ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 79


__ADS_3

Karena sikap kakaknya, Amira menjadi uring uringan sendiri. Di sekolah Amira bahkan sampai beberapa kali mendapat teguran keras dari guru karena terus saja melamun saat mata pelajaran berlangsung. Amira bahkan sempat kebingungan saat di tanya dan disuruh menjawab soal yang ada di papan tulis.


Tristan yang memang juga sekelas dengan Amira hanya bisa menggelengkan kepala dan menepuk jidat. Apa lagi Amira juga termasuk siswi yang selalu berada di peringkat tiga besar di kelasnya.


Ketika jam istirahat berlangsung Tristan langsung mengajak Amira ke taman. Tristan menarik tangan Amira melewati siswi lain yang menatap iri akan kedekatan keduanya.


“Duduk deh..” Perintah Tristan pada Amira.


Amira menurut saja. Gadis itu duduk dikursi panjang ditaman dengan Tristan yang berada disampingnya.


“Kamu kalau ada masalah jangan di pendam sendiri Amira. Kamu cerita sama aku atau mungkin sama ibu dan adik kamu.. Nggak baik tau begitu. Lihat kan akibatnya? Kamu di marahin sama guru.” Ujar Tristan menatap Amira.


Amira menghela napas. Gadis itu terus meluruskan tatapan-nya kedepan tanpa menoleh pada Tristan yang terus menatapnya dari samping.


“Aku juga pengin cerita sama kamu Tristan. Tapi aku nggak mau kamu ikut bingung. Aku nggak mau buat kamu ikut susah.”


Hana menundukkan kepalanya. Masalahnya adalah masalah hati, bukan masalah uang yang bisa di usahakan dengan bekerja atau meminjam.


Tristan berdecak. Tristan meraih tangan Amira dan menggenggamnya lembut. Hal itu membuat Amira akhirnya menatap Tristan yang berada disampingnya.


“Aku kan udah pernah bilang sama kamu Amira, aku akan selalu ada buat kamu. Kamu nggak perlu merasa bingung selama ada aku disamping kamu.”


Amira beralih menatap tangan-nya yang di genggam oleh Tristan. Amira tidak tau sejak kapan dirinya dan Tristan begitu dekat. Tapi yang pasti Tristan memang selalu berada didekatnya setiap hari. Tristan bahkan tidak sungkan mengantar kemanapun Amira ingin pergi termasuk saat Amira menjenguk Alan ke rumah dokter Rania.


Amira perlahan tersenyum.

__ADS_1


“Makasih ya Tristan kamu udah baik banget sama aku.”


Mendengar itu Tristan menghela napas.


“Mulai deh lebay nya..”


Amira tersenyum semakin lebar. Amira berusaha untuk mengalihkan sejenak pikiran-nya dari masalah pada keadaan yang sedang berlangsung antara dirinya dan Tristan.


Amira menatap lagi tangan-nya yang terus di genggam oleh Tristan. Mereka tidak mempunyai hubungan apa apa tapi mereka selalu bersama setiap hari. Teman teman sekelas bahkan hampir semua teman yang ada di seluruh sekolah itu menganggap mereka berdua sudah pacaran.


“Tristan, kenapa kamu baik sama aku?” Tanya Amira tanpa sadar.


Tristan mengeryit. Tristan sendiri juga tidak tau kenapa dirinya bisa begitu perduli pada Amira. Tristan bahkan merasa sangat tidak rela jika melihat Amira bersama dengan siswa lain meskipun itu adalah teman-nya sendiri.


“Ya karena kita teman lah.. Kan teman yang baik itu harus selalu ada saat susah maupun senang ya kan? Aku cuma pengin jadi teman yang baik aja buat kamu Amira.” Jawab Tristan sedikit gagap.


“Memangnya kamu nggak malu temenan sama aku? Aku kan cuma murid yang nggak mampu yang bahkan biaya sekolah saja di biayain sama temen kakak aku...” Tanya Amira lagi dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


Tristan berdecak kesal. Tidak suka dengan apa yang Amira tanyakan, Tristan pun melepaskan genggaman tangan-nya pada tangan Amira. Tristan kemudian bangkit dari duduknya. Niatnya ingin mendengarkan keluh kesah Amira seketika luntur karena pertanyaan yang Amira lontarkan.


