ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 21


__ADS_3

Stefan melajukan mobilnya dibelakang taksi yang ditumpangi Hana. Pria itu sedikit khawatir jika sampai Hana tidak pulang ke kediaman-nya mengingat wanita itu yang sedang sangat marah padanya.


Stefan sebenarnya sangat menyesal dengan apa yang sudah dia lakukan. Stefan juga tidak terlalu mempermasalahkan tentang sikap Amira dari yang Stefan tau setelah membaca pesan yang dikirim Aisha pada Hana. Karena memang pada awalnya bukan itu yang membuat Stefan marah.


Stefan marah karena Hana yang sama sekali tidak melarang atau melawan Williana saat wanita itu dengan lantang meminta untuk Stefan berdansa dengan-nya. Stefan bisa saja menolak sendiri tapi entah kenapa tiba tiba Stefan ingin Hana yang melarangnya untuk berdansa dengan Williana.


“Apa yang aku pikirkan?” Gumam Stefan bertanya pada dirinya sendiri merasa sangat konyol dengan pemikiran-nya.


Stefan tersenyum samar karena ternyata meskipun sedang marah padanya namun Hana tetap pulang kerumahnya. Taksi yang ditumpanginya bahkan mulai masuk kedalam kompleks perumahan mereka membuat Stefan akhirnya mengurangi kecepatan laju mobilnya. Stefan tidak bodoh, jika taksi yang ditumpangi Hana dan mobilnya muncul beriringan, itu pasti akan membuat orang orang dirumahnya bingung dan bertanya tanya kenapa mereka berdua tidak dalam satu mobil saja.


“Baguslah kalau memang dia masih sadar dengan statusnya.” Senyum Stefan.


Sementara didepan gerbang kediaman mewah Stefan, Hana menurunkan kaca mobil taksi yang di tumpanginya. Hana menyuruh penjaga gerbang untuk membuka pintu gerbang karena Hana malas jika harus berjalan melewati halaman luas rumah mewah milik suaminya.


Begitu taksi itu masuk kedalam pekarangan luas kediaman Stefan dan berhenti tepat di depan teras rumah, Hana pun segera turun. Namun saat Hana membuka tas kecilnya berniat membayar ongkos taksi, Hana meringis. Didalam tas itu tidak ada selembarpun uang yang bisa Hana gunakan untuk membayar ongkos taksi yang ditumpanginya.


“Aku nggak punya uang sepeserpun.” Gumam Hana sendu.


Tepat saat itu mobil mewah Stefan memasuki area luas rumahnya dan berhenti tepat disamping taksi yang membawa Hana.


Hana berdecak. Jika bukan karena tidak punya uang untuk membayar ongkos taksi, Hana pasti sudah masuk kedalam rumah enggan melihat wajah memuakkan suaminya itu.


Hana mengetuk kaca mobil taksi itu membuat si supir taksi segera turun dari mobilnya.


“Pak, minta ongkosnya sama suami saya ya..” Ujar Hana kemudian melangkah masuk kedalam rumah.


Stefan yang juga sudah turun dari mobil dan mendengar apa yang Hana katakan tersenyum miring. Pria itu mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya kemudian memberikan-nya pada supir taksi yang sudah berjasa mengantarkan Hana pulang dan sampai dengan selamat tanpa kurang satu apapun.


“Maaf tuan tapi ini uangnya kebanyakan.” Ujar si supir taksi pada Stefan.


“Ambil saja semuanya.” Ujar Stefan kemudian melangkah masuk kedalam rumahnya tidak perduli dengan seberapa banyak uang yang dia berikan pada supir taksi itu.


Ketika Stefan melangkah didalam kediaman mewahnya para pelayan yang berlalu lalang menyapanya dengan ramah. Sepertinya mereka memang sengaja menunggu kepulangan Stefan dan Hana karena setelah Stefan dan Hana masuk mereka langsung menutup pintu utama, mematikan lampu kemudian beristirahat.

__ADS_1


Stefan masuk kedalam kamarnya dan tidak menemukan siapa siapa disana. Namun suara gemericik air dari dalam kamar mandi kemudian membuat Stefan menganggukan kepalanya.


Stefan menutup pintu kamarnya, melepaskan jas yang dikenakan-nya menggantung ditempatnya kemudian duduk ditepi ranjang.


