
Stefan meringis dan sesekali mengusap luka lebam di sudut bibirnya akibat tonjokan keras dari Hana. Stefan tidak menyangka Hana sampai menonjoknya hanya karena kesalah pahaman atas adanya Williana di ruangan-nya. Padahal saat Hana memberikan-nya minum, kemudian mencium dan menyuapinya udang asam manis buatan-nya Stefan pikir Hana sudah paham dan tidak marah padanya. Tapi ternyata Hana hanya berakting di depan Williana saja. Hana berpura pura tetap mesra pada Stefan didepan Williana yang akhirnya menyingkir karena tidak tahan melihatnya.
Stefan menghela napas. Akting Hana berpura pura tidak marah padanya didepan Williana benar benar sangat hebat sampai Stefan juga ikut percaya. Dan tadi adalah kali pertama Stefan melihat Hana begitu pintar menggunakan topeng dengan senyuman manis yang terus menghiasi bibirnya.
Stefan bangkit dari duduknya kemudian melangkah keluar dari ruangan-nya. Stefan bahkan sampai menjadi pusat perhatian para karyawan-nya termasuk Rico karena luka lebam di sudut bibirnya.
Rico yang khawatir dengan keadaan Stefan langsung menyusul Stefan menuju parkiran.
“Tuan..”
Stefan baru saja hendak membuka pintu mobilnya saat Rico memanggilnya. Stefan berniat pulang karena pekerjaan-nya juga sudah selesai.
“Apa anda baik baik saja tuan?” Tanya Rico menatap Stefan.
Stefan tidak langsung menjawab. Meskipun sudut bibirnya terasa perih dan ngilu namun Stefan bisa memastikan bahwa dirinya baik baik saja.
“Tentu saja. Apa tadi kamu yang mengantar Hana?”
“Ya tuan.. Nyonya meminta saya mengantarnya pulang tadi.”
Stefan mengangguk pelan. Setidaknya Hana pulang dengan Rico yang pasti akan selamat sampai rumah.
“Ya sudah kalau begitu, saya pulang.”
“Baik tuan. Silahkan.”
Rico berinisiatif membukakan pintu mobil untuk Stefan kemudian menutup pelan pintu mobil mewah milik bosnya itu setelah Stefan masuk kedalamnya.
Rico menghela napas menatap mobil Stefan yang mulai melaju meninggalkan parkiran depan perusahaan. Rico tidak tau apa yang terjadi. Namun yang Rico tau saat Hana masuk kedalam ruangan Stefan tidak lama kemudian keluarlah Williana yang entah datang sejak kapan. Tidak lama berselang Hana juga keluar dari ruangan Stefan dengan wajah kesal kemudian memintanya untuk mengantar pulang dengan nada ketus.
Rico berdecak pelan kemudian menggelengkan kepalanya. Setelah mobil Stefan tidak lagi terlihat, Rico pun kembali masuk kedalam gedung perusahaan itu. Rico bermaksud untuk membereskan pekerjaan-nya sebelum akhirnya pulang mengingat hari juga sudah malam.
Sementara Stefan, pria tampan dengan setelan jas hitam itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata rata tidak perduli dengan padatnya jalanan malam ini. Stefan ingin segera sampai dirumah dan menanyakan apa maksud Hana yang tiba tiba menonjoknya.
Tidak sampai 20 menit mobil Stefan sampai tepat didepan teras depan rumah mewahnya. Stefan segera turun dari mobilnya dan lagi lagi Stefan menjadi pusat perhatian karena luka lebam di sudut bibirnya.
__ADS_1
Para pelayan dan body guard yang melihatnya bahkan langsung saling berbisik menerka nerka siapa yang membuat tuan mereka sampai mengalami luka lebam seperti sekarang.
“Daddy...”
Langkah Stefan terhenti ketika hendak menaiki anak tangga pertama karena pekikan Angel. Stefan menoleh dan mendapati gadis kecil itu berlari semangat menghampirinya dari ruang keluarga.
“Selamat malam daddy..” Senyum lebar Angel setelah sampai didepan Stefan.
Stefan hanya diam saja. Moodnya sedang sangat buruk sekarang karena Hana.
Angel menutup mulutnya terkejut ketika menyadari sudut bibir sang daddy yang terdapat luka lebam.
“Ya Tuhan.. Daddy kenapa?” Tanya Angel khawatir.
Stefan berdecak. Tidak penting menurutnya untuk menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh putrinya.
“Mana mommy?” Tanya Stefan dingin.
