ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 262


__ADS_3

Stefan tersenyum menatap Hana yang masih terlelap dengan damai. Pria itu kemudian menoleh ke ranjang bayi Theo. Sayup sayup Stefan mendengar Theo yang bersuara. Karena penasaran, Stefan pun turun dari ranjang dengan sangat pelan. Stefan tidak ingin mengusik tidur lelap Hana.


Stefan melangkah menghampiri ranjang Theo. Benar saja, bayi tampan itu sudah terbangun dan sedang asik mengulum jari jari kecil tangan-nya sendiri.


“Wah.. Jagoan daddy sudah bangun.” Ujar Stefan dengan suara lembutnya.


Mendengar suara pelan Stefan, bayi tampan itu menoleh. Theo tersenyum lebar namun tidak ada suaranya.


“Yang anteng ya nak.. Mommy masih bobo..” Kata Stefan membuat Theo terus tersenyum lebar menampilkan gusi tanpa giginya.


Stefan tersenyum menatap putranya. Bayi itu seolah mengerti bahwa Hana sedang kelelahan karena semalaman tidak bisa tidur akibat dari memikirkan ucapan Williana. Theo bangun tanpa bersuara dan asik bermain sendiri dengan mengulum jari jari kecilnya.


“Daddy bersih bersih dulu ya.. Theo jangan nangis. Kasihan mommy nya masih bobo.. Daddy cuma sebentar kok. Nanti Theo mandinya sama daddy. Oke?”


Theo tersenyum dan menggerakkan kakinya dengan begitu aktif mendengar apa yang Stefan katakan. Bayi tampan itu benar benar sangat pengertian karena tidak menangis meski begitu bangun Hana tidak langsung berada di depan matanya.


“Sebentar nak..” Stefan kemudian melangkah menjauh dari ranjang Theo menuju kamar mandi. Pagi ini Stefan akan mencoba membantu meringankan beban istrinya.


Stefan berusaha secepat mungkin membersihkan dirinya karena takut Theo menangis sehingga Hana terbangun dari tidur lelapnya. Selesai membersihkan dirinya, Stefan pun segera memandikan Theo. Pria itu melakukan-nya dengan sangat lembut dan hati hati. Stefan juga terus mengajak Theo berbicara agar Theo merasa nyaman mandi bersamanya. Ajaibnya bayi tampan itu sama sekali tidak menangis meski bukan Hana yang memandikan. Padahal sejak bangun Theo juga belum menyusu.


“Nah.. Sudah selesai.. Saatnya kita ganti baju. Pelan pelan ya nak.. Jangan berisik. Oke?” Kata Stefan sambil mengelap tubuh kecil Theo yang di gendongnya dengan handuk berwarna coklat susu.


Stefan benar benar melakukan apa yang biasa Hana lakukan. Mulai dari memandikan Theo sampai memakaikan baju pada bayi tampan-nya. Meskipun Stefan tampak kesusahan, namun pria itu tidak menyerah dan terus berusaha sembari terus mengajak Theo mengobrol diatas sofa. Tentunya dengan suara yang dibuat sepelan mungkin agar Hana tidak terusik dari tidurnya.

__ADS_1


“Huft.. Ternyata mandiin sama makein baju ke kamu nggak semudah yang daddy lihat saat mommy yang melakukan-nya yah..” Hela napas Stefan setelah selesai memakaikan baju pada Theo.


Theo terus saja tersenyum lebar mendengar Stefan berbicara. Dan senyuman lebar itu membuat Stefan merasa bersemangat meskipun memang memandikan Theo bukanlah sesuatu yang mudah baginya. Selain khawatir karena tubuh Theo yang licin saat di sabuni, Stefan juga merasa ragu saat mengusap kepala Theo dengan shampo. Stefan takut jika busa itu mengenai wajah dan mata Theo akan pedih dan membuatnya menangis. Beruntungnya semua ke khawatiran dan ketakutan itu tidak terjadi. Karena Theo benar benar sangat anteng bersamanya pagi ini.


“Sekarang jagoan daddy udah bersih, udah ganteng, udah wangi juga. Mommy pasti senang nanti kalau bangun.”


Entah kenapa ucapan Stefan kali ini tidak membuat Theo tersenyum. Bayi itu justru tiba tiba menangis kencang membuat Hana langsung terbangun dari tidur lelapnya.


