
Suara bel yang menggema di seluruh sudut sekolah pertanda waktu pulang sudah tiba disambut dengan bahagia oleh para siswa siswi di sekolah tempat Amira dan Tristan juga yang lain-nya menimba ilmu. Mereka berhamburan keluar dari kelas masing dengan berbagai ekspresi. Ada yang keluar dengan canda tawa, dengan lemas, juga dengan ekspresi sendu seperti Amira dan Tristan.
“Tristan.”
Langkah Tristan terhenti saat tiba tiba Putri menghampirinya. Gadis cantik dengan rambut yang di cepol tinggi itu tersenyum begitu manis pada Tristan yang hanya diam menatapnya karena gadis itu mencegat langkahnya.
Namun tidak hanya Tristan saja yang berhenti melangkah. Amira yang juga mendengar suara Putri memanggil nama Tristan ikut berhenti melangkahkan kedua kakinya di koridor sekolah. Amira menoleh dan mendapati Tristan sedang bersama Amira dibelakangnya.
Amira menghela napas pelan kemudian menggeleng dan berlalu begitu saja tidak ingin tau apapun tentang Putri dan Tristan lagi. Amira sedang mencoba tidak perduli dengan apapun tentang keduanya.
“Putri..” Gumam Tristan tersenyum tipis.
“Kita pulang bareng yuk? Oh ya, tadi kakak kamu telepon aku loh. Katanya nomor kamu enggak aktif. Dia bilang malam ini mau ngajak kita berdua buat makan diluar.”
Tristan menghela napas pelan. Tristan menatap kearah dimana Amira berada tadi dan kedua matanya melebar ketika sudah tidak ada Amira disana.
Putri yang melihat ekspresi Tristan langsung mengikuti arah pandang Tristan. Putri sebenarnya tau Tristan memang sering memperhatikan Amira. Hanya saja Putri pura pura tidak tau karena Putri juga sedang berusaha agar bisa lebih dekat lagi dengan Tristan.
“Ada apa Tristan?” Tanya Putri membuat Tristan langsung kembali menatapnya.
“Ah enggak. Nggak ada apa apa kok.” Jawab Tristan dengan raut wajah kesal.
“Jadi bagaimana? Kamu bisa nggak jemput aku nanti malem? Kebetulan supir aku lagi sakit jadi nggak bisa nganter aku. Terus orang tua aku juga lagi diluar kota. Aku sebenarnya bisa bawa mobil sendiri. Tapi kedua orang tua aku nggak kasih izin. Aku tidak berani melanggar jadinya.” Ujar Putri dengan begitu lugu didepan Tristan.
Tristan berdecak kesal merasa tidak penting mendengar ocehan Putri. Dan juga Tristan merasa tidak harus mengiyakan ajakan kakaknya untuk makan malam bersama. Apa lagi jika Putri juga harus di ajak serta. Tristan benar benar merasa itu sangat tidak penting baginya.
__ADS_1
“Aduh maaf banget ya Putri. Aku lagi males banget. Jadi aku nggak bisa jemput kamu. Aku juga nggak bisa makan malam sama kamu dan kak Williana. Jadi mendingan kamu aja sama kakak aku yang makan malam berdua. Aku lagi nggak pengin kemana mana. Ya sudah ya.. Aku duluan.”
Tristan berlalu begitu saja tanpa mau mendengarkan apa yang ingin Putri katakan padanya. Tristan bahkan mempercepat langkahnya sengaja menghindari Putri.
Putri yang kesal karena sikap Tristan menghentakkan satu kakinya menatap punggung Tristan. Gadis itu selalu berusaha menarik perhatian Tristan sampai rela menjadi mata mata Williana, namun Tristan justru sepertinya selalu berusaha menghindarinya dan diam diam selalu memperhatikan Amira.
“Awas aja kamu Tristan. Liat aja, aku bakal aduin kamu ke kakak kamu. Biar Amira di beri pelajaran sekalian.” Geram Putri.
Sementara Tristan, dia terus mencari keberadaan Amira diantara siswa siswi lain yang berlalu lalang. Beberapa kali Tristan berdecak karena menganggap hilangnya Amira dari pandangan-nya adalah karena Putri yang mencegat langkahnya.
Tristan semakin mempercepat langkahnya menuju halaman sekolah. Senyumnya perlahan mengembang ketika pandangan-nya tertuju pada Amira yang sudah berada didekat gerbang sekolah yang terbuka lebar.
Tristan berlari kecil mendekat pada Amira. Setiap hari setelah hubungan mereka tidak lagi dekat, Tristan memang selalu mengikuti Amira diam diam. Tristan bahkan juga rela berjalan kaki sampai kedua kakinya terasa pegal di malam hari demi bisa mengikuti Amira dan memastikan gadis itu aman sampai rumah. Dan sejauh ini Tristan merasa kakaknya tidak melakukan apapun yang artinya Williana tidak tau apa yang selalu Tristan lakukan.
