ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 171


__ADS_3

Tidak ingin menunda waktu, Stefan pun segera mengatakan niatnya untuk mengajak Hana pergi ke Amerika pada Rico. Tentu saja karena Rico adalah orang yang akan menggantikan-nya memimpin perusahaan selama dirinya berada di Amerika bersama Hana. Stefan juga meminta pada Rico agar segera di siapkan jet pribadi untuk penerbangan-nya.


“Baik tuan, saya akan segera menyiapkan semuanya. Apa ada lagi tuan?”


“Tidak, untuk saat ini cukup itu saja Rico.” Jawab Stefan tenang.


“Ya tuan. Kalau begitu saya permisi untuk kembali bekerja.”


“Ya Rico.” Angguk Stefan mengiyakan.


Rico kemudian segera bangkit dari duduknya setelah undur diri pada Stefan. Pria itu melangkah keluar dari ruangan Stefan untuk kembali bekerja.


Sementara Stefan, pria itu kembali fokus dengan laptopnya. Stefan ingin segera menyelesaikan pekerjaan-nya hari ini karena sejak tadi Hana sudah menanyakan kapan dirinya pulang lewat pesan singkat yang di kirimnya sampai beberapa kali.


Ya, Hana memang tidak pernah bisa lama lama jauh darinya sejak hamil.


Tidak terasa hari mulai petang bahkan sekarang sudah lewat satu jam dari waktu makan malam. Dan Stefan baru selesai membaca semua laporan yang diterimanya. Pria itu menghela napas dan merenggangkan otot otot tubuhnya sebelum akhirnya bangkit dari duduknya. Lelah sebenarnya, tapi Stefan tau istrinya memang tidak bisa jauh darinya. Dan Stefan harus segera pulang sekarang juga.


Stefan keluar dari ruangan-nya kemudian melangkah menuju lift yang akan membawanya menuju lantai dasar gedung perusahaan miliknya. Ketika sampai, Stefan beberapa kali mendapat sapaan ramah dari beberapa karyawan yang hanya dibalas dengan anggukan kepala saja oleh Stefan sambil terus melangkah.


“Sadar nggak sih, nyonya Hana itu semakin kesini semakin keterlaluan. Dia benar benar memperbudak tuan Stefan.” Ujar salah seorang karyawan wanita pada teman-nya.


“Positif thinking aja lah, mungkin itu bawaan janin dalam kandungan-nya. Nyonya Hana kan orangnya baik terus nggak sombong. Apa lagi dia juga berasal dari kasta rendah seperti kita.” Balas teman-nya yang enggan untuk berpikir buruk pada istri bos besarnya.


“Masa sih bawaan janin sampai segitunya. Nggak percaya aku mah begituan.”


“Ya.. Memang sulit di percaya sih. Tapi kakak ku juga dulu begitu. Dan setelah bayinya lahir dia kembali menjadi dirinya sendiri. Kembali baik dan penuh dengan kelembutan.”


Karyawan wanita dengan baju super ketat yang menonjolkan bulatan penuh di dadanya itu menghela napas kemudian mengerucutkan bibirnya merasa kesal karena niat bergosipnya malah dibalas dengan ucapan positif yang sukses membuatnya tidak bisa berkata apa apa lagi.


“Ya sudah, aku ke tuan Rico dulu ya..” Senyum teman-nya sambil membenarkan posisi kaca matanya yang sedikit turun dari pangkal hidungnya.

__ADS_1


Karyawan sexy itu menatap kesal pada teman-nya yang begitu santai melenggang meninggalkan-nya untuk mengantar berkas laporan yang memang sedang di tunggu oleh Rico.


Sedangkan Stefan, pria itu mengendarai mobilnya dengan tenang. Karyawan wanita tadi sangat beruntung karena Stefan tidak mendengar apa yang di katakan-nya. Karena jika Stefan sampai mendengarnya menjelekkan Hana, sudah dapat di pastikan dia pasti akan langsung kehilangan pekerjaan-nya.


Deringan ponsel dalam saku dalam jas abu abu Stefan membuat Stefan berdecak. Stefan segera mengurangi kecepatan laju mobilnya kemudian merogoh saku dalam jasnya meraih benda pipih itu.


