ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 169


__ADS_3

Alan dan dokter Rania duduk di ruang keluarga dengan cemilan dan dua cangkir teh hangat sebagai sajian-nya. Keduanya sama sekali tidak membicarakan apapun dan hanya diam dengan pikiran masing masing.


Selama tiga bulan Alan keluar dari rumah itu ini memang kali pertama mereka kembali bertemu. Tentu saja karena keduanya yang sama sama sibuk dengan pekerjaan masing masing.


“Eemm.. Dokter apa kabar?” Tanya Alan pelan.


Dokter Rania menatap sebentar pada Alan yang menatapnya kemudian tersenyum. Canggung sekali rasanya kembali bertatap muka dengan Alan.


“Seperti yang kamu lihat Alan. Aku sangat baik.” Jawab dokter Rania dengan senyuman yang menghiasi bibirnya namun tatapan-nya terarah pada bunga pemberian Alan yang sedang di pegangnya.


Alan menganggukkan pelan kepalanya. Sekarang Alan bingung harus bertanya apa lagi.


“Kamu sendiri bagaimana kabarnya? Dan bagaimana kabar ibu juga kedua adik kamu?” Tanya dokter Rania menatap Alan.


“Sama.. Aku dan ibu juga adik adik sangat baik.” Jawab Alan.


“Syukurlah kalau begitu.”


Setelah itu keduanya kembali terdiam sehingga suasana hening kembali menyelimuti keduanya. Mereka berdua merasa sama sama bingung harus bagaimana. Lama tidak berjumpa membuat keduanya merasa canggung dan tidak biasa.


“Em.. Kamu udah makan?” Tanya dokter Rania ragu.


Alan mengeryit. Hari sudah sore, entah waktu makan apa yang dokter cantik itu tanyakan padanya. Karena jika makan siang tentu Alan sudah. Untuk makan malam rasanya sangat tidak mungkin mengingat waktu masih sore.


“Untuk makan siang sih udah dokter..” Jawab Alan polos.


Dokter Rania tertawa mendengarnya. Sedikit membingungkan memang mengingat waktu masih sore dan tidak mungkin jika Alan sudah mendahului waktu makan malam sebelum waktunya. Kecuali jika Alan adalah tukang makan.


“Tapi kalau makan malam belum. Kan ini masih sore..” Lanjut Alan disertai tawa pelan-nya.


Dokter Rania ikut tertawa lagi mendengarnya. Dokter cantik itu sadar pertanyaan-nya memang sedikit konyol. Tapi dokter Rania juga tidak tau harus menanyakan apa. Diam terus juga tidak mungkin.


“Ya ya ya.. Ini masih sore..” Angguknya beberapa kali sambil tertawa.


Alan menggelengkan kepalanya. Rasa canggung yang sempat dirasakan-nya sirna sudah karena pertanyaan yang di lontarkan oleh dokter Rania tentang makan.

__ADS_1


“Oh ya Alan, aku sempat melihat Amira sama Tristan beberapa kali. Sepertinya mereka semakin dekat.”


“Ya dokter.. Amira dan Tristan memang semakin hari semakin dekat. Dan yah.. Mereka sekarang pacaran.”


Dokter Rania mengeryit.


“Mereka pacaran? Memangnya Williana mengizinkan?” Tanya dokter Rania penasaran.


“Sepertinya begitu. Amira terlihat sangat ceria dan bahagia setiap hari sejak pacaran dengan Tristan. Dan juga hampir setiap hari Tristan kerumah untuk mengantar jemput Amira atau sekedar mengajak Amira jalan di malam minggu.” Jawab Alan setahunya.


“Syukurlah kalau begitu. Semoga mereka selalu bahagia ya..”


“Ya jangan mereka doang dong yang bahagia dokter. Kita juga harus bahagia.”


Dokter Rania mengeryit lagi mendengar apa yang Alan katakan. Wanita itu merasa sedikit lucu dengan kata kita yang Alan lontarkan yang dokter Rania artikan sebagai mereka berdua.


“Maksudnya?” Tanya dokter cantik itu penasaran.


“Eh enggak, enggak papa dokter.” Senyum Alan merasa konyol sendiri.


