
Stefan menatap Hana yang sedang menikmati teh hangat yang memang Stefan buat sendiri secara langsung karena permintaan Hana. Wanita itu terlihat sangat bahagia dengan sesekali menyeruput teh hangat tersebut.
Stefan kemudian melangkah mendekat pada Hana. Stefan benar benar penasaran kenapa Hana tampak berbeda saat masih ada dokter Rania tadi. Dan Stefan tidak ingin bertanya tanya sendiri tanpa ada jawaban. Stefan berniat untuk menanyakan langsung apa yang Hana dan dokter Rania bicarakan saat Stefan tidak ada tadi.
“Tadi.. Apa yang kamu bicarakan sama Rania?” Tanya Stefan sambil mendudukan dirinya disamping Hana.
Hana menelan teh hangat yang baru saja di seruputnya. Teh buatan Stefan benar benar membuat moodnya langsung berubah dari buruk menjadi baik. Rasanya sangat tidak biasa di lidahnya.
Hana menghela napas. Setelah di pikir lagi bertanya tentang Alan dibelakang Stefan secara sembunyi sembunyi bukanlah hal yang baik. Hana harus selalu terbuka pada Stefan tentang apapun.
“Kamu bakal marah tidak kalau aku jujur?”
Stefan menatap Hana dengan sebelah alis yang terangkat.
“Tergantung.” jawabnya.
“Ya sudah kalau begitu lebih baik aku tidak usah jujur saja. Bukan-nya tidak baik kalau aku jujur tapi kamu marah?”
Stefan menarik napas panjang dan menghelanya dengan kasar. Hana membuat rasa penasaran-nya semakin tinggi.
“Oke, aku tidak akan marah. Katakan apa yang tadi kalian berdua bicarakan. Aku ingin tau.”
Hana tersenyum mendengarnya. Hana yakin Stefan tidak mungkin mengingkari ucapan-nya sendiri.
__ADS_1
“Jadi tadi aku nanya tentang Alan pada dokter Rania.”
Kedua mata Stefan melebar mendengar apa yang Hana katakan. Rahangnya mengeras dengan kedua tangan mengepal erat. Emosinya langsung memuncak mendengar Hana yang dengan begitu santainya berkata jujur bahwa dirinya tadi menanyakan tentang Alan pada dokter Rania.
“Kamu jangan salah paham dulu Stefan. Aku nanyain tentang Alan bukan karena apa apa. Aku hanya ingin tau bagaimana keadaan dia sekarang. Aku...”
“Hana cukup. Aku sudah bilang, Alan akan baik baik saja. Aku sudah menjamin semuanya. Apa kamu masih belum percaya itu?” Tekan Stefan menyela membuat Hana langsung terdiam.
Hana menatap Stefan yang menatap datar padanya. Hana sudah menyadari apa yang dilakukan-nya salah. Maka dari itu Hana memilih untuk jujur.
“Aku tidak pernah setengah setengah dalam melakukan sesuatu Hana. Aku sudah memastikan semua yang terbaik untuk keluarga Alan. Apa lagi yang kurang?”
Hana menelan ludah. Tiba tiba pertanyaan yang selalu bersarang dibenaknya tentang kenapa Stefan mau melakukan semua itu untuk keluarga Alan mencuat kembali. Padahal tidak mungkin rasanya jika hanya karena Hana mau menikah dengan-nya sementara mereka saja pada awalnya sama sama orang asing.
Tiba tiba Hana bertanya begitu banyak pada Stefan dengan begitu lancarnya. Wanita itu benar benar mengeluarkan pertanyaan pertanyaan yang selama ini bersarang di benaknya tentang kenapa Stefan melakukan semuanya dengan begitu baik dan rapi untuk keluarga Alan.
Emosi Stefan yang sudah hampir menguasai hati dan pikiran-nya sirna begitu saja berganti dengan rasa takut karena pertanyaan pertanyaan yang Hana tudingkan kepadanya.
Stefan menelan ludahnya. Jika malam itu dirinya tidak menabrak Alan, mungkin sekarang Hana tidak ada di sampingnya. Hana tidak menjadi wanita yang dia cintai. Dan Hana tidak mungkin hadir di dalam keluarganya.
