ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 109


__ADS_3

Stefan menutup pelan pintu kamarnya. Pria itu menghela napas pelan kemudian segera mengangkat telepon tersebut. Telepon yang tidak lain dari orang suruhan-nya yang Stefan percaya untuk mengawasi keluarga Alan dengan baik.


“Bagaimana?” Tanya Stefan langsung begitu mengangkat telepon tersebut.


“Selamat malam tuan. Maaf saya mengganggu waktu istirahat anda tuan. Saya sudah menyelidiki siapa orang yang mengikuti nona Amira akhir akhir ini.”


“Siapa?” Tanya Stefan lagi tidak sabar.


“Dia adalah orang suruhan nona Williana Atmaja tuan. Dan tebakan saya orang tersebut di utus menyelidiki siapa nona Amira karena adik dari nona Williana yaitu tuan muda Tristan mempunyai hubungan yang cukup dekat dengan nona Amira tuan.”


Stefan berdecak. Amira adalah gadis yang sangat keras kepala. Gadis itu pasti akan kembali berpikir buruk tentangnya dan Hana jika Stefan memberikan peringatan meskipun dengan pelan.


“Ya sudah. Terus awasi keluarga Alan dengan baik. Kalau ada sesuatu yang mencurigakan segera kasih tau saya.”


“Baik tuan.”


Stefan langsung menutup sambungan telepon-nya setelah itu. Pria tampan itu menghela napas pelan. Stefan benar benar merasa terselamatkan dari pertanyaan pertanyaan Hana tadi. Tidak mau kembali di tuntut untuk menjawab pertanyaan tersebut, Stefan pun memilih untuk lebih dulu ke ruang kerjanya sembari memikirkan bagaimana baiknya menghadapi Williana yang pasti mempunyai maksud terselubung pada Amira.


----------


Sementara itu di kediaman dokter Rania, Amira berniat pulang setelah menemani sang kakak. Amira sebenarnya bingung akan pulang menggunakan apa sekarang. Naik taksi sangat tidak mungkin. Naik angkot apa lagi.


Amira berdecak sambil melangkah menjauh dari kediaman dokter cantik itu. Amira tidak mengerti kenapa kakaknya bisa begitu santai melepasnya pulang seorang diri sedang dia sendiri tau Amira tidak membawa uang banyak.


Alan bahkan juga menghalangi saat dokter Rania hendak memberikan uang untuk ongkos Amira naik taksi. Padahal Amira sudah akan menerimanya.


“Kak Alan kenapa sih nggak peka banget. Padahal kan lumayan uang itu bisa buat ongkos aku pulang..” Dumel Amira dengan ekspresi kesalnya.


“Udah tau aku nggak punya ongkos untuk pulang. Malah ngelarang dokter Rania buat kasih aku ongkos naik taksi. Mana udah malem banget lagi.”


Amira menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Jalanan sekitar rumah dokter Rania sudah sangat sepi. Hal itu membuat Amira bergidik ngeri. Ingin kembali kerumah dokter Rania rasanya tidak mungkin. Namun memberanikan diri menembus jalanan sepi nan mencekam itu rasanya lebih tidak mungkin lagi. Ditambah dengan jarak rumah dokter Rania kerumahnya lumayan memakan waktu.


“Ya Tuhan.. Kalau misalnya Tuhan mengirimkan siapapun orang yang mau menolong hamba, hamba akan langsung menerimanya.” Batin Amira penuh harap.

__ADS_1


Tiba tiba Amira teringat pada sosok Tristan yang sudah lama tidak lagi bersamanya. Amira perlahan mengukir senyuman dibibirnya.


“Coba aja kamu disini Tristan. Aku pasti nggak bakal sendirian kaya gini.” Gumam Amira pelan.


Amira tersenyum kecut. Amira tidak pernah mengira dirinya dan Tristan akan berjarak. Meski sering kali Amira menyadarkan dirinya bahwa tidak dekat dengan Tristan adalah hal yang terbaik namun Amira masih sering pula berharap Tristan akan kembali dekat dengan-nya.


“Ck, apaan sih mikirnya. Tristan itu bukan siapa siapa. Kenapa juga aku pake bayangin dia tiba tiba disini. Nggak mungkin banget.” Amira memukul kepalanya sendiri. Amira merasa sangat bodoh karena sampai sekarang masih mengharapkan Tristan.


Namun tanpa Amira sadari dibalik pohon Tristan sedang mengawasinya. Tristan memang sengaja mengikuti Amira pergi sejak tadi. Tristan bahkan mengawasi dan menjaga Amira dari jauh sejak Amira keluar dari rumah menuju toko buku kemudian sampai Amira kerumah dokter Rania.


Tristan juga rela menjadi santapan nyamuk nyamuk ganas saat bersembunyi dibalik pohon tidak jauh dari gerbang rumah dokter Rania karena menunggu Amira yang sedang berada di dalam rumah dokter Rania.


Tristan sebenarnya ingin sekali mendekat dan mengajak Rania pulang bersama. Tapi mengingat Amira yang menolaknya saat Tristan hendak menjelaskan sesuatu tentang hubungan-nya dengan Putri, Tristan menjadi ragu. Tristan takut Amira semakin menjauh darinya bahkan mungkin membencinya.


