ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 254


__ADS_3

Sampai jam pulang sekolah, Amira terus mendiamkan Tristan. Gadis itu merasa kesal karena Tristan seperti sedang menutup nutupi sesuatu darinya. Tristan juga terus mengatakan tidak apa apa saat Amira kembali bertanya padanya.


“Amira !!” Tristan berseru memanggil Amira yang melangkah dengan cepat meninggalkan-nya. Gadis itu benar benar merasa sangat kesal pada Tristan yang tidak mau terbuka dengan-nya.


Amira menoleh dengan wajah kesal kemudian kembali melangkah menghindari Tristan. Gadis itu bahkan semakin mempercepat langkahnya keluar dari pekarangan sekolah untuk mencari angkutan umum yang akan mengantarnya pulang.


Tristan yang melihat itu berdecak kesal. Tristan tidak mengerti kenapa Amira tiba tiba menjadi sangat cuek padanya.


“Lagi kenapa sih dia? Aneh banget.” Gumam Tristan merasa kesal.


Namun meskipun kesal, Tristan juga tidak ingin membiarkan Amira pulang sendiri. Tristan segera menaiki motornya kemudian melajukan-nya untuk mengejar Amira.


“Amira tunggu !!” Seru Tristan sembari melajukan motornya ke arah Amira yang sudah akan menaiki angkot.


Tapi lagi lagi Amira enggan menunggunya. Gadis itu bahkan bergegas menaiki angkot yang kemudian langsung melaju dengan kecepatan sedang.


Tristan benar benar tidak tau dimana letak kesalahan-nya. Hari ini adalah hari yang sial baginya karena sebelum berangkat sekolah Tristan beradu mulut dengan kakaknya kemudian ketika di sekolah Amira malah mendiamkan-nya.


Edo dan Joshua yang melihat Tristan mengejar angkot yang dinaiki oleh Amira dari kejauhan menggelengkan kepalanya. Mereka berdua juga melihat keanehan pada Amira yang terus saja mendiamkan Tristan selama berada didalam kelas. Amira bahkan tidak perduli meskipun Tristan terus memanggilnya dari belakang karena mereka memang tidak sedang duduk bersama karena Amira yang menjauh dan pindah tempat duduk.


“Udah bisa di pastikan ini mah. Mereka berdua pasti lagi ribut Jo..” Ujar Edo mulai berasumsi.


“Iya.. Aneh banget ya mereka, padahal kan tadi pagi juga baik baik aja. Eh abis istirahat langsung nggak jelas begitu. Mana si Amira pake pindah tempat duduk segala lagi.” Tambah Joshua tidak habis pikir.


“Orang pacaran memang ribet Jo. Makan-nya kita mah nggak usah pacar pacaran dulu. Mending begini begini saja. Bebas mau ngapain aja. Cuci mata sana sini juga nggak ada yang marah. Ya kan?”


Joshua tertawa mendengar apa yang Edo katakan kemudian menoyor kepala sahabatnya itu.


“Emangnya ada cewek yang mau sama kita Do? Kalau mau ngomong itu mikir dulu. Kita jomblo bukan karena kemauan kita. Tapi karena memang nggak ada yang mau sama kita.”


Edo meringis. Mereka berdua sebenarnya sudah beberapa kali mendekat gadis incaran mereka bahkan hampir jadian. Namun karena kekonyolan keduanya, hubungan dekat itu tiba tiba berakhir tragis.


“Sudahlah Jo.. Kita mah terima nasib aja. Lagian kayanya enakan begini begini saja deh. Dari pada setiap hari harus melakukan ini itu yang tidak kita mau.”


“Iya.. Bener banget. Ya udah yuk pulang. Semoga berhasil deh tuh si Tristan ngeluluhin hatinya si Amira yang lagi ngambek.”

__ADS_1


Mereka berdua kemudian kembali melajukan motornya yang memang sempat berhenti karena melihat Tristan yang mengejar angkot yang di tumpangi Amira.


Sementara Tristan, dia terus mengikuti angkot yang membawa Amira sampai di depan gang yang biasa Tristan lewati untuk menuju rumah Amira.


Ketika melihat Amira turun dari angkot, Tristan segera turun dari motor gedenya. Tristan menghampiri Amira dengan cepat yang memang sengaja menghindar darinya.


“Amira tunggu.”


Tristan mencekal lengan Amira yang sudah akan berlalu setelah turun dari angkutan umum tersebut. Tristan benar benar merasa tidak bisa jika Amira mendiamkan-nya.


“Kamu kenapa sih Amira? Kenapa tiba tiba cuek banget sama aku? Emangnya aku salah apa?”


Amira menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan-nya dengan kasar. Gadis itu menghempaskan lengan-nya membuat cekalan tangan Tristan terlepas.


“Kamu yang kenapa Tristan. Kamu aneh hari ini. Kamu sering diam dan melamun, tapi kamu nggak mau terbuka sama aku. Kamu nggak mau jujur sama aku tentang apa yang sedang kamu rasakan sekarang. Kamu pikir aku bodoh apa? Aku juga tau kamu sedang ada masalah Tristan.”


