
Karena tidak ingin Boby sampai melakukan hal yang tidak di inginkan, Williana terpaksa mengganti semua kerugian yang Boby Alami karena Stefan yang menghentikan begitu saja kontrak kerja sama mereka yang sedang berlangsung.
“Aku harap setelah apa yang terjadi semalam kakak sadar. Kak Stefan itu tidak pernah sedikitpun tertarik pada kakak. Mungkin apa yang kak Boby katakan semalam ada benarnya juga. Jadi lebih baik sekarang kakak berhenti mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin.”
Williana langsung menatap tajam pada Tristan yang mencoba menasehatinya untuk yang kesekian kalinya. Wanita itu merasa sangat tidak suka dengan apa yang Tristan katakan kali ini.
“Apa maksud kamu Tristan?” Tanya Williana dengan rahang mengeras karena marah.
Tristan berdecak. Semalam karena kedatangan Boby rencana makan malamnya dan Williana diluar gagal.
“Kakak kenapa batu banget sih? Kak Stefan itu sudah punya istri yaitu kak Hana. Memangnya kakak lupa saat kak Hana datang kesini terus nampar kakak? Kakak mau itu terulang lagi?”
“Tristan diam.” Tegas Williana menatap Tristan tajam. Wanita itu tidak terima dengan apa yang Tristan katakan padanya.
Tristan berdecak lagi. Williana selalu saja menolak jika Tristan mengingatkan yang benar padanya.
“Kamu tidak tau bagaimana perasaan kakak Tristan. Kakak lebih dulu mencintai Stefan sebelum Hana hadir. Bahkan sebelum Stefan menikah dengan istri pertamanya Lusi.”
Tristan hanya bisa menghela napas. Tristan tau kakaknya memang sudah lama mengenal Stefan. Tapi menurut Tristan apa yang Williana rasakan pada Stefan adalah salah. Dan Williana tidak seharusnya terus berharap pada Stefan yang jelas jelas tidak pernah menganggapnya ada. Bahkan Stefan begitu tegas menolak Williana sampai memutuskan secara sepihak hubungan kerja sama antar perusahaan yang sudah lama terjalin.
“Kamu atau siapapun tidak akan pernah bisa ngertiin perasaan kakak. Jadi berhenti menasehati kakak. Mengerti kamu?”
Rahang Tristan mengeras mendengarnya. Selama ini Williana selalu ingin Tristan mendengarkan-nya. Tapi Williana sendiri tidak pernah mau menerima masukan apapun dari orang lain.
“Mulai sekarang kemanapun kamu pergi body guard akan mengikuti. Kamu sudah melakukan perbuatan yang cukup keterlaluan pada Boby. Kakak nggak mau kamu kenapa napa.” Ujar Williana dengan nada yang tidak ingin di bantah oleh Tristan.
“Enggak. Aku nggak mau ada siapapun yang mengikutiku kak. Aku bisa melindungi diriku sendiri.” Tegas Tristan menolak.
__ADS_1
“Kamu tidak bisa menolak apapun keputusan kakak Tristan. Atau kamu mau kakak larang lagi untuk berhubungan dengan gadis itu?”
Tristan menyipitkan kedua matanya menatap Williana yang mengancamnya.
“Kakak nggak bisa terus terusan seenaknya sama aku. Kakak saja nggak mau mendengarkan nasehat aku jadi lebih baik kakak juga nggak usah ikut campur apapun dalam kehidupan aku.”
Setelah berkata dengan tegas pada Williana, Tristan pun bangkit dari duduknya. Pemuda yang sudah rapi dengan seragam putih abu abunya itu berlalu begitu saja dari meja makan tanpa menyentuh sarapan-nya meninggalkan Williana dengan emosi meluap luap.
Williana menghela napas kemudian memijat pelan keningnya merasa sangat frustasi dengan apa yang sedang terjadi. Stefan memutuskan begitu saja hubungan kerja sama antar perusahaan yang membuat Williana merugi. Bahkan Williana juga di tuntut harus mengganti kerugian yang di alami Boby sehingga kerugian yang di alami perusahaan-nya menjadi dua kali lipat.
Namun dari semua kerugian yang Williana alami itu tidak terlalu penting untuk Williana. Yang membuat Williana merasa sangat frustasi adalah karena Williana tidak akan lagi punya alasan menemui Stefan untuk mendekatinya.
