
Alan menghela napas sembari menatap bintang di langit malam ini. Itu adalah rutinitasnya setiap malam di balkon kamarnya. Dan setiap kedua matanya menatap bintang bintang itu, Alan selalu melihat bayangan Hana yang tersenyum manis padanya.
“Sampai detik ini aku benar benar belum bisa melupakan kamu Hana. Senyuman manis kamu selalu membayangiku setiap aku menatap bintang di langit.” Batin Alan tersenyum menatap ribuan bintang itu.
Alan tidak tau sampai kapan dirinya akan terus seperti itu. Hidup dengan bayang bayang senyuman Hana yang selalu membuatnya merasa menderita seorang diri.
Alan benar benar sudah berusaha. Tapi nyatanya sampai sekarang dirinya belum juga berhasil melupakan segala tentang Hana.
Alan memejamkan kedua matanya. Alan sekarang sadar dulu keyakinan-nya terhadap perasaan-nya sendiri terlalu berlebihan. Alan bahkan sampai tidak sadar diri dengan segala keterbatasan-nya. Apa lagi sekarang Hana sudah hidup bergelimang harta karena Stefan sebagai suaminya yang memang sudah terkenal dengan segala kuasa dan kekayaan-nya dimana mana.
Alan kembali membuka kedua matanya. Pria itu beralih menatap kedua kakinya yang sampai saat ini belum juga bisa menopang berat badan-nya seperti dulu. Kedua kakinya bahkan juga belum bisa leluasa di gerakkan.
Alan tertawa pelan. Takdir Tuhan memang terlalu keras untuknya menurut Alan. Alan harus menerima kenyataan dirinya lumpuh meskipun tidak untuk selamanya karena dokter Rania bilang Alan masih bisa sembuh. Sementara wanita yang Alan cintai menjadi milik orang lain.
Alan menghela napas sekali lagi. Pria itu kemudian menggerakkan kursi rodanya dan masuk kedalam kamarnya. Alan menutup pelan pintu penghubung balkon kamar yang di tempatinya dengan pelan menggunakan satu tangan-nya. Setelah itu Alan mendekat ke ranjang. Pria itu kemudian tertawa. Bahkan untuk naik ke ranjang sendiri saja Alan tidak bisa.
“Butuh bantuan?”
Alan menatap pada dokter Rania yang sudah berdiri di ambang pintu kamarnya. Selama ini Alan selalu melakukan segalanya dengan bantuan dokter Rania.
“Jangan memanjakan kakiku dokter. Aku akan berusaha keras.” Katanya.
__ADS_1
Dokter Rania menganggukkan kepalanya. Wanita itu kemudian melipat kedua tangan-nya di bawah dada bersiap menatap Alan yang akan berusaha keras sendiri untuk bisa naik ke atas ranjangnya.
Pelan pelan Alan mulai berusaha dengan berpegangan pada tepi ranjang. Pria itu menghela napas kasar kemudian mulai mengangkat tubuhnya sendiri. Namun karena kakinya yang masih sedikit kaku dan sulit di gerakkan Alan pun jatuh ke lantai.
Alan mengerang kesakitan karena tubuhnya yang terbentur keras ke lantai. Pria itu tersungkur tidak berdaya di lantai dengan napas tersengal.
Dokter Rania yang sengaja membiarkan itu hanya bisa menggeleng pelan. Alan memang sangat keras kepala, tidak jauh berbeda dengan Amira.
Pelan pelan dokter Rania menghampiri Alan. Wanita dengan setelan piyama maroon itu kemudian membantu Alan bangkit dan memapahnya menuju ranjang.
“Kamu tidak akan bisa sembuh kalau kamu terlalu keras memaksa kaki kamu Alan. Semuanya butuh proses. Dan semuanya tidak bisa terjadi begitu saja.” Ujar dokter Rania membuat Alan diam.
“Ingat Alan, kamu bisa seperti ini karena pengorbanan Hana. Kalau sampai kamu nggak bisa lagi berjalan, mungkin Hana akan sangat kecewa.”
