ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 113


__ADS_3

Hana terus mengurung dirinya dikamar sampai waktu makan siang tiba. Wanita itu bahkan juga mengunci kamarnya dari dalam dan menolak ketukan dari siapapun. Hal itu membuat Sera dan para pelayan kalang kabut. Sera beberapa kali mencoba menghubungi Hana lewat telepon berharap Hana mengangkatnya dan mau membuka pintu untuknya. Namun Hana sama sekali tidak merespon. Hana mengabaikan ponselnya yang terus bergetar dan berdering disampingnya.


“Pokonya aku nggak bakal buka pintu sebelum Stefan mau beliin semua yang aku mau.” Gumam Hana kukuh.


Saat ini Hana benar benar tidak perduli dengan apapun juga siapapun. Hana hanya ingin semua keinginan-nya di penuhi oleh Stefan.


Hana menghela napas. Wanita itu turun dari ranjang kemudian melangkah menuju pintu penghubung balkon yang terbuka lebar. Hana menutup pintu itu menguncinya kemudian menutup tirai putihnya agar saat body guard atau siapapun yang mencoba masuk lewat balkon kamarnya juga tidak bisa.


Setelah menutup pintu itu, Hana kembali ke ranjangnya. Wanita itu naik dan duduk di tengah ranjang dengan menggunakan bantal sebagai alas bersandarnya di pangkal ranjang berukuran besar itu.


Hana menghela napas lagi dengan kasar. Wanita itu menatap perutnya yang masih rata kemudian mengusapnya dengan penuh kasih sayang.


“Sabar ya sayang.. Mommy bakal terus mengusahakan supaya apa yang kamu mau di turuti sama daddy.” Gumam Hana mengajak perutnya berbicara.


Hana tidak tau bagaimana suasana diluar kamarnya dan Stefan. Wanita itu terus kukuh agar Stefan mau memenuhi ke inginan-nya tidak perduli dengan cara apapun.


Hana sebenarnya juga tidak bisa memahami sikapnya sendiri. Tapi setiap keinginan-nya begitu kuat hingga membuatnya terkadang tidak bisa mengontrol dirinya. Seperti saat sarapan tadi pagi. Hana bahkan refleks membanting sendok dan garpu yang di pegangnya hanya karena Stefan tidak mau menuruti kemauan-nya untuk membelikan buah yang Hana inginkan untuk membuat rujak.


Hana melirik ponselnya yang dari tadi terus berdering. Kali ini bukan Sera yang menelepon-nya, Tapi Stefan.


Melihat nama kontak suaminya yang tertera di layar ponselnya, Hana langsung tersenyum. Dengan semangat Hana meraih ponsel miliknya kemudian mengangkat telepon dari Stefan.


“Halo, sayang... Tolong kamu buka pintu kamarnya yah.. Aku janji aku akan turuti semua mau kamu. Aku akan bawain catton candy bentuk hati seperti yang kamu mau. Aku juga akan membeli buah dan mangga mengkel untuk rujak seperti yang kamu mau. Tapi please.. buka pintu kamarnya.”

__ADS_1


Hana tersenyum puas mendengar ucapan Stefan dengan nada memohon itu. Hana yakin Sera pasti yang menghubungi Stefan dan memberi tahukan apa yang sedang terjadi dirumah.


“Aku berubah pikiran Stefan. Aku mau permen kapasnya bentuk matahari. Bukan love lagi.” Ujar Hana dengan santainya.


Stefan mengerang frustasi di seberang telepon mendengar apa yang istrinya katakan. Stefan merasa dirinya benar benar sedang dijajah oleh istrinya sendiri.


“Oke.. Apapun yang kamu mau aku akan kasih. Tapi buka pintunya dan biarkan mamah masuk.”


Hana semakin merasa senang mendengarnya. Stefan akan menuruti semua kemauan-nya.


“Janji?” Tanya Hana semakin menguji kesabaran suaminya.


“Ya Hana. Aku janji.” Jawab Stefan tanpa sedikitpun merasa ragu.


“Oke, Aku akan buka pintu. Aku tunggu kamu pulang dengan permen kapas bentuk matahari dan buah untuk membuat rujaknya.”


