ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 78


__ADS_3

Setelah mengetahui semua itu dari ibunya sendiri, Alan terus terdiam melamun dibalkon kamarnya. Pria yang sampai sekarang belum bisa menggerakkan kedua kakinya itu bahkan juga terus meneteskan air matanya menangis dalam diam. Alan bahkan sampai menolak makan dan minum obat serta mengabaikan dokter Rania.


Senyuman Hana terus saja membayanginya. Keceriaan Hana dan kelembutan Hana terasa begitu nyata namun pada kenyataan-nya itu hanya sebuah ilusi semata. Itu semua membuat Alan benar benar merasa hancur. Alan bahkan mulai putus asa dan berpikir tidak ada gunanya lagi untuk melanjutkan hidupnya. Wanita yang sangat dia cintai sudah menjadi milik pria lain. Pria yang tidak mungkin bisa Alan lawan untuk kembali mendapatkan Hana.


“Kenapa Hana? Kenapa tidak kamu biarkan saja aku mati jika memang pada akhirnya akan seperti ini?” Lirih Alan dengan suara bergetar dan purau.


“Kak...”


Alan menggerakkan bola matanya. Itu suara Amira. Gadis itu memang selalu datang menjelang malam dengan teman sekolahnya yang bernama Tristan.


“Kenapa Amira? Kenapa kamu nggak mencegah Hana melakukan itu?”


Amira yang hendak mendekat pada Alan langsung terdiam. Senyuman dibibirnya langsung sirna mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Alan, kakaknya.


“Maksud kakak apa?” Tanya Amira pura pura tidak mengerti.


Alan tersenyum sinis mendengar Amira yang bertanya lirih seperti pura pura tidak tau dengan semuanya.


“Nggak usah pura pura tidak tau Amira. Kakak sudah tau semuanya. Ibu sudah cerita sama kakak semuanya.” Ujar Alan masih dengan posisi memunggungi Amira yang baru masuk kedalam kamarnya.


Amira menelan ludah. Padahal sebelumnya Amira dan ibunya kompak akan merahasiakan itu dari Alan. Bukan ingin membohongi, mereka berdua hanya tidak ingin membuat Alan sakit dengan segala kenyataan yang ada.


“Seharusnya kamu jujur pada Hana saat itu Amira. Seharusnya kamu katakan saja bagaimana perasaan kakak yang sebenarnya pada Hana. Dengan begitu Hana pasti tidak akan menikah dengan Stefan Devandra. Meskipun mungkin kakak akan mati saat itu juga tapi setidaknya kakak tidak merasakan sakit ini Amira.”


Amira menundukkan kepalanya. Saat itu Amira juga berpikir untuk memberitahu Hana tentang perasaan Alan. Tapi Amira sudah terlanjur berjanji pada Alan akan merahasiakan itu dari Hana. Dan karena janji itu Amira tidak berani memberitahu Hana bahkan saat Alan sedang sekarat.


“Maaf kak.. Aku tidak tau dari awal tentang pernikahan itu. Aku baru tau setelah sehari kak Hana menikah dengan Stefan Devandra. Aku juga awalnya tidak percaya kak.. Tapi...”


“Cukup. Sudah nggak ada gunanya lagi banyak beralasan Amira. Hana sudah menjadi istri Stefan Devandra. Kakak sudah kalah bahkan sebelum memulai semuanya.” Sela Alan dengan suara lirihnya.

__ADS_1


Amira menangis mendengarnya. Jika saat itu dirinya memberitahu Hana mungkin Hana tidak menikah dengan Stefan. Mungkin mereka akan mencari jalan keluar lain untuk mencari biaya operasi Alan. Dan Hana, mungkin sekarang dia akan berada disamping Alan untuk selamanya.


“Kak aku...”


“Amira, lebih baik sekarang kamu pulang. Biarkan kakak sendiri untuk sementara waktu.” Sela Alan pelan.


Alan memejamkan kedua matanya. Alan bukan marah pada adiknya ataupun ibunya. Alan hanya merasa tidak bisa menerima kenyataan bahwa wanita yang sangat di cintainya sudah menjadi milik pria lain.


Amira menangis terisak karena Alan mengusirnya secara tidak langsung. Namun Amira juga bisa memaklumi jika kakaknya marah. Siapapun pasti tidak akan bisa menerima kenyataan pahit dalam hidupnya.


Amira menuruti kemauan Alan. Gadis itu keluar dari kamar Alan dengan mengusap air mata yang mengucur deras dari kedua matanya.


