ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 226


__ADS_3

Kedatangan Stefan ke perusahaan-nya pagi ini di sambut dengan meriah oleh semua pekerja disana. Bahkan mereka semua juga memberikan selamat pada Stefan atas kelahiran Theo, putra pertamanya.


“Saya sangat berterimakasih untuk sambutan ini. Saya juga ingin berterimakasih atas kerja sama kalian selama saya tidak ada disini. Dan untuk kamu Rico, tanpa kamu mungkin perusahaan ini akan berantakan karena saya terlalu lama di Amerika.”


Rico tersenyum dan menganggukkan kepalanya mendapat ucapan terimakasih dari Stefan. Rico merasa sangat senang karena bisa banyak melakukan tugasnya dengan baik sebagai orang yang paling di percaya oleh Stefan di perusahaan.


“Baik, sekarang kalian semua bisa mulai bekerja.” Ujar Stefan kemudian.


“Baik tuan..” Kompak para pekerja Stefan sebelum membubarkan diri untuk mulai bekerja pagi ini.


Sementara Rico, dia masih berdiri ditempatnya saat yang lain membubarkan diri. Rico menunggu perintah dari Stefan yang baru bisa kembali ke perusahaan pagi ini setelah hampir dua minggu berada di Amerika.


“Kamu ikut ke ruangan saya Rico.” Perintah Stefan.


“Baik tuan.” Angguk Rico kemudian mengikuti Stefan menuju ruangan kerja pria itu.


Begitu sampai di ruangan-nya, Stefan menyuruh untuk Rico duduk didepan meja kerjanya. Pria itu menghela napas pelan sebelum menanyakan apa yang ingin di tanyakan-nya pada Rico.


“Bagaimana proyek pembangunan ruko ruko itu? Apa berjalan dengan lancar?” Tanya Stefan tenang.


“Pembangunan-nya sudah selesai tuan. Bahkan sekarang ruko itu sudah mulai di rapikan agar segera bisa di gunakan.” Jawab Rico.


Stefan menganggukkan kepalanya. Dirinya memang tidak salah menunjuk Rico sebagai orang yang sangat dia percaya. Rico selalu bisa mengerjakan semuanya dengan baik sesuai keinginan Stefan.


“Baguslah kalau begitu.”


Rico mengangguk pelan. Senang rasanya bisa membuat Stefan puas dengan cara kerjanya.


“Maaf tuan, apa yang lain yang perlu di bicarakan lagi?”


Stefan terdiam sesaat kemudian tertawa mendengar pertanyaan Rico. Stefan tau apa yang akan Rico katakan setelah ini.

__ADS_1


“Oke baiklah Rico, maaf sudah menyita waktu kerjamu. Sekarang kamu boleh kembali untuk bekerja.” Ujar Stefan di sela tawanya.


Rico menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal itu. Rico memang selalu merasa tidak nyaman jika apa yang menjadi tugasnya tidak segera dilaksanakan.


“Baik tuan. Kalau begitu saya permisi untuk kembali bekerja.”


“Hem..” Senyum Stefan menganggukkan kepalanya sekali lagi.


Rico kemudian bangkit dari duduknya dikursi didepan meja kerja Stefan. Pria itu melangkah menuju pintu ruangan Stefan. Namun saat membuka pintu tersebut Rico terkejut mendapati Williana yang sudah berdiri di depan pintu dengan gaya santainya.


“Kamu memang sangat pengertian Rico. Terimakasih sudah membukakan pintu untukku.” Senyum Williana kemudian masuk begitu saja kedalam ruangan Stefan setelah berkata begitu santainya pada Rico. Wanita itu melewati Rico dengan gaya elegan-nya yang malah membuat Rico merasa muak.


Tidak ingin berada di tengah antara Stefan dan Williana, Rico pun memilih bergegas untuk mulai bekerja. Rico yakin Stefan mengerti dan bisa menghadapi Williana.


“Hay Stefan..”


Stefan baru saja hendak meraih laptopnya saat mendengar suara Williana. Pria itu mengeryit menatap bingung pada Williana yang entah karena apa pagi ini sudah berada di perusahaan-nya dan menerobos masuk kedalam ruangan-nya. Bagi Stefan itu sangat tidak sopan.


Stefan berdecak. Paginya sudah menyebalkan karena penolakan Hana pada niat baiknya. Dan sekarang ditambah Williana yang tiba tiba datang dan masuk keruangan-nya tanpa permisi.