PLAK


Tristan memukul pipinya yang di gigit oleh nyamuk. Tangan dan wajah bahkan lehernya menjadi sasaran empuk nyamuk nyamuk ganas malam ini demi bisa menjaga dan memastikan sendiri Amira aman sampai tujuan-nya.


“Ya Tuhan.. Hambamu ini sedang menyelesaikan misi penting, tolong dong singkirkan sejenak nyamuk nyamuk ganas ini dari tempat ini..” Tristan bergumam merasa ngenes sendiri karena menjadi santapan nyamuk nyamuk yang sedang kelaparan itu. Tristan tidak menyangka bahwa perjuangan-nya mendekati Amira akan begitu sulit. Belum lagi kakaknya yang menentang dan justru mendukungnya dengan Putri. Tristan benar benar merasa menderita sendiri.


“Amira.. Aku harap suatu saat kamu mengerti maksud aku seperti ini.. Aku sayang sama kamu Amira.. Tapi aku tidak tau harus bagaimana sekarang. Aku hanya bisa mengawasi kamu dari jauh karena aku nggak mau orang suruhan kak Williana melihat aku dekat sama kamu.”


Ketika sampai didepan jalan raya, Tristan mengeryit melihat mobil kakaknya yang berhenti tepat didepan Amira. Mobil kakaknya bahkan sepertinya memang sengaja mencegat langkah Amira.


“Ya Tuhan.. Itu kan mobil kakak..”


Tristan menelan ludah merasa takut juga khawatir. Tristan tau bagaimana kakaknya.


Tristan terus mengawasi Amira yang mulai berbincang dengan Williana yang menurunkan kaca mobilnya hingga akhirnya Amira masuk kedalam mobil Williana.


“Loh loh.. Kok malah masuk ke mobil kakak sih?”


Tristan mendelik tidak menyangka. Namun Tristan yakin kakaknya pasti punya maksud lain membawa Amira. Tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Amira, Tristan pun bergegas keluar dari persembunyian-nya. Tristan bergegas berlari kearah motornya yang memang sengaja Tristan letakan jauh dari kediaman dokter Rania agar Amira tidak curiga.

__ADS_1


Tristan mengenakan helmnya dengan gerakan cepat kemudian menaiki motornya dan segera melajukan-nya dengan kecepatan full agar tidak kehilangan jejak mengikuti mobil sang kakak.


Sementara itu di dalam mobil Williana.


“Makasih banyak ya kak, udah kasih aku tumpangan. Kebetulan aku tadi lagi bingung mau naik apa. Nggak bawa uang soalnya.” Ujar Amira tertawa pelan merasa malu sendiri.


Williana tertawa sinis menatap ke arah jalanan yang sedang dilaluinya. Wanita itu kemudian mengeluarkan amplop coklat berisi segepok uang dan menyodorkan-nya pada Amira.


Amira mengeryit bingung karena tiba tiba Williana menyodorkan amplop tersebut padanya.


“Ini apa kak?” Tanya Amira tidak mengerti dengan maksud Williana.


“Didalam amplop ini ada uang yang bisa kamu gunakan untuk meringankan beban hidup kamu.” Kata Williana dengan sangat sombong.


Amira menatap amplop coklat tersebut. Amira yakin Williana pasti tidak sedang bercanda.


“Kamu ambil uang ini, setelah itu kamu pergi jauh jauh dari kehidupan Tristan. Bila perlu kamu pindah sekolah. Saya akan mengurus semuanya bahkan menjamin hidup kamu enak setelah ini. Ayo ambil.”


Amira menelan ludah tidak menyangka Williana ternyata tidak sebaik yang tadi Amira kira. Pemikiran-nya selama ini memang benar, keluarga Tristan memandang segalanya dengan uang.


“Pak pak tolong stop pak. Saya turun disini saja.”


Supir Williana menurut dan segera menepikan mobilnya berhenti disana.


Amira menghela napas kasar kemudian tersenyum menatap Williana.


“Terimakasih untuk tawaran uang nona yang banyak ini. Tapi maaf nona, tidak semua hal bisa nona beli dengan uang yang nona miliki. Dan saya, saya tidak pernah mendekati adik nona. Saya akan dengan senang hati menjauh dari adik nona. Karena saya juga tidak sudi dekat dengan orang kaya seperti kalian yang mendewakan uang.” Tegas Amira menolak.


Setelah berkata seperti itu pada Williana, Amira langsung turun dari mobil Williana. Amira melangkah menjauh dengan cepat dari mobil Williana dengan air mata menetes membasahi kedua pipinya. Amira merasa sangat terhina karena Williana.


Sedangkan Williana, wanita itu tersenyum sinis menatap punggung Amira yang semakin menjauh dari mobilnya.


Tristan yang melihat Amira berjalan menjauh dari mobil Williana mengeryit penasaran. Tapi Tristan yakin, sesuatu pasti telah terjadi.

__ADS_1


“Aku nggak akan maafin kakak kalau sampai kakak menyakiti Amira..”


__ADS_2