
Dengan hati dongkol Hana menyantap makan malamnya. Hana bahkan cuek saja meski melihat Stefan yang kesusahan memangku Theo di kursinya.
“Stefan, mungkin akan lebih baik kalau Theo di taruh di baby stroller nya atau mungkin di kursinya saja. Supaya kamu juga bisa makan malam dengan tenang.” Ujar Sera menyarankan.
“Iya mah..” Jawab Stefan mengangguk setuju. Stefan kemudian memerintahkan salah satu pelayan untuk mengambil kursi Theo. Setelah kursi tersebut ditaruh tepat disamping kursi yang di dudukinya dan Hana, Stefan pun segera mendudukan Theo disana.
“Duduk yang anteng ya jagoan.. Daddy mau makan dulu. Nanti kita main lagi. Oke?” Senyum Stefan menatap penuh perhatian pada putranya.
Theo tersenyum lebar mendengarnya. Balita itu kemudian fokus dengan mainan-nya sendiri.
Sementara Hana, kali ini saking kesalnya pada Stefan, sedikitpun tidak ada rasa perduli dalam hatinya. Hal itu menimbulkan tanda tanya pada Angel, Sera, juga dokter Clara. Mereka merasa sangat tidak biasa dengan sikap Hana malam ini.
Ketika hendak bangkit dari kursinya karena Hana merasa sudah kenyang, Hana kembali merasakan sakit kepala hebat itu. Kali Hana bahkan memuntahkan makanan yang sudah masuk ke dalam perutnya.
“Ya Tuhan. Hana.” Stefan yang Khawatir langsung bangkit dari duduknya kemudian mendekat pada Hana. Untung saja Hana tidak memuntahi Theo yang ada di tengah antara dirinya dan Stefan.
Sera dan dokter Clara pun bangkit dari duduknya dan menatap khawatir pada Hana yang tiba tiba muntah muntah.
“Kepala aku sakit banget.. Perut aku mual steff..” Lirih Hana yang kemudian langsung tidak sadarkan diri.
“Hana.. Hana bangun Hana... Hana..” Stefan berusaha menepuk nepuk pelan pipi Hana untuk menyadarkan-nya. Tubuhnya sudah lemas dengan kepala yang di sangga oleh lengan kekar Stefan.
Sera langsung mendekat begitu juga dengan dokter Clara. Sementara Angel, gadis kecil itu menghampiri Theo yang tampak kebingungan melihat daddy nya, omanya, dan dokter Clara yang mengerubuti Hana.
“Adek.. Adek sama kakak Angel yah..” Ujar Angel bermaksud menjaga adiknya agar tidak menangis.
Angel kemudian menoleh menatap Hana yang tidak sadarkan diri. Gadis kecil itu juga merasa sedih dan khawatir melihat keadaan mommy nya. Namun sebagai seorang kakak yang baik, Angel merasa dirinya harus bisa tenang agar bisa menjaga adiknya dengan baik.
“Bawa ke sofa saja dulu Stefan, biar aku periksa.” Ujar dokter Clara yang langsung di angguki oleh Stefan.
Dengan cepat Stefan membopong tubuh Hana dan membawanya menuju sofa yang berada tidak jauh dari meja makan. Pria itu membaringkan Hana dengan sangat pelan dan hati hati.
Begitu tubuh Hana sudah dibaringkan dokter Clara langsung mengambil alih. Wanita itu segera menyiapkan alat alat yang dibawanya di dalam tas kerjanya. Dalam diam meski sebenarnya sangat panik, dokter Clara mencoba untuk tenang saat memeriksa keadaan Hana.
Stefan dan Sera yang berdiri disamping sofa tempat Hana dibaringkan hanya bisa berdo'a dalam hati dan berharap semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Hana.
Stefan merasa heran ketika melihat keryitan di kening dokter Clara. Apa lagi saat melihat dokter Clara yang memeriksa dan sedikit memencet perut Hana.
“Clara apa..”
“Sshhtt.. Nak, Clara itu seorang dokter. Dia lebih tau apa yang harus dia lakukan untuk menangani Hana. Jadi mamah rasa lebih baik kita percaya dan tunggu saja.” Sela Sera ketika Stefan hendak menegur dokter Clara karena merasa apa yang dokter cantik itu lakukan pada istrinya berbahaya.
Stefan menghela napas kasar. Rasa khawatirnya hampir saja membuatnya kalap.
“Ya mah..” Lirih Stefan mengangguk pasrah.
