
Alan terdiam dikursi rodanya dibalkon kamar dengan wajah mengarah ke langit yang begitu indah dengan gemerlap bintang serta cahaya lembut rembulan yang menghiasi malam ini.
Alan menghela napas pelan. Ke indahan langit benar benar berbanding terbalik dengan suasana hatinya yang terus di rundung pilu. Alan sudah mencoba ikhlas dan merelakan. Namun hatinya tetap saja terasa sakit.
Menghadapi kenyataan bahwa orang yang sudah lama di cintai menjadi milik orang lain memang tidak mudah. Apa lagi jika angan sudah begitu tinggi dan yakin bisa memiliki.
“Kenapa kenyataan ini begitu sakit Tuhan? Dan kenapa harus aku yang di paksa menerima kenyataan ini?”
Alan selalu berharap semua itu hanya mimpi. Alan berharap Stefan hanya sosok tidak nyata yang berada dalam mimpi buruknya yang kemudian akan hilang jika Alan terbangun dari tidurnya. Tapi nyatanya Stefan benar benar ada. Stefan yang sudah berhasil memiliki Hana.
Alan tidak pernah sedikitpun membayangkan semua itu akan terjadi. Karena yang selalu Alan yakini adalah dirinya dan Hana akan selalu bersama dalam susah maupun senang. Tapi sekali lagi kenyataan yang ada begitu kejam. Alan sama sekali belum mengibarkan bendera perang namun Alan sudah kalah bahkan sebelum melangkah.
“Hana.. Apa kamu masih ingat saat sebelum aku kecelakaan? Aku bilang aku akan selalu ada untuk kamu.. Apa kamu mengingatnya Hana?”
Alan bertanya pada dirinya sendiri dengan rasa sesak yang memenuhi dadanya. Rasa sesak yang tidak kunjung hilang sejak Alan mendengar Hana sudah menjadi milik pria lain.
“Kamu belum tidur Alan?”
Alan menoleh mendengar pertanyaan dari dokter Rania. Pria itu langsung terdiam kemudian menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Aku belum ngantuk dokter.” Jawabnya.
Dokter Rania tersenyum. Dokter cantik itu sudah tau semuanya. Dan dokter Rania memaklumi dengan sikap Alan.
“Ibu kamu sudah menceritakan semuanya padaku Alan. Terkadang kenyataan itu memang tidak seindah apa yang kita impikan. Tapi apapun itu kita harus bisa menerimanya. Karena Tuhan tidak mungkin menguji hambanya tanpa alasan Alan.”
Alan tersenyum miris. Alan yakin saat ini hanya dirinya saja yang meratapi kesedihan itu. Karena pada dasarnya memang dirinya yang mencintai Hana dan menaruh harapan lebih pada kedekatan-nya dengan Hana dulu. Alan bahkan sangat percaya diri sekali bahwa dirinya lah pria yang akan selalu ada disamping Hana dalam keadaan apapun.
“Dokter tidak tau apa yang aku rasakan sekarang. Jadi lebih baik dokter tidak usah sok tau.” Ujar Alan dengan tatapan lurus kedepan.
Dokter Rania tertawa pelan mendengarnya. Wanita itu menghela napas kemudian menggelengkan kepalanya.
Alan menelan ludah. Saat ini memang Alan merasakan derita hatinya sendiri tanpa ada seorang pun yang bisa memahaminya. Bahkan mungkin kedua adik juga ibunya tidak akan tau seberapa sakit hati Alan sekarang.
“Alan diluar sana masih banyak orang yang jauh lebih menderita dari kamu saat ini. Bahkan ada yang hidup sebatangkara di dunia ini dan hanya mengandalkan dirinya sendiri untuk bisa berdiri dengan tegak tanpa ada satupun orang yang bisa memahami dan berada disampingnya. Dan orang itu adalah aku sendiri.”
Alan menoleh menatap tidak mengerti pada dokter cantik itu. Alan selalu berpikir hidup dokter Rania sudah enak. Wanita itu mempunyai rumah megah, karir cemerlang. Dan menurut Alan itu sudah cukup membuat dokter cantik itu bahagia. Apa lagi Alan juga sangat yakin bahwa dokter Rania sama seperti Stefan. Yaitu mempunyai segala apa yang dibutuhkan dan bisa mendapatkan apa saja yang dokter cantik itu mau.
