
Williana mengepalkan kedua tangan-nya saat menyaksikan berita tentang kedekatan-nya dengan Rico yang sangat sangat salah itu. Wanita itu sekarang paham kenapa malam itu Rico tiba tiba bersikap begitu lembut padanya. Tentu saja karena Rico takut namanya tercemar di berita tersebut. Dan cara lembut itu adalah cara Rico untuk menutupi kesalahan-nya yang diam diam terus menguntitnya.
“Brengsek !!” Marah Williana memukul meja.
Tidak terima dengan apa yang Rico lakukan, Williana pun bergegas untuk menemui Rico. Williana tidak perduli dengan apapun yang akan terjadi nanti. Yang terpenting sekarang adalah dirinya harus memberi pelajaran pada tangan kanan Stefan itu agar tidak melakukan segala sesuatu semaunya sendiri demi kepentingan-nya.
Williana keluar dari ruangan-nya dengan langkah lebar. Wajah cantiknya tampak sedang berusaha menahan kekesalan-nya. Hal itu membuat para karyawan yang melihatnya langsung berbisik bisik. Tentu saja karena sejak kemarin mereka juga sudah mendengar dan melihat video saat Rico bersikap begitu lembut pada Rico.
“Nona Williana benar benar keren. Tidak mendapat tuan Stefan, tuan Rico pun jadi. Apa lagi tuan Rico juga sangat tampan.” Ujar seorang karyawan yang sayup sayup bisa di dengar oleh Williana.
Tangan Williana semakin mengepal erat. Rico berhasil membuat amarahnya benar benar memuncak kali ini. Pria itu membuat rumor tidak benar tentang Williana berhembus begitu hangat sejak kemarin.
“Awas kamu Rico.” Gumam Williana penuh amarah sambil memasuki lift.
Namun begitu sampai di lantai dasar gedung perusahaan, Williana tercengang melihat banyaknya pemburu berita yang sedang di tahan agar tidak masuk oleh satpam. Williana menelan ludah. Williana tidak menduga sama sekali hal itu akan terjadi. Tidak ingin di serang berbagai pertanyaan yang bisa saja menjebaknya, Williana pun mengurungkan niatnya untuk keluar dari perusahaan-nya siang itu. Williana merasa lebih baik menghindar dari pada harus menghadapi orang orang haus berita itu.
“Ya Tuhan.. Kenapa semuanya menjadi seperti ini. Baru saja berniat melupakan Stefan tapi datang lagi masalah. Menyangkut Rico pula.” Keluh Williana memijat keningnya.
-------------
“Apakah benar antara Nona Williana dan tuan Rico ada hubungan khusus tuan muda? Kalau iya sejak kapan itu terjalin? Dan bagaimana tanggapan anda tuan?”
“Apakah anda setuju tuan muda? Kakak anda berhubungan dengan orang kepercayaan tuan Stefan?”
__ADS_1
“Lalu bagaimana hubungan nona Williana dengan tuan Stefan? Bukankah nona Williana sangat tergila gila pada tuan Stefan?”
Hana dan Sera menatap layar televisi dengan begitu khusuk. Melihat Tristan yang di cecar berbagai pertanyaan oleh awak media membuat keduanya juga ikut merasa penasaran. Terlebih artikel artikel yang memberitakan tentang Rico dan Williana semakin banyak saja. Hal itu membuat Hana dan Sera mendadak ingin tau semua kebenaran dari berita tersebut. Hebatnya lagi banyak komentar dari orang orang yang merasa setuju dengan hubungan keduanya yang belum tentu jelas adanya.
“Apa kamu nggak merasa aneh Hana? Williana tiba tiba ada hubungan dengan Rico. Sementara Williana sejak dulu selalu berusaha mendekati Stefan.”
Hana menoleh menatap mamah mertuanya. Hana juga merasakan hal tersebut. Tapi Hana tidak berani berasumsi sendiri karena Hana takut menimbulkan fitnah. Hana juga sebenarnya merasa curiga takut jika ternyata Williana mendekati Rico memiliki maksud tertentu mengingat Rico adalah orang kepercayaan suaminya, Stefan.
