
Setelah di hubungi, tidak lama kemudian dokter Rania datang. Dokter itu segera memeriksa keadaan Stefan dengan Hana dan Angel yang terus berada di samping Stefan.
“Bagaimana dokter?” Tanya Hana setelah dokter Rania memeriksa keadaan Stefan.
Dokter Rania menghela napas dan menggelengkan kepalanya setelah memeriksa keadaan Stefan. Suhu tubuh pria itu memang sangat tinggi menandakan bahwa pria itu mengalami masuk angin berat.
“Sepertinya Stefan mengabaikan kesehatan-nya kali ini Hana. Dia masuk angin berat yang membuat suhu tubuhnya tinggi. Apa dia juga muntah muntah?”
Hana hanya menganggukkan kepala mendengarnya. Dua hari ini Hana sama sekali tidak tau apa saja yang dilakukan Stefan. Hana bahkan tidak tau apakah Stefan makan dengan teratur atau tidak.
“Sepertinya Stefan juga mengabaikan waktu makan dan waktu istirahatnya Hana. Tapi kamu tenang saja, aku akan tulis resep obat untuk Stefan.”
“Terimakasih dokter..” Senyum Hana tulus.
Dokter Rania balas tersenyum kemudian beralih menatap Angel yang terus memeluk Hana. Wanita itu yakin Angel juga sangat menyayangi Hana seperti Stefan yang bahkan sampai tidak rela Hana sampai memikirkan laki laki lain yang adalah sahabatnya.
“Eemm.. Dokter, tentang masalah kemarin aku minta maaf..” Ujar Hana pelan.
Dokter Rania tersenyum menatap Hana. Wanita itu membuka tas kerjanya mengambil buku kecil dan pulpen kemudian menulis resep obat yang harus dibeli di apotek untuk Stefan.
“Aku sudah lama mengenal Stefan Hana. Maaf bukan-nya sombong. Tapi aku mungkin jauh lebih mengenal Stefan dari pada kamu.”
Hana hanya diam. Tentu saja dokter Rania lebih mengenal Stefan dari pada dirinya.
“Hana, Stefan tidak pernah bersikap begitu over pada perempuan bahkan pada mendiang istri pertamanya. Tapi sama kamu Stefan bahkan sampai tidak memikirkan perasaan orang lain. Itu artinya Stefan sangat takut kehilangan kamu Hana. Stefan orang yang baik. Aku harap kamu bisa menjaga perasaan-nya.”
Hana menatap Stefan yang masih menutup kedua matanya. Wajah tampan-nya masih memerah pertanda demamnya masih tinggi.
“Ini resep obat yang harus dibeli di apotek. Kamu tidak perlu lagi memikirkan Alan. Kamu tenang saja, Alan akan aku jaga dengan baik Hana. Yang harus kamu pikirkan adalah suami kamu. Dia sangat membutuhkan kamu.”
Hana menghela napas kemudian menganggukkan kepalanya. Setelah mendengar apa yang dokter Rania katakan sekarang Hana sadar bahwa dirinya memang salah karena terus memikirkan pria lain sementara ada Stefan yang sudah berstatus sebagai suaminya. Terlepas Stefan mencintainya atau tidak.
__ADS_1
“Aku akan berusaha.” Senyum Hana menerima secarik kertas yang diberikan oleh dokter Rania.
“Baik kalau begitu, aku pamit ya.. Aku nggak bisa meninggalkan Alan dirumah sendirian lama lama.”
“Ya dokter. Aku akan antar sampai depan.”
Dokter Rania hanya menganggukkan kepala. Entah kenapa dokter cantik itu merasa bahwa Hana memang wanita yang tepat dan pantas berada di sisi Stefan. Bahkan jauh lebih pantas dari pada mendiang istri pertama Stefan dulu.
“Angel mommy titip daddy sebentar ya sayang. Tolong jagain daddy. Mommy mau anter dokter Rania sampai depan.” Ujar Hana mengusap lembut rambut panjang Angel.
“Yes mommy..” Angguk Angel sambil mengusap air matanya.
“Anak pintar.” Senyum Hana kemudian mengecup singkat pipi Angel.
Setelah menitipkan Stefan pada gadis kecil itu, Hana mengantar dokter Rania sampai teras depan rumah.
“Aku pulang ya Hana.. Pokonya mulai sekarang kamu nggak usah lagi mikirin Alan. Dia akan baik baik saja.” Ujar dokter Rania ketika hendak masuk kedalam mobilnya.
