
Williana menatap datar pada Putri yang tiba tiba mengajaknya untuk makan malam bersama. Apa lagi Putri juga memaksanya dengan alasan ada sesuatu yang penting tentang Tristan dan Amira yang akan dibicarakan-nya dengan Williana.
“Kak, aku mau ngomong tentang Amira dan Tristan. Tadi pagi aku denger sendiri apa yang mereka bicarakan kak. Mereka berdua itu sudah pacaran.” Ujar Putri memulai pembicaraan setelah selesai menghabiskan makan malamnya.
Williana memutar jengah kedua bola matanya. Jika saja Williana tidak membutuhkan jasa Putri untuk memata matai Tristan dan Amira, Williana enggan berhubungan dengan gadis manja itu.
“Kakak harus bertindak. Amira itu membawa pengaruh buruk untuk Tristan. Tristan bahkan sampai berani melawan kakak kan? sampai kabur dari rumah lagi.” Lanjut Putri yang terus berusaha menghasut Williana agar semakin membenci Amira.
“Saya sudah tau tentang hubungan Tristan dan Amira, Putri. Jadi kamu nggak perlu repot repot ngomong panjang lebar tentang mereka. Tugas kamu hanya mengawasi Tristan lalu laporkan sesuatu yang penting. Itu saja.”
Putri membulatkan kedua matanya mendengar apa yang Williana katakan.
“Jadi kakak udah tau? Tapi kenapa kakak nggak ngelarang mereka? Kenapa kakak membiarkan mereka pacaran? Bukan-nya kakak nggak suka sama Amira?”
Williana menghela napas kasar. Kesal sekali sebenarnya pada Putri yang tadi siang bahkan sampai membuat Williana terkena teguran dari Boby, rekan bisnisnya karena ponselnya yang terus berdering. Apa lagi Boby juga menegurnya didepan Stefan.
“Putri dengarkan saya. Saya memang tidak suka dengan Amira. Tapi saya juga tidak bodoh dengan membiarkan Tristan menjadi gelandangan diluar sana hanya karena seorang gadis kampung seperti Amira. Lagian mereka masih kecil. Cintanya pasti hanya cinta monyet yang akan luntur dengan sendirinya seiring berjalan-nya waktu. Tristan pasti akan bosan sendiri nanti. Dan tentang kamu yang juga menyukai Tristan, itu terserah kamu mau berusaha bagaimana. Asal jangan sampai melukai Tristan barang secuilpun. Karena saya tidak akan tinggal diam kalau ada satu orang pun yang berani melukai adik saya.” Ujar Williana panjang lebar dengan sangat tegas.
“Tapi kan kak...”
“Jangan membantah saya Putri.” Sela Williana membuat Putri langsung bungkam.
“Saya tau apa yang harus saya lakukan. Jadi tugas kamu awasi saja Tristan di sekolah.” Lanjut Williana.
Putri berdecak kesal. Sikap Williana sangat berbeda sekarang. Wanita itu tidak selembut seperti saat pertama kali mereka bertemu saat Tristan mengenalkan Putri sebagai teman-nya. Dan Putri merasa sangat di permainkan sekarang. Tristan dan Williana seperti menerbangkan-nya kemudian menjatuhkan-nya dengan begitu keras yang membuat Putri merasakan sakit yang amat sangat.
__ADS_1
Williana kemudian memanggil pelayan di restoran tempatnya dan Putri bertemu. Wanita itu membayar makanan yang di pesan-nya dan Putri tidak lupa memberikan tips untuk pelayan itu juga.
“Sekarang kamu tau kan apa yang harus kamu lakukan Putri? Satu lagi, jangan sekali kali kamu menghubungi saya di jam kerja. Itu sangat mengganggu.”
Putri hanya diam saja. Gadis itu menatap Williana yang begitu angkuh dan seenaknya saat memerintahnya. Williana bersikap seolah dirinya bisa melakukan apa saja karena apa yang dia punya.
“Iya kak..” Jawab Putri pelan.
“Bagus.” Senyum Williana merasa puas.
Setelah itu Williana bangkit dari duduknya dan melangkah menjauh dari Putri yang masih duduk ditempatnya. Williana keluar dari restoran itu tanpa menoleh lagi pada Putri.
