
Hari ini Stefan pulang sebelum hari petang. Pria itu menghabiskan waktu sore harinya dengan mengajak Hana, Theo, juga Angel untuk jalan jalan keliling kompleks sebelum matahari benar benar terbenam.
“Daddy, mommy..” Panggil Angel yang di tuntun oleh Hana karena Stefan yang sedang mendorong Theo di baby stroller.
Stefan dan Hana menoleh pada Angel namun tetap melangkah dengan pelan menikmati udara segar sore itu. Kebetulan sore ini cuacanya sedikit mendung sehingga semilir angin yang menerpa mereka terasa begitu sejuk.
“Ya sayang..” Saut Hana tersenyum manis.
“Tadi di sekolah Angel juara satu lomba nyanyi tau. Missnya saja sampai kasih selamat ke Angel.” Beritahu Angel pada Stefan juga Hana.
“Wah.. Hebat banget anaknya daddy sama mommy. Selamat ya sayang. Mommy jadi penasaran bagaimana merdunya suara anak cantik mommy ini..”
Stefan tersenyum menatap Hana yang melepaskan genggaman tangan-nya pada Angel kemudian berjongkok dan memeluk sayang gadis kecil itu. Stefan yakin siapapun yang melihat mereka tidak akan percaya jika keduanya bukan anak dan ibu kandung karena keduanya memang sangat dekat dan akrab.
“Ada kok mommy videonya. Nanti daddy tinggal minta saja sama missnya.”
Stefan menganggukkan kepalanya pelan.
“Ya, nanti daddy akan hubungi missnya dan meminta video saat kamu sedang bernyanyi.” Katanya.
“Ya sudah mending sekarang kita pulang. Kayanya mau hujan juga.” Ujar Stefan kemudian.
Hana dan Angel kompak menganggukkan kepalanya. Mereka kemudian mempercepat langkahnya menuju jalan kerumah.
Begitu sampai dirumah, Stefan segera menghubungi guru Angel dan meminta video saat Angel sedang bernyanyi. Mereka menonton bersama bahkan Sera sampai memanggil para pelayan untuk berkumpul dan menonton penampilan cucu pertamanya bernyanyi didepan kelas saat pelajaran sedang berlangsung tadi siang.
Setelah selesai menonton penampilan Angel di ruang keluarga, Stefan menyuruh agar Angel segera membersihkan dirinya karena hari sudah hampir petang.
“Sepertinya aku juga harus segera bersih bersih selagi Theo tidur Stefan.” Ujar Hana menoleh pada Stefan yang duduk disampingnya.
“Ya.. Aku akan menjaga Theo selama kamu mandi. Ayoo..”
__ADS_1
Stefan bangkit lebih dulu dari duduknya yang kemudian langsung di susul oleh Hana. Mereka kemudian berlalu keluar dari ruang keluarga dengan Stefan yang menggiring Hana agar melangkah lebih dulu karena Hana yang sedang menggendong Theo.
Sesampainya dikamar, Hana meletakan Theo di ranjang bayinya dengan pelan dan hati hati.
“Titip sebentar ya daddy..” Senyum Hana menatap Stefan yang sudah duduk di sofa seberang ranjang mereka.
“Ya sayang..” Saut Stefan tersenyum manis.
Setelah itu Hana pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Stefan menghela napas pelan setelah Hana berlalu. Pria itu meraih laptopnya. Namun baru saja hendak mengetik sandi untuk membuka laptopnya, tiba tiba ponsel miliknya yang berada di atas meja di depan-nya berdering. Tidak ingin suara deringan itu sampai mengusik tidur lelap putranya, Stefan pun segera meraih benda pipih itu kemudian mengangkat telepon yang ternyata dari Boby.
“Halo..”
“Tuan, saya sudah berada didepan gerbang rumah tuan. Tolong keluar, kita perlu bicara.” Ujar Boby lewat sambungan telepon.
Stefan berdecak pelan kemudian langsung menutup sambungan telepon-nya. Stefan sudah menduga Boby pasti akan mendatanginya dan ingin protes karena Stefan membatalkan secara sepihak kontrak kerja sama mereka hanya karena ulah Williana. Stefan juga tau Boby tidak bersalah dan tidak tau menahu tentang apa yang Williana lakukan dengan mencoba membohonginya tadi siang.
Stefan memanggil Sera yang kemudian langsung mendekat padanya.
“Kenapa nak?” Tanya Sera penuh perhatian.