Ketika hendak turun dari ranjang tiba tiba Hana terdiam tampak berpikir dengan kedua mata menyipit.


“Sepertinya burger dengan keju melimpah untuk makan malam enak.” Senyum Hana.


Hana kemudian segera mengirim pesan singkat pada Stefan untuk menambah daftar yang harus Stefan beli untuknya nanti saat pulang kerja.


“Beres. Sayang, nanti malam kita makan burger dengan keju melimpah.” Ujar Hana tertawa sambil kembali mengusap perut ratanya.

__ADS_1


Hana turun dari ranjang dan membuka pintu kamarnya. Begitu pintu tersebut dibuka, Sera sudah berdiri didepan pintu dengan wajah penuh ke khawatiran.


“Ya Tuhan Hana sayang.. Kenapa kamu mengunci pintu kamar? Pintu balkon juga.” Tatap Sera pada Hana sendu.


Hana terkekeh geli. Hana tidak menyangka hanya karena dirinya mengunci pintu dari dalam kamar seisi rumah akan begitu heboh.


“Nggak papa mah.. Aku cuma sedikit kesal aja sama Stefan. Abis dia nggak mau nurutin kemauan aku sih tadi pagi.” Jawab Hana jujur.


Sera ikut tertawa. Hana benar benar berubah sangat drastis sejak hamil. Hana seperti mengerjai Stefan dengan menyuruh pria itu untuk tunduk dan selalu menuruti kemauan-nya.


Sera merasa Hana benar benar mengikuti tingkahnya saat Sera hamil Stefan dulu. Tapi Sera tidak heran mengingat bagaimana brutalnya Stefan saat masih remaja dulu. Stefan juga sering membuatnya kalang kabut bahkan hampir gila karena frustasi menghadapi kenakalan Stefan remaja dulu. Meski memang kenakalan Stefan tidak pernah merugikan teman teman-nya. Stefan hanya sering malas belajar dan selalu bolos sekolah serta tidak mau di atur. Tapi beruntungnya secara perlahan Stefan berubah begitu memasuki usia dewasanya. Stefan tidak lagi brutal dan nakal.


----------


Stefan mengusap kasar wajah tampan-nya. Pria itu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kebesaran-nya merasa sangat frustasi dengan tingkah istrinya yang sedang hamil itu. Stefan benar benar tidak habis pikir kenapa Hana bisa begitu kejam menindasnya. Hana bahkan merubah dan menambah apa yang harus dibeli Stefan nanti.


“Cotton candy bentuk matahari memangnya ada? Lagi pula mana mungkin ada orang bisa membentuk seperti itu.” Gumam Stefan menghela napas merasa kesal namun tidak bisa melakukan apa apa.


Stefan hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan Hana sekarang. Tentu saja karena Hana sedang hamil dan Stefan tidak mungkin tidak menuruti kemauan istrinya itu.


Stefan mengangkat tangan kirinya menilik waktu siang ini. Pria itu kemudian segera bangkit dari duduknya karena sekarang sudah masuk waktunya makan siang. Stefan tidak ingin sampai kehabisan tenaga karena dirinya harus benar benar kuat baik mental maupun fisik dalam menghadapi tingkah Hana.


Stefan keluar dari ruangan-nya, melangkah menuju lift yang kemudian membawanya turun ke lantai dasar gedung perusahaan-nya.

__ADS_1


Begitu sampai dilantai dasar, pintu lift otomatis terbuka. Kemunculan Stefan dari lift menarik perhatian para karyawan yang langsung menyapanya dengan ramah. Namun setelah Stefan berlalu, para karyawan itu langsung saling berbisik kemudian tertawa geli. Ada juga yang merasa heran karena aroma semerbak bayi yang menguar dari tubuh Stefan setiap pria itu lewat.


Rico yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Bukan salah para karyawan itu memang jika mereka merasa lucu juga heran. Pasalnya Stefan adalah pria yang terkenal dingin dengan ketegasan-nya yang selalu beraroma maskulin nan elegan. Tapi tiba tiba Stefan beraroma parfum bayi yang juga sempat membuat Rico merasa heran.


__ADS_2