“Jadi males kalau nanya nya gitu. Udahlah aku ke kelas aja.” Ketus Tristan kemudian melangkah berlalu meninggalkan Amira di taman sendirian.


Amira tertawa lagi mendengarnya. Dulu Amira selalu menganggap Tristan adalah orang sombong yang memilih milih teman hingga akhirnya tiba tiba mereka dekat dan Amira pun mengenal Tristan dengan baik.


Amira menghela napas dan menggelengkan kepalanya. Amira tau siapa Tristan. Dia adalah adik dari pengusaha sukses yang namanya sudah dikenal.

__ADS_1


Amira kemudian memejamkan kedua matanya. Amira tidak ingin mendapat masalah karena dekat dengan Tristan. Namun sejauh mereka dekat tidak ada masalah dari kakak Tristan. Tapi Amira tetap merasa harus membatasi dirinya dengan Tristan.


“Aku nggak boleh terlalu dekat Tristan. Aku nggak mau lagi mendapat masalah dari keluarga Tristan.” Gumam Amira pelan.


Sementara di koridor sekolah Tristan melangkah pelan. Wajah tampan-nya tampak bingung dan seperti sedang memikirkan sesuatu.


Tristan menghela napas. Tristan tidak pernah dekat dengan siapapun sebelumnya selain dua teman-nya yang memang selalu mengandalkan traktiran darinya. Dan ini adalah kali pertama Tristan dekat dengan seorang gadis dan itu adalah Amira. Ini juga adalah kali pertama Tristan merasa nyaman dan perduli dengan seseorang.


“Kakak dengar kamu sedang dekat dengan seorang gadis Tristan. Kakak mau tau siapa dan bagaimana gadis itu. Bawa dia kesini. Tapi kakak harap kamu tau bagaimana kamu harus mencari teman Tristan. Jangan sampai kamu lupa siapa kamu.”


Ucapan kakaknya kembali terngiang ditelinga Tristan. Semalam kakaknya memang menanyakan tentang Amira, gadis yang sedang Tristan dekati. Dan pertanyaan itu membuat Tristan bingung. Amira bukan berasal dari kalangan yang sama dengan-nya. Sedangkan kakaknya selalu memandang seseorang dari hartanya.


Tristan yakin jika kakaknya tau siapa Amira kakaknya pasti akan melarang Tristan untuk dekat lagi dengan Amira.


“Kenapa sih semuanya harus di pandang sebelah mata hanya karena harta.” Gumam Tristan dengan wajah sendu.


Jika boleh memilih, Tristan sebenarnya tidak ingin terlahir dari keluarga kaya raya. Tristan ingin terlahir dari keluarga sederhana dan biasa saja seperti Amira agar tidak terlalu banyak aturan dan kekangan.


Tristan ingin bisa bebas berteman dengan siapapun. Tristan ingin hidup seperti apa yang Tristan ingin kan sendiri. Mendapat perhatian juga kasih sayang dari keluarga. Bukan hanya terpenuhi dari segi harta tapi kekurangan kasih sayang dan perhatian.


Ketika hendak masuk kedalam kelasnya, tiba tiba ponsel dalam saku celana abu abunya berdering. Tristan segera mengangkat telepon yang tidak lain dari kakaknya itu.


“Halo kak..”


“Ya Tristan. Jangan lupa ya kamu ajak teman kamu siang ini bertemu sama kakak. Kita makan siang bersama sekalian. Kakak tunggu kamu di tempat biasa.”

__ADS_1


Ketika Tristan hendak menjawab, kakaknya sudah menutup sambungan telepon-nya begitu saja.


Tristan berdecak kesal. Tidak mungkin rasanya jika Tristan mengajak Amira untuk bertemu dengan kakaknya. Kakaknya pasti akan dengan terang terangan menghina Amira dan Amira pasti akan marah kemudian menjauh dari Tristan.


__ADS_2