“Ini mah, aku mau minta tolong. Hana masih mandi. Terus dibawah ada Boby yang katanya ingin bertemu untuk membicarakan tentang pekerjaan. Aku bisa minta tolong nggak sama mamah buat jagain Theo sampai Hana selesai mandi? Takutnya Theo bangun terus nangis mah.” Ujar Stefan mengutarakan maksudnya pada sang mamah.
Sera tersenyum mendengarnya kemudian menganggukkan kepalanya.
“Ya sudah lebih baik sekarang kamu temui tamu kamu. Biar Theo mamah yang jagain.”
Stefan tersenyum lebar mendengar itu.
“Ya.. Makasih ya mah.. Kalau begitu aku kebawah. Titip Theo ya mah.”
__ADS_1
Stefan berlalu setelah itu. Pria itu melangkah lebar menuju tangga menuruninya satu persatu menuju lantai satu rumahnya untuk menemui Boby.
Sementara Sera, wanita itu masuk kedalam kamar Stefan dan Hana. Sera menutup pintu kamar tersebut sepelan mungkin kemudian melangkah mendekat ke ranjang bayi milik Theo dimana disana bayi tampan itu sedang terlelap dengan damai.
Sera tersenyum menatap Theo yang selalu berhasil mengingatkan-nya pada Stefan kecilnya dulu. Theo dan Stefan benar benar seperti pinang yang dibelah dua.
“Mamah..”
Sera menolehkan kepalanya ketika mendengar suara Hana. Wanita itu tersenyum menatap Hana yang terlihat kebingungan karena bukan Stefan yang sedang menjaga putranya, melainkan Sera, mamah mertuanya.
“Stefan mana mah?” Tanya Hana yang hanya mengenakan handuk kimono warna putih dengan rambut yang di gulung menggunakan handuk dengan warna senada.
“Stefan sedang menerima tamu dibawah Hana. Jadi dia minta tolong sama mamah untuk menjaga Theo karena kamu yang sedang mandi.” Jawab Sera dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya.
“Oh.. Begitu. Makasih ya mah. Maaf juga kalau aku mandinya kelamaan.”
“Iya nggak papa. Tenang aja. Mamah juga senang kok jagain Theo. Kamu tau tidak Hana, Theo itu selalu mengingatkan mamah pada Stefan kecil mamah yang dulu. Theo benar benar seperti Stefan. Bukan hanya mirip tapi mereka berdua benar benar seperti satu orang.”
Hana tertawa pelan mendengarnya. Apa yang Sera katakan memang benar. Theo persis sama seperti Stefan.
“Setiap mamah menatap Theo mamah merasa waktu benar benar sangat singkat. Rasanya baru kemarin mamah melahirkan Stefan, menyusuinya, mengayun-nya saat Stefan hendak tidur. Mamah juga yang mengajari Stefan merangkak, kemudian melangkahkan kaki untuk yang pertama kalinya hingga akhirnya Stefan bisa berlari. Bahkan saat mengajari Stefan naik sepeda mamah juga melakukan-nya sendiri Hana. Mamah benar benar tidak ingin siapapun mencuri waktu mamah dengan Stefan saat itu. Mamah memusatkan semua perhatian dan kasih sayang mamah hanya pada Stefan. Tapi sekarang Stefan sudah dewasa bahkan sudah menjadi seorang daddy. Rasanya mamah sangat merindukan semua itu Hana.”
Hana menganggukkan kepalanya mengerti. Hana semakin merasa kagum dengan sosok mamah mertuanya itu karena meskipun hidup bergelimang harta namun Sera tidak sungkan untuk terjun mengurus Stefan sendiri.
“Stefan pasti bangga banget punya mamah seperti mamah..”
Sera menggelengkan kepalanya.
“Justru mamah yang merasa sangat bangga karena memiliki Stefan Hana. Dia anak yang baik. Meski sempat sangat bandel saat masa pubernya, tapi mamah tau Stefan sangat menyayangi mamah dan tidak ingin mamah kecewa.”
Hana tersenyum. Kini Hana percaya bahwa seorang pria yang sangat menyayangi orang tuanya terutama ibunya, pria itu juga akan sangat menyayangi pasangan-nya. Ya, Hana juga percaya Stefan sangat menyayangi dan mencintainya sama seperti dirinya yang sangat mencintai dan menyayangi Stefan, suaminya.
__ADS_1