
Rico menyuguhkan secangkir kopi pada Tristan. Tidak lupa Rico juga mengeluarkan cemilan yang dia punya.
“Sebenarnya kamu tidak perlu repot repot mengeluarkan ini Rico. Pertama karena aku tidak terlalu suka dengan kopi. Kedua aku sudah kenyang. Jadi lebih baik sekarang kamu jelasin sama aku ada hubungan apa sebenarnya kamu dan kakak ku Rico.”
Rico tersenyum simpul. Meski tidak persis sama seperti Williana, namun Tristan juga mempunyai sisi sombong seperti Williana.
“Aku akan mendengarkan tanpa menyela Rico. Katakanlah.” Ujar Tristan lagi.
“Saya dan nona Williana tidak ada hubungan apa apa tuan muda. Apa yang saya lakukan tadi saat di restoran hanyalah sandiwara.” Rico mulai menjelaskan.
Tristan mengeryit.
“Lalu tadi apa? Kamu begitu manis pada kakakku.” Tristan tidak percaya begitu saja dengan apa yang Rico katakan.
Rico tersenyum tipis.
“Jadi sebenarnya saya sedang di suruh oleh tuan Stefan untuk mengawasi nona Williana tuan muda. Tuan Stefan melakukan itu bukan tanpa alasan. Tentu karena sikap kakak anda juga.”
“Memangnya kenapa dengan kakak ku? Apa kakak ku merugikan perusahaan kalian atau mungkin menggelapkan uang begitu?”
Rico menggelengkan kepalanya.
“Ini tidak ada hubungan-nya dengan pekerjaan.”
“Lalu?” Tanya Tristan semakin merasa penasaran.
Rico menatap sebentar pada Tristan kemudian menatap lurus kedepan. Pria itu berpikir mungkin tidak ada salahnya jika Tristan tau tugas yang di amanatkan padanya oleh Stefan.
“Semua berawal dari saat tuan Stefan dan nona Williana menghadiri suatu acara. Disana tuan merasa sangat aneh dengan tingkah nona Williana yang terus menjauh dan seolah menghindar dari tuan Stefan.”
“Jadi maksudnya kak Stefan merasa kehilangan karena kak Williana tidak mengganggunya begitu?” Sela Tristan yang membuat Rico kembali menatapnya.
__ADS_1
“Bukankah anda sudah bilang tidak akan menyela apa yang saya katakan tuan muda?” Tanya Rico balik.
“Ah ya.. Maaf maaf. Silahkan di teruskan.”
Rico menghela napas.
“Kalau anda berpikir tuan Stefan merasa kehilangan dengan menjauhnya nona Williana, anda salah besar tuan muda. Tuan Stefan justru merasa sangat senang karena kakak anda tidak lagi mengganggunya.”
“Kalau memang benar begitu lalu untuk apa kak Stefan menyuruh kamu untuk mengawasi kakak ku diam diam? Bukankah ini sangat aneh?” Tanya Tristan.
“Tuan Stefan hanya khawatir kakak anda sedang merencanakan sesuatu. Maka dari itu saya di perintahkan untuk terus mengawasi nona Williana. Tentu saja supaya apapun yang akan di rencanakan oleh nona Williana tuan Stefan bisa mengetahuinya.”
Tristan tertawa pelan mendengarnya.
“Ini benar benar konyol Rico. Kak Stefan terlalu memandang buruk kakak ku.”
“Mencegah itu lebih baik dari pada menghadapi setelah terjadi tuan muda. Harap anda mengerti itu.” Balas Rico tenang.
Tristan menghela napas setelah tawanya mereda.
Rico tersenyum. Sedikitpun Rico tidak ingin menjalin kerja sama dengan siapapun dan dalam bentuk apapun.
“Maaf tuan. Saya tidak tertarik.” Tolak Rico dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
“Hey, maksudmu kakak ku tidak menarik begitu?” Tanya Tristan merasa tidak terima dengan apa yang Rico katakan.
“Ah bukan begitu tuan muda. Maksud saya, saya tidak tertarik dengan tawaran kerja sama anda. Saya sudah cukup sibuk dan saya juga tidak punya waktu. Jadi sekali lagi maaf tuan muda. Saya tidak bisa bekerja sama dengan anda.” Jelas Rico yang tidak ingin jika sampai Tristan salah memahami arti kata katanya.
