
Sejak mendengar secara tidak sengaja apa yang ibu Alan katakan pada dokter Rania, Stefan merasa sedikit tidak tenang. Pria itu bahkan sempat mencurigai Hana namun dengan cepat Stefan menepis kecurigaan-nya itu. Stefan yakin Hana akan setia padanya.
“Kamu kenapa Stefan?” Tanya Hana pada Stefan yang melamun di tepi ranjang. Hana baru saja keluar dari kamar mandi.
Stefan melirik Hana kemudian meraih tangan Hana dan menariknya membuat Hana terjatuh di pangkuan-nya.
“Stefan..”
“Bagaimana kalau seandainya Alan mencintai kamu Hana?” Sela Stefan bertanya dengan wajah yang begitu dekat dengan wajah Hana.
Hana mengeryit merasa aneh dengan pertanyaan suaminya. Padahal tadi saat didepan Alan Stefan begitu sangat percaya diri dengan kesombongan-nya. Namun tiba tiba pria itu seperti orang yang sedang merasa pesimis.
“Maksud kamu apa?” Tanya Hana bingung.
“Jawab saja pertanyaan aku Hana.” Tuntut Stefan membuat Hana semakin bingung.
Hana menatap wajah tampan Stefan yang begitu dekat dengan wajahnya. Pertanyaan Stefan benar benar membuatnya tidak mengerti. Bagaimana mungkin Alan mencintainya sedangkan Alan saja mengatakan ikut bahagia dengan pernikahan-nya dan Stefan. Alan juga mendoakan mereka berdua agar bahagia.
“Stefan, Alan itu sahabat aku. Jadi nggak mungkin Alan mempunyai perasaan seperti itu.”
Stefan berdecak.
“Hana tapi..”
“Stefan tolong. Jangan terlalu berpikir berlebihan tentang aku dan Alan. Kami benar benar sebatas sahabat. Oke?”
Stefan menyipitkan kedua matanya menatap pada Hana yang sudah berani menyela apa yang ingin Stefan katakan. Tidak terima dengan selaan Hana, Stefan pun mencubit hidung mancung Hana membuat si mpunya mengerang dan meringis kesakitan.
__ADS_1
“Stefan sakit..” Protes Hana.
“Itu hukuman karena kamu berani menyela ucapan aku..” Ujar Stefan dengan wajah datarnya.
Hana mengerucutkan bibirnya. Hana benar benar tidak mengerti dengan apa yang Stefan pertanyakan. Hana juga sedikit tidak suka karena Stefan seperti tidak percaya padanya.
“Lagian kamu nanya begitu. Kaya nggak percaya banget sama istri sendiri.” Balas Hana tidak mau disalahkan.
Stefan menghela napas. Stefan percaya Hana bisa setia padanya. Tapi Stefan tidak percaya Alan bisa menahan perasaan-nya pada Hana. Meskipun Stefan sendiri sudah mendengar bagaimana lapang dadanya Alan saat Hana mengatakan mencintai Stefan.
“Aku bukan nggak percaya sama kamu Hana. Aku cuma...” Stefan tidak melanjutkan ucapan-nya. Stefan yakin Hana pasti tidak tau jika Alan mempunyai perasaan terpendam untuknya. Dan tiba tiba saja Stefan berpikir akan lebih baik jika Hana tidak tau. Toh sepertinya Alan juga berusaha menutupi perasaan-nya pada Hana.
“Cuma apa?” Tanya Hana menatap Stefan penasaran.
Stefan menelan ludah.
Hana langsung terpaku begitu wajah Stefan mendekat. Wanita itu bahkan tidak bisa menolak saat Stefan menciumnya. Hana hanya pasrah dengan apa yang Stefan lakukan padanya.
---------
“Aku sudah mengerti bu.. Aku mengerti semuanya sekarang. Mungkin aku dan Hana memang tidak di takdirkan untuk bersama..”
Ibu Alan hanya bisa diam saja mendengar curahan hati putranya. Malam ini Alan memang sengaja meminta pada ibunya untuk menginap. Alan bahkan juga meminta izin pada dokter Rania secara langsung untuk ibu juga kedua adiknya.
“Hana.. Dia mencintai Stefan Devandra bu.. Aku sakit tapi aku tidak bisa berbuat apa apa. Aku tidak sebanding dengan Stefan.” Lanjut Alan dengan tatapan lurus kedepan.
