ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 44


__ADS_3

Hari ini Hana melewati hari harinya dengan gembira. Pelukan mesra dan ciuman Stefan di keningnya membuat Hana terus merasa berbunga bunga. Hana bahkan bersikap begitu ramah pada para pelayan juga body guard yang berjaga diluar dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya.


Sera yang melihat keceriaan menantunya ikut merasa senang. Wanita itu berpikir mungkin Hana baru saja mendapat kejutan dari Stefan sehingga terlihat sangat bahagia sepanjang hari.


“Hana..”


Merasa namanya di panggil, Hana pun menoleh. Hana kemudian menggeser duduknya memberi tempat duduk pada Sera di kursi panjang ditaman belakang rumah.


“Duduk mah..” Senyum Hana mempersilahkan.


Sera mendudukkan dirinya disamping Hana. Wanita itu tersenyum merasa ikut bahagia. Sera senang jika memang Stefan bisa membuat wanita sebaik dan selembut Hana bahagia.


“Mamah lihat sepertinya kamu sangat bahagia hari ini Hana. Seperti baru saja mendapat hadiah.” Ujar Hana membuat Hana mengeryit dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


“Hadiah?” Tanya Hana pada Sera.


Sera mengedikkan kedua bahunya. Wanita berkemeja putih tulang bercelana kulot warna cream itu yakin Hana tau apa maksudnya.


Hana tersenyum. Senyuman Stefan kembali melintasi pandangan-nya. Ingatan juga perasaan campur aduk saat Stefan mencium keningnya tadi pagi kembali merayapi hatinya membuat Hana merasa sangat berbunga bunga.


“Mah.. Boleh tidak Hana tanya sesuatu?” Tanya Hana menatap Sera.


“Tentu saja. Tanyakan apa yang memang kamu ingin tau. Mamah akan menjawab jika mamah tau.” Senyum Sera.


Hana menghela napas pelan. Bukan Hana tidak percaya pada penjelasan Stefan tentang hubungan-nya dengan dokter Rania. Hana hanya ingin memastikan bahwa dokter cantik itu memang bukan salah satu orang yang penting dalam kehidupan Stefan.


“Mamah tau teman Stefan yang namanya Rania enggak?”


Sera tampak berpikir. Wanita itu diam seperti sedang mencoba mengingat ingat siapa siapa saja teman teman putranya yang dia tau.


“Mamah nggak terlalu tau siapa saja teman teman Stefan nak. Apa lagi teman perempuan.” Jawab Sera kemudian.


Wanita itu tidak bohong. Stefan memang tidak pernah mengenalkan siapa saja teman wanitanya. Kalaupun Sera tau itu hanya teman sesama pria yang sekarang bahkan Sera tidak tau bagaimana kabar pertemanan-nya.


Hana mengangguk dengan senyuman-nya. Hana semakin merasa senang karena itu artinya Stefan memang tidak menganggap dokter cantik itu bagian penting dalam hidupnya.


“Ya sudah kalau begitu mah, Hana masuk yah.”


“Oh oke..” Angguk Sera kembali mengukir senyuman di bibirnya.

__ADS_1


Hana kemudian bangkit dari duduknya dan berlalu dari hadapan Sera.


Sera menghela napas menatap punggung Hana. Sera sangat berharap Hana memang jodoh yang Tuhan takdirkan untuk putranya. Karena Sera yakin Hana bisa membuat Stefan juga Angel bahagia.


“Lusi.. Mamah yakin kamu melihatnya. Hana.. Dia perempuan yang baik. Dia sangat menyayangi Angel. Dia juga sangat sabar menghadapi Stefan yang begitu dingin dan datar..” Gumam Sera.


------------


Di ruangan-nya Stefan sedang membaca laporan yang memerlukan persetujuan darinya. Pria itu begitu serius membaca berkas ditangan-nya sebelum akhirnya Rico mengetuk pintu kemudian masuk kedalam ruangan Stefan.


“Permisi tuan, anda memanggil saya?”


Stefan mengalihkan perhatian-nya dari berkas yang di sedang dibacanya pada Rico yang berdiri didepan mejanya.


“Ya Rico. Saya butuh bantuan kamu.” Ujar Stefan meletakan berkas yang sedang dibacanya kemudian meraih pulpen dan memberikan tanda tangan-nya setelah dirasa laporan itu seperti apa yang Stefan inginkan.


Stefan menyenderkan punggungnya di senderan kursi dan kembali menatap Rico.


“Duduk dulu..” Perintahnya.


“Baik tuan..” Angguk Rico manut saja.


“Saya minta tolong sama kamu tolong pesankan bunga yang bagus. Tapi saya mau bunga itu tiba dalam waktu cepat karena sebentar lagi saya sudah mau pulang.” Kata Stefan.