Sera tersenyum. Sera tau Stefan sangat mengkhawatirkan istrinya.
Dokter Clara menghela napas setelah selesai memeriksa Hana. Wanita itu kemudian menatap Stefan dan Sera secara bergantian.
“Bagaimana Clara? Istriku baik baik saja kan?” Tanya Stefan tidak sabaran.
“Hana hamil.” Jawab dokter Clara yang berhasil membuat Stefan dan Sera terpaku di tempatnya.
“Untuk lebih memperjelas lagi akan lebih baik kalau melakukan USG.” Tambah dokter Clara.
Stefan menelan ludah. Selama ini mereka berdua memang tidak pernah membicarakan tentang menunda kehamilan lagi setelah Theo lahir. Tapi Stefan juga tidak menyangka jika Hana akan kembali hamil sedang Theo saja belum berusia genap 7 bulan.
Sera menoleh menatap pada Stefan yang masih diam terpaku. Wanita itu kemudian tersenyum. Cucunya akan bertambah lagi yang artinya rumah mewah itu akan semakin ramai dengan tangisan bayi.
“Apa tidak apa apa?” Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Stefan. Stefan senang dengan kabar itu. Tapi Stefan juga tidak bisa menutupi rasa khawatir dan ketakutan-nya mengingat proses persalinan Hana saat melahirkan Theo.
“Jarak ideal untuk perempuan kembali hamil lagi setelah melakukan operasi caesar sebenarnya adalah 18 sampai 24 bulan Stefan. Tapi itu semua kembali lagi pada kondisi perempuan tersebut.” Jawab dokter Clara.
__ADS_1
Stefan menelan ludah kemudian menatap Hana yang masih tidak sadarkan diri. Pria itu berlutut di depan Hana membuat dokter Clara langsung berinisiatif untuk menyingkir.
Stefan meraih tangan Hana dan menggenggamnya erat kemudian mencium punggung tangan Hana lama. Stefan sedikitpun tidak menyesali kehamilan Hana sekarang. Hanya saja Stefan merasa khawatir pada kondisi Hana yang setiap hari mengurus Theo sendiri.
“Kamu selalu bilang Tuhan selalu menyertai alasan jika menghendaki segala sesuatu pada hambanya sayang. Dan sekarang kamu hamil lagi. Aku bahagia dengan kabar ini. Tapi aku juga khawatir dengan keadaan kamu..” Lirih Stefan menatap wajah pucat Hana.
Sera dan dokter Clara hanya bisa diam saja. Mereka juga mendengar apa yang Stefan katakan pada Hana. Dan mereka tidak tau harus mengatakan apa untuk menenangkan Stefan sekarang.
Paginya Stefan langsung mengajak Hana kerumah sakit untuk melakukan USG. Pria itu sudah memberitahukan tentang kehamilan Hana yang membuat Hana sangat terkejut namun juga senang karena Tuhan kembali mempercayakan dirinya untuk menambah mong mongan.
“Aku akan mencarikan Baby siter untuk Theo Hana. Kamu sudah tidak boleh lagi kelelahan mengurus Theo. Kamu sedang hamil dan harus banyak istirahat.” Ujar Stefan.
Hana yang mendengar itu hanya bisa tersenyum dengan anggukan kepalanya. Wanita itu tau Stefan sedang mengupayakan yang terbaik untuknya.
Begitu sampai dirumah sakit, Stefan langsung mengajak Hana menemui dokter Clara. Disana langsung dilakukan USG dimana di dalam rahim Hana memang terlihat jelas ada kehidupan baru.
“Kamu tidak perlu khawatir Stefan. Semua ini sudah kehendak Tuhan. Yang terpenting Hana selalu menjaga kondisi tubuhnya. Seperti tidak boleh beraktivitas berat. Semuanya pasti akan baik baik saja.” Ujar dokter Clara yang mengerti kegundahan hati Stefan.
Stefan hanya diam saja dengan pandangan tetap lurus ke layar monitor USG. Stefan kemudian beralih menatap Hana yang meneteskan air mata haru pertanda Hana merasa bahagia dengan kehamilan keduanya. Detik itu juga Stefan sadar bahwa kehamilan Hana adalah anugerah yang tidak boleh sedikitpun membuatnya bimbang. Stefan sadar seharusnya dirinya bahagia karena itu artinya Tuhan percaya bahwa dirinya bisa menjaga amanahnya.