Angel terdiam sesaat. Gadis itu tau daddy nya sedang tidak baik baik saja sekarang.
“Sebentar dad, Angel akan panggilkan mommy..”
Stefan yang melihat itu hanya bisa menggeleng. Angel sangat berbeda dengan Lusi. Dan Stefan berpikir mungkin Angel memang tidak akan mempunyai sikap seperti Lusi karena dari bayi gadis kecil itu selalu bersama dengan omanya, Sera.
Enggan menunggu, Stefan pun memilih untuk menaiki tangga menuju lantai dua. Stefan berniat menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya. Tentang Hana, Stefan akan menanganinya nanti setelah dirinya membersihkan dirinya.
“Mommy !! Mommy !!”
Hana yang sedang asik memainkan game di ponselnya mengernyit mendengar teriakan Angel. Hana langsung menghentikan aktivitasnya kemudian menoleh menatap pintu dimana Angel baru saja masuk dan langsung menghampirinya.
“Angel, kamu kenapa teriak teriak?” Tanya Hana bingung melihat Angel yang ngos ngosan karena berlarian saat memanggilnya.
“Daddy mom.. Daddy...” Ujar Angel dengan napas tidak beraturan.
Hana mengeryit. Stefan masih baik baik saja saat Hana meninggalkan di ruangan-nya tadi.
__ADS_1
“Daddy kenapa nak?” Tanya Hana mulai khawatir. Hana takut sesuatu yang buruk terjadi pada Stefan.
“Daddy mom.. Daddy luka..”
Kedua mata Hana membulat mendengarnya. Hana benar benar sangat terkejut mendengar apa yang Angel katakan. Stefan terluka, itu artinya saat ini pria itu sedang tidak baik baik saja.
“Ya Tuhan.. Sekarang dimana daddy?” Tanya Hana yang langsung bangkit dari duduknya di sofa.
“Daddy ada didepan tangga mom..” Jawab Angel masih dengan napasnya yang tidak beraturan.
“Ya sudah, terimakasih sayang. Mommy akan ke daddy segera.”
Hana berlari keluar dari ruang keluarga menuju tempat dimana Stefan berada. Namun saat Hana sampai didepan tangga seperti yang Angel katakan, Hana tidak menemukan Stefan disana.
“Ya Tuhan Stefan.. Kamu baik baik saja kan?”
Hana bergumam sendiri dengan perasaan khawatirnya. Wanita itu kemudian berlari menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya. Hana yakin Stefan pasti sedang berada di kamarnya sekarang.
Saat sampai dikamar, Hana tidak menemukan siapa siapa dikamarnya. Namun suara gemericik air dari dalam kamar mandi membuat Hana menghela napas. Apa lagi Stefan tidak benar benar rapat menutup pintu kamar mandinya saat itu.
Hana menarik napas dalam dalam berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Hana benar benar akan merasa sangat bersalah jika terjadi sesuatu pada Stefan. Hana bahkan tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika Stefan mengalami hal buruk yang membuatnya luka itu karena dirinya.
15 Menit menunggu, akhirnya Stefan keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk putih yang melilit di pinggangnya.
Hana menoleh menatap Stefan yang berdiri di ambang pintu. Rambut coklat pria itu sangat berantakan dan basah membuat ketampanan-nya semakin bertambah. Hana juga mengakui bahwa suaminya sangat tampan sekarang.
Hana memejamkan kedua matanya kemudian menggeleng mengabaikan pesona Stefan. Hana kembali membuka kedua matanya kemudian menatap Stefan lagi dari atas sampai bawah.
Stefan terlihat baik baik saja dan tidak terluka dibagian manapun kecuali sudut bibirnya yang memerah karena tonjokan-nya tadi.
“Angel bilang tadi kamu terluka. Makan-nya aku kesini.” Ujar Hana melengos enggan menatap Stefan yang masih diam di ambang pintu.
Stefan mengangkat sebelah alisnya. Karena sedang marah, Hana sepertinya enggan mengakui keperdulian-nya sendiri pada Stefan.
“Tapi sepertinya kamu baik baik saja. Jadi aku keluar saja.” Ujar Hana lagi kemudian keluar dari kamarnya meninggalkan Stefan sendiri.
__ADS_1
Hana masih marah pada Stefan yang kepergok olehnya sedang berduaan dengan Williana tadi.
Sedangkan Stefan, pria itu hanya menghela napas melihat tingkah istrinya yang memang sangat ajaib itu.