“Huh sombong sekali kamu Rico. Padahal aku pikir kamu adalah orang yang tepat untuk kakak ku. Supaya kakak ku juga bisa melupakan kak Stefan. Tapi ya sudahlah. Aku pulang saja.”
Rico hanya menghela napas pelan saat Tristan bangkit dari duduknya dan melangkah menuju pintu utama apartemen-nya. Tristan sempat menoleh dan menatap lagi pada Rico sebelum akhirnya benar benar keluar dari apartemen Rico.
__ADS_1
Rico menatap pada secangkir kopi yang dia buatkan sendiri untuk Tristan. Tristan sama sekali tidak menyentuhnya.
“Ada ada saja tuan muda itu.” Gumam Rico menggelengkan kepalanya.
Apa yang Rico khawatirkan benar terjadi. Beruntungnya Rico bisa dengan apik bersandiwara sehingga para pemburu berita itu menyimpulkan lain apa yang terjadi saat di restoran. Mereka menyebarkan berita bahwa Antara Rico dan Williana memang ada hubungan khusus. Bahkan ada juga berita yang mengatakan manisnya Rico saat sedang berusaha mendapatkan maaf dari Williana.
Berita itu bahkan juga langsung sampai di telinga Stefan dan Hana. Mereka berdua sangat terkejut mendengarnya lewat televisi yang sedang di tonton-nya.
“Dad, apa itu benar? Rico punya hubungan dengan Williana?” Tanya Hana yang merasa tidak bisa percaya begitu saja. Hana tau Williana sangat tertarik pada suaminya. Williana bahkan tidak malu menunjukan ketertarikan-nya pada Stefan di depan umum.
“Aku yakin itu hanya salah paham. Aku tau siapa dan bagaimana Rico. Aku akan menanyakan-nya besok.” Jawab Stefan.
“Tapi dad.. Video itu membuat siapa saja berasumsi Rico begitu sangat lembut bersikap pada Williana.”
Stefan menghela napas. Stefan yakin Rico pasti punya alasan melakukan hal tersebut. Stefan tidak percaya pada berita yang beredar bahwa orang kepercayaan-nya itu memiliki hubungan spesial dengan Williana. Apa lagi Stefan juga yang menyuruh Rico untuk mengawasi Williana.
Stefan kemudian menoleh membalas tatapan Hana. Saat ini mereka berdua sedang berada di ruang keluarga dengan Angel yang begitu khusuk menggambar dengan posisi tengkurap diatas karpet berbulu di depan sofa yang mereka duduki. Sementara Theo, balita itu sedang menyusu sambil memainkan jari jemari Hana yang memang Hana genggamkan pada putra tampan-nya itu.
“Sudahlah sayang, tidak perlu di pikirkan. Toh kalau memang Rico punya hubungan dengan Williana itu juga bukan urusan kita berdua kan? Yang terpenting kan tidak akan ada masalah yang timbul?” Senyum Stefan tenang.
Hana menghela napas. Pemikirannya tidak sesimpel itu. Hana takut Williana hanya memanfaatkan Rico untuk merecoki hubungan-nya dan Stefan.
“Aku sangat percaya pada Rico bukan tanpa alasan. Aku tau bagaimana dan siapa Rico sayang..” Stefan berusaha menenangkan Hana. Pria itu tau apa yang sedang Hana pikirkan sekarang.
“Tapi Williana..”
“Percaya sama aku, dia nggak akan bisa melakukan apa apa sayang.” Sela Stefan lembut.
Hana menghela napas sekali lagi. Seulas senyum mengembang di bibirnya di susul dengan anggukan pelan kepalanya. Hana percaya Stefan bisa mengatasi semuanya. Karena Hana tau bagaimana dan siapa suaminya itu.
“Sudah malam. Sepertinya akan lebih kalau kita istirahat sayang..”
__ADS_1
“Ya dad..” Balas Hana setuju.
Stefan memanggil Angel dan menyuruhnya untuk berhenti menggambar. Stefan juga mengajak gadis kecil itu untuk istirahat dan mereka pun sama sama berlalu dari ruang keluarga untuk beristirahat di kamarnya masing masing.