Tidak lama kemudian Hana keluar dari kamar mandi dengan dress rumahan selutut yang sudah menggantikan gaun warna salem yang tadi melekat ditubuh rampingnya. Hana berdecak kesal melihat Stefan yang duduk ditepi ranjang.


Tanpa berkata apapun Hana melewati Stefan begitu saja. Wanita itu membuka lemari mengambil selimut kemudian melangkah menuju sofa panjang yang ada diseberang ranjang tempat Stefan duduk.


Hana melirik stefan tajam sambil membuka lipatan selimut warna ungu itu kemudian membaringkan tubuhnya diatas sofa dan menutupinya sampai kepala.


Stefan yang melihat tingkah Hana hanya tersenyum samar. Setidaknya wanita itu tidak keluar dari kamar mereka yang pasti akan memancing rasa penasaran Sera.


Stefan menghela napas. Pria itu sudah bersalah karena membuat Hana menangis malam ini. Tapi Stefan berjanji pada dirinya sendiri, Stefan akan menebus kesalahan-nya pada Hana. Stefan juga akan mengganti ponsel Hana yang Stefan banting ditepi jalan tadi.


Stefan bangkit dari duduknya kemudian masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Selesai membersihkan dirinya Stefan pun segera mengistirahatkan tubuhnya. Stefan berbaring sendiri diatas tempat tidur karena Hana yang tidur diatas sofa.


Berkali kali Stefan menghela napas. Tubuhnya terasa sangat lelah tapi kedua matanya tidak bisa terpejam dengan tenang. Rasa bersalah pada Hana terus menghantuinya membuat Stefan akhirnya memutuskan untuk mendekat pada Hana.


Stefan membaringkan tubuh Hana diatas tempat tidur kemudian menyelimutinya sampai batas leher dengan selimut putih diatas tempat tidur mereka. Sedang selimut ungu yang tadi Hana gunakan untuk menyelimuti tubuhnya Stefan campakkan begitu saja di lantai.


Stefan tersenyum menatap Hana yang terlelap begitu cepat. Mungkin apa yang dirasakan Stefan ditubuhnya juga dirasakan oleh Hana.


Setelah memindahkan tubuh Hana dari sofa ketempat tidur, Stefan pun ikut membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Dan ajaibnya rasa kantuk itu langsung datang begitu Hana berada disampingnya.


------------


Paginya


Hana perlahan membuka kedua matanya saat mendengar suara ketukan pintu. Dengan mata setengah tertutup Hana bangkit dari berbaringnya.


Hana terkejut sehingga kedua matanya langsung terbuka lebar begitu menyadari dirinya sudah berada diatas tempat tidur. Padahal semalam Hana membaringkan tubuhnya dan menutupinya dengan selimut diatas sofa karena Hana yang sedang sangat marah pada Stefan. Hana sengaja menghindar dari Stefan.

__ADS_1


Hana menolehkan kepalanya kesamping namun tidak menemukan Stefan disana.


“Dia kemana?” Gumam Hana bingung.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu kembali terdengar membuat Hana bergegas turun dari ranjang untuk membukanya.


“Pagi mommy...!!” Sapa Angel memekik bahagia melihat Hana membuka pintu untuknya.


“Hey.. Pagi juga sayang..” Senyum Hana membalas sapaan selamat pagi dari Angel dengan lembut.


“Mommy baru bangun ya?” Tanya Angel yang membuat Hana meringis merasa malu.


“Ya sayang..”


Angel tertawa pelan.


”Daddy bahkan udah berangkat ke kantor loh mommy..”


Hana mengeryit.


“Daddy udah berangkat? Terus kok kamu belum berangkat sekolah sayang?” Tanya Hana penasaran.


“Daddy ada meeting pagi katanya mommy. Aku nanti berangkat sama om Rico.”


“Oh begitu ya.. Ya sudah mommy mandi dulu ya sayang..”


“Oke mommy.. Angel tunggu dimeja makan yah..”


“Ya sayang..” Angguk Hana dengan senyuman dibibirnya.


Setelah Angel berlalu dari hadapan-nya, Hana pun menutup kembali pintu kamarnya. Hana menghela napas pelan masih memikirkan bagaimana caranya dirinya bisa bangun diatas ranjang.

__ADS_1


“Apa mungkin Stefan yang pindahin aku?”


__ADS_2