
Karena Hana yang merajuk, akhirnya Stefan memutuskan untuk mengerjakan pekerjaan-nya dari rumah. Stefan bahkan sampai menunda pertemuan-nya dengan Boby karena hari ini mereka memang sebenarnya berencana untuk membahas tentang kerja sama mereka kembali.
Sementara Hana, dia kembali mengurung dirinya didalam kamar. Namun kali ini Hana tidak mengesampingkan sarapan paginya karena Hana sebelumnya sudah meminta pada para pelayan untuk membawakan sarapan-nya ke kamar lengkap dengan susu, vitamin, dan buah buahan juga camilan sehat lain-nya.
“Pokonya mommy akan terus marah sampai daddy kamu mau mengajak mommy ke perusahaan-nya. Mommy bakal diemin daddy terus..”
Hana mengusap perut ratanya mengajak janin dalam kandungan-nya berbicara. Wanita itu memang gampang sekali marah pada Stefan. Bahkan jika Stefan membuat sedikit saja kesalahan yang memancing emosinya, Hana bisa begitu kejam padanya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Hana berhenti mengunyah buah mangga mengkel yang semalam Stefan belikan untuknya. Hana menyipitkan kedua matanya menatap pintu kamarnya sendiri. Dalam hatinya Hana menebak nebak pasti yang berada dibalik pintu kamarnya saat ini adalah Stefan.
Penasaran, Hana pun turun dari ranjang kemudian melangkah pelan menuju pintu. Wanita itu menempelkan telingan-nya di daun pintu mencoba mendengarkan mungkin saja diluar kamarnya sedang ada yang berbicara.
“Hana...”
Itu adalah suara Stefan. Hana mengeryit merasa bingung. Padahal wanita itu berpikir Stefan mungkin sudah berangkat sejak pagi tadi ke perusahaan-nya.
“Apa mungkin dia pulang buat bujuk aku?” Gumam Hana bertanya tanya sendiri.
Hana tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya memilih untuk membuka pintu kamarnya.
Dan benar saja, didepan-nya berdiri Stefan yang mengenakan kemeja putih tulang yang lengan-nya dilipat sampai batas siku. Stefan juga tidak mengenakan dasi dengan kancing kemeja bagian atas yang terbuka. Dan Hana tidak bisa berbohong bahkan pada dirinya sendiri sekalipun bahwa Stefan terlihat dua kali lipat lebih tampan dari biasanya.
“Loh, kok kamu dirumah?” Tanya Hana menatap Stefan bingung.
Stefan tidak langsung menjawab pertanyaan Hana. Pria itu menatap Hana sebentar kemudian menghela napas sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Hana.
__ADS_1
“Aku nggak mungkin pergi begitu saja sementara kamu sedang marah sama aku Hana.” Jawabnya pelan.
Kedua mata Hana melebar sesaat mendengar apa yang Stefan katakan. Wanita itu kemudian tersenyum merasa tersipu karena itu artinya Stefan benar benar perduli padanya kali ini.
Stefan meraih kedua tangan Hana, menggenggamnya dengan sangat erat namun tetap dengan penuh cinta dan kelembutan.
“Kamu mau jalan jalan tidak? Ya.. Sekalian kita makan siang diluar.” Tanya Stefan menawarkan pada Hana.
Dan tanpa berpikir Hana langsung menganggukkan kepalanya dengan sangat antusias.
“Kalau begitu aku tunggu kamu dibawah ya..” Senyum Stefan menatap Hana.
Hana menganggukkan lagi kepalanya kemudian kembali menutup pintu kamarnya dengan keras tepat didepan wajah tampan Stefan. Sedikit saja Stefan memajukan wajahnya pastilah wajah tampan-nya akan terbentur keras pintu kamarnya.
Stefan menghela napas pelan kemudian menoleh pada Sera yang mengacungkan jempol padanya.
Sera mendekat pada Stefan dan dengan senyuman yang menghiasi bibirnya menepuk pelan pundak putra tunggal kebanggaan-nya itu.
