
Besok sorenya Stefan langsung mengajak Hana untuk pergi. Mereka ke bandara dengan Rico, Sera, juga Angel yang mengantar.
Angel sempat merengek untuk ikut. Gadis itu bahkan menangis dan marah karena Stefan tidak mengajaknya dan hanya pergi berdua saja dengan Hana. Namun berkat Hana yang begitu sabar menghadapi dan memberi pengertian, Angel akhirnya mengerti dan tidak lagi marah pada Stefan juga Sera.
“Kalian berdua hati hati yah.. Segera kabari mamah kalau kalian berdua sudah sampai.” Titah Sera dengan pelan.
Stefan tersenyum tipis kemudian menganggukkan kepalanya menjawab.
“Mommy sama daddy jangan lama lama ya disana. Angel nggak mau lama lama jauh sama mommy sama daddy..” Rengek manja Angel yang terus menggandeng tangan Hana erat.
Hana dan Stefan saling menatap sesaat. Tawa Hana kemudian pecah mendengar rengekan gadis kecil kesayangan-nya.
“Iya sayang, Mommy sama daddy nggak akan lama kok. Angel jangan rewel ya, harus nurut sama oma..” Ujar Hana membelai lembut pipi chuby Angel.
Mendengar ucapan penuh perhatian dan kelembutan dari Hana, Angel pun langsung memeluk Hana. Gadis itu juga mencium perut buncit Hana.
“Adek jagain mommy ya.. Kakak sayang banget sama adek..” Katanya berbicara pada perut Hana.
Stefan, Sera, Hana, juga Rico tersenyum mendengar apa yang Angel katakan. Mereka juga tau Angel sangat menyayangi calon adiknya.
Tidak lama kemudian mereka berpisah. Hana dan Stefan masuk ke bandara dengan seorang body guard yang membawakan barang barangnya.
Sera yang melihat keduanya menjauh hanya bisa menghela napas pasrah. Meski ke khawatiran itu selalu saja menggerogoti hatinya, tapi Sera juga yakin Stefan bisa melindungi Hana dengan baik.
-----------
Tristan menatap bingung pada Amira yang sejak di sekolah terus saja diam dan tampak tidak semangat. Setiap Tristan bertanya Amira selalu mengatakan dirinya tidak apa apa. Tapi ekspresinya benar benar sangat berlawanan dengan jawaban-nya menurut Tristan. Amira tampak murung seperti sedang mempunyai masalah yang dia pendam sendiri.
“Mbak, beli tepung terigu dong satu kilo. Sama tepung panirnya juga setengah kilo saja.”
__ADS_1
Lamunan Amira buyar saat tiba tiba ada seorang ibu ibu yang berbelanja. Gadis itu tersenyum ramah menatap ibu ibu tersebut.
“Sebentar ya bu.. Saya ambilkan.”
“Ya mbak..”
Dari depan toko Tristan terus menatap Amira yang sedang mengambil apa yang hendak dibeli oleh pelanggan toko sembako milik pak Ang tersebut. Tristan benar benar sangat penasaran kenapa kekasih hatinya itu tidak ceria seperti biasanya hari ini.
“Ini bu.. Semuanya jadi 20 ribu.” Ujar Amira sambil memberikan sekantung kresek hitam berisi apa yang di inginkan ibu ibu tersebut.
“Oke mbak, ini uangnya.” Balas si ibu dengan menyodorkan uang lima puluh ribuan pada Amira.
Amira menerima uang tersebut kemudian membuka tempat penyimpanan uang di toko itu bermaksud mencari kembalian.
“Ya ampun.. Ini kan tepung kanji bukan tepung terigu!”
“Kenapa bu?” Tanya Tristan yang penasaran dan mendekat pada ibu ibu itu.
“Ini, masa saya beli terigu malah dikasih tepung kanji sih mas. Gimana sih mbaknya, bisa kerja nggak sih?” Kata si ibu marah marah.
Amira menghela napas pelan. Gadis itu merasa dirinya sudah benar mengambil pesanan ibu tersebut. Namun karena memang dirinya yang sedang kurang fokus tanpa sadar Amira salah meraih deretan tepung yang sebenarnya sudah Amira hapal.
