
Sera mencoba menahan senyuman dibibirnya saat melihat Hana dan Stefan beriringan menuruni satu persatu anak tangga. Tentu saja karena merasa lucu melihat putranya mengenakkan kaos dengan warna yang begitu feminim. Sera tau Stefan tidak terlalu suka warna terang apa lagi pink. Tapi sekarang Stefan mengenakan-nya dengan begitu kompak bersama Hana, istrinya.
“Wah.. Daddy sama mommy bajunya bagus banget..” Puji Angel begitu Hana dan Stefan sudah sampai tepat didepan-nya dan Sera yang duduk di meja makan.
Stefan merasa semakin kesal mendengar pujian itu. Baginya apa yang sekarang di pakainya atas ke inginan Hana benar benar sudah menginjak injak harga dirinya sebagai seorang Stefan Devandra. Tapi Stefan tidak bisa menolak dengan alasan bahwa Hana sedang hamil anaknya. Dan Stefan beranggapan mungkin ke inginan Hana kali ini juga termasuk ngidamnya wanita itu.
“Iya dong.. Ini mommy yang beli dan mommy pilih sendiri. Liat deh Ngel, daddy juga semakin terlihat ganteng kan dengan warna bajunya?” Senyum Hana bertanya pada Angel meminta pendapat juga dukungan dari putrinya itu.
“Iya mommy.. Daddy semakin terlihat keren.” Jawab Angel setuju.
Sera hanya bisa tersenyum dengan menggelengkan kepalanya. Dari ekspresi datar Stefan, Sera tau pria itu sedang mencoba menahan dirinya sendiri dari rasa kesal yang menguasainya.
“Udah udah.. Mending sekarang kita makan dulu. Nanti keburu dingin loh..” Ujar Sera yang tidak ingin Stefan semakin kesal karena merasa di ejek.
Hana menganggukkan kepalanya kemudian segera duduk di kursinya di samping Angel. Sementara Stefan, seperti biasa pria itu selalu duduk di kursi paling ujung yang menegaskan bahwa dialah kepala rumah tangga di kediaman Devandra.
Dengan telaten Hana mengambilkan nasi juga lauk untuk Stefan. Hana juga melakukan-nya pada Angel. Sikap manis dan ke ibuan-nya memang akan muncul kembali dengan sendirinya jika semua yang Hana inginkan di turuti oleh Stefan. Tapi sebaliknya, jika Stefan menolak apa yang Hana mau, Hana langsung bertingkah begitu galak seperti harimau betina yang di ganggu saat sedang tidur.
Selesai makan malam, Stefan langsung pamit pada Sera untuk kerumah dokter Rania bersama Hana. Awalnya Angel merengek meminta untuk ikut. Gadis itu bahkan sampai menangis. Namun setelah Stefan membujuknya Angel pun akhirnya mengerti bahwa dirinya masih dalam masa pemulihan dan tidak boleh terlalu lelah dalam ber aktivitas.
Dalam perjalanan menuju kediaman dokter Rania, Hana terus menempel begitu manja pada Stefan. Hana melingkarkan tanganya di lengan kekar Stefan dengan kepala yang disandarkan di bahu Stefan. Hal itu membuat Stefan tidak bisa leluasa dalam mengemudikan mobilnya sehingga Stefan harus melajukan-nya dengan kecepatan rata rata saja.
“Bagaimana Williana? Apa dia masih mencoba mengganggu Amira Stefan?” Tanya Hana tiba tiba.
__ADS_1
Stefan menghela napas. Yang Stefan tau dari orang yang terus mengawasi Amira, orang suruhan Williana sudah tidak lagi tampak di sekitar Amira. Itu artinya Williana sudah tidak lagi memata matai Amira.
“Sepertinya sudah nggak. Tapi sekarang Tristan kabur dari rumah.” Jawab Stefan.
“Baguslah kalau begitu. Sukurin adiknya pergi ninggalin dia. Biar si Williana itu tau bahwa uang itu bukan segalanya.” Ketus Hana.
Stefan hanya menggeleng saja. Kemarahan Hana pada Williana sepertinya sudah berubah menjadi benci. Dan sepertinya itu memang sudah Hana pendam sejak lama karena sebelum itu juga Williana selalu membuat Hana marah dengan terus mendekati Stefan.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam lamanya, akhirnya mobil Stefan sampai tepat didepan kediaman mewah dokter Rania.
