ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 23


__ADS_3

Hana, Angel, juga Sera kembali kerumah setelah hari gelap. Mereka bertiga memang baru saja selesai menikmati pemandangan indah langit warna jingga dari taman kompleks. Mereka juga bermain dengan riang gembira ditaman itu.


“Lebih baik sekarang kita bersih bersih. Sebentar lagi waktu makan malam tiba.” Saran Sera yang di angguki setuju oleh Angel juga Hana.


Mereka kemudian dengan kompak menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai dua. Begitu sampai di lantai dua, mereka berpencar dan masuk kedalam kamar masing masing.


Hana masuk kedalam kamarnya dan Stefan dengan senyuman bahagia yang menghiasi bibirnya. Namun senyuman itu luntur begitu Hana melihat Stefan yang duduk ditepi ranjang dengan buku tebal yang sedang dibacanya.


Tidak ingin memperdulikan apa yang dilakukan pria itu Hana pun melangkah masuk kedalam kamar mandi. Namun begitu sudah ada didalam kamar mandi, Hana baru sadar dirinya tidak membawa baju ganti. Hal itu membuat Hana mau tidak mau keluar kembali dari kamar mandi untuk mengambil baju ganti.


Hana keluar dari kamar mandi dan mengeryit ketika tidak mendapati Stefan ditempatnya dan buku tebal itu tergeletak diatas tempat tidur. Hana mengedarkan pandangan-nya kearah lain dan pintu penghubung balkon terbuka.


Penasaran, Hana pun melangkah pelan mencari tau apakah suaminya ada dibalkon atau tidak. Dan benar saja, Stefan sedang berdiri disana. Pria itu mendongak menatap langit yang mulai dipenuhi bintang malam itu.


Hana menghela napas kemudian membalikkan tubuhnya untuk melanjutkan niat awalnya mengambil baju ganti di lemari bajunya dan Stefan.


“Apa kamu tidak suka dengan handphone nya?”


Pertanyaan itu membuat Hana yang hendak melangkah urung melakukan-nya. Hana diam. Ponsel itu sangat bagus dan Hana menyukainya. Hanya saja Hana merasa sudah tidak perlu lagi memiliki benda itu.


“Apa handphone nya kurang bagus atau mungkin harganya kurang mahal?” Tanya Stefan lagi.


Hana tersenyum. Kurang bagus dan kurang mahal benar benar sangat tidak pantas jika melihat rupa ponsel yang di antarkan Rico untuknya tadi siang.


Perlahan Hana membalikkan tubuhnya menatap Stefan yang terus mengarahkan pandangan-nya lurus kedepan. Hana berpikir sepertinya suaminya itu memang tidak suka menatap langsung lawan bicaranya.


“Tolong jangan bercanda Stefan. Aku tidak bodoh meskipun aku tidak bisa sekolah setinggi kamu sekolah dulu. Handphone itu bahkan bisa untuk aku membeli rumah sewa tempatku dulu tinggal. Aku suka handphone itu. Dan terimakasih untuk apa yang kamu berikan siang tadi. Aku terima maaf dan bunga dari kamu tapi tidak dengan handphone nya.”


“Kenapa?” Tanya Stefan. Kali ini pria itu menatap Hana meskipun dengan wajah yang datar.


“Aku merasa nggak perlu memegang benda itu lagi. Lagian aku nggak punya teman, aku juga sudah tidak punya lagi kontak orang orang yang aku kenal Stefan. Jadi untuk apa?”


“Apa aku bukan salah satu dari orang yang kamu kenal?”

__ADS_1


Hana mengeryit.


“Maksud kamu?”


Stefan menghela napas pelan kemudian melangkah mendekat pada Hana yang berdiri didepan pintu balkon. Pria itu sedikit menundukkan kepalanya mendekatkan wajahnya pada wajah Hana membuat Hana terdiam karena ditatap sedemikian intens dengan jarak yang begitu dekat.


Hana menelan ludah. Tubuhnya mendadak kaku ditempatnya. Kedua bola mata coklat bening Stefan begitu indah dan membuat Hana tidak bisa memalingkan wajahnya.


Untuk sesaat keduanya sama sama diam dan saling menatap. Hana bahkan bisa merasakan hangatnya hembusan napas Stefan diwajahnya. Juga aroma mint segar yang menguar dari tubuh kekar pria itu.


