
Stefan menatap Hana yang terlelap dengan peluh yang membasahi keningnya. Dengan lembut Stefan menyeka peluh Hana kemudian mengecup lembut kening wanita itu.
Stefan tidak tau apa yang sedang berada di otak Hana tadi sehingga tiba tiba wanita itu menggodanya sampai akhirnya Stefan kalap dan menyentuh Hana dengan brutal. Dan sekarang Stefan merasa sedikit khawatir pada janin yang sedang berada dalam kandungan istri tercintanya itu.
Stefan kemudian membenarkan selimut yang menutupi tubuhnya dan Hana. Pria itu tidak menyangka jika Hana benar benar mengikuti kegiatan-nya hari ini dengan full.
Stefan tiba tiba tertawa sendiri mengingat ulah Hana tadi siang. Hana membuat rekan bisnisnya marah tapi tidak berdaya. Hana juga melarangnya untuk datang ke proyek dimana disitu juga akan ada Williana dan Boby. Dan Stefan tentu saja menuruti kemauan Hana karena tidak mau membuat istrinya marah. Lagi pula Stefan juga masih bisa meminta Rico untuk ikut menilik proyek yang sedang berlangsung itu bersama Boby dan Williana.
“Daddy nggak tau kamu akan seperti apa nantinya nak.. Tapi daddy yakin kamu akan tumbuh menjadi anak yang kuat dan pintar seperti mommy kamu..” Batin Stefan sembari mengusap lembut perut rata Hana dari balik selimut.
Sekali lagi Stefan menghela napas. Pria itu kemudian bangkit dari berbaringnya ketika mengingat Angel yang sampai sekarang masih merajuk padanya. Saat makan malam tadi bahkan Angel sama sekali tidak menyapanya dan Hana.
Pelan pelan Stefan turun dari ranjang. Pria itu meraih setelan piyama warna coklat gelapnya kemudian segera mengenakan-nya. Setelah itu Stefan keluar dari kamarnya bermaksud untuk menemui Angel dan menjelaskan pada gadis kecil itu bahwa maksudnya memberikan pengawasan ketat pada Angel adalah demi kebaikan-nya.
“Daddy...”
Stefan mengeryit begitu mendapati Angel yang berdiri sendiri didepan pintu kamarnya. Stefan berpikir gadis itu hendak mengetuk pintu kamarnya saat tiba tiba Stefan membukanya.
“Hay daddy.. Selamat malam.” Sapa gadis kecil itu dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
Stefan menyipitkan kedua matanya menatap Angel yang sepertinya sudah tidak lagi merajuk padanya.
“Angel sudah tau kenapa daddy menyuruh mbak Titin untuk lebih mengawasi Angel saat Angel bermain di sekolah. Maaf Angel sudah marah sama daddy tadi pagi. Dan terimakasih karena daddy sudah memberikan yang terbaik untuk Angel.” Ujar gadis kecil itu menjelaskan apa memang sudah di pahaminya dari tindakan tegas Stefan.
Stefan tersenyum samar mendengarnya. Stefan yakin pasti mamahnya yang sudah memberi pengertian pada Angel.
“Baguslah kalau begitu.” Balas Stefan tenang.
__ADS_1
Angel tersenyum lebar dengan menganggukkan kepalanya.
“Ah ya Daddy.. dibawah ada om Rico yang sedang menunggu daddy. Om Rico sedang mengobrol dengan oma.”
Stefan mengangguk pelan. Stefan tau Rico datang pasti untuk memberitahukan tentang pembangunan proyeknya dengan Boby juga Williana.
“Oke.. Sekarang lebih baik kamu istirahat Angel.” Perintah Stefan lembut.
“Ya Daddy.. Bye.. See you tomorrow dad..” Ujar Angel ceria kemudian melangkah menuju kamarnya menjauh dari Stefan.
Stefan yang melihat tingkah putrinya hanya bisa tersenyum dan menggelengkan pelan kepalanya. Stefan tidak pernah menyangka jika ternyata berdamai dengan keadaan membuatnya merasa bahagia juga lega. Rasanya Stefan seperti terbebas dari belenggu kesakitan di masa lalunya.
Setelah memastikan Angel masuk kedalam kamarnya, Stefan pun melangkah menuju tangga. Pria itu menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai satu rumahnya untuk menemui Rico yang sedang menunggunya bersama Sera.