Stefan mengembangkan senyuman dibibirnya kemudian mengusap air mata Hana. Ketakutan-nya hampir saja membuat Stefan melupakan bahwa dirinya harus selalu bersyukur pada apa yang sudah Tuhan anugerahkan padanya.
“Terimakasih untuk semuanya sayangku.” Lirih Stefan pada Hana.
Stefan kemudian mengingat perubahan sikap Hana yang begitu keras kepala semalam. Dan Stefan menebak mungkin itu terjadi karena mood Hana yang mudah sekali berubah ubah seperti saat hamil Theo. Dan itu artinya Stefan harus kembali menyetok sabar untuk mengahadapi Hana yang sedang hamil setelah ini.
--------------
“Tidak, kami hanya berteman baik saja. Antara kami tidak ada apa apa kok.” Williana tersenyum saat memberi klarifikasi tentang hubungan-nya dengan Rico yang memang sedang menjadi perbincangan publik. Dan demi menjaga nama baiknya, Williana terpaksa mengakui bahwa dirinya memang dekat dengan Rico.
“Apakah ada kemungkinan anda dan tuan Rico akan bersama nona?” Tanya seorang wartawan bertubuh tinggi tegap.
Williana tertawa pelan menanggapinya.
Setelah memberikan klarifikasinya, Williana pun masuk kedalam mobil mewahnya dengan kawalan body guardnya. Williana berlalu dengan mobilnya dari depan gedung perusahaan-nya menuju jalan pulang.
“Mungkin lebih baik seperti ini. Lupakan Stefan dan memulai kehidupanku yang baru dengan damai.” Batin Williana sambil menatap jalanan yang sedang di laluinya.
Dalam waktu singkat Williana sampai di kediaman-nya. Namun belum juga masuk ke dalam rumah, langkahnya sudah di cegat oleh Tristan.
“Kak tadi..”
Williana tersenyum. Wanita itu tau apa yang akan Tristan katakan karena mungkin Tristan juga menonton berita live tadi.
“Kakak ingin membuka lembaran baru Tristan. Dan kamu.. Jaga Amira dengan baik ya. Kakak merestui kalian.” Ujar Williana menepuk pelan bahu Tristan kemudian masuk kedalam rumah.
Tristan terdiam tidak percaya mendengarnya. Namun perlahan seulas senyum terukir di bibirnya. Pemuda itu merasa sangat bahagia karena akhirnya Williana memberikan restu padanya dan Amira.
“Amira harus tau ini.”
Tidak ingin bahagia sendiri, Tristan pun bergegas berlari kearah motor gedenya. Pemuda itu bermaksud memberitahukan pada Amira tentang Williana yang memberikan restu padanya.
Malam itu dengan kecepatan penuh Tristan mengendarai motornya menuju kediaman kekasihnya. Meski sampai sekarang Amira masih marah padanya, namun Tristan tidak perduli. Yang terpenting adalah Amira harus tau bahwa Williana sudah memberikan restu pada hubungan mereka berdua.
Ketika Tristan sampai di depan kediaman sederhana keluarga Alan, Amira sedang menikmati secangkir teh hangat di teras rumah. Gadis itu mengeryit bingung mendapati Tristan yang datang padahal hari sudah malam dan sudah waktunya istirahat.
“Mau ngapain lagi dia?” Gumam Amira dengan tatapan kesal.
Tristan buru buru turun dari motor gedenya kemudian mendekat pada Amira yang langsung bangkit dari duduknya. Tanpa permisi Tristan tiba tiba mengangkat tubuh Amira dengan melingkarkan kedua tangan-nya di pinggang Amira lalu memutar mutarnya membuat Amira memekik karena takut terjatuh.
“Tristan Tristan Kyaaaa!!! Turunin aku..!!” Teriak Amira sambil melingkar kedua tangan-nya erat di leher Tristan.
Tristan tertawa kemudian segera menurunkan Amira. Pemuda itu lalu memeluk erat tubuh ramping Amira membuat Amira kebingungan.
__ADS_1
“Ada apa sih?” Tanya Amira tidak mengerti dengan sikap ajaib Tristan yang begitu tiba tiba.
“Aku bahagia banget Amira.. Aku bahagia banget.” Ujar Tristan melepaskan pelukan-nya pada Amira.
“Bahagia? Bahagia kenapa?”
“Kakak aku Amira, dia.. Dia sudah merestui hubungan kita. Dia menyuruh aku menjaga kamu dengan baik.”
Amira terdiam sempat kebingungan dengan apa yang Tristan katakan. Namun akhirnya senyuman lebar terukir dibibir Amira. Amira ikut merasa bahagia mendengar apa yang Tristan katakan.
