
Hana melenguh kemudian membuka perlahan kedua matanya. Pemandangan yang pertama kali dilihatnya pagi ini adalah langit langit kamarnya dan Stefan.
Hana menghela napas lalu menoleh ke sampingnya. Wanita itu mengeryit ketika tidak mendapati Stefan ditempatnya.
“Stefan kemana?” Tanya Hana pelan.
Hana kemudian bangkit terduduk diatas tempat tidur. Wanita itu merenggangkan otot otot tubuhnya yang terasa kaku lalu menunduk dan mengelus lembut perut ratanya.
“Selamat pagi sayangnya mommy..” Senyum Hana manis.
Hana mengedarkan pandangan-nya ke seluruh sudut kamarnya dan Stefan. Kamar yang selalu terlihat rapi, tapi Hana yakin sebentar lagi kamar itu akan selalu berantakan. Dan Hana tidak sabar ingin melihat bagaimana reaksi suaminya yang sangat menggilai kerapian dan kebersihan itu saat melihat kamarnya yang berantakan karena ulah anaknya yang akan lahir dari rahim Hana nanti.
Pandangan Hana berhenti pada ponsel miliknya yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya. Hana meraih benda pipih itu kemudian membukanya. Senyuman manis dibibirnya mengembang ketika Hana mendapati satu pesan manis yang di kirim oleh Stefan untuknya.
“Eemm.. Sweet banget sih suami aku..” Senang Hana setelah membaca pesan singkat dari suaminya.
Hana juga membuka pesan masuk yang dikirim oleh Aisha. Sesaat Hana terdiam melihat photo Amira dan ibu Alan yang sedang berpelukan yang disertai pemberitahuan dari Aisha bahwa Amira sudah mulai mendapatkan pekerjaan untuk membantu perekonomian keluarganya.
Hana menelan ludah. Stefan sudah menjamin semua untuk keluarga Alan. Dan Hana yakin tanpa Amira bekerja pun mereka bisa hidup berkecukupan. Tapi Hana juga sadar dirinya atau siapapun bahkan Alan sekalipun tidak akan bisa melarang Amira melakukan apa yang Amira inginkan. Terlebih Hana juga merasa sudah tidak seharusnya dirinya terlalu ikut campur urusan keluarga Alan.
Tidak mau membuat Aisha salah paham dengan tidak membalas pesan darinya, Hana pun membalas dengan singkat yang disertai emoticon bahagia. Setelah itu, Hana meletakan kembali ponselnya di tempat semula. Hana harus bergegas membersihkan dirinya kemudian sarapan dan minum vitamin agar kondisi tubuhnya tetap terjaga dan baik baik saja.
Hana turun dari ranjangnya kemudian melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
30 Menit berlalu Hana pun keluar dari kamarnya dengan penampilan-nya yang sudah rapi. Penampilan simpel namun tetap manis. Hana mengenakan dress selutut warna salem dengan rambutnya yang di cepol tinggi.
“Hana...”
Suara Sera membuat Hana yang akan menuruni tangga menoleh. Hana tersenyum manis menatap mamah mertuanya yang baru saja keluar dari kamarnya.
__ADS_1
“Mamah..”
Sera melangkah mendekat pada Hana. Wanita itu sebenarnya sedang sangat khawatir. Sera khawatir Hana marah dan kecewa pada Stefan begitu tau apa yang selama ini Stefan tutupi darinya.
Hana yang melihat tatapan tidak biasa Sera padanya mengeryit.
“Mamah kenapa?” Tanya Hana begitu Sera sudah berada didepan-nya.
Sera langsung tersadar dari segala apa yang dipikirkan-nya. Wanita itu kemudian tersenyum pada Hana yang menatap penasaran padanya.
“Ah enggak, nggak papa sayang. Oh iya kamu mau sarapan kan? Biar mamah temenin.”
Hana menganggukkan kepalanya setuju. Hana akan sangat senang jika ada yang menemaninya sarapan dimeja makan. Apa lagi sekarang sarapan pagi Hana juga sudah terlewat hampir dua jam.
“Tadi pagi Stefan juga telat bangun. Dia baru bangun pas Angel mengetuk pintu kamarnya. Stefan juga tidak sempat sarapan dan hanya meminum segelas susu hangat karena buru buru.” Ujar Sera sambil melangkah disamping Hana.
