ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 289


__ADS_3

Setelah berziarah, Stefan mengajak semuanya jalan jalan dan menikmati hari libur bersama. Stefan juga mengajak Angel untuk membeli mainan baru yang membuat gadis kecil itu merasa sangat bahagia.


Namun Stefan juga tidak mau mengambil resiko Hana kelelahan karena terlalu lama menggendong Theo. Stefan pun mengajak mereka pulang setelah makan siang di sebuah restoran yang cukup mewah. Beruntungnya saat makan siang berlangsung, Theo pun terlelap sehingga tidak membuat Hana kerepotan meski memang Hana tetap menggendong Theo sambil makan.


Stefan sebenarnya sudah menawarkan diri menggendong Theo. Namun karena Hana enggan putranya terbangun, Hana pun menolak dengan penuh kelembutan yang tentu bisa di mengerti oleh Stefan.


Selesai makan siang, Stefan pun mengajak Hana, Sera juga Angel untuk pulang. Stefan tidak ingin jika sampai Hana kelelahan.


Begitu sampai dirumah, Stefan mengajak Hana untuk sama sama beristirahat. Mereka berdua berbaring miring menghadap pada Theo yang ada di tengah tengah. Balita itu terlelap dengan begitu damai setelah puas menyusu pada Hana.


Hana yang merasa diperhatikan oleh Stefan langsung balas menatap suaminya itu. Namun yang terjadi Hana justru merasa malu karena Stefan yang begitu sangat intens menatapnya.


“Kenapa sih natap aku begitu banget.” Hana berusaha untuk menghindari tatapan Stefan. Malu sekali rasanya di tatap begitu intens oleh Stefan.


“Memangnya kenapa? Tidak berdosa bukan kalau suami menatap istrinya meskipun disertai dengan nafsu?” Tanya Stefan menggoda Hana.


“Huh, sudahlah Stefan. Jangan meledek. Aku lelah dan aku ingin istirahat. Kamu juga lebih baik istirahat.”


Stefan tertawa geli. Dari gelagatnya Stefan tau Hana sedang merasa malu karena di tatap olehnya.


“Baik, tidurlah. Aku akan menjaga kamu dan putra kita sayang..” Lirih Stefan. Stefan juga tidak ingin menunda waktu istirahat siang istrinya. Apa lagi selama jalan jalan dan keliling mall tadi Theo terus saja berada di gendongan Hana.


“Hem..” Saut Hana yang kemudian langsung memejamkan kedua matanya. Hana tidak mengantuk sebenarnya. Tapi Hana juga tidak bisa berbohong, tubuhnya terasa sangat terasa lelah bahkan seperti remuk. Dan berbaring diatas tempat tidur seperti sekarang membuatnya merasa sangat nyaman hingga akhirnya rasa kantuk benar benar menyerangnya.

__ADS_1


Stefan menggelengkan kepalanya. Cinta membuatnya seperti orang yang kehilangan kewarasan-nya. Seperti apa yang dirasakan-nya sekarang pada Hana, dulu juga Stefan merasakan itu saat bersama Lusi. Stefan ingin selalu bersama Lusi dan terus berusaha menjadi yang terbaik untuk mendiang istri pertamanya itu. Tapi nyatanya kesetiaan-nya sama sekali tidak dihargai oleh Lusi yang malah menyeleweng dengan berhubungan diam diam dibelakang Stefan dengan orang yang sebenarnya di suruh oleh Michelle untuk menggoda. Hal itu menandakan bahwa perasaan Lusi tidak sebesar perasaan-nya. Rasa cinta Lusi tidak sebesar rasa cintanya.


Stefan menghela napas. Semua yang sudah terjadi tidak seharusnya dia pikirkan kembali. Karena bagaimanapun juga jika tidak mengenal dan mencintai Lusi, mungkin Stefan tidak akan punya cerita hidup dengan pelajaran besar yang begitu sangat berarti.


Merasa tidak mengantuk, Stefan pun bangkit kemudian turun dari ranjang dengan sangat pelan dan hati hati agar tidak mengusik tidur lelap istri juga putranya. Pria tampan itu melangkah menuju sofa kemudian mendudukkan dirinya disana. Stefan juga meraih laptopnya kemudian mulai larut dengan benda tersebut dalam keheningan kamarnya.