Ketika baru beberapa langkah menjauh dari gerbang sekolah, langkah Amira dicegat oleh mobil Williana.
Tidak mau sampai kakaknya menyakiti Amira dalam bentuk apapun, Tristan pun segera mendekat tanpa merasa takut sedikitpun. Tristan ingin melindungi Amira dari siapapun termasuk kakaknya sendiri.
Dan dari kejauhan Edo dan Joshua juga melihat itu. Mereka berdua juga tau bahwa kedekatan Tristan dan Amira di tentang oleh Williana, kakak Tristan.
Ketika sudah berada dengan jarak yang cukup dekat dan memungkinkan Tristan bisa mendengar apapun yang Amira dan Williana katakan, Tristan berhenti melangkah dan berdiri disana, dibelakang Amira yang tidak menyadari kehadiran-nya.
Sedangkan Williana, dia turun dari mobilnya dengan membawa amplop coklat berisi uang. Williana menatap sebentar pada Tristan yang diam dibelakang Amira kemudian memusatkan perhatian-nya pada Amira yang hanya diam menatapnya. Sebelumnya Williana sudah menawarkan uang pada Amira agar Amira menjauh dari Tristan. Namun dengan tegas Amira menolak uang darinya.
“Amira.. Gadis kecil yang tidak punya apa apa. Kamu bisa sekolah disini karena beasiswa. Sekali lagi saya beri kamu kesempatan. Ambil uang ini dan menjauh dari Tristan. Saya akan menjamin kehidupan kamu akan tenang setelah ini.” Ujar Williana dengan angkuhnya.
__ADS_1
Amira hanya diam saja. Dan dari kaca mobil mewah Williana, Amira tidak sengaja melihat sosok Tristan yang berdiri tidak jauh dibelakangnya. Amira menghela napas kemudian menatap lagi pada Williana yang meng iming imingi uang didalam amplop coklat yang pasti nilainya tidak sedikit itu. Namun sebanyak apapun uang yang Williana berikan pada Amira, itu tetap tidak akan merubah pendirian Amira. Karena uang Williana tidak akan pernah bisa membeli harga diri Amira.
“Kalian itu masih kecil. Masa depan kalian juga masih panjang. Lebih baik kalian fokus dengan diri kalian sendiri karena kehidupan di kota ini sangat keras. Dan semuanya tentu membutuhkan uang. Uang ini akan mempermudah hidup kamu Amira. Bagaimana?”
Williana tersenyum meremehkan menatap Amira yang masih diam didepan-nya.
Amira kemudian tersenyum dan mengambil amplop coklat berisi uang yang ada di tangan Williana. Hal itu membuat Williana merasa menang karena merasa berhasil menunjukan pada Tristan bahwa Amira jauh lebih memilih uang dari pada dirinya.
Amira mengeluarkan separuh uang itu kemudian menghitungnya.
Tristan yang melihat itu langsung menundukkan kepala merasa kecewa karena menganggap Amira sama saja dengan gadis dimasa lalunya.
“Kakak benar. Saya memang masih kecil dan masa depan saya masih panjang. Dan karena itu saya yakin uang ini tidak akan cukup untuk membuat saya senang. Uang ini masih sangat kurang untuk saya kak. Dan karena itu juga saya tegaskan sekali lagi sama kakak. Saya tidak butuh uang kakak ini. Saya yakin dimasa depan nanti saya akan lebih sukses dari kakak. Terimakasih untuk tawaran-nya. Simpan saja uang kakak ini.” Ujar Amira kembali memberikan uang tersebut pada Williana.
Tristan yang mendengar itu langsung kembali menegakkan kepalanya. Senyum Tristan langsung mengembang dengan begitu lebar mendengar penolakan Amira yang begitu tegas pada Williana.
Rahang Williana mengeras mendengar apa yang Amira katakan. Wanita itu menggenggam erat amplop coklat ditangan-nya saking emosinya.
“Kamu akan menyesal Amira.” Tekan-nya.
“Tidak kak. Saya justru akan merasa sangat menyesal jika menerima uang dari kakak. Saya permisi.” Balas Amira kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Williana.
Tristan menghela napas merasa lega dengan senyuman lebar di bibirnya. Sekarang Tristan semakin yakin bahwa Amira memang gadis yang harus dia kejar.
Setelah Amira menjauh, Tristan pun mendekat pada kakaknya dan berdiri tepat didepan Williana. Tristan memperlihatkan senyuman lebar dibibirnya pada Williana.
__ADS_1
“Sekarang kakak paham kan? tidak semua orang mendewakan uang dan menganggap uang itu segalanya.”