Stefan dan Hana turun dari mobilnya kemudian segera melangkah masuk kedalam rumah dokter cantik itu tentunya setelah Hana bertanya pada asisten rumah tangga disana dan asisten tersebut mempersilahkan Hana dan Stefan untuk masuk.
“Ayo Alan.. Pelan pelan saja, tidak usah terburu buru kamu pasti bisa..”
Langkah Stefan dan Hana terhenti saat mendengar suara dokter Rania yang berasal dari ruang keluarga. Mereka berdua saling menatap. Hana mengeryit penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh Alan dan dokter Rania diruang keluarga.
Stefan hanya diam saja. Sebenarnya Stefan tidak sedikitpun ingin tau tentang Alan dan dokter Rania. Tapi karena Hana terlihat sangat penasaran, Stefan pun meraih tangan Hana dan menuntun-nya menuju ruang keluarga yang ada di rumah dokter Rania.
Setelah sampai didepan ruang keluarga, Hana melongokkan kepalanya. Wanita itu terkejut melihat Alan yang sedang berusaha melangkahkan kedua kakinya dengan dokter Rania yang terus menyemangatinya. Perlahan seulas senyum terukir dibibir Hana. Wanita itu merasa senang karena akhirnya Alan bisa kembali berjalan.
“Ada apa?” Tanya Stefan penasaran melihat Hana yang tersenyum.
“Alan sudah mulai bisa berjalan lagi Stefan.” Jawab Hana memberitahu Stefan.
__ADS_1
Stefan menghela napas mendengarnya kemudian masuk begitu saja kedalam ruang keluarga dirumah dokter Rania. Stefan ingin melihat sendiri secara langsung bahwa Alan memang sudah bisa kembali berjalan.
Begitu melihatnya sendiri, Stefan berdecak. Stefan kembali merasa takut Alan akan merebut Hana darinya. Apa lagi Stefan juga tau dan mendengar sendiri dari mulut ibu Alan bahwa Alan mencintai Hana.
“Ekhem !!”
Deheman Stefan membuat Alan dan dokter Rania terkejut. Hal itu membuat Alan langsung tidak bisa menyeimbangkan berat badan-nya dan akhirnya tubuh kekarnya menubruk tubuh dokter Rania.
Hana yang melihat itu tertawa kemudian segera menghampiri dokter Rania dan Alan. Hana membantu dokter Rania bangkit namun tidak membantu Alan. Hana tau Stefan tidak akan menyukai jika dirinya terlalu dekat dengan Alan. Hana berusaha menjaga perasaan suaminya.
“Terimakasih Hana..” Ujar dokter Rania kemudian membantu Alan bangkit dan memapahnya menuju sofa agar Alan duduk disana.
Dokter Rania kemudian melirik Stefan sebentar yang berdiri diam didekat pintu masuk ruang keluarga dengan ekspresi datarnya.
“Kalian sejak kapan datang?” Tanya dokter Rania pada Hana.
“Eemm.. Baru saja kita sampai. Maaf kami langsung masuk, soalnya tadi mbak nya bilang masuk saja karena dokter dan Alan sedang sibuk.”
Jawaban Hana membuat dokter Rania tertawa. Namun tidak dengan Alan yang hanya diam dan menundukkan kepalanya. Pria itu benar benar tidak ingin lagi menatap Hana lama lama apa lagi jika ada Stefan disekitarnya. Alan tidak mau membuat kesalah pahaman.
“Begitu ya? Sebenarnya aku sedang mengajari Alan untuk pelan pelan berjalan lagi. Kamu pasti juga tadi lihat kan? Alan sudah mulai bisa berjalan lagi meskipun masih sangat pelan.”
Hana menatap sebentar pada Alan kemudian menganggukkan pelan kepalanya. Entah kenapa Hana merasa Alan seperti menghindari tatapan-nya. Pria itu terus menunduk dan menatap kearah lain.
__ADS_1
“Ah ya.. Berhubung kalian sudah disini, silahkan duduk. sebentar aku akan panggil mbak untuk membuatkan minum.” Ujar dokter Rania sebelum berlalu dari ruang keluarga melewati Stefan yang masih diam saja di tempatnya.
Sementara Hana, dia tidak tau harus bagaimana bersikap pada Alan yang terus saja diam tanpa menatap apa lagi menyapanya.