“Aku pulang yah..”
“Ya, Terimakasih dan maaf sudah merepotkan.”
“Tidak masalah.” Balas dokter Rania kemudian masuk kedalam mobilnya.
Hana menghela napas setelah mobil dokter Rania keluar dari pekarangan luas rumah Stefan. Hana kemudian menyuruh salah satu body guard dirumah Stefan untuk membelikan obat yang sudah ditulis resepnya di secarik kertas oleh dokter Rania.
Setelah itu, Hana langsung mengambil kompres untuk Stefan dengan Angel yang selalu berada disampingnya. Hana juga membuatkan bubur untuk Stefan yang tidak lama kemudian akhirnya sadar dari pingsan-nya.
Stefan mengerang disertai ringisan membuat Hana langsung menatap padanya. Hana menghela napas lega saat perlahan Stefan membuka kedua matanya.
“Syukurlah kamu sadar Stefan..” Hana tersenyum kemudian mengambil kain basah yang ada di kening Stefan.
__ADS_1
Stefan melirik Hana yang duduk disampingnya kemudian melengos. Pria itu masih merasa kesal karena Hana sudah berani menantangnya.
“Udah nggak usah ngambekan gituh. Lagi sakit juga.” Sindir Hana sambil kembali menempelkan kain kompres yang sudah dia bilas dan dia peras itu ke kening Stefan.
Stefan tetap diam. Hingga pemandangan yang tidak biasa membuat kening Stefan mengeryit. Angel tidur di sofa tidak jauh dari ranjang tempat Stefan berbaring.
Hana yang mengerti dengan arah pandang suaminya tersenyum.
“Angel ngotot pengin tetap disini untuk nemenin kamu Stefan. Aku udah bujuk dia buat tidur dikamarnya tadi. Tapi dia malah nangis. Katanya pengin nemenin daddy nya yang sedang sakit.” Jelas Hana.
Stefan menelan ludahnya. Bersama dengan gadis kecil itu adalah sesuatu yang selalu Stefan hindari. Stefan tidak pernah membenci tapi Stefan juga tidak pernah tau apakah dia menyayangi gadis kecil yang selalu menganggapnya sebagai ayah kandungnya itu.
“Tadi dokter Rania bilang kamu seperti ini karena kamu masuk angin. Kamu kurang istirahat, telat makan dan terlalu pulang larut malam.” Ujar Hana menatap Stefan yang masih mengarahkan pandangan-nya pada Angel.
“Lebih baik sekarang kamu makan terus minum obat. Aku suapin ya..”
“Panggil orang dan suruh untuk memindahkan Angel ke kamarnya.” Perintah Stefan membuat Hana langsung diam.
Hana tidak bisa menebak bagaimana perasaan Stefan pada Angel. Pria itu selalu memberikan apapun yang Angel mau, tapi Stefan menolak jika harus berada satu ruangan dengan Angel terlalu lama.
“Stefan perlu kamu tau. Angel tadi ngotot pengin tidur disamping kamu. Tapi aku larang karena aku nggak mau Angel membuat kamu marah. Angel bahkan juga menangis karena ingin memeluk kamu tapi aku lagi lagi berusaha mencegahnya dengan hati aku yang sakit Stefan. Dia sangat menyayangi kamu Stefan. Karena hanya kamu orang tua kandung yang dia miliki sekarang. Tolong jangan seperti ini Stefan.”
Hana mengatakan itu dengan suara bergetar menahan tangis. Hana sebenarnya tidak tega melihat Angel tertidur disofa. Tapi Hana juga tidak mau jika sampai gadis kecil itu terkena amarah Stefan karena tidur disampingnya.
“Kamu tidak akan mengerti Hana. Kamu tidak akan pernah bisa paham bagaimana perasaan aku.” Ujar Stefan lirih.
Hana menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan-nya perlahan. Hana tau memaksa Stefan hanya akan membuatnya lelah sendiri mengingat bagaimana kerasnya pria tampan itu.
Hana meraih tangan besar Stefan menggenggamnya lembut membuat Stefan langsung menoleh menatapnya.
“Kalau begitu tolong ajari aku supaya aku mengerti kamu Stefan.” Katanya dengan senyuman tulus.
__ADS_1
Stefan mengeryit. Genggaman tangan kecil Hana begitu lembut. Senyuman tulus yang menghiasi bibir Hana membuat Stefan tidak bisa memalingkan wajahnya. Dan entah kenapa mendadak hati Stefan menghangat mendengar apa yang Hana katakan.