
Amira terus merasa gelisah di tempatnya duduk. Kepercayaan diri yang dengan susah payah Tristan bangun pada diri Amira luntur begitu saja karena ucapan Putri saat di ruang ganti tadi. Dan sekarang Amira merasa pesimis. Apa lagi jika melihat banyaknya tamu undangan yang hadir. Walaupun memang sejauh Amira memandang, Amira sama sekali tidak melihat sosok Stefan diantara para tamu undangan tersebut yang tidak lain adalah donatur di sekolahnya dan Tristan.
Tristan yang menyadari kegelisahan Amira menghela napas pelan. Pemuda itu meraih tangan Amira dan menggenggamnya membuat Amira kemudian menoleh menatapnya.
“Kamu nggak usah mikirin apa yang tadi Putri katakan. Kamu harus yakin dan percaya pada diri kamu sendiri Amira.” Ujar Tristan pelan.
“Kita pasti bisa.” Tambah Tristan menyemangati Amira.
Amira tidak tau harus mengatakan apa pada Tristan. Ucapan Tristan kali ini benar benar tidak berpengaruh apapun padanya. Apa lagi sekarang banyak sekali para tamu juga orang tua dari kakak kelas mereka yang hadir. Dan dari sekian banyak nya orang orang tersebut Amira yakin mereka bukanlah orang sembarangan.
“Amira, kita ini udah latihan lama.. Kamu juga kan udah bisa mengimbangi gerakan aku saat menari. Aku capek banget loh Amira ngelatihin kamu. Sering kena injek kaki kamu, terus nggak dibayar lagi. Masa iya kamu mau menyia nyiakan usaha keras aku cuma karena ucapan Putri tadi. Nggak adil banget kayanya, usaha aku selama dua minggu ini langsung terkalahkan oleh ucapan Putri.” Tristan memasang wajah sendunya membuat Amira langsung merasa bersalah.
“Tristan aku..”
“Aku juga sudah menyuruh Edo dan Joshua buat merekam kita saat tampil nanti loh Amira. Terus kamu kan juga tau disini ada kakak aku.. Kalau sampai kamu nggak percaya diri begini bagaimana kita bisa mempersembahkan penampilan yang terbaik?” Sela Tristan masih dengan ekspresi sendunya.
Amira membuka mulutnya tapi tidak tau harus berkata apa. Amira kemudian menatap pada Edo dan Joshua yang duduk tidak jauh dari Williana. Mereka berdua memang sudah siap dengan kamera digital di tangan-nya. Disana juga ada Rico yang Amira yakini adalah wakil dari Stefan yang mungkin saja sedang tidak bisa hadir karena kesibukan-nya.
“Amira..” Tristan mengangkat tangan Amira yang di genggamnya. Hal itu membuat Amira kembali menatapnya.
“Aku sangat berharap penampilan kita bisa membuat kakak aku bangga.” Lirih Tristan menatap Amira dalam. Kali ini Tristan mengatakan apa yang sebenarnya. Tristan memang mempunyai harapan besar untuk penampilan-nya yang akan disaksikan secara langsung oleh kakaknya hari ini.
Ketika Amira hendak mengucapkan sesuatu pada Tristan tiba tiba suara lantang seorang MC memanggilnya dan Tristan. Hal itu membuat kedua mata Amira membulat dengan sempurna. Dirinya dan Tristan sudah harus tampil sekarang juga.
“Ya Tuhan..” Batin Amira merasa gugup.
__ADS_1
“Itu kita sudah di panggil. Ayo..” Ajak Tristan bangkit dari duduknya.
Mau tidak mau Amira harus mengikuti Tristan yang menuntun-nya melewati teman teman-nya yang lain yang juga akan menampilkan keahlian-nya.
Sembari melangkah mengikuti Tristan menuju panggung, Amira merasakan jantungnya seolah akan meloncat keluar dari tempatnya. Tubuhnya bahkan bergetar saking gugup juga takutnya. Amira semakin merasa tidak yakin dirinya bisa melakukan-nya.