“Entahlah mah.. Tapi video itu sangat jelas sekali bagaimana Rico bersikap manis pada Williana.” Kata Hana.
Sera menghela napas pelan. Wanita itu bukan bermaksud berprasangka buruk. Hanya saja Sera takut jika ternyata isu tersebut akan menimbulkan masalah yang akhirnya merembet pada hubungan Stefan dan Hana.
“Mamah takut ini akan menjadi masalah untuk kamu dan Stefan sayang.”
“Do'akan yang terbaik saja ya mah. Semoga nggak akan ada apapun yang terjadi.” Senyum Hana pada Sera.
Sera menganggukkan kepalanya setuju.
“Ya sayang.. Aamiin.” Senyumnya penuh harap.
Sera benar benar tidak ingin sesuatu terjadi. Sera tidak ingin melihat putra kesayangan-nya kembali terpuruk sedih karena patah hati. Stefan sudah kembali ceria sejak kehadiran Hana. Stefan juga bisa menerima Angel dan menyayanginya layaknya putrinya sendiri. Sera tidak ingin semua itu berubah. Sera ingin semuanya tetap terjalin indah.
“Ya sudah Hana, sebentar lagi jam pulang sekolah Angel tiba. Mamah pergi dulu ya.. Kamu hati hati dirumah.” Ujar Sera kemudian.
__ADS_1
“Ya mah.. Mamah hati hati juga di jalan.”
Sera hanya menganggukkan kepala di sertai senyuman. Wanita itu kemudian membelai lembut pipi Theo yang terlelap sembari terus menyusu pada Hana. Balita itu memang belum di beri makanan pendamping Asi karena Hana menuruti saran dari dokter Clara demi kebaikan putranya sehingga asupan makanan Theo hanya Asi dari Hana saja.
“Oma pergi dulu ya sayang..” Pamit Sera pada Theo.
Hana tersenyum geli. Tidak hanya Stefan saja yang memperlakukan Theo dengan sangat berlebihan. Sera pun seperti itu. Wanita itu selalu mengajak Theo mengobrol seolah Theo tau apa maksudnya. Padahal Theo hanya merespon dengan ngongongan ala bayinya di sertai tawa lebar dan pekikan-nya.
“Mamah jalan yah..” Lirih Sera mengusap usap lembut bahu Hana.
“Ya mah.. Hati hati.” Hana mengangguk lagi dengan senyuman di bibirnya.
Sera kemudian bangkit dari duduknya dan meninggalkan Hana sendiri di ruang keluarga dengan televisi yang masih menayangkan tentang berita Rico dan Williana. Karena memang sudah tiga hari ini berita itu terus di tayangkan di berbagai chanel dalam negeri.
Hana mengeryit saat tiba tiba merasakan denyutan ngilu di kepalanya yang kemudian langsung menjalar memenuhi kepalanya membuat rasa pusing dan mual juga terasa.
“Ya Tuhan...” Lirih Hana memejamkan kepala serta memijat pelan keningnya sendiri.
Karena tidak tahan dengan rasa sakit di kepalanya, Hana pun menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Padahal semalam Hana tidur dengan nyenyak. Theo juga tidak rewel. Kalaupun terbangun Theo hanya mencari susu dan langsung kembali tertidur saat Hana menyusuinya. Tapi sekarang Hana merasakan sakit kepala di sertai pusing yang tidak tertahankan. Sakit dan pusing yang datang begitu tiba tiba.
Hana menelan ludah. Hana jarang sekali merasakan pusing ataupun sakit kepala karena Hana adalah orang yang selalu menjaga kesehatan dengan baik. Kalaupun kurang istirahat paling Hana akan merasakan sakit punggung pertanda tubuhnya yang kelelahan.
“Apa mungkin aku salah makan tadi pagi?” Hana bertanya tanya sendiri merasa bingung dengan keadaan-nya. Hana takut dirinya akan tumbang karena jika sampai itu terjadi Hana pasti tidak akan bisa mengurus Theo dengan baik.
__ADS_1