“Kamu nggak lagi bercanda kan Tristan? Kamu seriuskan?” Tanya Amira yang membuat Tristan merasa gemas sehingga Tristan mencubit kedua pipi chuby nya.
“Ya beneranlah.. Masa aku bohong..” Jawab Tristan gemas.
“Awh awwh.. Tristan ini sakit..” Ringis Amira akibat cubitan Tristan.
Tristan tertawa pelan kemudian kembali merengkuh tubuh ramping Amira kedalam pelukan-nya.
“Aku nggak akan melepaskan kamu apapun alasan-nya Amira. Aku akan selalu mencintai dan menjaga kamu selama hidup aku. Pegang janji aku..” Ujar Tristan dibalik punggung Amira.
Amira tersenyum mendengarnya. Gadis itu memejamkan kedua matanya membalas pelukan erat Tristan padanya. Amira benar benar merasa sangat bahagia karena akhirnya Williana memberikan restu untuk hubungan-nya dan Tristan.
-----------
Tidak hanya Stefan dan Hana, juga Amira dan Tristan saja yang merasa bahagia. Alan dan dokter Rania pun merasakan hal yang sama. Mereka berdua sedang duduk di kursi panjang di taman yang tidak jauh dari kediaman dokter cantik itu sambil menatap bintang yang menghiasi langit malam ini.
“Dokter.” Panggil Alan yang membuat dokter Rania langsung menatapnya.
“Ya...” Saut dokter Rania dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
Alan terdiam sesaat kemudian merogoh saku celana jins yang dikenakan-nya. Pria itu mengeluarkan kotak cincin berwarna hitam kemudian membukanya dan menunjukan-nya pada dokter Rania.
“Aku tau aku bukan orang kaya yang bisa selalu menuruti apa yang kamu mau dokter. Aku hanya karyawan dengan penghasilan pas pasan. Tapi dokter perasaan aku sama kamu nggak pernah main main. Aku serius menjalani semua ini. Jadi, apa kamu mau menikah denganku?”
Dokter Rania terkejut hingga mulutnya terbuka mendengarnya. Alan melamarnya.
“Kamu bisa tutup kembali kotak cincin murahan ini kalau tidak mau. Tapi kalau kamu mau kamu bisa mengambil cincinnya dan memakainya.” Ujar Alan kemudian.
Dokter Rania terdiam cukup lama karena keterkejutan-nya hingga akhirnya dokter cantik itu menutup kotak cincin itu namun sudah mengambil cincin-nya lebih dulu tanpa Alan sadari. Hal itu membuat Alan tersenyum miris karena mengira lamaran-nya di tolak.
Alan menundukan kepalanya menggenggam erat kotak cincinnya. Rasa kecewa juga malu di rasakan-nya sekarang.
“Cincinnya bagus. Aku suka Alan.” Senyum dokter Rania sambil mengenakan cincin yang di ambilnya dari dalam kotak warna hitam yang di sodorkan Alan padanya.
Alan mengeryit. Pria itu kemudian menatap pada dokter Rania dan mendelik begitu mendapati cincinnya sudah melingkar manis di jari dokter cantik itu.
“Aku mau kok nikah sama kamu Alan. Aku siap hidup berdua dengan kamu dalam keadaan apapun.” Senyum dokter Rania pada Alan.
Ucapan dokter Rania membuat Alan tersenyum. Rasa kecewa dan malunya sirna seketika karena dokter cantik itu menerima lamanya.
“Kamu nggak akan nyesel nikah sama aku?” Tanya Alan pelan.
“Aku akan lebih menyesal kalau aku menolak menikah dengan kamu. I love you.” Jawab dokter Rania.
Alan tertawa merasa lucu karena dokter Rania mengerjainya sebelum mengiyakan lamaran-nya. Pria itu kemudian menarik tangan dokter Rania merengkuh tubuh ramping dokter cantik itu ke dalam pelukan-nya.
“Terimakasih sayang..” Bisik Alan mengecup lembut bahu dokter Rania.
Dokter Rania tersenyum dalam pelukan Alan. Dokter cantik itu tidak menyangka dirinya akan jatuh cinta pada pasien-nya sendiri.
“Tuhan.. Tolong permudahkan langkah kami untuk menjalani kehidupan berdua yang sudah engkau kehendaki ini.” Batin dokter Rania memejamkan kedua matanya.
END
__ADS_1