu menaiki motornya dan berlalu dengan kecepatan diatas rata rata dari parkiran depan gedung perusahaan tempatnya bekerja agar tidak membuat dokter Rania menunggunya terlalu lama.


-------------


“Ran, makan yuk?”


Dokter Rania baru saja keluar dari ruangan-nya saat tiba tiba seorang teman sesama dokter menghampiri dan mengajaknya untuk makan siang bersama.


“Duh gimana ya? Sorry banget ya Nes, aku sudah ada janji sama temen. Lain kali aja ya..” Jawab dokter Rania sedikit salah tingkah.


“Temen apa temen?” Goda dokter Agnes.


Dokter Rania hanya bisa tertawa tidak tau harus menjawab apa. Dari sekian banyak teman pria, dokter Rania memang merasa sedikit berbeda dengan Alan. Dokter cantik itu merasa ada sesuatu yang spesial dari hubungan pertemanan-nya dengan Alan. Namun dokter Rania juga tidak bisa memastikan sendiri perasaan apa itu.


“Temen Nes.. Udah ah aku duluan.”


Tidak mau terus di goda oleh teman se profesinya, dokter Rania pun bergegas meninggalkan dokter dengan rambut pendek sebahu itu.


Dokter Agnes yang melihat tingkah malu malu dokter Rania hanya bisa tertawa merasa geli. Dokter cantik dengan lesung pipik itu kemudian menghela napas. Dalam hatinya dokter Agnes berharap kali ini dokter Rania benar benar menemukan orang yang bisa membuatnya nyaman.


Sementara itu motor Alan sampai tepat didepan rumah sakit tempat dokter Rania bekerja begitu dokter Rania keluar.


Wanita yang sudah tidak lagi mengenakan jas putih kebanggaan-nya itu tersenyum menatap Alan yang turun dari motornya.

__ADS_1


“Alan..” Gumamnya dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


Dokter Rania kemudian segera mendekat pada Alan yang langsung tersenyum lebar begitu mendapati sosok cantik wanita dengan dress selutut warna salem itu.


“Udah siap?” Tanya Alan pada dokter Rania yang sudah sampai tepat didepan-nya.


“He'em..” Jawab dokter Rania menganggukkan kepalanya.


Alan kemudian mengambil helm yang dia cantolkan dibagian depan motornya. Pria itu lalu membantu dokter Rania mengenakan helm itu.


“Pakai helm dokter, biar rambutnya nggak berantakan karena tiupan angin.” Ujar Alan sambil memakaikan helm miliknya pada dokter Rania.


Dokter Rania terdiam menatap wajah Alan yang begitu dekat dengan-nya. Dokter Rania baru menyadari wajah Alan yang begitu tampan jika di tatap dari jarak dekat.


Sesaat keduanya saling menatap dengan rasa terpesona yang sama sama mereka rasakan. Namun kemudian Alan tersadar dan segera menyudahi memegangi gesper helm yang memang sudah selesai dia kunci.


“Emm.. Maaf dokter.” Alan merasa gugup sendiri.


Dokter Rania tersenyum malu malu. Wanita itu menundukan kepala dan menggigit bibir bawahnya merasa sangat gugup karena perlakuan manis Alan padanya.


“Iya, nggak papa. Makasih ya udah bantu aku make helmnya.” Ujar dokter Rania pelan.


Alan benar benar tidak tau harus bagaimana sekarang. Rasanya ada sesuatu yang ingin meloncat keluar dari dalam dadanya.


“Ya ya udah kita pergi sekarang ya dokter. Takutnya jam istirahatnya keburu habis.” Kata Alan kemudian.


Dokter Rania hanya menganggukkan kepalanya menjawab. Dokter cantik itu masih merasa gugup.


Alan kemudian naik kembali ke atas motornya yang kemudian di susul oleh dokter Rania yang naik ke boncengan-nya.


“Sudah?” Tanya Alan memastikan.


“Hem ya..” Jawab dokter Rania langsung melingkarkan kedua tangan-nya di perut Alan.


Sesaat Alan diam namun kemudian tersenyum dan perlahan melajukan motornya untuk mencari tempat makan yang sebelumnya memang sudah di tentukan oleh dokter Rania saat mereka saling membalas pesan sebelum waktu istirahat kerja tiba.

__ADS_1


__ADS_2