“Ya ya sudah bu sini biar saya yang tuker. Maafin teman saya ya bu.. Kebetulan dia sedang nggak enak badan.” Senyum Tristan beralasan agar ibu ibu itu tidak semakin marah pada Amira.
Sedang Amira, dia hanya bisa menundukan kepalanya tanpa berani menatap ibu ibu tersebut. Amira juga tidak membalas apapun yang ibu itu ucapkan karena Amira tidak ingin membuat pelanggan di toko itu kabur.
“Ini bu.. Dan ini kembalian-nya. Sekali lagi saya mewakili teman saya, saya minta maaf ya bu..” Senyum Tristan memberikan dengan benar pesanan ibu itu dengan memberikan kembalian-nya juga.
“Lain kali kalau lagi sakit itu nggak usah maksa kerja mbak. Duit itu nggak dibawa mati.” Ketus ibu ibu berbaju maroon itu pada Amira.
__ADS_1
“Iya bu.. Maaf..” Ujar Amira pelan.
Ibu ibu itu menatap sebal pada Amira kemudian berlalu dari toko tersebut.
Tristan menghela napas dan menggelengkan kepalanya. Bahkan membedakan antara tepung terigu dan tepung kanji saja Amira sampai tidak bisa saking tidak fokusnya karena terlalu larut dengan pemikiran-nya sendiri.
“Jadi gimana? Masih nggak mau cerita sama aku?” Tanya Tristan pelan.
Amira menoleh dan menatap Tristan dengan wajah sendunya. Meskipun semalam Amira sudah menolak permintaan ibunya untuk menyudahi hubungan-nya dengan Tristan, tapi Amira masih tetap penasaran juga bingung kenapa tiba tiba ibunya menyuruhnya untuk berhenti berhubungan dengan Tristan.
“Eh Amira, kalau ada masalah itu jangan di pendam sendiri. Apa lagi aku ini pacar kamu. Emangnya kamu mau kaya tadi? Kena marah pelanggan toko gara gara kamu nggak fokus dan salah memberikan apa yang dibeli sama pelanggan?”
Amira berdecak pelan. Amira bingung harus bagaimana menceritakan-nya pada Tristan. Amira takut Tristan salah paham jika Amira menceritakan apa yang sebenarnya sedang mengganggu pikiran-nya sekarang.
“Yee.. Dia malah bengong.” Geleng Tristan karena Amira yang hanya diam menatapnya.
“Maaf ya Tristan..” Ujar Amira pelan karena belum siap menceritakan apa yang sedang mengganggu pikiran-nya saat ini pada Tristan. Amira tidak ingin Tristan salah mengartikan maksudnya.
“Dih, dia malah minta maaf lagi. Ya udah deh kalau memang kamu belum mau cerita sama aku nggak papa. Tapi lebih baik sekarang kamu izin pulang saja dulu sama pak Ang. Dari pada kamu bikin para pelanggan marah karena kamu nggak fokus.”
Amira menghela napas sekali lagi kemudian menganggukkan kepalanya menyetujui saran dari Tristan. Mungkin akan lebih baik jika Amira pulang dan menenangkan pikiran-nya. Toh ibunya juga sudah mengerti dengan alasan Amira tidak mau mengakhiri hubungan-nya dengan Tristan.
“Ya udah sebentar ya, aku izin sama pak Ang dulu.”
“Oke, aku tunggu didepan yah..” Senyum Tristan lembut.
Tristan keluar dari toko dan kembali menuju ke motornya. Sedangkan Amira, dia masuk kedalam toko untuk meminta izin pada pak Ang. Dan dengan sangat pengertian pak Ang tentu saja mengizinkan Amira untuk pulang lebih awal dari biasanya. Pak Ang bahkan dengan penuh perhatian menasehati Amira agar ber istirahat dengan cukup dirumah.
Amira pulang dengan Tristan yang mengantarnya seperti biasa. Namun ketika baru sampai ditengah jalan, Amira meminta pada Tristan untuk mereka lebih dulu singgah ditaman. Setelah berpikir Amira merasa akan lebih baik jika terbuka saja pada Tristan dari pada Tristan semakin salah paham dengan kediaman-nya.
__ADS_1