
“Bagaimana keadaan kakak kamu Amira?”
Amira berhenti memotong wortel ketika mendengar pertanyaan ibunya. Amira tidak ingin membohongi ibunya, tapi jika Amira mengatakan dengan jujur bahwa dirinya tidak diperbolehkan masuk oleh satpam penjaga rumah dokter Rania pasti ibunya akan langsung kepikiran.
“Ibu sudah sangat tidak sabar ingin melihat kakak kamu seperti dulu lagi. Ibu kangen sekali sama kakak kamu Amira..”
Amira menelan ludahnya. Amira tidak tau bagaimana keadaan Alan sekarang.
“Amira? Apa kamu mendengar ibu?” Tanya ibu memutar tubuhnya menatap Amira yang duduk dikursi dimeja makan yang ada di dapur.
“Ah iya bu.. Maaf.. Keadaan kakak baik baik aja kok bu..” Jawab Amira tersenyum tipis.
“Syukurlah kalau begitu.. Kita benar benar sangat berhutang budi pada Hana dan tuan Stefan nak.. Ibu ingin sekali bertemu dengan mereka dan mengucapkan terimakasih yang sebesar besarnya secara langsung.” Senyum ibu.
Amira hanya bisa diam. Amira memang berusaha berdamai dengan keadaan. Amira kembali melanjutkan sekolahnya karena tidak ingin terus terusan bertengkar dengan ibunya. Tapi Amira sudah bertekad akan mengganti semua yang sudah Stefan dan Hana berikan pada keluarganya jika dirinya sukses nanti.
Disamping itu Amira juga tidak ingin membuat ibunya sakit karena terus memikirkan dirinya yang memberontak tidak terima dengan keadaan. Amira juga sadar bahwa pendidikan sangatlah penting dan tidak bisa dia abaikan begitu saja hanya karena emosi sesaat.
“Kita sama sama berdo'a ya nak, semoga kak Alan cepat pulih kembali dan bisa lagi berkumpul dengan kita. Apa lagi sekarang kakak kamu juga berada ditangan yang tepat. Dokter Rania pasti menangani kakak kamu dengan baik.”
Amira hanya bisa diam saja. Amira tidak bisa membayangkan jika ibunya sampai tau mereka tidak lagi diperbolehkan untuk menjenguk Alan pasti ibunya akan sangat sedih.
“Oh iya Amira, bagaimana kalau kapan kapan kita undang dokter Rania untuk makan malam bersama disini?” Tanya ibu meminta pendapat Amira.
Amira berdecak pelan. Ibunya memang terlalu memandang baik dokter Rania.
“Ya ampun bu.. Dokter Rania kan sibuk. Dan juga dia kan nggak mungkin bisa kesini sementara dia harus selalu menjaga kak Alan. Kalau dokter Rania pergi nanti kak Alan sama siapa disana?”
Amira berusaha memberi pendapat yang masuk akal. Karena Amira merasa tidak mungkin seorang dokter yang begitu kaya raya dan mempunyai segalanya mau di ajak makan malam dirumahnya dengan hidangan sederhana. Dokter cantik itu terbiasa memakan daging, dan tidak mungkin mau memakan tempe.
“Iya juga ya.. Ibu nggak kepikiran sampai kesitu Amira.” Tawa ibunya.
Amira menghela napas merasa lega karena ternyata ibunya setuju dengan apa yang dikatakan-nya.
“Nak, apa sudah selesai memotong wortelnya?” Tanya ibu pada Amira.
“Ah ya bu, sebentar lagi.” Jawab Amira kembali memotong wortel dengan semangat.
__ADS_1
“Cepat sedikit nak, ini airnya sudah mendidih.” Perintah ibu.
“Iya bu...” Jawab Amira menurut.
Setelah membantu ibunya memotong sayur, Amira kemudian berlalu dari dapur bermaksud mendatangi Aisha yang sedang mengerjakan tugas dikamarnya. Adiknya itu memang sedang sangat rajin belajar karena akan menghadapi ujian akhirnya beberapa bulan lagi.
“Aisha..” Panggil Amira melongokkan kepalanya di celah pintu kamar Aisha yang sedikit terbuka.
Aisha menoleh, mengabaikan sebentar tugas tugasnya.
“Ya kak..” Sautnya menatap Amira dengan wajah polos.
Amira tersenyum tipis kemudian masuk kedalam kamar adik bungsunya itu. Amira mendudukan dirinya diatas ranjang kecil Aisha membuat si empunya kebingungan.