Hal itu membuat Tristan yang sedang mengobrol dengan dokter Rania di ruang tamu mengeryit melihat Amira yang keluar dari rumah itu sambil menangis.


“Ada apa dengan Amira Tristan?” Tanya dokter Rania kebingungan.


“Saya juga tidak tau dokter. Kalau begitu biar saja kejar Amira dulu.”


Tristan segera beranjak dari tempat duduknya kemudian berlari keluar mengejar Amira. Tristan terlihat sangat khawatir karena Amira yang tiba tiba menangis setelah menemui kakaknya.


“Amira tunggu.”


Tristan meraih lengan Amira menahan dan menghentikan langkah Amira yang saat itu sudah sampai didepan gerbang.


Begitu langkahnya berhasil di hentikan oleh Tristan, tangis Amira semakin menjadi jadi. Amira merasa sangat bersalah pada kakaknya karena tidak bisa mencegah pernikahan Stefan dan Hana. Amira merasa bersalah karena kakaknya tidak bisa bersama dengan wanita yang sangat di cintainya. Walaupun pada kenyataan-nya itu bukan salah Amira, namun Amira tetap merasa bersalah karena tidak mengatakan pada Hana bahwa kakaknya Alan sangat mencintainya malam itu.


“Ada apa? Kenapa kamu nangis Amira?” Tanya Tristan menatap tidak tega pada Amira yang berlinang air mata.


Amira menggelengkan kepalanya. Sulit baginya untuk menjelaskan semuanya pada Tristan.

__ADS_1


Tristan menghela napas melihat Amira yang menggeleng dan terus saja menangis. Tidak ingin memaksa, Tristan pun akhirnya menyuruh Amira untuk menunggunya mengambil motor besarnya. Namun sebelum itu Tristan menyempatkan diri untuk pamit pada dokter Rania.


Tristan mengajak Amira berlalu dari kediaman dokter Rania. Tristan juga tidak menanyakan apapun lagi pada Amira yang memang tidak mau menceritakan apapun padanya. Tristan tidak memaksa Amira karena tidak ingin Amira menjauh darinya.


Sementara Amira, dia terus menangis di boncengan Tristan. Amira tidak menyangka jika ibunya akan membuka semua kebenaran itu sekarang. Padahal Amira pikir mereka akan terus menutupi semua itu sampai akhirnya Hana datang menemui Alan dan Hana menjelaskan sendiri alasan-nya menikah dengan Stefan.


Tristan menghentikan motornya ketika sampai dihalaman rumah sederhana keluarga Alan. Tristan menghela napas pelan saat Amira turun dari boncengan-nya.


Amira sudah tidak lagi menangis meskipun dari kedua kelopak matanya masih tersisa genangan air mata.


“Makasih ya Tristan.” Ujar Amira.


Tristan melepaskan helm full face yang di kenakan-nya kemudian tersenyum tipis. Tristan kemudian meraih tangan Amira dan menggenggamnya lembut seperti sedang meyakinkan Amira bahwa Tristan akan selalu ada untuk Amira.


“Pokonya kamu nggak perlu khawatir Amira. Karena kapanpun kamu butuh aku akan selalu ada buat kamu.” Katanya menatap Amira serius.


Amira tersenyum mendengarnya. Tristan memang sangat baik padanya. Tristan selalu ada bahkan hampir setiap hari menemani Amira kerumah dokter Rania untuk menjenguk Alan.


Deringan ponsel dalam saku celana jins yang dikenakan Tristan membuat Tristan segera melepaskan genggaman tangan-nya pada Amira. Tristan merogoh saku celana jins yang dikenakan-nya meraih benda pipih miliknya kemudian mengangkat telepon tersebut.


Amira hanya diam saja disamping motor gede Tristan menunggu Tristan yang sedang menerima telepon.


“Ya kak.. Aku pulang sekarang.”


Amira menghela napas. Amira bisa menebak siapa yang menelepon Tristan. Siapa lagi kalau bukan kakaknya Tristan.


“Eemm.. Ya udah Amira, aku pulang dulu ya.. Besok aku jemput kamu didepan seperti biasa.”


Amira hanya menganggukan kepala dengan senyuman dibibirnya. Gadis itu menatap Tristan yang kembali mengenakan helmnya, kemudian melajukan motor gedenya berlalu dari kediaman sederhananya.

__ADS_1


Amira menghela napas. Air matanya kembali menetes mengingat sikap Alan tadi padanya.


__ADS_2