ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 191


__ADS_3

Setelah semua terungkap dan bukti bukti juga berhasil dikumpulkan, Michele pun di jebloskan kedalam penjara. Michele juga menjalani sidang dengan tuntutan berat dari keluarga para korban-nya. Karena sebenarnya memang banyak yang Michele lukai dengan menggunakan rupa Gabriel.


Stefan, Hana, bahkan Gabriel yang tidak bisa berbicara juga turut hadir dalam sidang itu. Dan hukuman seumur hidup di jatuhkan pada Michele dengan siksaan yang tekanan berat yang akan dijalaninya sebagai balasan atas apa yang sudah dia lakukan.


Semua terungkap, tuan dan nyonya Smith merasa lega. Dan Gabriel, gadis cantik itu bisa bebas menghirup udara segar dan ikut keluar bermain bersama kakaknya Selena.


“Jadi bagaimana? Apa kita akan pulang besok Stefan?” Tanya Hana menatap Stefan yang berbaring di sampingnya.


Mereka berdua memang tetap menginap di hotel dan menolak dengan halus untuk kembali kerumah nyonya dan tuan Smith. Tentu saja karena Stefan ingin setiap saat hanya berdua dengan Hana, istri tercintanya.


Seperti saat ini misalnya, mereka baru saja melakukan apa yang memang biasa dilakukan oleh sepasang suami istri yang saling mencintai. Meskipun perut Hana yang buncit namun itu tidak menjadi kendala bagi keduanya. Apa lagi Stefan juga begitu sangat pengertian dan hati hati melakukan-nya agar Hana juga janin dalam kandungan-nya tetap merasa nyaman.


“Semuanya aman sekarang sayang.. Untuk apa terburu buru?”


“Tapi Angel..”


“Sshhtt.. Angel tidak akan marah. Dia akan mengerti kalau mommy sama daddy nya juga butuh waktu untuk berdua. Bukankah selama menikah kita juga tidak pernah berbulan madu?”


Hana tampak berpikir mendengarnya. Apa yang Stefan katakan ada benarnya. Karena memang setelah menikah mereka tidak pernah pergi jauh berdua.


“Aku juga belum mengenalkan kamu ke papah.” Lanjut Stefan.


Hana meringis. Keinginan-nya agar Stefan mengajaknya ke makam tuan Devandra bahkan sampai terlupakan karena masalah yang mereka hadapi.


“Aku bahkan sampai melupakan itu Stefan..” Ujar Hana pelan.


Stefan tertawa pelan. Pria tampan itu membelai lembut pipi chuby Hana. Tatapan-nya begitu dalam dan tepat pada sepasang manik indah milik istri tercintanya itu. Jika saja Hana tidak memintanya untuk datang mengunjungi om dan tantenya ke Amerika, mungkin sampai saat ini Gabriel akan tetap menjadi tersangka atas semua yang dilakukan Michele. Bahkan mungkin juga Stefan akan merasakan kekacauan lagi dalam kehidupan-nya kedepan karena campur tangan gadis psikopat itu.

__ADS_1


“Hana.. Aku tidak tau apa yang akan terjadi dalam hubungan kita ke depan-nya. Tapi sedikitpun aku tidak pernah menginginkan ada perpisahan di antara kita. Maka dari itu aku mohon sama kamu, apapun masalah yang akan terjadi kedepan-nya jangan pernah sekalipun berpikir untuk meninggalkan aku dan anak anak kita. Karena aku, aku tidak akan bisa menjalani semuanya tanpa kamu.”


Hana mengeryit membalas tatapan suaminya. Hana merasa Stefan seperti tau dan sudah menduga akan terjadi sesuatu kedepan-nya.


“Stefan.. Jangan mengatakan sesuatu yang tidak baik. Kita harapkan saja segala yang baik ke depan-nya dalam keluarga kita. Kita serahkan semuanya pada Tuhan.”


Stefan tersenyum mendengarnya. Menyerahkan saja tidak akan cukup menurut Stefan. Karena bagaimanapun caranya manusia juga tetap harus berusaha sebelum memasrahkan segala urusan-nya pada sang pemilik kehidupan.


“Aku mencintai kamu, sangat mencintai kamu Hana Larasati.”


Hana tersipu mendengar ungkapan cinta suaminya. Hana tidak menyangka Stefan yang begitu datar dan dingin ternyata sangat penuh dengan kelembutan juga romantis.