“Ada apa ya kak?” Tanya Aisha hati hati. Aisha tidak mau membuat Amira marah lagi padanya.
“Ah enggak, nggak papa. Oh iya dek, kamu masih punya nomor barunya kak Hana enggak?”
Aisha menggelengkan kepalanya dengan wajah lesu.
Amira menghela napas. Amira memang sempat merebut ponsel milik adiknya itu kemudian memblokir nomor Hana dan menghapusnya.
“Iya yah.. Kakak lupa. Ya udah deh kalau gitu. Kamu lanjutin lagi aja ngerjain tugasnya. Maaf kakak ganggu.” Senyum Amira kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah menuju pintu.
Amira keluar dari kamar Aisha dengan wajah lesu. Menyesal rasanya menghapus dan memblokir nomor Hana. Jika tau semuanya akan menjadi seperti ini, Amira tidak mungkin memblokir nomor Hana. Sekarang Amira tidak tau harus bagaimana. Ibunya pasti akan sangat sedih jika datang kerumah dokter Rania namun tidak di izinkan masuk untuk melihat keadaan putra sulung kebanggaan-nya, yaitu Alan.
------------
“Kok nggak bisa di hubungi sih? Masa iya Aisha blokir nomor aku?”
Hana terus mencoba menghubungi Aisha namun tetap tidak bisa. Wanita itu ingin sekali menanyakan bagaimana keadaan Alan sekarang pada Aisha, namun nomor gadis remaja itu tidak bisa dia hubungi.
“Mommy...”
Hana menoleh saat mendengar suara Angel. Dan sebisa mungkin Hana berusaha untuk tersenyum meskipun hatinya sedang tidak karuan sekarang karena nomor Aisha yang tiba tiba tidak bisa dihubungi.
“Ya sayang, ada apa?” Tanya Hana lembut.
__ADS_1
“Makan malam sudah siap mommy.. Daddy sama oma sudah menunggu dimeja makan.” Jawab Angel memberitahu Hana.
“Ah ya.. Sebentar lagi mommy turun ya sayang..”
Angel menatap ponsel yang berada ditangan Hana. Gadis kecil yang rambutnya digerai itu tampak mengeryit penasaran.
“Mommy lagi main handphone ya?” Tanya Angel ingin tahu.
“Ya sayang.. Mommy lagi mencoba menghubungi adik mommy.. Tapi enggak bisa.” Jawab Hana dengan jujur.
“Adik? Memangnya mommy punya adik ya? Namanya siapa? Apa itu artinya adik mommy itu tantenya Angel?” Tanya Angel dengan sangat antusias.
Hana meringis. Angel begitu semangat menanyakan tentang sesuatu yang tidak akan mudah untuk Hana jelaskan sekarang.
“Eem.. Maksud mommy, adiknya sahabatnya mommy sayang. Tapi mommy sudah menganggap mereka juga adik mommy sendiri.” Kata Hana berusaha menjelaskan.
“Mommy punya sahabat? Siapa namanya mommy? Dan kenapa sahabat mommy itu enggak pernah kesini buat main?”
Hana tertawa pelan kemudian melangkah mendekat pada Angel. Wanita itu dengan sangat lembut membelai pipi Angel yang mendongak menatapnya.
“Untuk sekarang mommy belum bisa kenalin kamu sama sahabat mommy. Dia sedang sakit dan nggak bisa main kesini. Tapi nanti kalau dia sudah sembuh, mommy bakal kenalin kamu sama sahabat mommy itu. Dia juga sangat menyukai anak kecil loh.”
“Oh ya? Kalau begitu semoga sahabat mommy cepat sembuh ya biar Angel bisa ketemu dan kenalan sama dia.” Senyum Angel sangat antusias.
“Iyaaa.. Aamiin.. Tapi Angel, jangan bilang sama oma ya tentang sahabat mommy itu.”
Angel mengeryit lagi.
“Memangnya kenapa mommy?”
“Enggak papa. Cuma nanti biar pas sahabat mommy datang aja oma mommy kenalin langsung.” Jawab Hana.
“Oh, oke deh mommy..”
“Ya udah kalau begitu mending sekarang kita turun yuk. Nanti daddy marah lagi nunggu kita kelamaan. Sebentar mommy taruh handphone dulu.”
Setelah meletakan ponselnya diatas nakas, Hana kemudian menuntun Angel keluar dari kamarnya dan Stefan dan turun ke lantai bawah menuju meja makan dimana Stefan dan Sera sudah menunggunya.
__ADS_1