Stefan mengeryit ketika melihat nama kontak dokter Rania yang tertera di layar ponselnya. Karena penasaran, akhirnya Stefan memutuskan untuk menepikan mobilnya dan mengangkat telepon dari dokter cantik itu.


“Ada apa?” Tanya Stefan enggan untuk basa basi.


“Halo stefan. Apa aku mengganggu?”


“Ada apa Rania?” Stefan mengulang pertanyaan-nya dengan sedikit menekan.


Dokter Rania menghela napas di seberang telepon. Stefan selalu saja bersikap seolah dirinya bisa melakukan apa saja dengan uang yang dia punya.


“Ada yang mau aku bicarakan. Ini tentang Alan.”


“Bisa kita bertemu besok?” Tanya dokter Rania kemudian.


“Aku sibuk dan tidak punya waktu untuk bertemu dengan kamu Rania. Katakan saja sekarang.” Jawab Stefan tenang.


Dokter Rania diam sesaat.


“Alan sudah pulih sepenuhnya.” Katanya.


“Hanya itu?” Tanya Stefan merasa jengah.


“Bukan itu poin pentingnya. Tapi tadi Alan kesini dan mengatakan baru saja menebus motornya yang sudah selesai diservis. Bukankah itu seharusnya adalah tanggung jawab kamu Stefan?”


Stefan tertawa pelan mendengarnya. Stefan merasa memang ada sesuatu yang tidak biasa antara dokter Rania dengan Alan. Sikap dokter Rania yang selalu membela Alan membuat Stefan merasa bahwa dokter cantik itu diam diam menyimpan hati untuk Alan.

__ADS_1


“Apa kamu begitu sangat menyukai Alan, Rania?”


“Hey Stefan, jaga ucapan kamu. Kamu pikir aku takut padamu hah?!” Marah dokter cantik itu membuat Stefan langsung tergelak menertawakan-nya.


“Ayolah Rania, kalian sepertinya memang cocok. Dan untuk masalah motor aku sudah menyuruh Rico untuk menanganinya tapi pujaan hati kamu itu menolak dengan sangat sopan.”


“Apa?” Dokter Rania terkejut merasa tidak harus percaya pada Stefan begitu saja.


“Tidak ada untungnya aku berbohong Rania.”


“Lalu bagaimana dengan pengakuan kamu pada Hana dan tante? Aku yakin kamu belum mengatakan dengan jujur bahwa kamu yang menabrak Alan malam itu Stefan.”


Ekspresi Stefan langsung berubah datar. Stefan juga tau dirinya salah tapi jika di pikir lagi Stefan juga tidak bisa dikatakan sepenuhnya salah mengingat malam itu Alan mengendarai motornya di jalur yang salah. Dan Stefan tidak sengaja menabraknya. Itupun karena Stefan berniat menghindar meski memang pada akhirnya kecelakaan itu tetap terjadi.


“Kamu tidak perlu repot repot mencampuri urusanku Rania.” Tegas Stefan dengan rahang mengeras.


“Kamu salah Stefan. Karena aku sudah tau, itu artinya masalah ini juga menjadi urusanku.” Balas Rania tidak kalah tegas.


“Huh, sepertinya kamu memang benar benar tertarik pada Alan.”


“Jaga mulut kamu Stefan.” Marah dokter Rania tidak terima dengan apa yang Stefan katakan.


“Kamu..”


Malas mendengarkan apa yang dokter cantik itu bicarakan, Stefan pun segera memutuskan begitu saja sambungan telepon-nya.


Stefan berdecak. Untuk saat ini Stefan benar benar tidak ingin memikirkan apapun selain Hana. Karena Stefan sedang berusaha menjadi suami juga calon daddy yang baik untuk istri dan anaknya. Stefan memang akan mengatakan semuanya pada Hana, tapi tidak dalam waktu dekat ini.


Stefan menghela napas dan memejamkan sesaat kedua matanya. Mendadak kepalanya terasa pening memikirkan semua itu. Apa lagi ketakutan juga seringkali menghantui Stefan. Stefan takut Hana akan marah jika Stefan mengakui semua kesalahan-nya nanti. Rasa sesal juga kadang terbesit di hati Stefan. Stefan menyesal karena tidak jujur sejak awal bahwa dirinya lah pelaku yang tidak sengaja menabrak Alan malam itu.


“Huft.. Ya Tuhan..”

__ADS_1


__ADS_2