“Aku juga Stefan.” Balas Hana malu malu.


“Jadi boleh tidak satu kali lagi?” Tanya Stefan menggoda.


“Iihh... Enggak enggak. Aku ngantuk, mau tidur.” Tolak Hana kemudian memutar tubuhnya memunggungi Stefan.


Stefan tersenyum geli melihat tingkah menggemaskan istrinya. Stefan juga tidak benar benar serius ingin melakukan-nya lagi. Tentu saja karena Stefan juga tau istrinya tidak boleh terlalu memforsir tenaganya untuk menjaga kondisinya tetap baik baik saja.


Stefan menghela napas dan menggeser tubuhnya mendekat pada Hana hingga dada bidangnya menempel dengan sempurna dengan punggung Hana. Dan gesekan kulit mereka yang tidak tertutup itu membuat rasa nyaman tersendiri bagi Stefan juga Hana.


“Istirahatlah sayang.. Besok kita sama sama mengunjungi papah..” Bisik Stefan mencium pundak Hana.


Stefan juga memeluk pinggang Hana dan mengusap lembut perut buncit Hana dari balik selimut putih yang menutupi tubuh mereka berdua.


Hana tersenyum tanpa sepengetahuan Stefan. Sejak merasakan cinta di hatinya untuk Stefan, Hana merasa Stefan adalah tempat ternyaman untuknya meskipun terkadang pria itu bersikap dingin dengan wajah datarnya, tapi Hana selalu meyakini perasaan cintanya juga Stefan sama sama kuat.

__ADS_1


Hana kemudian ikut memejamkan kedua matanya karena hari juga semakin malam. Hana juga tidak sabar menunggu hari esok karena Stefan yang mengatakan akan mengajaknya untuk bersama berziarah ke makam papahnya, tuan Devandra.


Keesokan paginya, Stefan mengajak Hana untuk lebih dulu mencari sarapan diluar. Pria itu bahkan memberi kebebasan untuk Hana memilih sendiri makanan yang akan di makan-nya. Bagi Stefan asal makanan itu bergizi dan tidak membuat Hana mual dan tentunya juga Hana suka berapapun nominal yang harus dikeluarkan-nya Stefan tidak mempermasalahkan.


“Bagaimana rasanya? Apa kamu suka?” Tanya Stefan disela mereka berdua menikmati sarapan paginya.


Hana tersenyum dengan mulut penuh makanan. Makanan didepan-nya memang terasa sangat asing rasanya di lidah Hana. Tapi Hana menyukai rasanya. Selain karena tidak membuatnya mual, makanan itu juga sedikit pedas sehingga lidah Hana bisa menerimanya dengan mudah.


“Enak.. Aku suka.” Katanya menjawab.


Stefan tersenyum. Melihat Hana bahagia dengan apa yang di berikan-nya itu juga membuat Stefan ikut merasa bahagia.


“Pelan pelan saja makan-nya Hana. Kita masih punya banyak waktu untuk berkeliling di kota ini.” Ujar Stefan.


Hana menganggukkan kepalanya. Hana ingin segera cepat cepat mengunjungi makam papah mertuanya yang memang hanya bisa Hana kenali lewat photo saja.


Setelah selesai sarapan pagi, Stefan langsung mengajak Hana menuju pemakaman umum di kota itu dimana sang papah di makam kan.


Ya, papah Stefan memang meninggal saat Stefan masih kecil. Sejak saat itu Stefan hanya tinggal berdua dengan mamahnya Sera. Sebenarnya saat itu banyak para pengusaha yang datang untuk melamar Sera, namun Sera menolak dengan halus dengan alasan ingin fokus mengurus Stefan kecil dulu. Stefan yang juga mendengar sendiri alasan sang mamah saat itu bertekad akan selalu menemani mamahnya dalam keadaan apapun. Stefan juga bersumpah akan melindungi mamahnya sekuat dan semampunya.


“Stefan..”


Lamunan Stefan buyar saat Hana menyentuh tangan-nya dengan sangat lembut. Pria itu kemudian menoleh menatap Hana yang duduk disampingnya. Saat ini keduanya sudah berada didalam taksi dalam perjalanan menuju makam papah Stefan.


“Kamu kenapa?” Tanya Hana pelan.


Stefan menggeleng pelan dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.

__ADS_1


“Aku baik baik saja.” Jawabnya.


__ADS_2