Sekarang Amira dan Tristan sudah berdiri berhadapan di atas panggung didepan banyak pasang mata yang menatap mereka. Lampu diatas panggung mulai di redupkan dan hanya ada sorotan cahaya lembut yang mengarah pada keduanya.
“Amira, aku yakin kita bisa melakukan ini. Kalau kamu ragu atau malu, kamu bisa tutup mata kamu sejenak dan bayangkan kalau disini hanya ada aku dan kamu saja.” Senyum Tristan menatap Amira dengan lembut.
Amira menganggukkan kepalanya pelan. Gadis itu kemudian memejamkan kedua matanya mengikuti apa yang Tristan katakan. Saat alunan musik lembut mulai mengalun, Amira pun kembali membuka kedua matanya. Saat itulah mereka memulai gerakan seperti saat mereka latihan.
Amira tersenyum. Apa yang Tristan katakan benar benar dia lakukan dengan membayangkan tidak ada siapapun disana dan hanya ada mereka berdua.
Williana yang sedang merasa kesal karena ketidak hadiran Stefan terkesima melihat penampilan Tristan dan Amira. Keduanya begitu apik berdansa diatas panggung.
“Sumpah, mereka berdua keren banget.”
“Iya.. Aku benar benar iri sama Amira.. Dia sangat hebat.”
Putri yang mendengar sendiri pujian yang terlontar dari teman teman-nya untuk penampilan Tristan dan Amira merasa sangat kesal. Padahal menurutnya penampilan Tristan dan Amira biasa saja.
“Kalian terlalu berlebihan. Mereka biasa saja. Amira nggak pantes dansa sama Tristan.” Ujar Putri marah.
Semua teman teman yang memuji penampilan Tristan dan Amira menatap aneh pada Putri. Mereka semua tau bagaimana Putri yang terus berusaha menarik perhatian Tristan namun tidak pernah berhasil karena Tristan yang sudah memilih Amira sebagai pacarnya.
__ADS_1
Setelah semua semua siswa/siswi menampilkan keahlian-nya, acara dilanjutkan dengan sambutan oleh para guru juga kepala sekolah. Tidak ketinggalan para donatur yang hadir disana.
“Aku percaya kalau kamu memang bisa Amira.” Senyum Tristan menatap Amira yang duduk disampingnya.
Amira tersenyum. Amira juga tidak menyangka dirinya bisa melakukan-nya. Di tambah pujian teman teman-nya saat mereka berdua selesai tampil.
“Ini juga berkat kamu Tristan. Terimakasih ya, kamu selalu ada buat nyemangatin aku.” Balas Amira.
Tristan menganggukkan kepalanya.
“Itu gunanya aku buat kamu Amira. Aku juga berharap aku bisa selalu ada buat kamu dalam keadaan apapun. Entah itu keadaan susah ataupun senang.”
Amira merasa sangat tersentuh. Meskipun Tristan lahir dari keluarga kaya raya, tapi Tristan tidak pernah bersikap semena mena. Tristan tidak sombong seperti kakaknya Williana. Dan Tristan juga tidak sungkan membantu sesama.
“Itu Angga kan? Wah.. Akhirnya dia tampil juga.”
Amira mengeryit ketika mendengar suara dari teman-nya yang begitu sangat antusias. Penasaran, Amira pun menatap kearah panggung dimana disana ada sosok yang tidak asing bagi Amira sedang duduk dan memainkan gitarnya sambil bernyanyi.
“Itu kan...”
“Apaan sih, lebay banget. Biasanya juga dia nyanyi kok.”
Suara Tristan menyela apa yang ingin Amira katakan. Semua teman teman-nya memang terlalu berlebihan menyoraki sosok yang sedang tampil sebagai penutup acara.
“Kamu kenal dia Tristan?” Tanya Amira menatap kembali pada Tristan penasaran.
__ADS_1
“Ya.. Dia itu Angga. Anak kelas 11C.” Jawab Tristan.