Tristan menghela napas pelan mendengar ucapan bernada tinggi Amira. Pemuda itu juga sebenarnya ingin selalu terbuka pada Amira. Namun Tristan bingung karena itu artinya Tristan harus menceritakan sesuatu yang tidak baik pada Amira tentang kakaknya Williana.


“Kamu nggak percaya sama aku Tristan?” Tanya Amira menatap Tristan tidak menyangka.


“Hanya apa?” Tanya Amira menyela apa yang ingin Tristan katakan.


Tristan diam. Williana memang kadang keterlaluan. Tapi bagaimanapun juga Williana tetaplah kakaknya. Dan sebagai seorang adik yang baik, sudah seharusnya Tristan menutupi kekurangan kakaknya dari siapapun termasuk Amira, pacarnya sendiri.


“Nggak bisa ngomong kan kamu? Ya sudahlah, mending kamu pulang aja.”


Tristan hanya diam saja saat Amira berlalu dari hadapan-nya. Tristan juga tidak ingin menutupi apapun dari Amira. Tapi Tristan juga tidak ingin mengumbar sikap tidak baik kakaknya yang sampai saat ini masih terus berusaha mendekati Stefan tanpa memperdulikan status Stefan yang sudah mempunyai istri.


Tristan menelan ludah menatap punggung Amira yang menjauh darinya. Sekarang Tristan benar benar merasa sangat frustasi karena Amira juga bersikap demikian padanya hanya karena Tristan tidak mau menceritakan masalah yang sedang di hadapinya.


“Memangnya harus apa, semuanya aku ceritain sama dia. Aku kan juga punya privasi.” Gumam Tristan dengan helaan napas kasar.


Tapi walaupun Amira bersikap seperti itu, Tristan tetap menunggu di depan gang. Tristan tau Amira pulang hanya untuk berganti baju karena sebentar lagi sudah harus ke toko sembako milik pak Ang untuk bekerja.


Tristan mendudukan dirinya sembari memikirkan masalah yang sedang dihadapinya. Walaupun sekarang memang Williana tidak melarangnya berhubungan dengan Amira namun ternyata bukan berarti permasalahan selesai. Tentu Tristan perduli pada kakaknya. Tristan sangat menyayangi kakak satu satunya itu meski kadang merasa kesal karena sikap Williana yang selalu seenaknya padanya.

__ADS_1


“Tristan awas !!”


Pekikan tiba tiba Amira membuat Tristan refleks menoleh kebelakang dimana disana ada dua preman yang hendak memukulnya. Beruntung Tristan bisa dengan cepat menghindar sehingga pukulan itu meleset dan mengenai bagian tangki motor miliknya.


Tristan terkejut melihat dua preman yang entah datangnya darimana dan berniat memukulnya.


“Siapa kalian?!” Tanya Tristan marah.


Sementara Amira, gadis itu tetap berdiri di tempatnya tanpa sedikitpun berani mendekat pada Tristan.


“Tetap disitu Amira.” Perintah Tristan.


Amira hanya menganggukkan kepalanya dengan rasa takut yang amat sangat. Amira takut Tristan kenapa napa karena dua preman tersebut terlihat begitu sangat dengan tubuh tinggi besarnya.


“Kamu tidak perlu tau siapa kami bocah.” Jawab salah satu dari mereka yang kemudian langsung menyerang Tristan.


Tristan terus berusaha menangkis setiap serangan dua preman itu. Pemuda itu mengeluarkan semua kemampuan bela diri yang di pelajarinya tanpa sepengetahuan kakaknya Williana hingga akhirnya berhasil mengalahkan dua preman tersebut.


Karena kalah dari Tristan, dua preman itu akhirnya pergi sambil sesekali meringis menahan rasa nyeri akibat pukulan dari Tristan di beberapa bagian tubuh juga wajahnya.


Amira yang melihat itu menghela napas merasa lega kemudian segera mendekat pada Tristan.


“Kamu nggak papa kan Tristan?” Tanya Amira menatap Tristan khawatir.


Tristan tersenyum melihat Amira yang sangat mengkhawatirkan-nya. Dia menganggukkan kepalanya kemudian meraih tangan Amira dan menggenggamnya erat.


“Aku minta maaf karena aku nggak bisa ceritain masalah aku sama kamu Amira. Ini bukan tentang aku, tapi tentang kakak aku yang sudah seharusnya aku tutupi.” Ujar Tristan menjelaskan pada Amira.


Amira menelan ludahnya kemudian mengangguk mengerti dengan apa yang Tristan katakan.


“Harusnya aku yang minta maaf sama kamu Tristan. Enggak seharusnya aku marah marah nggak jelas sama kamu cuma karena kamu nggak mau ceritain masalah kamu sama aku. Aku sadar, setiap orang itu punya privasi.”


Tristan hanya tersenyum samar. Bersama Amira Tristan selalu merasa menjadi dirinya sendiri. Walaupun kadang sikap keras kepala Amira membuatnya kesal.


“Ya udah yuk kita berangkat ke toko..” Ajak Tristan menuntun Amira menuju motornya.

__ADS_1


Keduanya kemudian berangkat menuju toko pak Ang untuk bekerja seperti biasanya setelah kembali baikan.


__ADS_2