“Biarkan saja dokter. Biarkan dia kecewa. Toh buat apa aku bisa jalan lagi, bisa ber aktivitas lagi kalau dia saja sudah menjadi milik orang lain.”
Dokter Rania menggelengkan kepalanya tidak menyangka dengan apa yang Alan katakan.
“Ternyata aku salah menilai kamu Alan. Aku pikir kamu laki laki yang baik yang mengutamakan keluarga yang sangat menyayangi kamu. Tapi ternyata kamu hanya laki laki lemah yang terpedaya oleh cinta. Kamu egois. Kamu hanya memikirkan perasaan kamu sendiri. Kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan ibu dan kedua adik kamu.” Ujar dokter Rania pelan namun langsung mengena di hati Alan yang memang selalu merasa menderita sendiri karena perasaan-nya pada Hana.
“Aku pikir kamu ingin sembuh dan bisa berjalan lagi karena keluarga kamu. Karena ibu dan kedua adik kamu. Tapi ternyata perasaan kamu masih saja tertitik pada Hana. Asal kamu tau Alan, Hana sekarang sedang hamil. Dia hamil anak Stefan. Mereka hidup sangat bahagia dan mungkin tidak sedikitpun memikirkan kamu yang disini. Yang lemah dan tidak berdaya. Sementara kamu, kamu tersiksa sendiri dengan perasaan kamu yang tidak terbalaskan itu. Kamu bahkan sampai begitu egois tidak memikirkan ibu dan kedua adik kamu yang menaruh begitu besar harapan sama kamu. Kamu coba pikir baik baik Alan. Bagaimana kalau seandainya mereka tau kamu hanya memikirkan perasaan kamu sendiri. Apa kamu pikir mereka tidak akan terluka? Apa kamu pikir mereka tidak akan kecewa?”
__ADS_1
Alan menghela napas pelan. Alan memang sering memikirkan perasaan-nya sendiri tanpa perduli pada perasaan ibu dan kedua adiknya sejak tau Hana sudah menikah bahkan sekarang hamil anak Stefan.
“Dokter tidak tau bagaimana perasaan aku. Dokter tidak pernah tau apa yang aku rasakan.”
Dokter Rania menyipitkan kedua matanya. Perlahan sikap egois Alan mulai dia mengerti.
“Tentu saja aku tidak tau bagaimana perasaan kamu Alan. Aku bukan orang egois seperti kamu yang hanya bisa memikirkan perasaan kamu sendiri.” Ketus dokter Rania kemudian berlalu begitu saja dari kamar Alan meninggalkan Alan yang terdiam seorang diri.
Alan menghela napas untuk yang kesekian kalinya. Alan sering menyadari kesalahan-nya. Namun Alan juga terkadang merasa dirinya yang paling menderita sehingga terlalu fokus dengan perasaan-nya sendiri. Alan merasa tidak ada seorang pun yang tau dan bisa memahami perasaan-nya yang selalu terluka jika mengingat kenangan manisnya bersama Hana.
“Kamu benar dokter, Hana belum tentu masih memikirkan aku. Hana bahkan sudah bahagia dengan Stefan. Dan sebentar lagi mereka berdua akan memiliki anak.”
Alan merasakan dadanya begitu sesak saat mengatakan-nya. Hana hamil anak Stefan itu berarti mereka berdua memang sudah benar benar saling mencintai.
“Aku memang bodoh. Aku egois dan aku tidak tau diri. Bisa bisanya aku masih saja mengharap sesuatu yang sangat tidak mungkin.” Alan kembali bergumam dengan kesakitan yang sedang merayapi hati dan pikiran-nya.
Jika saja Alan bisa, Alan ingin melupakan segala sesuatu yang sudah terjadi antara dirinya juga Hana. Alan ingin bisa menata kembali hidupnya bahkan memulainya lagi dari nol tanpa sosok Hana yang berada disampingnya.
Alan memejamkan kedua matanya. Bayangan Hana kembali menghampirinya namun Alan langsung membuka kembali kedua matanya kemudian menggeleng mengenyahkan bayangan Hana dari pikiran-nya.
“Alan, mulai sekarang kamu harus benar benar melupakan segalanya.”
__ADS_1