“Apa kamu lupa bahwa aku ini suami kamu Hana? kamu bisa menyimpan nomorku. Kamu juga bisa menghubungiku kapan pun kamu mau. Kamu bisa mengirim pesan padaku.” Lirih Stefan menatap Hana dalam.


Hana tidak bisa menjawab. Menghubungi dan mengirim pesan pada Stefan kapanpun Hana mau? Itu benar benar bukan lelucon yang bisa ditertawakan.


“Kecuali jika memang kamu tidak menganggap aku ini sebagai suami kamu.” Lanjut Stefan lagi.


Stefan menjauhkan kembali wajahnya setelah itu. Pria itu terus menatap Hana yang diam dengan ekspresi datar sebelum akhirnya melangkah melewati Hana yang tidak bisa berkata kata karena ucapan pria itu.


BRAK !!


“Apa aku keterlaluan?” Tanya Hana lirih pada dirinya sendiri.


Hana tampak berpikir sebelum akhirnya Hana berdecak. Bibir wanita dengan dress rumahan warna coklat susu itu mengerucut mengingat apa yang Stefan lakukan pada ponsel miliknya kemarin malam.


“Bodo amat lah. Dia juga udah keterlaluan kemarin malam.” Ujar Hana tidak perduli.


Hana berlalu dari tempatnya melanjutkan kembali niatnya mengambil baju ganti kemudian masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya enggan memikirkan ucapan Stefan tadi.


Selesai membersihkan dirinya, Hana pun turun untuk sama sama makan malam. Namun begitu sampai di meja makan Hana hanya mendapati Angel dan Sera disana.


Hana ingin bertanya kemana Stefan tapi enggan. Hana malas jika harus kembali ditekan oleh pria dingin itu.


“Mommy..” Panggil Angel pada Hana.

__ADS_1


“Ya.. Kenapa sayang..?” Saut Hana kemudian bertanya pada Angel dengan sangat lembut.


“Didepan ada nenek sihir. Dia sedang merayu daddy.” Ujar Angel mengadu.


Hana mengeryit kemudian beralih menatap Sera meminta penjelasan.


Sera yang mendengar apa yang Angel katakan pada Hana tertawa pelan.


“Itu.. Didepan ada Williana Atmaja. Yang kemarin ngundang kalian berdua dalam acara peresmian hotelnya. Angel memang selalu menyebutnya nenek sihir.. Yah mungkin karena Angel takut daddy nya direbut sama Williana.” Jelas Sera.


Ekspresi Hana langsung berubah. Hana tiba tiba mengingat bagaimana Williana yang begitu agresif pada suaminya.


Saat itu juga seorang pelayan melewati meja makan dengan membawa nampan dimana diatasnya terdapat dua gelas orange jus.


Hana langsung bangkit dari duduknya dan memanggil pelayan itu.


“Saya nyonya?” Tanya si pelayan menatap Hana.


“Iya.. Eemm.. Ini buat Stefan sama tamunya kan?” Tanya Hana dengan senyuman dibibirnya.


“Iya nyonya..” Angguk pelayan itu menjawab.


“Kalau begitu biar saya saja yang bawa. Kamu bisa kerjakan yang lain.” Ujar Hana mengambil alih nampan yang dipegang pelayan itu.


“Baik nyonya..”


Setelah nampan yang dibawanya di ambil alih oleh Hana, pelayan itu pun berlalu berniat mengerjakan pekerjaan lain seperti apa yang Hana katakan.


“Emm Angel, mamah, aku antar minuman ini untuk Stefan dan nenek sihir itu yah..” Senyum Hana yang di angguki oleh Sera dengan tawa kecilnya.


Hana melangkah berlalu dari meja makan dengan senyuman miringnya. Wanita itu berniat menunjukkan pada Williana siapa dirinya sebenarnya. Meskipun memang Hana bukan berasal dari kalangan atas seperti Williana, tapi Hana tidak mau diremehkan begitu saja. Dan sekali lagi Hana akan memanfaatkan statusnya sebagai nyonya Devandra. Hana juga tidak perduli meskipun mungkin Stefan akan marah padanya nanti.


“Oma, sepertinya mommy berniat melakukan sesuatu pada nenek sihir itu.” Ujar Angel menatap punggung Hana yang menjauh.

__ADS_1


“Biarkan saja sayang. Ada daddy yang akan melindungi mommy dari nenek sihir itu.” Senyum Sera yang juga tidak pernah menyukai sosok Williana Atmaja yang selalu mengejar putranya.


__ADS_2