
Tristan mengajak Amira untuk mengobrol sebentar di taman selama jam istirahat masih berlangsung. Pemuda itu merasa sangat senang karena akhirnya bisa kembali dekat dengan Amira.
“Eemm.. Tristan. Itu tangan kamu gosong karena kamu panas panasan kerja ya?” Tanya Amira yang membuat Tristan langsung mengangkat kedua tangan-nya dan memperhatikan-nya.
Tristan tertawa pelan.
“Oh ini.. Iya. Hehee.. Tapi nggak papa lah, namanya juga laki laki. Harus kuat dong. Ini belum apa apa kok..”
Amira mengeryit. Beban berat bagi seorang pria biasa memang bukan hal yang langka. Tapi jika pria itu adalah seorang Tristan Atmaja tetap saja rasanya sangat aneh. Tristan biasa hidup berkecukupan tanpa harus bekerja keras. Tristan bisa mendapatkan uang dan menikmati fasilitas mewah tanpa harus panas panasan menantang terik matahari siang lebih dulu.
Tapi Amira tidak ingin mengatakan sesuatu yang menyurutkan semangat Tristan. Karena dengan Tristan sudah mau berusaha untuk dirinya sendiri saja itu sudah sangat bagus menurut Amira. Itu berarti Tristan sedang menunjukan bahwa dirinya bisa dan tidak hanya mengandalkan uang dan fasilitas mewah dari kakaknya saja.
“Lain kali kalau kerja pake baju yang lengan panjang Tristan biar lengan kamu nggak gosong gitu.” Saran Amira menatap Tristan.
“Bagus tau kalau aku banyak berjemur jadi kulit aku nanti jadi coklat kan jadi terkesan maco. Ya nggak?” Balas Tristan yang malah bercanda.
Amira tertawa mendengarnya. Amira merasa kagum pada Tristan yang sama sekali tidak mengeluh meski harus menjalani hidup tanpa fasilitas mewah yang biasa dia nikmati. Sebaliknya, Tristan malah terlihat lebih semangat dengan apa yang dilakukan-nya meski lengan-nya sampai gosong karena panas panasan di tengah terik matahari siang saat bekerja menjadi kenek kuli bangunan bernama Udin.
“Aku minta maaf ya Tristan kalau selama kita berjarak aku sering ketus dan marah marah sama kamu.”
Tristan menyipitkan kedua matanya membalas tatapan Amira kemudian menghela napas dan mengarahkan pandangan-nya kearah lain.
__ADS_1
“Iya, kamu galak banget kaya singa.” Katanya jujur.
Amira terkikik geli. Amira akui dirinya memang sangat kesal pada Tristan karena menganggap Tristan menjauh darinya dan dekat dengan Putri karena Amira adalah orang yang tidak punya apa apa. Tapi setelah mendengar cerita Edo dan Joshua Amira langsung paham. Apa lagi Williana juga sampai dua kali menawarkan uang padanya agar Amira tidak lagi dekat dengan Tristan.
“Tapi Amira, aku makasih banget loh karena kamu nggak nerima tawaran uang dari kakak aku waktu itu. Itu membuat aku semakin yakin bahwa uang memang bukan segalanya. Mungkin di hidup ini segalanya memang membutuhkan uang. Tapi bukan berarti kan hati kita juga bisa dibeli dengan uang.”
Amira hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang Tristan katakan. Kehidupan manusia memang tidak akan terlepas dari uang. Tapi setidaknya manusia itu juga harus pandai dan bisa menggunakan uang itu untuk hal hal yang penting dan bermanfaat. Bukan untuk membanding bandingkan apa lagi sampai menindas dan menghina martabat manusia lain-nya.
Tristan menoleh pada Amira dan menatap wajah cantik gadis itu dari samping. Tristan masih menunggu jawaban Amira atas pernyataan cintanya kemarin siang. Ingin sekali rasanya Tristan menanyakan tentang bagaimana jawaban itu. Tapi Tristan ragu. Tristan takut jika Amira ternyata tidak memiliki perasaan yang sama dengan perasaan-nya.
Tristan menghela napas dan kembali mengarahkan pandangan-nya ke arah lain. Bisa bersama kembali dengan Amira seperti sekarang saja rasanya sudah sangat menyenangkan. Rasanya beban berat yang sedang di pikulnya terangkat begitu saja. Namun hati Tristan begitu serakah karena masih berangan angan bagaimana rasa bahagianya jika Amira ternyata membalas perasaan-nya.
