ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 276


__ADS_3

“Apa anda sudah membuat janji dengan tuan Stefan sebelumnya tuan?”


Ucapan seorang petugas resepsionis membuat langkah Rico terhenti. Pria itu kemudian menoleh kearah meja resepsionis dimana petugas cantik tersebut sedang berbincang dengan pria yang sangat tidak asing bagi Rico. Ya, Rico tau siapa pria yang sedang menghadap petugas resepsionis tersebut.


“Tuan Alan...” Gumam Rico.


Penasaran dengan kedatangan tiba tiba Alan, Rico pun segera melangkah mendekat. Rico bahkan sampai mengesampingkan niatnya untuk mencari makan siang karena rasa penasaran-nya yang begitu besar akan kedatangan tiba tiba Alan. Rico sangat yakin, Alan mempunyai maksud dan tujuan datang ke perusahaan Stefan.


“Saya belum membuat janji, tapi saya..”


“Tuan Alan..”


Suara Rico membuat Alan menggantungkan ucapan-nya. Pria itu memutar tubuhnya dan terkejut saat mendapati Rico yang sudah berdiri di belakangnya. Alan sesaat memperhatikan penampilan Rico. Dari penampilan rapi dan formal Rico Alan menyadari bahwa pangkat Rico jauh lebih tinggi darinya yang hanya karyawan biasa di perusahaan yang tidak seterkenal perusahaan Stefan.


“Tuan Rico.. Selamat siang.” Sapa Alan sopan.


“Selamat siang tuan. Anda mau bertemu dengan tuan Stefan?” Balas Rico kemudian bertanya pada Alan tentang maksudnya menemui Stefan.


Alan terdiam sesaat. Pria itu selalu tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Alan selalu ingin cepat melakukan apa yang terlintas di benaknya tanpa berpikir panjang. Kesabaran-nya benar benar sangat tipis.


“Ya tuan Rico.. Apa tuan Stefan-nya ada?”


Rico tersenyum mendengar Alan memanggilnya tuan. Rico merasa sangat tidak pantas di panggil dengan embel embel tuan.


“Rico saja tuan. Anda adalah tamu dari tuan Stefan, tidak sepantasnya anda memanggil saya dengan sebutan seperti itu. Itu benar benar sangat berlebihan.”


Alan hanya bisa tersenyum tipis. Cara bicara Rico benar benar seperti orang yang sudah sangat berwawasan. Alan tiba tiba saja merasa ragu takut jika dirinya salah bicara yang pasti akan membuat Rico tertawa.


“Untuk sekarang tuan Stefan sedang makan siang dengan client-nya tuan. Anda bisa menunggu di ruangan-nya sampai tuan Stefan kembali.” Ujar Rico kemudian.


“Mari tuan..” Rico mengajak Alan yang hanya bisa menurut saja saat Rico menggiringnya berlalu dari depan meja resepsionis.

__ADS_1


Rico terus mengajak Alan mengobrol saat sedang menuju ke ruangan Stefan. Bahkan saat di lift Rico juga beberapa kali bertanya tentang kabar keluarga Alan. Itu membuat Alan merasa terbiasa karena sikap ramah Rico padanya.


Tidak lama kemudian mereka sampai didepan pintu ruang kerja Stefan. Rico membuka pelan pintu itu dan mempersilahkan agar Alan masuk.


“Tidak lama lagi tuan Stefan pasti akan kembali. Anda bisa menunggu disini tuan. Ah ya, apa yang ingin anda minum? Saya akan menyuruh orang untuk membawakan-nya kesini.”


“Oh tidak, tidak perlu repot repot.” Tolak Alan sopan.


“Baiklah kalau begitu. Ya sudah anda tunggu saja disini tuan. Saya permisi.”


“Ya tuan, ah maksud saya Rico.” Senyum Alan.


Rico tertawa pelan kemudian melangkah keluar dari ruangan Stefan meninggalkan Alan sendiri didalam ruangan Stefan.


Alan menghela napas setelah Rico keluar. Pria itu kemudian mendudukkan dirinya di sofa yang ada diseberang meja kerja Stefan. Alan mengedarkan pandangan-nya ke seluruh sudut ruangan luas itu. Alan tersenyum. Pria itu berpikir dirinya akan sangat salah jika melawan seorang Stefan Devandra. Apa lagi Stefan juga sudah begitu baik menjamin semua yang terbaik untuk keluarganya, kedua adiknya juga ibu yang sangat Alan cintai.


Alan memejamkan sesaat kedua matanya kemudian membukanya lagi. Alan mulai sadar jika mungkin memang Stefan adalah pria terbaik untuk Hana. Buktinya Hana juga terlihat bahagia bahkan Hana juga sampai meminta pada Alan untuk mengerti. Dan juga Hana menangis tidak terima saat Alan memukul Stefan.


