ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 220


__ADS_3

Kepulangan Stefan, Hana, Sera, juga Angel disambut dengan begitu istimewa oleh para pekerjanya. Mereka semua berbaris begitu Stefan dan Hana turun dari mobil Rico. Mereka juga memberikan selamat pada Hana dan Stefan atas kelahiran Theo.


Namun disana bukan hanya ada para pelayan, tapi juga dokter Clara yang membuat Hana menggeleng tidak percaya melihat dokter Clara yang sudah menunggu kepulangan mereka di ruang tamu. Hana pikir Stefan tidak akan benar benar memanggil dokter cantik itu untuk datang.


“Stefan kamu..”


“Aku nggak mau kamu kenapa napa Hana. Kondisi baik baik kamu adalah yang terpenting buat aku.” Sela Stefan yang tidak ingin mendengar apapun protesan Hana.


Hana menghela napas. Menolak kemauan Stefan memang sepertinya bukan sesuatu yang baik semenjak dirinya menyandang status sebagai istri dari tuan Devandra itu.


Hana menoleh pada Sera yang tersenyum dan menganggukkan kepalanya memberi kode agar Hana mengikuti saja apa yang Stefan katakan.


Hana ikut tersenyum kemudian mengangguk pelan. Setelah itu mereka melangkah menuju tangga dengan dokter Clara yang mengikuti dari belakang. Sementara Sera dan Angel, keduanya melangkah menuju kamar masing masing untuk segera membersihkan dirinya.


“Dokter tunggu sebentar yah, saya ke kamar mandi dulu.” Ujar Hana ketika masuk kedalam kamarnya dan Stefan dengan dokter Clara yang mengikuti dari belakang.


“Oh oke..” Angguk dokter Clara menurut saja.


Sedangkan Stefan, pria itu menaruh pelan pelan putra kecilnya di dalam ranjang kecil yang memang sudah Stefan pesan pada Rico agar di siapkan saat dirinya berencana akan mengajak Hana, Sera, juga Angel pulang.


Stefan tersenyum menatap putranya yang tetap terlelap damai meski sudah tidak lagi berada di gendongan-nya. Sebenarnya Stefan sangat takut setiap menyentuh tubuh kecil putranya. Stefan takut sentuhan-nya akan menyakiti bayi mungil itu.


Merasa puas memandangi putranya, Stefan pun beralih menatap dokter Clara yang masih berdiri didepan pintu kamarnya dan Hana. Stefan memang sengaja menyuruh dokter itu untuk datang guna memeriksa keadaan Hana.


“Kamu bisa duduk dulu Clara.” Katanya yang membuat dokter Clara langsung menatapnya. Sejujurnya dokter cantik itu merasa tidak enak karena harus masuk kedalam kamar Stefan dan Hana sedang Hana saja sedang berada di kamar mandi dan dirinya hanya bersama dengan Stefan saja.


“Ya Stefan, biar aku disini saja.” Senyum dokter cantik itu.


Stefan hanya mengedikkan bahu tidak perduli. Yang terpenting dirinya sudah menawarkan tempat yang nyaman untuk dokter itu sembari menunggu Hana. Tentang mau atau tidaknya dokter Clara, Stefan tidak memusingkan.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Hana keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk kimono berwarna putih saja. Ya, wanita itu baru saja membersihkan dirinya.


“Loh dokter, kenapa tidak duduk dulu saja?” Tanya Hana menatap dokter Clara bingung.


“Tidak apa Hana, aku disini saja. Sudah selesai? Bisa tidak kita periksa sekarang saja?”


Stefan hanya melirik sekilas pada Hana dan dokter Clara yang sedang berbincang. Pria itu tidak perduli dengan apapun selain kondisi Hana yang harus baik baik saja sekarang.


“Oh iya dokter. Bisa.. Ayoo..”


Dokter Clara kemudian segera memeriksa keadaan Hana. Dokter kandungan yang merangkap spesialis anak itu juga menjelaskan langsung pada Stefan bahwa keadaan Hana baik baik saja. Bahkan di luka bekas sayatan operasi sesar Hana juga tidak ada masalah apapun.


Selesai memeriksa dan menjelaskan tentang keadaan Hana pada Stefan, dokter Clara langsung pamit untuk pulang dengan alasan anaknya sedang menunggu kepulangannya dirumah.


