
Selama berada di Amerika, Stefan benar benar mengesampingkan perusahaan-nya. Stefan yakin dan percaya Rico bisa menanganinya. Meski beberapa kali Stefan juga mendapat telepon dari Boby yang menanyakan kabarnya, juga telepon dari Williana yang tentu saja tidak Stefan terima. Stefan tau Williana hanya akan merusak mood nya.
“Apa kamu ingin sesuatu Hana?” Tanya Stefan pada Hana yang sedang duduk diteras depan rumah sembari menikmati semilir angin sejuk yang menerpa tubuhnya.
“Tidak.” Geleng Hana menjawab.
“Atau kamu mau coklat hangat?” Tanya Stefan lagi.
Hana menatap Stefan kemudian tersenyum. Stefan semakin perhatian padanya.
“Ya sudah, boleh.” Angguk Hana yang tidak ingin mengecewakan Stefan yang sudah begitu sangat perhatian padanya.
“Baik, tunggu sebentar mommy. Daddy akan buatkan khusus untuk mommy.” Senyum Stefan kemudian dengan semangat masuk kembali kedalam rumah untuk membuatkan coklat hangat untuk Hana.
Hana tertawa pelan. Stefan benar benar pria yang sangat pintar menyembunyikan sikap aslinya dari orang luar. Stefan bisa menyembunyikan kehangatan penuh cinta yang ada pada dirinya sehingga orang orang mengisukan-nya sebagai pria dingin dan kejam.
Hana menghela napas kemudian pelan pelan bangkit dari duduknya. Wanita itu masuk kedalam rumah kembali karena tidak ingin meninggalkan putranya yang sedang tidur terlalu lama. Saat melangkah Hana memegangi perutnya dimana bekas sayatan operasi itu ada. Hana tersenyum tipis. Hana tidak merasakan apa apa sekarang. Karena penasaran, Hana pun mencoba mempercepat langkahnya. Senyumnya semakin melebar. Bekas sayatan itu sama sekali tidak terasa apapun. Rasanya seperti biasa saja.
“Hey, Mau kemana?” Tanya Stefan muncul dari arah dapur dengan secangkir coklat panas di tangan-nya. Pria itu menatap Hana sembari melangkah mendekat pada Hana yang sudah berada dekat didepan tangga.
“Aku mau ke kamar Stefan.” Jawab Hana balas tersenyum pada Stefan.
“Aku takut putra kita terbangun dan menangis karena aku tidak ada di sampingnya.” Lanjut Hana.
Stefan menganggukkan kepalanya mengerti. Hana mungkin tidak ingin sampai membuat putranya merasa kehilangan dirinya barang sedetikpun.
“Baiklah, biar aku temani.”
“Oke..” Angguk Hana setuju.
Namun sebelum mengikuti Hana menuju lantai dua, Stefan lebih dulu memberikan coklat panas yang sengaja dia buat sendiri khusus untuk Hana. Stefan menyuruh Hana untuk mencobanya.
“Bagaimana?” Tanya Stefan meminta penilaian Hana atas coklat panas buatan-nya setelah Stefan menyuapkan-nya pada Hana.
“Hem.. Enak.” Jawab Hana tersenyum.
__ADS_1
Stefan ikut tersenyum mendengarnya. Pria tampan itu kemudian mengusap lembut bibir atas Hana dengan menggunakan ibu jarinya membersihkan noda coklat yang tertinggal disana.
Hana terdiam karena perlakuan lembut Stefan padanya. Entah kenapa meski mereka sudah terbiasa berkontak fisik namun setiap Stefan memperlakukan-nya dengan begitu lembut, Hana selalu merasa terhipnotis. Apa lagi di tambah dengan tatapan dalam sepasang bola mata coklat bening Stefan.
Tidak puas dengan jarak yang menurut Stefan jauh itu, Stefan pun sedikit menundukan kepalanya menurunkan wajahnya mendekat pada wajah Hana yang terpaku tanpa bisa bergerak ditempatnya.
“Mommy, daddy.”
Suara Angel membuat Stefan tersadar dari ke terpesonaan-nya pada Hana. Pria itu buru buru menjauhkan kembali wajahnya dari wajah Hana.
Stefan menoleh pada Angel yang entah sejak kapan sudah berdiri di anak tangga tidak jauh darinya dan Hana.
Sementara Hana, wanita itu hanya bisa tersenyum merasa malu karena ke intiman-nya terlihat oleh putri mereka, Angel.