Stefan melengos. Stefan berniat untuk jujur pada Hana. Tapi sampai sekarang untuk melakukan niatnya itu Stefan merasa sangat berat. Stefan takut Hana marah dan kecewa kemudian meninggalkan-nya. Apa lagi sekarang Hana sedang hamil. Stefan tidak mau mengambil resiko mengingat Hana yang pasti akan begitu lemah.
“Stefan...”
__ADS_1
Deringan ponsel diatas nakas samping tempat tidur mereka menyela apa yang ingin kembali Hana tanyakan pada Stefan. Dan itu menjadi kesempatan untuk Stefan menghindar sementara dari pertanyaan yang Hana lontarkan.
“Sebentar, ada telepon.” Kata Stefan kemudian bangkit dari duduknya melangkah menuju nakas dan meraih ponselnya yang terus berdering juga bergetar.
Stefan menatap layar ponselnya kemudian melirik Hana yang duduk diatas tempat tidur mereka.
“Siapa?” Tanya Hana penasaran.
“Bukan siapa siapa. Aku angkat telepon dulu ya..” Jawab Stefan kemudian melangkah keluar dari kamar mereka.
Hana hanya menganggukkan kepalanya. Hana sebenarnya menyesal sudah berani bertanya seperti itu pada Stefan. Apa yang Hana pertanyakan benar benar diluar kendali. Pikiran itu tiba tiba datang dan menguasai hatinya. Rasa penasaran kenapa Stefan begitu sangat teliti memastikan segala yang terbaik untuk Alan dan keluarganya membuat Hana hampir kalap.
“Huh.. Untung saja dia nggak marah.” Gumam Hana menghela napas merasa lega.
Hana benar benar tidak berpikir panjang tadi. Hana bertingkah seperti orang yang tidak tau bagaimana caranya berterimakasih. Hana sekarang berpikir seharusnya dia bersyukur karena bertemu dengan Stefan. Pria yang begitu tidak perduli dengan uang dan mau mengeluarkan nominal yang tidak sedikit hanya untuk orang yang tidak pernah dikenalnya. Sementara untuk Hana, setelah menikah dengan Stefan, hidupnya berubah. Hana bisa mendapatkan apa saja yang dia mau. Hana tidak perlu lagi susah payah bekerja untuk membiayai hidupnya sendiri. Dan yang paling penting, Hana menemukan kebahagiaan sejatinya. Di cintai dan mencintai adalah sesuatu yang harus sangat Hana syukuri.
Hana meletakan cangkir berisi teh hangat yang masih menyisa setengah di dalamnya diatas nakas kemudian membaringkan kembali tubuhnya diranjang. Tatapan Hana mengarah lurus ke langit langit kamarnya. Saat itulah ucapan dokter Rania kembali terngiang di indra pendengaran-nya.
Sampai sekarang Hana masih merasa berhutang banyak sekali kebaikan pada Alan dan keluarganya. Karena meskipun mereka hidup pas pasan mereka tidak pernah sungkan membantunya. Hana masih ingat saat dirinya mengalami keterlambatan gaji dari sekolah tempatnya mengajar, ibu Alan sampai rela menggadaikan cincin pernikahan-nya untuk Hana membayar rumah yang Hana sewa untuk tempat tinggalnya.
Hana menghela napas. Keluarga Alan adalah keluarga kedua untuknya. Mereka begitu baik dan tidak sungkan membantu jika Hana kesusahan. Itulah yang membuat Hana rela menukar dirinya dengan uang dan menikah dengan Stefan. Tapi ternyata rencana Tuhan memang sangat indah dan tidak pernah bisa di tebak oleh siapapun. Hana menemukan cintanya yaitu Stefan. Meski memang untuk mencapai titik cinta tersebut Hana banyak mengalami kebimbangan yang membuatnya pesimis. Tapi sekali lagi, takdir yang Tuhan gariskan kepadanya begitu indah. Hana di pertemukan dengan pria tampan nan rupawan yang menyembunyikan kebaikan-nya dibalik topeng wajah datar dan rumor kekejaman.
“Tuhan.. Hamba tau ini memang yang terbaik. Tolong jaga dan lindungi apa yang sekarang sudah terjalin dengan baik. Hamba sepenuhnya mempercayakan hidup hamba padamu Tuhan.” Gumam Hana dengan senyuman dibibirnya.
__ADS_1