Suara bel pertanda waktu istirahat telah usai membuat Tristan tersadar dari angan angan indahnya. Pemuda itu kemudian menoleh pada Amira yang duduk disampingnya.
Tristan menganggukkan kepalanya setuju dengan saran Amira. Mereka memang sebaiknya segera ke kelas sebelum guru mata pelajaran selanjutnya mendahului.
“Kamu ke kelas duluan saja. Aku sepertinya harus mandi dulu untuk menyegarkan tubuh. Ya.. Biar nggak ngantuk lagi kaya tadi.”
Amira menganggukkan kepalanya mengerti. Gadis itu kemudian bangkit dari duduknya di kursi yang sama dengan Tristan.
“Ini baju kamu.” Senyum Amira memberikan baju seragam Tristan.
__ADS_1
“Oke...” Tristan menerima baju seragamnya yang sejak tadi memang di pegang oleh Amira. Setelah itu keduanya berpisah dengan arah yang berlawanan karena Amira yang hendak menuju ke kelas sedangkan Tristan ke toilet.
Setelah menyegarkan tubuhnya dengan mandi, Tristan kembali mengikuti pelajaran tanpa sedikitpun merasakan kantuk. Pemuda itu begitu fokus menyimak penjelasan guru meskipun sesekali mencuri pandang pada Amira yang duduk di depan.
Saat waktu sekolah tiba, Tristan menemui teman teman-nya di tim basketnya termasuk Edo juga Joshua. Tristan yang sebagai kapten basket dengan sangat berat hati meminta maaf karena tidak bisa mengikuti latihan setelah pulang sekolah di karenakan dirinya harus bekerja. Tristan memang tidak mengatakan-nya secara terang terangan. Tristan hanya mengatakan bahwa dirinya sedang ada urusan yang tentu di maklumi oleh Edo, Joshua dan teman lain-nya.
“Jadi kamu nggak bisa ikut latihan siang ini?” Tanya Amira membuat langkah Tristan terhenti. Kebetulan saat itu mereka juga sudah sampai di depan gang yang hanya muat satu mobil dan sudah tidak jauh dari kediaman keluarga Amira.
Tristan menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Amira. Sebenarnya Tristan juga merasa sayang karena tidak bisa mengikuti latihan rutin-nya sedangkan jadwal pertandingan antar sekolah semakin dekat. Tapi disisi lain Tristan juga tidak mungkin mengabaikan tanggung jawabnya demi memenuhi kebutuhan-nya sendiri. Karena apa yang sekarang sedang Tristan jalani juga demi kebebasan-nya sendiri dan untuk membuktikan pada Williana kakaknya bahwa Tristan bisa mandiri sendiri.
“Untuk sementara ini kayanya nggak dulu Ra.. Aku kan harus kerja. Nggak mungkin dong aku mengabaikan pekerjaan aku sedangkan aku aja baru masuk kerjanya.” Jawab Tristan dengan senyuman di bibirnya.
Amira menganggukkan kepalanya. Gadis itu tau apa yang Tristan maksud. Dan selama apa yang menjadi pilihan Tristan itu baik, Amira akan mendukungnya.
“Ya udah Ra, aku cuma bisa anterin kamu sampai sini ya.. Aku harus kerja. Kasihan pak Udin nanti keteteran sendiri.” Ujar Tristan masih terus mempertahankan senyuman dibibirnya.
“Oke, kamu semangat ya kerjanya. Aku yakin kok kamu pasti bisa. Dan aku juga yakin kakak kamu pasti akan sadar dan bisa ngertiin kamu.”
Untuk yang kesekian kalinya Tristan menganggukkan kepala. Tristan juga berharap demikian.
“Ya udah. Aku balik ya..”
__ADS_1
“Ya..”
Tristan menatap Amira yang perlahan menjauh darinya. Dan setelah Amira sudah tidak terlihat lagi, Tristan pun segera beranjak dari tempatnya berdiri. Tristan tidak ingin melampaui waktu yang sudah dia janjikan pada pak Udin yang sudah baik hati mau menjadikan-nya sebagai kenek.