ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 167


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu. Semuanya berjalan semestinya. Hana yang bahagia dengan kehidupan-nya dan Stefan yang juga tidak lepas dari gangguan Williana.


Tristan dan Amira yang menjalani kisah cinta manis yang juga tidak lepas dari gangguan Putri yang sangat menginginkan perpisahan keduanya.


Sedangkan untuk Alan. Sudah dari tiga bulan yang lalu pria itu sudah bisa kembali beraktivitas seperti dulu. Alan sudah kembali bekerja di perusahaan tempatnya dulu bekerja. Alan juga sudah tidak lagi tinggal dengan dokter Rania karena memang kesehatan-nya sudah benar benar pulih.


Hari ini adalah tepat 7 bulan kehamilan Hana. Hari ini juga Stefan mengajak Hana kerumah sakit untuk memeriksakan kandungan Hana. Setiap bulan selama 6 bulan belakangan memang dokter Clara selalu rajin mendatangi Hana untuk memeriksa kandungan wanita itu. Tapi bukan berarti Stefan enggan mengajak Hana kerumah sakit. Dan hari ini Stefan menyempatkan waktu ditengah kesibukan-nya mengajak Hana kerumah sakit karena Stefan ingin melihat bagaimana perkembangan janin dalam kandungan istrinya sebulan terakhir.


“Ya ampun.. Anaknya mommy lincah banget geraknya..”


Stefan tersenyum mendengar Hana yang berbicara sendiri. Pria itu merasa sangat bersyukur karena masa sulit yang menguji kesabaran-nya berhasil dia lalui dengan baik. Dan sekarang Hana sudah kembali menjadi Hana yang penyabar dan penuh perhatian meskipun memang Hana masih sangat sensitif dan gampang sekali menangis jika sedikit saja Stefan berkata salah.


“Ah ya Stefan, kamu kapan mau ajak aku ke Amerika buat nemuin om sama tante juga sepupu sepupu kamu?” Tanya Hana yang kemudian menoleh menatap Stefan yang sedang fokus dengan jalanan yang sedang di lewatinya.


Stefan tidak langsung menjawab. Pria itu memang belum memiliki waktu untuk bepergian. Adapun dirinya pergi itu karena masalah pekerjaan dan tidak dengan waktu yang lama mengingat Hana yang tidak mau jauh darinya.


“Nanti coba aku cari waktu yang tepat yah..” Ujar Stefan pelan.


Hana berdecak pelan. Selama 6 bulan ini Hana sudah cukup bersabar. Karena memang ajakan Hana sudah dari 6 bulan yang lalu yang selalu saja Stefan tunda tunda karena alasan kesibukan dan kondisi Hana yang sering kali tiba tiba melemah.


Beberapa menit kemudian mereka berdua sampai dirumah sakit tempat dokter Clara bekerja. Keduanya segera turun dan melangkah masuk kedalam rumah sakit tersebut dengan tangan saling bertautan.


Tidak perlu menunggu antrian, keduanya segera menuju ruangan dokter Clara yang memang sudah menunggu. Disana Hana langsung diperiksa oleh dokter Clara yang memang begitu telaten dan lembut menyikapi setiap pasien-nya.

__ADS_1


“Dia sangat sehat.” Ujar dokter Clara dengan senyuman yang menghiasi bibirnya saat menatap layar monitor dimana dilayar tersebut terlihat jelas janin dalam kandungan Hana yang begitu sehat dan lincah bergerak.


Hana tersenyum haru melihatnya begitu juga dengan Stefan. Hampir setiap bulan selama beberapa bulan terakhir Stefan memang selalu meminta pada dokter Clara agar kandungan istrinya di USG. Itu Stefan minta karena pria itu memang selalu merasa sangat senang dan bahagia setiap melihat rupa janin dalam kandungan istrinya.


“Lihat, hidungnya sangat mancung. Tubuhnya juga begitu gempal.” Tambah dokter Clara lagi.


Hana tertawa pelan mendengarnya. Janin dalam kandungan-nya memang tidak pernah berhenti bergerak. Bahkan saat terlelap saja Hana terkadang bisa terkejut karena merasakan gerakan kencang dari dalam kandungan-nya.


