
Williana baru saja hendak bangkit dari duduknya saat tiba tiba beberapa notifikasi masuk ke ponselnya. Williana memang baru menghidupkan ponsel miliknya yang memang kehabisan baterai sejak pagi.
“Putri..” Gumam Williana mengeryit begitu mendapati banyak panggilan tidak terjawab dari Putri juga beberapa pesan yang disertai photo Tristan.
Williana menghela napas merasa lega begitu melihat photo Tristan yang sedang di hukum di halaman sekolahnya menghadap tiang bendera. Meskipun sampai sekarang Tristan belum juga mau pulang ke rumah, namun dengan melihat adiknya baik baik saja itu sudah cukup membuat Williana merasa tenang.
“Tristan, kakak kangen sama kamu dek..” Gumam Williana merasa sedih karena harus berpisah dan membiarkan adik satu satunya itu menjadi gelandangan dijalanan.
Williana kemudian membaca pesan yang Putri kirim padanya. Wanita itu memang lebih dulu fokus pada photo Tristan ketimbang aduan aduan Putri yang tidak jauh jauh dari Amira.
“Gadis kecil ini.. Kenapa Tristan bisa begitu membelanya bahkan sampai rela kabur dari rumah tanpa membawa apapun. Apa hebatnya gadis ini sebenarnya..”
Rahang Williana mengeras dengan tangan yang mengerat memegang ponsel berkesing hitam miliknya. Williana tidak pernah menyangka jika Tristan akan begitu keras kepala bahkan berani melawan-nya hanya demi gadis bernama Amira itu. Namun yang membuat Williana semakin kesal lagi adalah Amira juga yang menyebabkan Hana marah besar padanya sampai berani menamparnya didepan Stefan dan Tristan secara langsung. Naasnya bukan-nya mendapat pembelaan, Williana malah di salahkan juga oleh Tristan adiknya sendiri.
“Amira.. Ada hubungan apa kamu sebenarnya dengan Hana.. Kenapa Hana bahkan sampai begitu marah padaku begitu tau aku memata matai kamu.”
Rasa penasaran Williana terhadap sosok Amira semakin besar. Apa lagi Amira juga dengan sangat tegas berani menolak tawaran uang darinya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Williana yang sedang memikirkan tentang sosok Amira menoleh kearah pintu ruangan-nya. Wanita itu kemudian dengan lantang menyuruh siapa saja yang ada di balik pintu ruangan-nya untuk masuk.
“Permisi nona..”
Seorang wanita dengan pakaian sopan serba hitam menghampiri Williana. Wanita itu tidak lain adalah sekretaris Williana yang memang bertugas mengatur jadwal pertemuan Williana dengan para rekan bisnis maupun Client-nya.
__ADS_1
“Ada apa Lily?” Tanya Williana menatap sekretarisnya itu dengan wajah datar.
“Maaf nona, tadi tuan Rico menelepon dan memberitahu saya bahwa tuan Stefan tidak bisa ikut serta mengecek proyek yang sedang di bangun malam ini. Beliau sedang sibuk katanya.” Jawab sekretaris tersebut.
Williana berdecak. Meskipun sebenarnya wanita itu masih sangat kesal pada Stefan karena Stefan tidak membela atau mencegah Hana yang menamparnya malam itu, namun itu tidak berarti perasaan Williana pada Stefan sirna begitu saja. Williana tentu saja masih mengharapkan Stefan menjadi miliknya. Tidak perduli meskipun Stefan sudah punya istri. Bahkan jika Stefan hendak menjadikan-nya sebagai simpanan-nya, Williana juga tidak keberatan.
“Ya sudah, kamu boleh kembali bekerja.” Ujar Williana dengan rasa kesal yang menguasainya.
Rasanya kepalanya akan pecah. Belum selesai memikirkan tentang Tristan sekarang Williana juga harus menerima lagi satu kekalahan bahwa Stefan sama sekali tidak menghiraukan-nya. Namun bagi seorang Williana Atmaja kekalahan bukan penyebab dirinya harus mundur. Williana akan terus berusaha sampai apa yang menjadi tujuan-nya membuahkan hasil. Salah satunya adalah saat mendekati Stefan sekarang.
