ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 142


__ADS_3

Stefan berkali kali menghela napas kasar karena merasa kesal. Harapan-nya sama sekali tidak terwujud. Hana memang mau menemani Angel melihat matahari terbit. Tapi Hana sama sekali tidak mengurungkan niat untuk ikut dengan-nya ke perusahaan. Hana justru meminta dengan sangat galak pada Stefan agar Stefan menunggu bahkan ikut menemani Angel melihat matahari terbit di balkon lantai dua rumah bersama sama.


“Permisi tuan, nyonya, sarapan-nya sudah siap.”


Stefan, Hana juga Angel menoleh mendengar suara pelayan yang memang tadi Hana suruh untuk menyiapkan sarapan untuknya dan Stefan lebih awal.


“Oh ya.. Terimakasih mbak. Sebentar lagi kami akan turun ke bawah.”


“Baik nyonya, sama sama. Kalau begitu saya permisi.”


Hana menganggukkan kepala menjawab pamitan pelayan tersebut.


“Mommy sama daddy mau kemana? Kenapa pagi pagi sekali sudah rapi?” Tanya Angel menatap Stefan dan Hana bergantian.


Hana tertawa pelan mendengar apa yang Angel pertanyakan. Hana memang sudah lama sekali ingin ikut Stefan ke perusahaan. Namun karena akhir akhir ini banyak sekali peristiwa yang membuat Hana tidak kunjung bisa ikut Stefan ke perusahaan Hana dengan terpaksa harus bersabar. Dan hari ini Hana tidak ingin menunda lagi. Hana ingin Stefan mengajaknya serta ke perusahaan. Hana juga ingin melihat sendiri bagaimana Stefan saat tidak bersamanya. Apa lagi Hana juga sangat yakin karyawan wanita di perusahaan Stefan pasti cantik cantik. Dan tidak sedikit dari mereka yang pasti mengagumi sosok tampan suaminya itu.


“Mommy mau ikut daddy kerja hari ini sayang..”


“Ikut daddy kerja? Apa itu artinya Angel juga harus bersiap sekarang dan berangkat sekolah lebih awal? Oma bilang Angel sudah boleh sekolah karena dokter juga sudah memperbolehkan Angel untuk ber aktivitas seperti biasanya.”


Hana melirik Stefan yang duduk disampingnya. Wanita itu memberi kode pada Stefan untuk memberi pengertian pada putrinya.


“Kamu nanti berangkat sama oma Angel. Dan mulai hari ini akan ada pelayan yang ikut serta dengan kamu ke sekolah.” Ujar Stefan pelan.


“Angel sudah besar daddy.. Angel bisa jaga diri Angel sendiri.”

__ADS_1


Gadis kecil itu dengan pelan membantah apa yang Stefan katakan. Angel merasa dirinya sudah besar dan tidak perlu ada pengawasan ketat terhadapnya.


“Angel, daddy nggak suka di bantah. Turuti saja apa yang daddy katakan atau kamu sekolah dirumah saja.” Tegas Stefan merasa tidak suka dengan bantahan putrinya.


Mendengar itu Angel langsung menundukkan kepalanya. Gadis itu kemudian turun dari duduknya dikursi panjang ayunan di balkon dan melangkah dalam diam berlalu dari hadapan Stefan dan Hana.


Hana yang melihat itu hanya bisa menghela napas. Hana tau apa yang Stefan lakukan untuk Angel adalah demi kebaikan gadis kecil itu. Stefan hanya ingin yang terbaik dan ke amanan untuk Angel yang memang belum bisa berhati hati dalam melakukan sesuatu.


“Lain kali kalau ngomong sama anak itu harus lebih lembut.. Kasihan kan anaknya jadi merajuk begitu.” Tegur Hana pada Stefan pelan.


Stefan menghela napas merasa kesal. Apa yang dilakukan-nya selalu saja salah dimata Hana. Bahkan niat baiknya pada Angel juga malah mendapat kritikan dari Hana meskipun dengan nada bicara yang pelan.


“Ya sudah lebih baik kita sarapan sekarang. Supaya kamu nggak terlambat.”


Mereka berdua sarapan bersama dalam diam tanpa Sera juga Angel. Tidak lupa Stefan juga mengingatkan Hana untuk meminum vitamin dan susu juga membawa buah dalam kotak yang memang sudah di siapkan oleh pelayan untuk Hana.