“Lalu bagaimana dengan Angel mah? Apa dia tidak sempat sarapan juga?”
Hana menganggukkan kepalanya mengerti. Tidak biasanya Stefan bangun telat.
Begitu sampai di meja makan, Sera langsung menyuruh pelayan untuk menyiapkan sarapan untuk Hana. Wanita itu terus menatap Hana sampai Hana menghabiskan sarapan paginya. Hana juga tidak lupa meminum vitamin juga susu hamil yang memang sangat di anjurkan oleh dokter untuk menjaga kondisi tubuh Hana yang bisa mendadak lemas.
“Hana..”
Hana menatap Sera yang memanggilnya. Hana penasaran karena Sera terus saja menatapnya dengan ekspresi seperti orang yang ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan-nya.
“Tentang hubungan pertemanan kamu dengan Alan, apakah dulu sangat dekat?”
Hana menelan ludah mendengarnya. Sera tiba tiba menanyakan tentang hubungan-nya dan Alan.
__ADS_1
“Eemm.. Dulu iya mah. Bahkan sebelum Alan mengalami kecelakaan kami baru saja pergi bersama.” Jawab Hana tidak ingin berbohong pada mamah mertuanya.
“Lalu apa kamu tau siapa yang menabrak Alan?”
Hana tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Sera. Sampai sekarang Hana memang tidak pernah tau siapa pelaku yang sudah membuat Alan sampai kritis dan harus di operasi karena pendarahan di otaknya. Tapi Hana tidak pernah mempermasalahkan itu. Hana yakin Tuhan memang sudah menakdirkan alur kehidupan seperti itu pada Alan juga padanya. Dan jika Alan tidak mengalami kecelakaan malam itu Hana yakin dirinya juga pasti tidak akan bertemu kemudian menikah dan akhirnya jatuh cinta pada Stefan, suaminya.
“Aku nggak pernah tau mah. Aku juga nggak ingin mempermasalahkan itu. Yang penting sekarang Alan sudah baik baik saja.”
Sera mengangguk anggukan kepalanya mengerti. Meskipun Hana tidak mempermasalahkan tentang siapa yang menabrak Alan, tapi Sera yakin Hana tetap akan sangat terkejut jika tau bahwa pelaku yang menabrak Alan itu adalah Stefan, suaminya sendiri.
“Boleh mamah tanya sesuatu?” Tanya Sera pelan.
“Tanya apa mah?” Tanya balik Hana bingung.
Sera menahan napasnya sejenak kemudian menghembuskan-nya perlahan.
“Kalau seandainya kamu tau siapa yang menabrak Alan, apa yang akan kamu lakukan?”
Hana terdiam sesaat. Hana tidak langsung menjawab pertanyaan Sera yang menurutnya sedikit aneh itu.
“Apa kamu akan sangat marah pada orang itu?”
Hana menelan ludah. Jika keadaan Alan sekarang tidak baik mungkin Hana akan menuntut tanggung jawab pada pelaku itu. Tapi sekarang Alan sudah pulih kembali. Pria itu sudah bisa kembali berjalan dan beraktivitas seperti biasanya meskipun belum bisa kembali bekerja seperti dulu.
“Untuk apa? Aku hanya sahabatnya Alan mah. Mungkin jika keluarganya memang akan sangat marah. Tapi aku.. Aku merasa nggak berhak marah.” Jawab Hana tenang.
Sera tersenyum mendengarnya. Hana hanya belum tau saja jika pelaku yang sudah membuat sahabatnya tidak berdaya adalah suaminya sendiri. Apa lagi Stefan juga mengajukan syarat padanya untuk menikah padahal membiayai Alan dan menanggung semua tanggung jawab Alan juga sudah menjadi kewajiban Stefan sebagai orang yang sudah membuat Alan koma.
“Memangnya kenapa mah? kok mamah tiba tiba nanyain tentang Alan?”
__ADS_1
“Oh enggak, enggak papa sayang. Mamah cuma penasaran aja pengin tau bagaimana tanggapan kamu.”
Hana mengeryit bingung. Namun karena tidak ingin berpikiran buruk pada mamah mertuanya Hana pun hanya menganggukan pelan kepalanya.