“Apa kalian ingin tau gendernya?” Tanya dokter Clara menoleh menatap Hana dan Stefan bergantian.


“Ya..” Angguk Stefan pelan.


Pria itu tidak bisa banyak bicara jika sudah melihat bagaimana sempurnanya janin dalam kandungan istrinya. Buah hatinya yang sangat Stefan tunggu tunggu kelahiran-nya.


Hana tertawa lagi merasa sangat bahagia mendengar bahwa janin yang di kandungnya berjenis kelamin laki laki. Tidak heran gerakan-nya begitu kencang sampai membuat perut Hana kadang terasa nyeri.


Stefan meraih tangan Hana dan menggenggamnya erat. Dengan tatapan terus terarah pada layar monitor USG didepan-nya, Stefan mencium punggung tangan Hana. Stefan semakin tidak sabar ingin segera menggendong calon jagoan-nya.


Selesai memeriksakan kandungan Hana, Stefan langsung mengajak Hana pulang. Stefan tidak mau Hana kelelahan karena itu pasti akan membuat kondisi Hana melemah.


“Jadi kapan kamu mau ajak aku ketemu sama om dan tante kamu?” Tanya Hana begitu mobil Stefan berhenti di halaman depan rumah mereka.


Stefan menghela napas. Pria itu menoleh menatap Hana yang menatapnya dengan tatapan kesalnya.

__ADS_1


“Aku akan atur waktunya nanti sayang. Kamu sabar yah.. Lagi pula kamu kan juga sedang hamil besar, nggak mungkin dong kita pergi jauh jauh sampai ke Amerika..” Ujar Stefan berusaha se pelan mungkin memberi pengertian pada Hana.


“Tuh kan.. Kamu mah. Aku tuh pengin banget kenal sama mereka.” Rengek Hana menahan jengkel.


“Kita bisa video call nanti sama mereka.”


Hana menggelengkan kepalanya. Tiba tiba air mata menetes membasahi kedua pipinya membuat Stefan langsung merasa bersalah karena tidak bisa menuruti keinginan istrinya untuk bertemu dengan keluarganya yang lain di Amerika.


“Oke, oke aku akan atur waktu untuk kita pergi kesana segera. Tapi tolong kamu jangan nangis.”


Stefan tidak bisa melakukan apa apa jika air mata Hana yang berbicara. Pria itu memilih mengalah dari pada Hana sedih dan pasti akan merasa tidak diperdulikan.


“Beneran? Kamu nggak bohong kan?” Tanya Hana dengan bibir mengerucut.


“Iya.. Ya sudah lebih baik sekarang kamu turun. Aku harus segera ke kantor. Ingat untuk tidak melakukan sesuatu yang melelahkan.”


Hana menganggukkan kepalanya antusias. Wanita itu kemudian meraih tangan kanan Stefan untuk menyaliminya. Hana juga mencium seluruh wajah tampan suaminya sebelum turun dari mobil mewah pria itu.


Sedangkan Stefan, pria itu hanya bisa menghela napas pasrah. Beberapa bulan terakhir Stefan memang sengaja mengalihkan permintaan Hana yang sangat ingin bertemu dengan keluarganya di Amerika dengan alasan sibuk dengan pekerjaan. Stefan juga tau Sera pasti tidak akan setuju jika dirinya mengajak Hana untuk bertemu dengan keluarganya disana. Tentu saja karena Sera tau bagaimana sikap anak anak dari adik iparnya itu. Tapi sekarang Stefan sudah tidak punya lagi alasan untuk mengelak. Apa lagi jika air mata Hana yang sudah bicara.


Stefan menurunkan kaca mobilnya menatap Hana yang tersenyum manis sambil melambaikan tangan padanya. Wanita itu terlihat sangat bahagia dan gembira karena Stefan mengiyakan apa yang di inginkan-nya.


Stefan tersenyum membalasnya. Setelah itu Stefan melajukan kembali mobilnya berlalu dari pekarangan luas kediamannya meninggalkan Hana yang terus menatap mobilnya sampai benar benar hilang dari pandangan-nya.

__ADS_1


Stefan berharap keputusan-nya mengajak Hana yang sedang hamil besar bertemu dengan adik dari mendiang papahnya juga kedua sepupunya bukan keputusan yang salah.


__ADS_2