“Baik tuan, saya akan segera pesankan. Ada lagi yang lain tuan?” Tanya Rico kemudian.


“Untuk sekarang cukup itu saja.” Jawab Stefan.


“Baik, kalau begitu saya permisi tuan.”


“Hem...” Angguk Stefan membiarkan Rico bangkit dari duduknya kemudian.


Stefan tersenyum membayangkan Hana yang pasti akan sangat senang jika dirinya memberikan bunga pulang nanti.


Stefan menggelengkan kepalanya kemudian tertawa pelan. Stefan benar benar merasa sudah gila. Hana membuatnya berbunga bunga namun juga bisa membuatnya marah dan kesal dalam waktu bersamaan. Namun Stefan tidak bisa memungkiri bahwa Hana lain dari yang pada lain. Hana tidak sama seperti wanita yang sering Stefan temui pada umumnya. Hana tidak berpura pura baik didepan-nya. Wanita itu benar benar apa adanya. Hana juga berani menjelek jelekkan-nya, memarahinya bahkan mengumpat meskipun Stefan berada di sampingnya.


Tapi disamping itu Stefan juga merasakan ke khawatiran karena keberadaan Alan sebagai sahabat dekat Hana.


Stefan sangat yakin dalam persahabatan dekat itu, pasti ada setitik rasa atau bahkan dambaan diam diam ingin memiliki.

__ADS_1


“Hana.. Apa kamu juga punya perasaan yang lebih pada Alan?”


Stefan mulai bertanya tanya. Pertanyaan yang baru kali ini Stefan pertanyakan. Stefan hampir saja lupa jika sebagian hubungan persahabatan antara wanita dan pria itu pasti akan melibatkan perasaan. Dan menurut Stefan itu juga mungkin terjadi antara Alan dan Hana, istrinya.


“Aku harus memastikan-nya sendiri.” Gumamnya kemudian.


Stefan meraih ponselnya menghubungi dokter Rania untuk menanyakan perkembangan apa lagi yang terjadi pada Alan. Stefan merasa sebelum Alan benar benar pulih, dirinya harus bertindak. Hana harus sudah benar benar menjadi miliknya saat pria itu membuka kedua matanya. Dengan begitu Stefan yakin Hana tidak akan punya alasan untuk meninggalkan-nya. Tentu saja karena Hana sudah mencintainya.


 ---------------


“Ya, Stefan. Ada apa?”


“Bagaimana keadaan Alan sekarang? Apa ada perkembangan baik lagi?”


Dokter Rania yang baru saja memeriksa keadaan Alan tersenyum. Pelan pelan dokter Rania bangkit dari duduknya dan melangkah menuju jendela kaca besar di kamar Alan.


“Sejak saat itu kondisinya benar benar mengalami cukup banyak kemajuan Stefan. Jari jemarinya mulai sering bergerak bahkan sepertinya Alan mulai sadar dari komanya.” Jawab dokter cantik itu.


“Hana pasti akan sangat bahagia kalau tau tentang hal ini Stefan.” Lanjut dokter Rania dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


“Jangan katakan apapun pada Hana Rania.” Kata Stefan cepat.


Dokter Rania mengeryit. Sebenarnya dokter cantik itu juga tidak mungkin memberitahukan apapun tentang kondisi Alan pada Hana. Wanita itu tidak punya nomor telepon Hana. Dan kalaupun Hana tau tentang kondisi Alan itu pasti di beritahu oleh keluarga Alan.


“Begitu juga pada keluarganya Alan.” Kata Stefan lagi dengan nada memerintah.


Dokter Rania menggelengkan kepalanya. Itu sangat tidak mungkin. Keluarga Alan harus tau bagaimanapun kondisi Alan. Apa lagi hampir setiap hari ibu Alan juga datang dan menanyakan bagaimana kondisi pria itu.


“Stefan tapi..”


“Rania, lakukan saja.” Sela Stefan cepat.


Dokter Rania menelan ludah. Semua biaya pengobatan Alan memang Stefan yang mengaturnya. Namun itu bukan berarti Stefan bisa memerintahkan dokter Rania merahasiakan keadaan Alan dari keluarganya.


“Maaf Stefan, tapi aku tidak bisa melakukan itu. Keluarga Alan harus tau bagaimanapun keadaan Alan.”


Setelah berkata dengan tegas menolak ke inginan Stefan, dokter Rania langsung mematikan telepon-nya. Wanita itu menghela napas kemudian menoleh pada Alan.


“Maaf Stefan. Aku nggak bisa memenuhi ke inginan kamu kali ini. Aku tau bagaimana besarnya harapan keluarga Alan tentang kesembuhan Alan.”

__ADS_1


__ADS_2