“Ya Angel, ada apa?” Tanya Stefan tenang.
“Apa adik Angel masih tidur? Angel ingin sekali bermain dengan-nya.” Tanya gadis kecil itu menatap Hana dan Stefan penuh harap.
Angel memang sering protes sejak adiknya lahir. Gadis kecil itu merasa sedih karena setiap ingin bermain dengan adiknya, pasti adiknya tidur.
“Adiknya masih tidur Angel. Tapi kalau memang kamu mau menemaninya daddy dan mommy akan merasa sangat terbantu, bukan begitu mommy?” Ujar Stefan kemudian menatap Hana meminta persetujuan atas apa yang dikatakan-nya pada Angel.
“Tentu saja.” Setuju Hana tersenyum manis menatap Stefan kemudian memusatkan perhatian-nya pada Angel.
“Really daddy, mommy?” Tanya Angel antusias.
“Ya.. Jadi sekarang kamu ke kamar dulu sama mommy. Dan ini, tolong bawakan coklat panas mommy. Pelan pelan saja jalan-nya. Nanti Daddy menyusul.” Senyum Stefan sambil menyodorkan secangkir coklat panas yang di pegangnya pada Angel.
“Oke daddy..” Senang Angel mendekat pada Stefan dan menerima secangkir coklat panas yang di sodorkan Stefan padanya.
“Ayo mommy..” Ajak Angel pada Hana.
“Ya sayang..” Angguk Hana.
“Pelan pelan saja sayang..” Titah Stefan pada Hana.
__ADS_1
“Ya..” Balas Hana tersenyum manis kemudian mulai melangkah dengan pelan mengikuti Angel yang sudah lebih dulu melangkah menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai dua untuk menemani Hana seperti apa Stefan katakan.
Stefan menghela napas pelan menatap Hana dan Angel yang melangkah beriringan menaiki satu persatu anak tangga. Pria itu tersenyum merasa sangat bahagia melihat kekompakan istri juga putrinya.
Setelah memastikan istri dan anaknya sampai dilantai dua rumahnya, Stefan pun merogoh saku celana pendek warna abu abu yang dikenakan-nya meraih ponsel yang selalu di kantonginya sejak pagi. Stefan berpikir ingin menghubungi Rico yang mungkin saja sedang beristirahat sekarang mengingat perbedaan waktu antara indonesia dan Amerika yang begitu jauh.
Namun sebelum Stefan mencari kontak Rico, ternyata ponselnya sudah lebih dulu berdering. Rico menelepon-nya. Stefan tersenyum simpul. Kali ini pemikiran-nya mungkin sama dengan pemikiran Rico.
“Halo, Rico..” Ujar Stefan mengangkat telepon dari Rico.
“Halo tuan, maaf kalau saya mengganggu tuan sekarang.”
Stefan hanya diam dengan senyuman simpulnya. Stefan yakin Rico pasti sangat sibuk sejak dirinya berada di Amerika. Stefan berencana akan memberikan bonus ekstra pada Rico nanti karena sudah sangat berjasa membantunya menghandle semua pekerjaan-nya.
“Ada apa Rico?” Tanya Stefan tenang.
Stefan kemudian melangkah pelan berlalu dari depan tangga menuju keluar rumah dan berhenti ketika sampai di teras depan rumahnya.
“Tuan..” Sapa seorang pelayan yang saat itu berpapasan dengan Stefan.
Stefan hanya menganggukkan kepala saja sebagai balasan atas sapaan pekerjanya.
“Saya hanya ingin bertanya tentang keadaan nyonya Hana tuan.” Ujar Rico dari seberang telepon.
“Hana baik baik saja Rico. Terimakasih atas perhatian kamu pada istri saya.”
“Ya tuan, sama sama.”
“Lalu bagaimana dengan perusahaan? Apa semuanya baik baik saja?” Tanya Stefan menanyakan apa yang memang sudah dia rencanakan saat hendak menghubungi Rico.
“Semuanya baik baik saja tuan. Hanya saja nona Williana. Dia terus menanyakan tentang kepulangan anda.”
“Tidak perlu menghiraukan Williana, Rico. Fokus saja pada perusahaan. Hanya kamu yang bisa saya andalkan.”
“Baik tuan.” Balas Rico menurut saja.
__ADS_1
Perbincangan berlanjut dengan topik pembicaraan seputar perusahaan. Karena sedikitpun Stefan tidak ingin tau apapun tentang Williana.