Kruyuk..


Alan mengeryit. Bahkan karena tidak bisa menahan diri untuk segera bertemu dengan Stefan, Alan sampai mengesampingkan waktu makan siangnya.


Ceklek


Suara pintu yang terbuka membuat Alan menoleh. Pria itu langsung bangkit dari duduknya ketika mendapati Stefan yang sudah berdiri disana.


“Kamu..” Gumam Stefan.


Rico sebelumnya sudah memberitahu pada Stefan bahwa ada Alan yang sedang menunggu di ruangan-nya. Dan karena penasaran dengan kedatangan Alan yang begitu tiba tiba, Stefan pun bergegas kembali ke ruangan-nya. Stefan juga sampai memberi alasan pada client-nya.


Stefan menahan napas sejenak kemudian menghembuskan-nya kasar. Ucapan Alan saat terakhir mereka bertemu di perusahaan tempat Alan bekerja masih membuatnya kesal sampai sekarang.

__ADS_1


Dengan langkah lebar Stefan melangkah menghampiri Alan yang langsung bangkit dari duduknya begitu melihatnya masuk.


“Untuk apa lagi kamu datang kesini Alan?” Tanya Stefan begitu sampai didepan Alan.


“Asal kamu tau Alan, apapun yang terjadi saya tidak akan pernah melepaskan Hana. Dia istri saya dan saya sangat mencintainya.” Ujar Stefan dengan sangat tegas.


Alan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Alan semakin yakin Stefan memang suami terbaik untuk Hana. Stefan bisa membuat Hana bahagia dengan berbagai cara. Karena Stefan tidak hanya tampan, tapi Stefan juga memiliki banyak harta. Selain itu juga Stefan adalah orang baik di balik sikap dingin-nya. Alan yakin itu juga yang membuat Hana percaya kemudian akhirnya jatuh cinta pada Stefan, suaminya sendiri.


“Bahkan saya juga tidak perduli jika harus membunuh seseorang.” Tekan Stefan menatap Alan tajam.


Alan mengangguk sekali lagi. Alan tau siapa Hana. Dia tidak akan sembarangan menilai orang baik tanpa mengetahui lebih dulu bagaimana orang tersebut.


“Saya paham tuan. Dan saya datang kesini bukan untuk menuntut anda melepaskan Hana. Saya jujur, saya memang sangat mencintai Hana. Saya merasa seperti mau mati saja dan tidak ingin melanjutkan lagi hidup saya begitu saya tau Hana sudah menikah dengan anda.”


Stefan mengeryit merasa sangat tidak suka dengan kejujuran Alan. Tangan pria itu sampai mengepal erat merasa geram ingin melayangkan tinjunya pada wajah Alan yang sangat memuakkan menurutnya.


“Tapi itu dulu tuan. Cinta saya pada Hana hanya sebuah cerita di masa lalu karena saya tau saya tidak akan bisa menjadi seperti anda, orang yang sangat Hana cintai. Saya hanya akan terus menjadi sahabat Hana. Itupun kalau anda mengizinkan Hana tetap bersahabat dengan saya.” Senyum Alan melanjutkan ucapan-nya mengabaikan tatapan penuh amarah Stefan padanya.


“Saya juga ingin meminta maaf atas apa yang sudah saya lakukan tuan. Dan terimakasih untuk semua yang sudah tuan lakukan untuk saya dan keluarga saya. Saya memang tidak bisa membalasnya. Tapi Tuhan, Tuhan pasti yang akan membalas semua kebaikan anda.”


Stefan hanya diam saja. Ucapan maaf juga terimakasih Alan perlahan membuat kepalan erat tangan Stefan mengendur. Amarah yang hampir menguasai seluruh pikiran pria itu juga perlahan berkurang.


“Itu saja tuan. Saya harap anda tidak merasa dendam pada saya. Saya permisi.”


Merasa lega setelah mengatakan semuanya, Alan pun langsung berlalu dengan sopan dari hadapan Stefan. Alan berharap di pertemuan selanjutnya sudah tidak ada lagi rasa benci di hati Stefan padanya.


“Dasar tidak tau sopan santun.” Gerutu Stefan setelah Alan berlalu keluar dari ruangan-nya.


Stefan kemudian mendudukan dirinya disofa tunggal dengan punggung yang dia sandarkan. Pria itu memikirkan apa yang Alan katakan tentang perasaan-nya pada Hana di masa lalu.


“Apa itu artinya Hana juga tidak tau kalau Alan mencintainya?”

__ADS_1


__ADS_2