
Stefan sedang fokus dengan laptopnya saat pintu ruangan-nya diketuk. Sedetik kemudian pintu itu terbuka memunculkan Rico yang membawa paperbag berukuran sedang juga sebuket bunga mawar merah pesanan-nya.
“Permisi tuan. Ini pesanan yang anda mau.” Senyum Rico menunjukan paperbag dan juga bunga yang dipegangnya pada Stefan.
Stefan tersenyum samar melihat apa yang dibawa oleh Rico. Stefan memang sengaja menyuruh Rico membeli semua itu untuk Hana.
“Apa sudah membeli kartunya juga?” Tanya Stefan pada Rico.
“Sudah tuan. Bahkan saya sudah mengaktifkan-nya dan memasang langsung di handphone-nya.” Jawab Rico membuat senyuman Stefan semakin lebar.
“Bagus kalau begitu. Catat nomornya di handphone saya.” Kata Stefan menyodorkan ponsel miliknya pada Rico.
“Baik tuan.”
Saat Rico mencatat nomor ponsel baru untuk Hana di ponsel miliknya, Stefan menuliskan sesuatu di secarik kertas kemudian memasukan kedalam paperbag berisi ponsel baru itu.
“Ini tuan..” Rico kembali menyodorkan ponsel milik Stefan setelah selesai mencatat nomor Hana.
“Oke, segera antar dan berikan ini pada Hana secara langsung.” Perintah Stefan.
“Baik tuan. Saya permisi.” Angguk Rico kemudian berlalu dari ruangan Stefan untuk segera mengantar ponsel baru dan sebuket bunga dari Stefan untuk Hana.
Stefan tersenyum menatap ponselnya dimana nomor Hana tertera disana. Stefan segera menyimpan nomor tersebut di kontaknya agar Stefan bisa menghubungi Hana kapan saja dirinya mau.
Stefan meletakan kembali ponselnya ditempat semula kemudian kembali fokus dengan laptopnya untuk mengerjakan pekerjaan-nya.
-----------
“Permisi nyonya.”
Hana tersentak saat tiba tiba mendengar suara berat Rico. Suara pria bersetelan jas hitam itu berhasil membuyarkan lamunan-nya tentang Alan, sahabatnya.
Hana bangkit dari duduknya di gazebo taman belakang rumah menatap Rico yang berdiri dengan membawa sebuket bunga dan paperbag ditangan-nya.
__ADS_1
“Rico.. Ada apa ya?” Tanya Hana.
Pikiran Hana mulai ngelantur. Hana berpikir Rico hendak memberikan semua yang dipegangnya di belakang Stefan.
“Apa dia sudah gila?” Batin Hana menelan ludahnya.
“Maaf kalau saya membuat anda terkejut nona. Saya kesini karena tuan Stefan yang menyuruh saya untuk memberikan ini pada anda..”
“Oh begitu ya..” Ringis Hana merasa malu sendiri karena sempat berpikir yang tidak tidak tentang Rico.
“Ya nyonya.. Mohon diterima.” Senyum tipis Rico kemudian menyodorkan paperbag dan sebuket bunga itu pada Hana.
Dengan ragu Hana menerima paperbag dan bunga itu dari Rico. Hana tidak menyangka jika Stefan akan memberikan itu padanya.
“Makasih ya Rico.” Senyum Hana.
“Sama sama nyonya. Kalau begitu saya permisi harus kembali ke perusahaan.”
Rico menganggukkan pelan kepalanya kemudian berlalu dari hadapan Hana yang tersenyum menatap punggung Rico.
Hana menghela napas kemudian menatap sebuket bunga pemberian dari Stefan. Hana tersenyum. Seumur hidupnya baru kali ini ada pria yang memberinya bunga. Dan pria itu adalah Stefan, suaminya sendiri.
Bahkan Alan yang adalah sahabat terbaiknya tidak pernah memberikan bunga padanya, tentu saja karena Alan tau Hana alergi dengan serbuk bunga. Hana akan terus bersin bersin jika mencium aroma bunga dari jarak yang sangat dekat.
Hana kembali mendudukan dirinya di gazebo dan meletakan paperbag itu. Hana hanya memandangi bunga indah itu tanpa berani mencium aromanya. Hana tidak mau bersin bersin hanya karena sebuket bunga yang dipegangnya.
Hana kemudian menatap paperbag warna hitam yang dia letakan disampingnya. Hana meletakan buket bunga mawar merah tersebut dan beralih mengambil paperbagnya.
“Ini apa ya?” Gumam Hana bertanya tanya.