Ibu Alan menangis mendengarnya. Wanita itu tau putranya pasti sedang sangat kesakitan sekarang setelah menyaksikan dan melihat sendiri bagaimana mesranya Hana dan Stefan. Apa lagi keduanya juga tampak begitu serasi.
__ADS_1
“Aku mungkin tidak akan bisa melupakan Hana bu.. Tapi aku juga tidak mungkin memendam sendiri perasaan ini.. Aku ingin Hana tau. Aku ingin Hana menjadi milik aku bu.. Aku sangat mencintainya.” Alan berkata dengan suara yang mulai purau. Itu pertanda bahwa pria itu sedang berusaha tegar dengan segala apa yang sedang di rasakan-nya.
Cinta bertepuk sebelah tangan memang sangat menyakitkan. Semua orang tau itu.
“Nak...”
Ibu Alan meraih tangan Alan kemudian menggenggamnya dengan erat.
“Ibu yakin kamu bisa melupakan Hana.. Mungkin apa yang terjadi sama kamu juga Hana adalah pertanda bahwa kalian memang hanya dipertemukan untuk berteman saja bukan untuk bersama dalam ikatan cinta. Ibu yakin nak.. Kamu bisa bahagia meskipun tanpa Hana.. Ibu yakin kamu akan mendapatkan perempuan yang jauh lebih dari Hana..”
Alan tersenyum miris kemudian menggelengkan kepalanya. Alan merasa tidak yakin bisa melupakan Hana.
“Aku nggak yakin bu aku bisa mencintai perempuan lain. Aku terlalu mencintai Hana.. Aku juga sudah terlalu dalam bermimpi dan berharap akan perasaan ini.”
Ibu Alan menggeleng menolak apa yang Alan katakan. Wanita itu percaya bahwa putranya bisa meraih kebahagiaan-nya meskipun tanpa harus memiliki Hana.
“Kamu nggak boleh bicara seperti itu Alan. Ibu yakin kamu bisa mendapatkan kebahagiaan itu. Ibu yakin kamu bisa bahagia..”
Alan menoleh menatap pada ibunya. Pria itu tersenyum lagi menatap ibunya yang menangisinya. Perlahan Alan mengangkat tangan-nya dan mengusap dengan lembut air mata yang membasahi pipi ibunya. Alan tau ibunya sangat menyayanginya. Alan tau ibunya tidak ingin melihatnya terpuruk apa lagi sampai putus asa.
“Terimakasih ya bu.. Aku sayang banget sama ibu..” Lirihnya.
Ibu Alan mengangguk kemudian berhambur memeluk tubuh kurus Alan. Wanita itu merasa sangat bersalah karena tidak memahami dari awal perasaan Alan pada Hana. Padahal setiap hari wanita itu selalu melihat Alan yang begitu sumringah dan semangat saat bersama Hana.
Alan tersenyum dibalik punggung ibunya. Perasaan-nya pada Hana memang begitu besar. Tapi Alan juga tidak ingin kehilangan kewarasan-nya hanya karena Hana sudah menjadi milik pria lain. Alan akan berusaha menjalani semuanya dengan menerima takdir dan kenyataan yang ada bahwa dirinya tidak bisa memiliki Hana. Semua itu karena Alan mulai sadar bahwa ibunya juga kedua adiknya sangat membutuhkan-nya. Mereka bertiga membutuhkan Alan sebagai pelindungnya karena Alan adalah satu satunya pria didalam keluarga kecil mereka.
Dokter Rania yang diam diam mengawasi dan mendengar semuanya tersenyum merasa ikut lega. Setidaknya Alan tidak kecewa pada ibu dan adiknya. Apa lagi Alan juga begitu lapang dada menerima kenyataan bahwa Hana sudah bahagia dengan Stefan. Meskipun Alan juga sempat mogok makan dan tidak mau bertemu dengan ibunya dan Amira adiknya tapi sekarang itu semua sudah berlalu. Alan sudah kembali lagi mau bertemu dengan keduanya dan itu terjadi setelah Alan bertemu dan berbicara langsung dengan Hana juga Stefan.
__ADS_1
Dokter Rania menghela napas kemudian berlalu dari depan kamar Alan. Dokter cantik itu tidak ingin jika sampai Amira melihatnya yang sedang menguping kemudian berpikiran buruk tentangnya.