“AAAAARRRGGGHHH !!” Teriak Williana kesal menjatuhkan semua yang ada diatas meja dengan menyapukan lengan-nya.
Williana benar benar sangat frustasi sekarang. Stefan berhasil memporak porandakan hati bahkan hidupnya. Pria itu membuat Williana sangat jatuh cinta hingga Williana terus berusaha mendekatinya tanpa sedikitpun memikirkan status pria itu. Namun Stefan juga membuat Williana sangat frustasi karena terus saja menolak. Stefan bahkan sepertinya tidak pernah sekalipun memikirkan Williana yang terus saja memujanya.
Williana meremas rambutnya tidak tau harus bagaimana lagi. Hatinya benar benar sudah terpaut pada sosok Stefan. Bahkan Williana terus saja berusaha meski tau Stefan tidak mencintainya.
Beberapa pelayan yang terkejut mendengar suara benda yang jatuh dan pecah didalam kediaman Atmaja langsung berlarian. Namun mereka satu pun tidak ada yang berani mendekat kemeja makan ketika mendapati Williana yang terlihat sedang sangat kacau dengan pecahan gelas, piring, juga alat makan lain-nya yang berserakan dilantai. Para pelayan itu hanya bisa menatap sambil berbisik bisik dari kejauhan tanpa berani mendekat pada Williana.
-----------
“Tristan.” Panggil Amira yang merasa aneh dengan gelagat Tristan hari ini. Tristan tampak sangat tidak semangat mengikuti pelajaran. Bahkan Tristan juga sampai tidak mengerjakan ulangan bu Amanda yang akhirnya mendapat hukuman harus lari sampai 25 putaran di lapangan basket.
Tristan menoleh pada Amira dengan ekspresi yang menurut Amira sangat sangat tidak biasa itu.
“Kamu lagi kenapa sih? Perasaan dari pagi kamu jemput aku sampai sekarang waktu istirahat kamu terlihat sangat tidak biasa banget. Mana sampai nggak ngerjain tugas bu Amanda lagi.” Ujar Amira menatap Tristan yang duduk disampingnya. Saat ini mereka berdua sedang berada ditaman samping gedung sekolah.
__ADS_1
Tristan berdecak pelan kemudian kembali mengarahkan pandangan-nya ke depan. Sebenarnya Tristan ingin sekali bercerita pada Amira, namun Tristan merasa malu karena itu artinya Tristan harus menceritakan tentang sikap tidak baik kakaknya sendiri.
“Tristan..” Amira menyentuh tangan Tristan membuat Tristan kembali menoleh membalas tatapan-nya.
“Kalau ada masalah itu cerita. Jangan di pendam sendiri.” Ujar Amira dengan senyuman di bibirnya serta tatapan penuh perhatian pada Tristan.
Tristan ikut tersenyum kemudian meraih tangan Amira yang menumpuk diatas punggung tangan-nya. Tristan menggenggam tangan Amira dengan lembut. Meskipun Williana selalu bersikap seenaknya, tapi setidaknya Tristan tidak merasa sendiri karena selalu ada Amira yang menemani hari harinya.
“Aku nggak papa kok. Aku cuma lagi sedikit nggak mood aja.” Jawab Tristan yang merasa tidak siap jika harus menceritakan semuanya pada Amira.
Senyuman di bibir Amira memudar mendengarnya. Amira yakin Tristan pasti sedang menghadapi masalah yang cukup serius dengan kakaknya Williana.
“Jadi kamu nggak mau cerita sama aku?” Tanya Amira menatap Tristan serius.
Tristan tertawa pelan. Sebisa mungkin Tristan berusaha menutupi apa yang sedang di pikirkan-nya tentang Williana pada Amira.
“Cerita apa sih? Aku nggak papa Amira. Aku cuma..”
“Oke, cukup.” Sela Amira tidak ingin mendengarkan alasan apapun dari mulut Tristan.
Amira kemudian melepaskan genggaman tangan Tristan. Gadis itu menghela napas lalu bangkit berdiri dari duduknya membuat Tristan yang melihat itu mengeryit bingung.
“Kamu mau kemana?” Tanya Tristan bingung.
“Aku mau ke kelas.” Jawab Amira ketus kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Tristan.
“Loh kok aku di tinggalin sih? Aneh banget.” Gumam Tristan sebal menatap punggung Amira yang terus melangkah menjauh darinya.
__ADS_1