Setelah selesai sarapan, keduanya segera berangkat menuju perusahaan.


“Memangnya pekerjaan kamu itu nggak pernah selesai ya setiap harinya? Kenapa sepertinya kamu itu senang banget berkutat dengan pekerjaan. Kamu bahkan lebih banyak diluar dari pada menghabiskan waktu bersama aku.”


Stefan melirik sebentar pada Hana yang sedang protes padanya karena Stefan yang selalu sibuk bekerja diluar rumah. Pria itu kemudian tersenyum samar. Stefan juga sebenarnya ingin lebih banyak waktu dirumah sejak rasa cinta itu tumbuh dihatinya untuk Hana. Tapi Stefan sadar, posisinya sebagai pemilik sekaligus pemimpin di perusahaan-nya tidak bisa dia abaikan begitu saja. Toh, Stefan juga berusaha memperluas cabang bisnisnya untuk masa depan mereka dan anak mereka kelak juga.


“Jadi?” Tanya Stefan ingin mendengar lagi apa yang sebenarnya Hana ingin kan darinya.


“Aku sih pengen-nya kamu lebih sering dirumah Stefan. Tapi ya.. Kalau memang tanggung jawab kamu sebagai pemilik perusahaan nggak bisa di abaikan aku nggak bisa maksa.” Jawab Hana dengan tatapan lurus kedepan.

__ADS_1


Stefan tersenyum semakin lebar. Stefan merasa lega karena meskipun Hana sedang tidak menjadi dirinya yang sesungguhnya tapi Hana masih bisa memahami posisinya sebagai pemilik sekaligus pemimpin di perusahaan-nya.


“Aku akan berusaha untuk bijak dalam mengatur waktuku untuk kamu dan anak anak kita Hana. Maaf kalau aku jarang ada waktu untuk kamu.” Batin Stefan melirik sekilas pada Hana.


Setelah menempuh perjalanan satu jam lamanya, Stefan dan Hana sampai tepat didepan gedung perusahaan. Stefan turun dari mobil mewahnya di ikuti Hana. Mereka kemudian masuk dengan Stefan yang menggandeng lembut tangan Hana.


Kebetulan pagi itu perusahaan masih sepi dan hanya ada Rico dan beberapa OB dan OG yang berlalu lalang sedang bersih bersih.


Hana menghela napas merasa bosan karena keheningan itu. Bahkan saat Stefan mengajaknya masuk kedalam ruangan-nya Hana merasa sedikit kesal.


Stefan yang melihat ekspresi tidak bersahabat Hana memilih diam. Stefan tidak mau bertanya karena jawaban Hana pasti akan berujung dengan penindasan pada Stefan sendiri.


“Aku rasa kamu harus lebih tegas Stefan.”


Stefan yang baru saja hendak mendudukkan dirinya dikursi langsung mengarahkan perhatian-nya pada Hana yang sudah berdiri didepan tembok kaca besar yang menyuguhkan pemandangan jalanan kota yang padat kendaraan pagi ini.


Saat itu juga Rico masuk untuk memberikan berkas yang dibutuhkan Stefan. Rico yang juga mendengar apa yang Hana katakan menelan ludah. Selama ini Stefan bukan hanya tegas saja tapi sudah kelewat tegas. Dan Rico tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Stefan menuruti kata Hana, istrinya.


Stefan yang melihat Rico berdiri didepan pintu menghela napas. Pria itu melambaikan tangan-nya menyuruh agar Rico segera mendekat dan memberikan apa yang dibawanya sebelum Hana menyadari keberadaan Rico.


Setelah Rico memberikan berkas yang Stefan butuhkan, Stefan pun menyuruh untuk Rico segera keluar dari ruangan-nya.


“Kamu harus memperketat lagi peraturan di perusahaan ini supaya karyawan kamu tidak malas malasan dalam bekerja.” Lanjut Hana lagi.


Stefan hanya bisa diam saja. Stefan merasa peraturan yang dibuat perusahaan sudah cukup ketat dan tidak perlu lagi lebih di perketat. Apa lagi para karyawan-nya juga sudah sangat disiplin.

__ADS_1


__ADS_2