Obrolan terus berlanjut sampai mereka berdua tidak menyadari hari yang mulai petang. Dan ketika Alan hendak pamit untuk pulang, dokter Rania mencegahnya dan menyarankan agar Alan makan malam lebih dulu sebelum pulang kerumahnya.


Alan berhenti mengunyah makanan dalam mulutnya mendengar pertanyaan itu. Pria itu tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.


“Lancar dokter.. Bahkan aku sudah bisa menebus motor aku yang rusak di bengkel tadi sore.”


Dokter Rania menelan sisa makanan-nya. Seharusnya yang menebus motor itu adalah Stefan, bukan Alan sendiri.


“Apa dokter mau jalan jalan sebentar bersamaku nanti? Yah.. Sekedar keliling ibu kota saja sih.” Tawar Alan yang membuat dokter Rania langsung tertawa pelan.


Dokter Rania menganggap tawaran Alan hanya sebatas candaan saja mengingat pria itu memang senang sekali bercanda.


“Kamu bisa saja.”


“Aku serius dokter.”

__ADS_1


Tawa dokter cantik itu langsung mereda. Alan mengajaknya untuk jalan jalan malam ini menggunakan motornya yang baru bisa dia tebus sore ini di bengkel.


“Boleh..” Angguk dokter Rania menyetujui.


Alan tersenyum senang. Meskipun memang dirinya bukan pria yang kaya raya seperti Stefan, tapi Alan yakin dokter Rania tidak akan malu dekat dengan-nya.


Selesai makan malam, Alan langsung mengajak dokter Rania untuk menaiki motornya. Mereka berboncengan keluar dari pekarangan rumah dokter Rania kemudian menyusuri jalanan ibu kota malam itu dengan obrolan ringan yang mengundang tawa di sepanjang jalan.


“Dokter..”


“Ya Alan..”


Alan diam sesaat. Pria itu ingin sekali mengatakan rasa terimakasihnya atas dukungan wanita cantik yang berada di boncengan-nya sekarang. Dukungan yang membuat Alan semangat dan bisa seperti sekarang.


“Aku mau bilang terimakasih banyak atas dukungan dokter selama ini. Karena berkat dukungan dokter juga aku bisa melewati masa masa sulit itu.”


“Termasuk melupakan perasaan aku pada Hana..” Lanjut Alan membatin.


Dokter Rania tersenyum mendengarnya. Saat melihat Alan yang begitu terpuruk bahkan hampir menyalahkan Amira karena tau Hana menikah dengan Stefan, dokter cantik itu memang merasa sangat gemas tapi juga tidak tega. Dokter Rania tidak ingin menghakimi siapapun saat itu. Karena apa yang terjadi memang sudah kehendak Tuhan.


“Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan Alan. Tidak perlu berpikir berlebihan. Aku senang kamu bisa melewati semua itu dengan lapang dada.” Balas dokter Rania yang tidak ingin jasanya terlalu di anggap berlebihan oleh Alan.


Alan tersenyum. Penilaian-nya pada dokter Rania tidak pernah meleset. Wanita itu benar benar berhati tulus.


“Dokter kita ngebut ya..”


“Apa?!” Kedua mata dokter Rania membulat mendengarnya. Wanita itu tidak terbiasa naik motor kebut kebutan dijalanan apa lagi pada malam hari.


“Alan tapi...”


“Pegangan dokter..” Ujar Alan memperingati.


Dokter Rania yang sudah ketakutan setengah mati langsung saja melingkarkan kedua tangan-nya dengan sangat erat di pinggang Alan. Kepalanya dia sandarkan di bahu Alan berharap dengan memeluk Alan dirinya akan tetap aman.


Sementara Alan, pria itu terkejut karena pelukan erat dokter Rania. Alan melirik sepasang tangan putih bersih dokter Rania yang melingkar dengan begitu erat di perutnya. Karena pelukan itu juga Alan kembali merasakan sesuatu yang tidak biasa pada hati juga jantungnya.

__ADS_1


Rasanya sangat aneh namun membuatnya berbunga bunga.


Alan kemudian benar benar menambah laju kecepatan kendaraan beroda duanya membelah jalanan yang kebetulan tidak terlalu padat oleh kendaraan malam itu bersama dokter cantik yang mulai mencuri hatinya.


__ADS_2