
Dalam perjalanan, Sera terus mengajak Hana mengobrol. Wanita itu juga sesekali bercanda membuat Hana tertawa karena merasa lucu dengan candaan yang dilontarkan oleh mamah mertuanya itu.
“Kamu tau Hana, sampai sekarang sebenarnya mamah masih sangat penasaran bagaimana awal pertemuan kamu dengan Stefan sehingga akhirnya kalian memutuskan untuk bersama dan akhirnya menikah. Apa lagi Stefan juga mengenalkan kamu sama mamah saat kalian akan menikah. Jujur itu sangat mengejutkan mamah.”
Senyuman dibibir Hana memudar mendengar apa yang Sera katakan. Hana tidak berpikir sedikitpun Sera akan menanyakan tentang hal itu. Apa lagi Hana juga tidak pernah menyinggung tentang hal itu pada Stefan selama ini.
“Dulu saat mendekati Lusi Stefan sangat terbuka bahkan pernah meminta bantuan dari mamah. Tapi sama kamu, sepertinya Stefan begitu gentle mengatakan-nya sama kamu sendiri. Dan sekali lagi mamah jujur sangat penasaran dengan itu Hana.”
Hana tidak tau harus menjawab apa sekarang. Mengalihkan pembicaraan juga rasanya tidak mungkin mengingat dirinya tidak punya alasan karena hanya berdua didalam mobil bersama Sera.
“Hana.. Kenapa diam?”
Hana menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan-nya perlahan.
“Hana juga tidak menyangka akan dipertemukan dengan Stefan mah. Tapi yang pasti dan yang Hana tau Stefan adalah laki laki yang baik. Itu sebabnya Hana berani menjalani komitmen bersama Stefan mah...” Ujar Hana pelan yang berusaha untuk tidak menambahkan sedikitpun apa yang Hana rasakan dengan ucapan bohongnya.
“Meski itu dengan sangat mendadak.” Lanjut Hana dalam hati.
Sera terdiam kemudian mengangguk anggukan kepalanya mendengar apa yang Hana katakan. Jawaban Hana sebenarnya tidak sedikitpun membuatnya merasa puas. Tapi Sera juga tidak mungkin memaksa Hana untuk mengatakan semuanya pada dirinya kalau memang Hana tidak berniat terbuka padanya.
“Baguslah kalau memang Stefan masih bisa memperlihatkan kebaikan-nya dibalik topeng wajah datar dan sikap dingin-nya.” Senyum Sera.
Hana tersenyum tipis. Hana tau Sera tidak puas dengan jawaban-nya. Tapi Hana juga tidak mau berbohong dengan mengarang cerita. Sedangkan untuk berkata jujur akan semuanya juga lebih tidak mungkin lagi. Sera pasti akan berprasangka tidak baik padanya jika tau apa yang sesungguhnya terjadi di awal mula Hana dan Stefan bersama.
“Maafin Hana ya mah.. Bukan-nya Hana nggak mau jujur sama mamah. Tapi Hana tidak berani mengatakan yang sebenarnya. Hana takut mamah marah dan salah mengartikan semuanya.” Batin Hana dengan ekspresi sendunya.
__ADS_1
Tidak ingin Hana tau dirinya tidak puas dengan jawaban Hana, Sera pun kembali mengajak Hana mengobrol topik yang lain disertai candaan yang akhirnya bisa mengembalikan suasana yang tidak canggung antara keduanya. Sera juga menceritakan tentang apa yang dirasakan-nya saat dirinya hamil Stefan dulu pada Hana.
------------
“Put kok si Tristan sekarang dekat lagi sih sama Amira? Mereka bahkan terlihat lebih dekat banget.”
Putri menolehkan kepalanya pada teman sepermainan-nya mendengar itu. Putri memang tau Tristan sudah pulang karena dirinya yang bertanya langsung pada Williana. Dan Putri berpikir Tristan kembali pulang tapi tidak lagi dekat dengan Amira sebagai syarat yang di ajukan oleh Williana.
“Nggak, nggak mungkin. Tristan itu udah pulang lagi kerumah yang artinya Tristan menyanggupi syarat untuk tidak lagi berteman sama Amira.” Sergah Putri yakin.