“Itu kamu kapan membelinya Stefan?” Tanya Hana yang baru menyadari ada ranjang bayi milik putranya disamping ranjangnya dan Stefan.


“Aku menyuruh Rico untuk membelinya saat kita akan pulang.” Jawab Stefan sambil mulai membuka bajunya. Pria itu berniat membersihkan dirinya karena merasa lengket akibat keringat yang membasahi tubuhnya.


Stefan kemudian mendekat pada Hana yang berdiri didepan lemari baju mereka. Hana baru saja mengambil piyama yang akan dia kenakan.


“Aku ngantuk banget..” Keluhnya.


“Ini masih terlalu sore untuk kamu tidur Hana. Sebaiknya makan malam dulu. Setelah itu baru tidur.” Ujar Stefan membelai lembut pipi Hana.


Hana mengangguk pelan dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Apa yang dikatakan Stefan memang benar. Apa lagi sekarang dirinya juga sedang menyusui yang mengharuskan nutrisi dan tenaganya harus selalu full demi kebaikan dan pertumbuhan putranya.


Setelah selesai mengenakan piyamanya, Hana pun menyuruh Stefan untuk segera membersihkan diri sementara Hana menjaga Theo yang masih tetap terlelap.


Hana memandangi tubuh kecil putranya. Bayi tampan itu benar benar sangat kecil karena lahir sebelum waktunya. Namun Hana tetap merasa bersyukur karena meskipun dirinya sempat mengalami insiden yang membuatnya pingsan dan mengharuskan operasi, tapi sekarang dirinya juga bayinya baik baik saja.

__ADS_1


“Terimakasih Tuhan.. Terimakasih untuk semuanya..” Batin Hana terus menatap wajah tampan putranya.


Hana menghela napas pelan. Selama dirinya dan Stefan berada di Amerika banyak kejadian yang Hana sendiri tidak pernah sedikitpun menduganya. Niatnya ingin mengenal keluarga Stefan yang ada disana hampir saja membuatnya juga Stefan celaka karena ulah seseorang yaitu Michele. Namun Hana sedikitpun tidak menyesali itu, karena jika dirinya dan Stefan tidak ke Amerika mungkin sampai sekarang Gabriel akan tetap menjadi tersangka atas semua perbuatan keji Michele.


“Hey..”


Hana tersentak saat tiba tiba Stefan menoel ujung hidungnya. Wanita itu mengerjapkan beberapa kali kedua matanya kemudian menoleh pada Stefan yang tampak sudah fresh dengan rambut coklatnya yang basah dan setelan piyama coklat gelapnya.


“Udah selesai? Kok cepet banget?” Tanya Hana mengeryit bingung.


Stefan menghela napas sembari menggelengkan kepalanya.


“Bukan aku yang cepet banget. Kamu yang lama banget ngelamun-nya sampai nggak sadar aku udah selesai dari tadi tau nggak.” Jawab Stefan menatap Hana datar.


Hana meringis. Dirinya memang sedang melamun memikirkan apa yang baru saja di alaminya dan Stefan di Amerika.


“Aku sudah telepon mbak Titin tadi buat jagain Theo sementara kita makan malam. Sebaiknya kita bergegas sekarang sebelum Theo bangun lalu menangis. Itu akan membuat kamu menunda waktu makan malam.” Ujar Stefan.


“Oke..” Angguk Hana tersenyum. Hana tidak menyangka Stefan bisa berpikir begitu sigap.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat Stefan dan Hana saling menatap sesaat kemudian sama sama melangkah menuju pintu. Mereka berdua bisa menebak siapa yang ada di balik pintu kamar. Siapa lagi kalau bukan mbak Titin yang sudah diberi tugas oleh Stefan untuk menjaga Theo selama Hana dan Stefan makan malam.


Karena sudah ada mbak Titin yang menjaga Theo, Stefan pun segera mengajak Hana agar segera turun ke lantai bawah untuk makan malam. Meskipun memang waktu makan malam sudah terlewat satu jam namun itu bukan masalah bagi Stefan.


Ketika sampai di lantai satu Hana mengeryit mendengar suara riuh dari depan rumah.


“Kenapa ribut sekali Stefan?” Tanya Hana menatap Stefan bingung.

__ADS_1


Stefan hanya mengedikkan kedua bahunya. Stefan sudah bisa menebak itu akan terjadi.


__ADS_2