“Aku bukan budak. Dan aku nggak terima dengan perlakuan seenaknya kak Williana kali ini. Lihat aja, aku bakal buat Tristan bertekuk lutut di depanku. Saat itu tiba aku akan buat kak Williana menyesal karena sudah meremehkan aku.” Gumam Putri dengan rahang mengeras marah.
---------
“Bagaimana kak?” Tanya Aisha yang baru saja selesai membantu ibunya menyiapkan makan malam.
“Dapet dong.. Mulai besok setelah pulang sekolah kakak udah bisa kerja dek.” Jawab Amira dengan senyuman lebar yang menghiasi bibirnya.
“Wah.. Selamat ya kak.. Tapi kakak ingat untuk tetap jaga kesehatan, nggak boleh kecapek an loh.”
“Iya.. Kamu tenang aja..” Angguk Amira mengerti dengan apa yang adiknya katakan. Amira tau Aisha pasti tidak ingin kalau sampai dirinya kelelahan.
“Kamu baru pulang nak..”
__ADS_1
Amira dan Aisha langsung menoleh kearah ibunya yang muncul dengan membawa semangkuk sup ayam. Wanita dengan kemeja coklat gelap lengan pendek itu kemudian mendekat pada Amira dan Aisha.
Amira segera menyalimi ibunya dengan senyuman lebar yang menghiasi bibirnya. Gadis itu benar benar merasa sangat bahagia karena akhirnya bisa mendapatkan pekerjaan yang di inginkan-nya. Amira ingin bisa membantu ibunya memenuhi kebutuhan sehari hari mereka.
“Kamu darimana nak?” Tanya Ibu dengan sangat lembut pada Amira.
Amira terdiam dan menatap sebentar pada Aisha yang berdiri disamping kanan ibunya. Amira yakin ibunya pasti tidak akan setuju jika tau dirinya bekerja. Tapi Amira juga tidak ingin berbohong pada ibunya.
“Aku abis cari kerjaan bu.. Dan aku dapet pekerjaan sampingan. Besok aku sudah bisa mulai bekerja di toko sembako tidak jauh dari sini setelah aku pulang sekolah.”
Senyuman di bibir ibu langsung memudar mendengar apa yang Amira katakan. Wanita itu sedikitpun tidak ingin membuat anak anaknya hidup susah. Dan seperti ibu pada umumnya, Ibu juga ingin bisa mencukupi semua kebutuhan anak anaknya dengan kemampuan-nya sendiri.
“Amira kamu...”
“Bu.. Aku melakukan ini karena aku pengin bisa bantu ibu.. Lagi pula aku juga akan tetap sekolah kok bu.. Aku akan tetap belajar dengan rajin. Tolong ibu izinin aku kerja..” Sela Amira dengan suara pelan.
Ibu menghela napas kemudian memejamkan kedua matanya. Wanita itu ingin melarang tapi takut Amira marah dan salah mengartikan maksudnya mengingat Amira yang memang sangat keras kepala.
“Ya sudah nggak papa. Tapi kamu harus janji, kamu nggak boleh sampai mengabaikan sekolah. Satu lagi, kamu nggak boleh terlalu menguras tenaga kamu.” Ujar Ibu yang akhirnya memilih untuk mengizinkan Amira bekerja.
Mendengar itu senyuman Amira kembali mengembang begitu lebar. Amira sangat bahagia karena ibunya mengizinkan-nya untuk bekerja paruh waktu.
“Iya bu.. Aku janji aku bakal jaga kesehatan aku..” Katanya kemudian berhambur memeluk Ibu yang langsung membalasnya dengan sangat lembut.
Aisha yang melihat ibu dan kakaknya berpelukan tersenyum. Gadis yang masih dalam masa ujian sekolah menengah pertamanya itu berharap ibu dan kakaknya tidak akan lagi berdebat dan bertengkar seperti saat kakaknya Alan masih dalam masa kritis.
__ADS_1
“Kak Hana pasti seneng banget kalau lihat kakak dan ibu akur begini..” Senyum Aisha membatin.
Aisha mengeluarkan ponsel dalam saku celana pendeknya, mengambil photo ibu dan kakaknya yang sedang berpelukan kemudian mengirimkan-nya pada Hana.