“Tapi aku lihat sendiri Put, Tristan sama Amira bahkan berangkat sekolah sama sama. Kalau kamu nggak percaya kamu bisa cek sendiri sekarang ke kelas mereka.”
Putri menatap kesal pada teman-nya itu kemudian bangkit dari duduknya. Putri berlalu keluar dari kelasnya untuk memastikan benar atau tidaknya perihal tentang kedekatan Tristan dan Amira yang semakin intens.
“Jangan nanti deh.. Besok aja gimana? Soalnya nanti setelah pulang sekolah aku harus nemenin adik aku ke toko buku.”
“Yah.. Memangnya nggak bisa apa kamu temenin aku dulu? Atau paling nggak kamu temenin aku setelah nemenin Aisha.” Tristan merengut karena Amira yang tidak bisa menemaninya keluar siang ini.
“Nggak bisa Tristan. Aku juga niat mau cari kerjaan setelah nemenin Aisha..”
Tristan mengeryit mendengar apa yang Amira katakan. Pemuda itu langsung menghentikan langkahnya mendengar Amira yang akan mencari pekerjaan.
“Kerja?” Tanyanya menatap Amira yang ikut menghentikan langkahnya.
“Kenapa sih? Kok natap aku gitu banget. Memangnya kenapa kalau aku mau cari kerjaan? Nggak boleh?”
__ADS_1
“Iya. Kamu nggak boleh kerja. Kamu itu harus sekolah yang pinter bukan malah kerja. Belum saatnya tau nggak.” Jawab Tristan cepat.
Amira menyipitkan kedua matanya menatap Tristan yang dengan tegas melarangnya untuk mencari pekerjaan.
“Kok kamu jadi ngatur ngatur aku sih? Memangnya kamu pikir kamu siapa sampai harus aku turutin apa yang kamu mau hah?!” Tanya Amira galak.
Tristan mengeryit merasa tidak suka dengan apa yang Amira katakan. Amira seperti tidak menganggapnya sebagai pacar.
“Aku pacar kamu. Aku berhak buat memberitahu kamu mana yang baik dan mana yang enggak baik buat kamu.” Tegas Tristan.
Putri yang dengan jelas mendengar ucapan tegas Tristan mendelik tidak percaya. Tristan mengakui sendiri bahwa dirinya adalah pacar Amira.
“Jadi mereka sekarang pacaran.” Gumam Putri menutup mulutnya tidak percaya.
Amira yang mendengar itu langsung menghempaskan tangan Tristan sehingga tautan tangan mereka terlepas.
“Dasar nyebelin.” Ketusnya kemudian melangkah meninggalkan Tristan.
Sementara Tristan, pemuda itu berdecak kesal karena Amira yang tidak mau di ingatkan. Padahal maksud Tristan melarang Amira mencari pekerjaan itu baik. Tristan tidak mau Amira kelelahan sehingga waktu belajarnya terabaikan seperti dirinya kemarin kemarin. Apa lagi Amira juga adalah siswa yang berprestasi yang tentu akan sangat sayang jika nilainya menurun karena sibuk bekerja.
“Di ingetin baik baik malah marah marah.” Gumam Tristan kemudian menyusul Amira melangkah menuju kelas mereka.
Putri yang terus mendengarkan percakapan Tristan dan Amira mengepalkan erat kedua tangan-nya. Putri tidak menyangka keduanya bahkan sudah menjadi pasangan kekasih. Padahal Putri kira Williana tidak akan menyetujui kedekatan keduanya.
“Aku harus tanya sama kak Williana. Aku nggak biasa biarin Tristan dan Amira pacaran. Tristan hanya boleh menjadi pacar aku, bukan yang lain.”
__ADS_1
Tidak bisa menerima kenyataan bahwa Tristan dan Amira bersama, Putri pun segera mengeluarkan ponsel dari dalam saku baju seragamnya. Putri berniat menghubungi Williana dan menanyakan langsung kenapa wanita itu membiarkan Amira dan Tristan bersama.
“Ck, kok nggak di angkat angkat sih?!” Decak Putri kesal.