“Dulu aku punya keluarga yang sangat bahagia dan sederhana Alan. Aku juga punya teman yang baik dan selalu membantu aku. Teman yang sombong tapi selalu tulus melakukan sesuatu untuk siapa saja yang membutuhkan. Dan tentunya dia melakukan itu tanpa ingin siapapun tau.” Dokter Rania mulai menceritakan bagaimana proses hidupnya.
__ADS_1
“Aku juga orang tidak mampu dulu Alan. Aku tinggal jauh dari kota. Aku bahkan mengandalkan beasiswa untuk bisa sekolah. Saat itulah aku mengenal dia, Stefan Devandra. Kami dulu dekat tapi secuilpun kami tidak pernah mempunyai rasa yang lebih dari teman. Stefan selalu membantuku bahkan tidak keberatan mengantar jemput aku untuk berangkat kuliah karena tempat tinggalku yang sangat jauh dari perkotaan. Dari bantuan Stefan aku bisa berdiri tegak dengan kepercayaan diri yang kuat. Sampai akhirnya aku bisa mencapai apa yang aku cita citakan yaitu menjadi dokter. Tapi musibah tiba tiba datang. Kedua orang tuaku jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Mulai saat itu aku hidup sebatangkara Alan. Aku sendiri tanpa siapapun lagi. Bahkan tanpa Stefan yang memang hanya hadir sebagai perantara keberhasilanku mencapai apa yang sejak kecil aku cita citakan.”
Alan terkejut namun tetap diam dengan tenang. Alan tidak menyangka jika ternyata kisah hidup dokter Rania begitu sangat memilukan. Padahal selama ini Alan berpikir mungkin kedua orang tua dokter itu adalah pembisnis besar yang tinggal diluar negeri.
“Jadi lebih beruntung mana aku sama kamu Alan? Aku punya kekayaan tapi hidup sebatangkara. Sedangkan kamu, kamu hidup sederhana tapi masih bisa merasakan kasih sayang keluarga. Kamu masih mendapatkan dukungan saat kamu terjatuh. Kamu masih mempunyai orang orang yang sayang dan selalu siap ada untuk kamu, untuk menopang kamu.” Dokter Rania tersenyum menatap Alan yang hanya diam disampingnya. Dokter cantik itu tidak sedang bermaksud tidak mensyukuri segala yang sudah Tuhan berikan padanya. Dia hanya ingin memberitahu Alan bahwa tidak hanya Alan saja yang merasakan derita dan kepiluan hidup.
“Alan, Hana mungkin memang tidak ditakdirkan menjadi jodoh kamu. Sama seperti aku dan Stefan. Kami dulu dekat tapi Tuhan hanya menggariskan takdir sebagai teman diantara kami tanpa ada sedikitpun rasa cinta apa lagi rasa ingin memiliki. Mungkin itu bagian dari kehidupan bersosialisasi, dimana kita tidak akan bisa hidup sendiri didunia ini.”
Alan masih tetap diam. Cerita dokter Rania seolah menamparnya dengan begitu keras. Alan memang tidak berpikir panjang. Dia hanya memikirkan hati dan perasaan-nya yang saat ini memang sedang terluka dan pilu.
Melihat Alan yang hanya diam dokter Rania menggelengkan kepalanya. Menyadarkan orang yang sedang terluka memang sangat sulit. Segala sesuatu tidak akan ada artinya jika sudah menyangkut hati dan diri sendiri.
“Alan pada dasarnya belum ada teori bahwa manusia bisa hidup sendiri. Kalaupun memang ada mungkin manusia itu akan sangat menderita kemudian mati tanpa ada satupun manusia lain yang perduli. Jadi mulai saat ini lebih baik kamu berhenti berpikir bahwa kebersamaan kamu dengan Hana adalah kebersamaan yang gagal.”
Alan sama sekali tidak menyaut. Pria itu tidak tau harus berkata apa pada dokter Rania.
“Sudahlah, lebih baik kamu istirahat. Ini sudah larut.”
Dokter Rania menepuk pelan bahu Alan kemudian melangkah berlalu meninggalkan Alan sendiri.
__ADS_1
Alan memejamkan kedua matanya. Mendadak Alan merasa malu karena sudah bertingkah seolah dirinya adalah manusia paling menderita di dunia ini. Sementara diluar sana bahkan didekatnya ada yang merasakan penderitaan yang lebih dari dirinya.