Stefan yang tidak tau dimana letak kesalahan-nya saat berbicara pada putranya tadi langsung gelagapan. Apa lagi saat melihat Hana yang bangkit dengan gerakan cepat. Stefan benar benar merasa sangat bersalah karena telah mengusik tidur Hana yang baru sebentar itu.


“Ya Tuhan Theo...” Gumam Hana dengan kesadaran yang langsung penuh saking khawatirnya mendengar Theo menangis.


Hana bergegas turun dari ranjang kemudian mendekat pada Stefan yang duduk di sofa seberang ranjang dengan cepat.


Stefan hanya diam saja. Stefan tidak bisa menyalahkan Theo yang menangis karena mungkin bayi itu lapar.


“Maaf aku tidak menjaganya dengan baik sayang. Tapi mungkin dia lapar karena belum menyusu semenjak bangun.” Ujar Stefan merasa sangat bersalah pada Hana.


Hana menoleh pada Stefan kemudian tersenyum.


“Tidak ada yang perlu di maafkan Stefan. Theo memang harus langsung menyusu jika bangun tidur. Seharusnya aku tidak terlena dan malah tidur dengan tenang tadi.” Senyum Hana tidak ingin Stefan merasa bersalah padanya.


Setelah berkata demikian, Hana kemudian kembali memusatkan perhatian-nya pada Theo. Wanita itu mengeryit merasa aneh dengan penampilan Theo pagi ini hingga bau wangi khas bayi yang menyeruak masuk ke indra penciuman-nya menyadarkan Hana. Ya, bayi tampan itu sudah rapi, bersih, juga wangi.

__ADS_1


“Stefan siapa memandikan Theo?” Tanya Hana kemudian kembali menatap Stefan dengan wajah tidak percaya. Sebenarnya Hana sedang menebak nebak bahwa mungkin Stefan lah yang memandikan putra mereka.


“Theo sudah bangun saat aku bangun Hana. Dia sangat anteng bahkan sangat sabar menunggu sampai aku selesai mandi. Karena aku melihat kamu yang begitu damai terlelap, akhirnya aku memandikan Theo. Ya meskipun memandikan-nya tidak secepat seperti kamu yang memandikan-nya karena ternyata memandikan Theo tidak mudah. Aku benar benar harus sangat hati hati karena sabun membuat tubuh Theo licin. Tapi Hana, dia sangat pengertian dan tidak menangis meskipun bukan kamu yang memandikan.”


Hana tersenyum merasa sangat terharu mendengar apa yang Stefan katakan padanya. Hana sendiri merasakan sendiri bagaimana tidak mudahnya memandikan Theo saat pertama kali. Dan pagi ini Stefan melakukan sesuatu yang selama ini tidak pernah dia lakukan tanpa bantuan ataupun pengawasan darinya.


“Aku hanya berusaha membantu kamu semampuku Hana.” Lanjut Stefan.


Hana benar benar tidak menyangka Stefan bisa melakukan itu semua.


“Stefan kamu..” Suara Hana mulai bergetar. Sisi lain Stefan yang tidak semua orang tau benar benar membuat Hana merasa sangat tersentuh.


“Hey.. Ada apa? Apa aku salah ngomong?” Tanya Stefan merasa khawatir mendengar suara Hana yang bergetar.


Hana menggelengkan kepalanya. Wanita itu kemudian menyenderkan kepalanya di bahu tegap Stefan. Air mata mulai menetes membasahi kedua pipinya. Hana benar benar tidak menyangka Stefan begitu sangat pengertian padanya. Stefan benar benar sosok yang sangat tidak bisa Hana tebak.


“Kenapa menangis?” Tanya Stefan lagi.


“Aku hanya sedang sangat bahagia Stefan. Aku bahagia karena memiliki kamu. Terimakasih untuk semuanya. Terimakasih karena sudah membantuku mengurus Theo.” Lirih Hana.


Stefan tersenyum mendengarnya. Pria itu kemudian memeluk Hana dengan lembut dan penuh kasih sayang.


“Tidak perlu berterimakasih sayang. Aku hanya melakukan apa yang memang sudah seharusnya aku lakukan.”

__ADS_1


__ADS_2