Saat Stefan muncul, Rico langsung bangkit dari duduknya kemudian mengangguk pelan pada Stefan sebagai tanda hormatnya. Hal itu membuat Sera menoleh kearah Stefan. Wanita itu tersenyum tipis kemudian berlalu meninggalkan Stefan yang Sera tau pasti akan ada masalah pekerjaan yang harus di bicarakan dengan Rico.
Stefan melangkah lebih dulu menuju ruang kerjanya yang kemudian segera di ikuti oleh Rico.
Begitu sampai diruangan-nya, Stefan mendudukan dirinya di kursi kebesaran-nya. Stefan juga menyuruh agar Rico duduk di kursi didepan meja kerja Stefan.
“Bagaimana Rico? Apa ada masalah dengan pembangunan-nya?” Tanya Stefan langsung pada inti pembicaraan.
Rico menghela napas. Rico sebenarnya datang untuk membicarakan tentang Williana dan Tristan, adik wanita itu yang memang sedang kabur dari rumah.
“Untuk pembangunan-nya menurut saya dan nona Williana semuanya berjalan sesuai yang di inginkan tuan. Tapi ternyata tuan Boby tidak sependapat. Tuan Boby meminta pada kepala mandor disana untuk mempercepat pembangunan.” Jawab Rico menjelaskan pada Stefan.
Stefan mengangguk mengerti. Boby memang bukan tipe orang yang bisa sabar jika bekerja sama dengan orang lain selain dirinya.
__ADS_1
“Tapi tuan, ada yang ingin saya bicarakan lagi selain pembangunan proyek.” Ujar Rico pelan.
Stefan mengangkat sebelah alisnya menatap Rico penasaran.
“Apa itu?” Tanyanya pelan.
Rico menghela napas pelan dan menelan ludahnya sebelum menceritakan apa yang dilihatnya di proyek pembangunan tadi.
“Ini tentang tuan muda Atmaja. Tadi saat kami sedang melihat lihat pembangunan yang sedang berlangsung secara tidak sengaja saya dan nona Williana bertemu dengan tuan muda Tristan. Yang lebih membuat saya terkejut adalah tuan muda Tristan menjadi bagian dari pekerja di proyek itu.”
Stefan terkejut mendengar cerita Rico. Stefan juga tau Tristan sedang kabur dari kediaman Atmaja. Tapi Stefan tidak menyangka jika secara kebetulan Tristan menjadi pekerja di proyek pembangunan ruko ruko yang akan menjadi tempat Stefan, Boby, juga Williana bekerja sama.
“Ya sudah biarkan saja. Tapi kamu tetap harus mengawasi Tristan. Karena dia dekat dengan Amira.” Ujar Stefan.
“Baik tuan. Apa ada yang lain lagi tuan?” Angguk Tristan kemudian bertanya pada Stefan dengan sopan.
“Untuk hari ini cukup. Kamu boleh pulang dan istirahat.” Jawab Stefan.
“Baik tuan. Saya permisi dan selamat malam.”
Stefan hanya menganggukkan kepalanya menjawab ucapan selamat malam Rico.
Setelah Rico keluar dari ruangan-nya, Stefan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi yang di dudukinya. Stefan sebenarnya malas mengurusi sesuatu yang bukan urusan-nya. Tapi karena Stefan tau Hana sangat mengasihi keluarga Alan membuat hati Stefan tergerak untuk selalu memastikan yang terbaik untuk mereka. Stefan melakukan itu semua tentu saja semata mata demi ketenangan hati istrinya.
Namun terlepas dari semua itu Stefan juga masih belum bisa benar benar tenang menjalani semuanya karena ketakutan akan kehilangan Hana selalu menghantuinya. Apa lagi sampai sekarang Stefan juga belum berani berterus terang bahwa dirinya lah yang sudah menabrak Alan malam itu. Stefan yang sudah membuat Alan koma dan tidak berdaya diatas brankar dalam waktu yang tidak sebentar.
Stefan terkadang ber angan angan sendiri akan seperti apa respon Hana jika Stefan mengatakan dengan jujur apa yang terjadi sebenarnya. Karena Stefan sangat yakin sebenarnya Hana juga bingung kenapa tiba tiba Stefan datang dan menawarkan pernikahan padanya dengan iming iming akan membiayai pengobatan Alan sampai tuntas.
__ADS_1
“Ya Tuhan... Tolong bantu aku..” Batin Stefan dengan kedua mata terpejam.