“Williana, saya sibuk sekarang.” Tegas Stefan saat Williana sampai didepan meja kerjanya dan hendak menarik kursi untuk dia duduki.


Williana tertawa pelan. Wanita itu menarik pelan kursi yang tadi di duduki Rico kemudian mendudukkan dirinya disana. Williana juga menaruh tas kecilnya diatas meja kerja Stefan.


“Semua orang juga tau kamu itu sibuk Stefan. Tapi kali ini maaf, aku tidak bisa mengerti. Karena aku kangen banget sama kamu. Beberapa kali berbincang tentang pekerjaan dengan Rico rasanya malas sekali Stefan.” Katanya tidak menghiraukan ucapan tegas Stefan.


Stefan tersenyum miring menatap Williana dengan tatapan meremehkan. Namun yang di tatap sepertinya begitu tebal wajahnya sehingga tidak memperdulikan tatapan meremehkan yang di layangkan Stefan padanya.


“Aku yakin kamu juga merasakan hal yang sama. Hanya berdua dengan istri kamu pasti rasanya sangat membosankan bukan?”


“Kata siapa? Jika saya boleh meminta pada Tuhan bahkan saya ingin saya dan istri saya di berikan dunia sendiri saja agar terhindar dari orang orang seperti kalian.” Balas Stefan.

__ADS_1


Williana tertawa lagi. Kesal sebenarnya mendengar apa yang Stefan katakan. Tapi Williana berusaha untuk menahan rasa kesalnya itu.


“Aku rasa itu permintaan yang konyol Stefan. Karena kalaupun memang bisa kamu pasti akan mati konyol di dunia kamu itu.”


“Kamu salah Williana. Justru mungkin saya akan hidup abadi karena saya tenang dan bahagia hidup hanya berdua saja dengan perempuan yang sangat saya cintai. Tanpa pengganggu ataupun benalu liar.”


Cukup. Williana mengepalkan kedua tangan-nya merasa tidak bisa menahan lagi amarahnya. Ucapan Stefan selalu merendahkan-nya.


“Kamu tau bukan Williana? saya sangat tidak suka di ganggu. Jadi lebih baik sekarang kamu keluar dari ruangan saya atau saya akan membatalkan kontrak kerja sama antar perusahaan kita.” Ujar Stefan sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kebesaran-nya.


Williana menyipitkan kedua matanya menatap Stefan.


“Kamu mengancamku Stefan?” Tanya nya tidak terima dengan perlakuan Stefan padanya.


“Ini bukan ancaman Williana. Tapi ini peringatan.” Jawab Stefan tenang. Stefan tidak ingin membuang energinya dengan marah pada Williana. Toh, dengan sedikit menyentil perasaan wanita itu saja Stefan bisa membuat Williana marah sendiri.


“Silahkan nona Williana, anda masih tau dimana letak pintu di ruangan ini bukan?”


Napas Williana mulai tidak beraturan karena amarah yang menguasainya. Stefan selalu saja bersikap seenaknya padanya. Stefan tidak pernah sedikitpun menghargainya sejak menikah dengan Hana.


“Stefan, aku maklum kalau sampai saat ini kamu masih menganggap perak itu berharga. Mungkin karena permata itu masih tersembunyi dibalik batu yang keras. Tapi suatu saat nanti kamu akan sadar Stefan setelah kamu melihat permata itu ada di balik batu yang selalu kamu abaikan.”


Stefan tertawa merasa lucu dengan apa yang Williana katakan. Stefan juga tau apa yang di maksud oleh Williana. Tentu saja wanita itu sedang membanding bandingkan dirinya sendiri dengan Hana.


“Sayangnya saya tidak terlalu suka dengan permata Williana. Saya lebih suka perak yang tidak di sukai oleh banyak orang.” Balas Stefan di sela tawanya.


Rahang Williana semakin mengeras. Stefan berkali kali mematahkan hatinya.


“Kamu akan menyesal Stefan.” Katanya kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah dengan cepat keluar dari ruangan Stefan.


Stefan berdecak pelan dan menggelengkan kepalanya. Pria itu tidak tau apa isi kepala cantik Williana sehingga selalu saja berusaha menggodanya.

__ADS_1


Tidak ingin pusing memikirkan tingkah Williana, Stefan memilih untuk mulai fokus dengan pekerjaan-nya.


__ADS_2