Hana membuka paperbag itu mengeluarkan isi yang ada didalamnya. Bibir Hana terbuka begitu mendapati kerdus ponsel baru yang segelnya memang sudah dibuka. Hana juga menemukan secarik kertas putih yang dilipat dimana di kertas itu tertulis kata maaf menggunakan huruf kapital yang begitu jelas.
Hana tersenyum. Hana tidak pernah menyangka jika ternyata pria sedingin dan secuek Stefan bisa begitu manis.
__ADS_1
Penasaran dengan ponsel baru itu, Hana kemudian segera membukanya mengeluarkan benda pipih warna gold itu dari kerdusnya.
Hana menggelengkan kepalanya. Ponsel itu adalah ponsel keluaran terbaru dengan harga yang Hana sendiri bahkan tidak berani membayangkan-nya.
“Jadi dia gantiin handphone aku..” Senyum Hana menatap ponsel baru pemberian Stefan.
Ketika hendak menghidupkan ponsel baru pemberian Stefan itu, tiba tiba senyuman dibibir Hana pudar. Ekspresi Hana menjadi sendu mengingat dirinya sudah tidak punya lagi kontak keluarga Alan. Ditambah dengan photo photo kebersamaan-nya dengan Alan yang sudah tidak ada lagi karena ponsel miliknya yang rusah parah bahkan hancur tidak lagi berbentuk.
Hana menghela napas kemudian memasukkan kembali ponsel itu kedalam kerdusnya. Hana benar benar merasa tidak ada gunanya lagi memiliki ponsel. Toh dirinya tidak akan bisa lagi menghubungi siapapun yang dikenalnya.
Hana memasukan lagi kerdus berisi ponsel itu kedalam paperbag dan meletakan disamping tempatnya duduk dimana disana juga ada sebuket bunga mawar merah pemberian Stefan yang dititipkan pada Rico.
Sedikitpun Hana tidak pernah menyangka semua itu akan terjadi. Hana pikir dirinya akan bisa terus bersama dengan Alan tapi siapa sangka tiba tiba Alan mengalami hal naas itu dan Stefan datang menawarkan bantuan yang tentu harus ada timbal balik untuknya. Bantuan yang tidak bisa Hana tolak meskipun harus menyerahkan diri sebagai syaratnya.
“Alan.. Aku kangen banget sama kamu.. Apa mungkin kalau nanti kamu membuka kembali kedua mata kamu kita bisa bersama sama lagi kaya dulu?” Hana bergumam lirih.
Alan adalah pria terbaik yang Hana kenal setelah Hana kehilangan semua orang yang disayanginya. Alan begitu baik dan perhatian padanya. Alan juga selalu ada untuknya entah dalam keadaan susah maupun senang.
Hana tersenyum saat mengingat malam dimana dirinya melihat senyuman manis Alan untuk yang terakhir kalinya. Malam itu Alan mengajaknya ke pasar malam sehingga mereka berdua pulang sedikit terlambat. Alan mengajaknya makan bakso bakar super pedas dengan ukuran jumbo yang membuat Alan sendiri tersedak dan terbatuk batuk. Hana menertawakan Alan malam itu karena menganggap Alan yang tidak terlalu suka makan pedas itu cemen.
“Ya Tuhan.. Kalau memang hamba tidak bisa lagi bersama dengan Alan hamba ikhlas Tuhan.. Tapi tolong Tuhan.. Sembuhkan dan kembalikan Alan seperti semula..” Batin Hana mendongak menatap langit biru.
Sorenya.
Hari ini Stefan pulang lebih awal dari biasanya. Namun pria itu tidak menemukan Sera, Angel, juga Hana didalam rumahnya. Stefan pun menanyakan kemana ketiganya pada salah satu pelayan-nya yang dijawab bahwa Sera sedang mengajak Hana dan Angel jalan jalan sore keliling kompleks.
Stefan kemudian melangkah menaiki satu persatu anak tangga dirumahnya menuju kamarnya dan Hana yang ada dilantai dua.
Stefan masuk kedalam kamarnya dan mengeryit saat mendapati paperbag berisi ponsel pemberian-nya tergeletak di atas tempat tidur.
Stefan melangkah mendekat dan meraih paperbag itu. Ponsel pemberian-nya sebagai ganti ponsel Hana yang dia banting semalam masih berada didalamnya bahkan masih rapi didalam kerdusnya.
“Pantas saja aku telepon tidak bisa.” Gumam Stefan dengan rahang mengeras.
__ADS_1