“Oke Williana.. Kamu hanya harus bersabar. Hana tidak ada apa apanya jika di bandingkan dengan kamu yang mempunyai segalanya.” Gumam Williana terus memupuk rasa percaya dirinya.
Williana menghela napas kasar kemudian kembali fokus dengan ponselnya untuk membaca pesan yang di kirim oleh Putri tentang Tristan dan Amira.
Saat sampai di tempat tujuan, disana sudah ada Boby dan Rico yang menunggu. Keduanya menyapa Williana dengan ramah kemudian segera menemui kepala mandor yang menangani pembangunan ruko tersebut.
“Saya mau pembangunan ini di percepat. Karena saya pikir waktu yang anda gunakan itu sudah cukup lama dan menyita waktu kami.” Ujar Boby pada kepala mandor bangunan tersebut.
“Saya akan mengusahakan-nya tuan. Maaf kalau pembangunan ini sedikit lelet karena memang para pekerjanya juga sedang terbatas. Sebagian dari mereka ada yang pulang kampung bahkan ada juga yang berhenti.” Balas kepala mandor itu menjelaskan.
“Itu bukan urusan kami. Yang kami tau kami sudah membayar juga menyediakan material penuh. Setelahnya itu adalah urusan kalian dan kami hanya terima beresnya saja.”
Rico dan Williana hanya diam saja. Mereka fokus mengamati pembangunan ruko ruko itu. Hingga pandangan Williana tertuju pada sosok yang sangat tidak asing di matanya.
“Tristan buruan !!”
__ADS_1
Seruan itu membuat kedua mata Williana membulat dengan sempurna. Tidak salah lagi, sosok yang dilihatnya adalah Tristan. Adiknya sendiri.
Tidak bisa membiarkan adiknya bekerja kasar, Williana langsung menghampiri Tristan yang sedang membawa adukan semen di dua ember kecil di kedua tangan-nya. Hal itu membuat Rico mengeryit bingung dan segera mengikuti Williana. Rico khawatir Williana akan memarahi para pekerja disana.
“Tristan..” Cegat Williana menghentikan langkah Tristan.
Tristan terkejut karena tiba tiba Williana muncul di depan-nya. Pemuda itu langsung meletakan dua ember penuh adukan semen dan pasir di tanah di samping kanan dan kirinya.
Rico yang melihat itu juga ikut terkejut. Pria itu tau siapa Tristan. Dan melihat pemuda itu bekerja menjadi kuli membuat Rico bertanya tanya.
“Tuan muda Tristan, apa yang tuan muda lakukan disini? Dan kenapa tuan muda bekerja kasar seperti ini?” Tanya Rico bingung.
Williana menghela napas kasar. Wanita itu merasa malu karena Rico yang adalah orang yang paling di percaya Stefan melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri Tristan bekerja sebagai kuli bangunan.
Melihat ekspresi kakaknya Tristan tersenyum tipis. Tristan tau kakaknya pasti sedang merasa malu sekarang.
“Saya tentu saja sedang bekerja disini. Saya sedang belajar mandiri dan tidak terus terusan bergantung pada kakak saya. Saya juga melakukan ini karena saya bosan di atur atur dan di kekang seperti boneka.” Jawab Tristan dengan tenang.
“Eemm.. Ya sudah ya saya harus kembali bekerja.” Lanjut Tristan tersenyum kemudian kembali meraih dua ember penuh adukan semen di samping kanan dan kirinya, mengangkatnya dan membawanya berlalu dari hadapan Williana juga Rico.
Williana menarik napas panjang berusaha menahan emosinya. Tristan benar benar berhasil mempermalukan-nya kali ini didepan Rico, orang kepercayaan Stefan.
“Saya tidak menyangka ternyata adik anda begitu sangat mengagumkan nona..” Senyum Rico yang sebenarnya juga tahu perihal tentang Tristan yang kabur dari rumah.
Williana melengos kesal kemudian segera berlalu dari hadapan Rico. Wanita itu tidak menyangka jika Tristan bahkan ikut bekerja menjadi kuli di proyek miliknya, Stefan, juga Boby.
__ADS_1