------------


Amira menatap Tristan yang sedang menata barang barang yang baru saja dibeli oleh pak Ang. Sejak melihatnya yang akan di antar pulang oleh Angga, Tristan memang sedikit berbeda. Pemuda itu tidak bawel seperti biasanya dan hanya berbicara seperlunya. Meskipun memang Tristan tetap mengantar jemputnya saat pulang maupun berangkat sekolah dan bekerja di toko sembako milik pak Ang.


Merasa tidak nyaman dengan sikap Tristan beberapa hari ini, Amira pun memutuskan untuk menjelaskan apa yang mungkin saja Tristan artikan lain. Saat hendak mendekat pada Tristan, tiba tiba suara Angga terdengar. Hal itu membuat Amira mengurungkan niatnya mendekat pada Tristan. Namun ternyata Tristan juga mendengar suara Angga membuat Tristan langsung menoleh dan menghentikan sesaat aktivitas menata barang barang didepan-nya.


“Angga, mau beli apa?” Tanya Amira tersenyum tipis.


“Ini..” Angga tidak menjawab dan malah menyerahkan secarik kertas berisi catatan belanja seperti yang biasa adiknya lakukan saat berbelanja di toko tersebut.


“Tumben kamu yang belanja. Adiknya kemana?” Tanya Amira sekedar basa basi.


“Dia demam. Jadi aku yang belanja.” Jawab Angga tenang.


“Ya ampun.. kasihan banget. Semoga adik kamu cepat sembuh ya Angga.”


“Hem..” Balas Angga.

__ADS_1


Tristan terus menatap pergerakan Amira yang begitu sigap menyiapkan semua barang barang yang diperlukan oleh Angga. Pemuda itu benar benar merasa sangat tidak suka melihat Amira dekat dengan Angga. Apa lagi dengan sikap Angga yang menurut Tristan sok cool dan sok misterius.


“Oke.. Ini.” Amira menyerahkan sekantong kresek besar belanjaan Angga bersamaan dengan Angga yang menyerahkan uang sebagai alat pembayaran yang sah itu.


“Semuanya jadi 150, uangnya 200 ya.. Sebentar aku ambil kembalian-nya dulu.”


Tristan berdecak. Entah kenapa melihat sikap ramah Amira kali ini Tristan merasa muak. Tristan bahkan merasa Amira seperti sedang caper pada Angga.


“Ini kembalian-nya ya Angga.” Dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya, Amira menyerah kembalian Angga yang di terima dalam diam oleh Angga. Bahkan Angga sama sekali tidak mengatakan terimakasih dan langsung menjauh dari warung pak Ang berjalan menuju motornya yang terparkir tidak jauh dari toko sembako tersebut.


Amira menghela napas menatap Angga yang sedang menyantolkan belanjaan-nya dibagian depan motor metiknya. Amira merasa sangat kagum pada sosok Angga yang sedikitpun tidak merasa malu atau gengsi meski harus berbelanja kebutuhan membuat kue ibunya. Ya, Amira tau itu dari adik Angga yang memang dua hari sekali pasti datang untuk berbelanja.


“Memangnya dia sekeren itu ya sampai kamu liatin dia terus?”


Amira mengeryit ketika tiba tiba Tristan bertanya dengan nada sindiran padanya. Gadis itu menoleh menatap Tristan yang sedang menata stok barang di toko itu.


Amira menghela napas kemudian meraih es teh yang dibuatnya sendiri. Amira membawa segelas es teh tersebut mendekat pada Tristan.


“Minum dulu.” Tawar Amira mengukir senyum manis di bibirnya untuk Tristan.


“Nggak usah.” Tolak Tristan ketus.


Amira menghela napas. Jika dirinya meladeni Tristan dengan ikut marah, mereka pasti akan bertengger.

__ADS_1


“Aku minta maaf deh kalau aku banyak salah sama kamu Tristan. Tapi apa yang kamu lihat saat itu benar benar tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku bisa jelasin kok.” Ujar Amira berusaha sabar menghadapi Tristan yang sedang sangat sensitif sejak malam itu.


Tristan hanya diam saja. Rasa cemburu membuat rasa benci dihatinya tumbuh begitu saja tanpa Tristan sadari.


__ADS_2