“Pokonya mamah mau kamu harus bisa menjadi suami yang romantis Stefan. Jangan membuat Hana merajuk. Ingat, Hana bertingkah seperti itu karena bawaan janin yang ada didalam kandungan-nya. Untuk Angel kamu tidak perlu khawatir. Nanti biar mamah yang jemput dia. Kamu ajak aja Hana jalan jalan biar Hana senang.”
Stefan menatap Sera yang tersenyum padanya. Stefan sangat tidak suka melakukan sesuatu yang tidak dia niatkan benar benar dari hatinya. Tapi ucapan Sera memang benar. Hana seperti itu karena sedang hamil anaknya.
“Ya mah..” Angguk Stefan pelan.
“Bagus. Kalau begitu kalian hati hati yah..”
Setelah berkata, Sera pun melangkah menjauh dari Stefan. Wanita itu melangkah cepat menuju tangga meninggalkan Stefan yang hanya bisa diam dan menghela napas. Stefan benar benar tidak habis pikir kenapa benihnya yang tumbuh dan berkembang didalam rahim Hana bisa merubah kepribadian Hana yang tenang dan penuh pengertian menjadi sangat ajaib dan arogan seperti sekarang.
__ADS_1
Tidak lama menunggu Hana keluar dari kamarnya. Wanita itu mengenakan dress selutut tanpa lengan dengan model simpel warna peach. Tas selempang kecil dengan warna senada juga dikenakan oleh Hana ditambah dengan flat shoes sebagai alas kakinya yang membuatnya semakin terlihat manis. Untuk rambut panjangnya, Hana hanya menguncirnya. Sementara untuk make up nya, Hana hanya mengenakan-nya tipis tipis saja.
Stefan yang melihat penampilan simpel namun memukau istrinya terdiam sesaat. Hana benar benar semakin cantik sejak hamil. Dan Stefan merasa aura kecantikan wanitanya memang semakin terpancar begitu mengandung benihnya.
“Katanya tadi mau nunggu dibawah?” Tanya Hana menatap Stefan dengan keryitan di keningnya.
Pertanyaan Hana membuat Stefan tersadar dari pesona Hana. Pria itu sempat bingung saat akan menjawab pertanyaan Hana.
“Ah ya.. Aku berubah pikiran Hana. Aku sengaja nunggu disini supaya bisa memastikan sendiri kamu tidak lari lari saat turun dari tangga. Aku nggak mau kamu juga anak kita sampai kenapa napa.” Jawab Stefan tenang.
Hana tertawa mendengar apa yang Stefan katakan. Wanita merasa senang karena Stefan begitu sangat perhatian dan perduli padanya.
“Kamu berlebihan banget tau nggak.”
Stefan terus menatap Hana yang tertawa geli karena ucapan-nya. Pria itu kemudian tersenyum dan mendekat pada Hana. Stefan mendekatkan wajahnya pada wajah Hana membuat tawa Hana langsung berhenti saat itu juga.
Cup
Satu kecupan lembut dan singkat Stefan daratkan di kening Hana. Setelah itu, Stefan kembali menjauhkan wajahnya. Stefan meraih tangan Hana dan menggenggamnya erat namun tetap dengan penuh kelembutan.
“Ayo..” Ajaknya.
Hana hanya menurut saja. Wanita itu diam saat Stefan mengajaknya melangkah. Saat menuruni satu persatu anak tangga dirumah itu Hana bahkan tidak protes meskipun Stefan menggandengnya.
Stefan benar benar memperlakukan Hana dengan sangat istimewa siang itu. Stefan bahkan membukakan pintu mobil untuk Hana sendiri.
Setelah Hana duduk dikursi samping kemudi, Stefan menutup pelan pintu mobilnya. Pria itu kemudian meraih ponselnya yang berada di saku celana hitamnya untuk menghubungi Rico karena hari ini Stefan tidak bisa datang ke perusahaan. Stefan berniat memasrahkan pekerjaan hari ini pada Rico karena dirinya yang tidak mungkin datang ke perusahaan sore nanti.
__ADS_1