
Kediaman Atmaja.
“Kakak lihat sepertinya kedekatan kamu dengan Putri tidak seperti apa yang orang orang katakan Tristan. Kakak juga melihat kamu sepertinya sangat terpaksa kalau melakukan sesuatu untuk Putri.”
Tristan berhenti mengunyah makanan dalam mulutnya. Tristan sebenarnya tidak ingin berbohong pada kakaknya. Tristan hanya tidak ingin jika sampai kakaknya melukai Amira. Dan Tristan sengaja mengenalkan Putri pada kakaknya agar kakaknya tidak tau bahwa yang dekat dengan Tristan adalah Amira.
“Itu perasaan kakak aja kali. Lagian aku sama Putri juga sebenarnya cuma berteman biasa aja. Kakak aja yang menyikapinya terlalu berlebihan.” Ujar Tristan pelan.
Williana mengeryit menatap penuh rasa curiga pada adiknya. Williana memang tau dari orangnya kabar tentang Tristan yang sedang dekat dengan teman sekolahnya.
“Tristan. Kakak tau bagaimana dan seperti apa kamu. Dan kakak nggak mau kalau sampai kamu salah bergaul dengan orang sembarangan. Pokonya kamu harus ingat..”
“Aku harus berteman dengan orang orang yang sepadan dengan kita, begitu maksud kakak kan?” Sela Tristan pelan.
Williana menghela napas. Wanita itu memang tidak suka berhubungan dengan orang orang yang tidak sepadan dengan keluarganya. Dan Tristan adalah adik satu satunya serta amanah dari kedua orang tuanya sebelum mereka meninggal selain perusahaan. Williana tidak mau Tristan sampai di manfaatkan oleh orang orang yang hanya mengincar harta mereka saja.
“Baguslah kalau kamu tau.”
Tristan tersenyum miris. Hidup bergelimang harta namun tidak bisa bebas memilih teman benar benar kehidupan yang sangat menyedihkan menurut Tristan. Dan itu adalah kehidupan yang sejak dulu Tristan jalani.
Tristan melepaskan sendok dan garpu yang dipegangnya kemudian meraih segelas air putih dan meminumnya sedikit.
Williana yang tau sebentar lagi adiknya akan bangkit dari kursi yang di dudukinya berdecak. Tristan memang selalu seperti itu. Tristan selalu menghindari perbincangan dengan-nya jika sudah menyangkut tentang aturan untuknya.
“Tristan, kamu adalah amanah dari ayah dan bunda untuk kakak. Jadi kakak minta kerja samanya karena beban kakak enggak cuma memastikan yang terbaik untuk kamu saja.”
Tristan menghela napas kemudian bangkit dari duduknya. Tanpa mengatakan apapun Tristan berlalu meninggalkan Williana di meja makan sendiri.
Williana menelan ludah dan melirik piring dimana sarapan Tristan hanya dilahap beberapa suap saja. Williana kemudian menghela napas. Adiknya memang sedikit sulit untuk mengerti dirinya. Padahal Williana hanya sedang berusaha menjadi kakak yang baik dengan memastikan segala yang menurut Williana baik untuk Tristan.
Sementara Tristan, dia melangkah lebar keluar dari rumah dengan rahang mengeras. Tristan tidak mengerti dengan jalan pikiran kakaknya yang selalu memandang segala sesuatu dengan harta. Bahkan untuk mencari teman saja Tristan harus memilih dari kalangan yang sama dengan-nya.
__ADS_1
Tristan meraih helm nya kemudian mengenakan-nya. Setelah itu Tristan menaiki motor gedenya dan melajukan-nya dengan kecepatan sedang berlalu dari pekarangan luas rumahnya.
Sepanjang jalan Tristan terus memikirkan sikap kakaknya. Wanita itu bahkan tidak juga menikah di umurnya yang sudah kepala tiga. Dia terus menyendiri dan fokus dengan karirnya. Meskipun memang Williana sering di isukan mempunyai hubungan dengan seorang pengusaha sukses bernama Stefan Devandra, tapi nyatanya Stefan bahkan sudah mempunyai istri dan anak.
“Pantes aja nggak ada yang mau. Orang semua semua harus dengan harta.” Dumel Tristan dalam hati.
Tidak lama Tristan sampai diparkiran depan sekolahnya. Tristan turun dari motornya dan melepas helm yang melindungi kepalanya. Ketika hendak melangkah dari parkiran, Tristan tidak sengaja melihat Amira yang baru turun dari angkutan umum. Tristan tersenyum melihat gadis yang diam diam di sukainya mulai melangkah masuk kedalam area sekolahnya.
Mendadak Tristan merasa pikiran-nya plong. Segala rasa kesalnya sirna begitu saja karena melihat Amira yang selalu tampil sederhana namun sangat menarik dan manis menurut Tristan. Hari ini bahkan Amira hanya mengenakan bandana putih dengan rambut panjangnya yang di gerai.
Tristan terus menatap Amira dalam diam. Tristan bahkan sampai tidak menyadari saat dua kacungnya mendekat dan menghampirinya.
“Dia kenapa?” Tanya Joshua pada kembaran tidak sedarahnya.
“Enggak tau.” Jawab Edo mengedikkan kedua bahunya.
Karena penasaran, kedua kacung Tristan pun mengikuti arah pandang Tristan kemudian tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Suara Joshua dan Edo membuat Tristan tersadar. Tristan kemudian menoleh pada kedua teman-nya itu.
“Apa kalian bilang?” Tanya Tristan mendelik kesal.
“Eh enggak enggak. Kita cuma bercanda. Ya udah kalau gitu kita berdua ke kelas dulu deh..”
Tidak mau mendapat amukan kemarahan Tristan, Joshua dan Edo pun segera berlalu meninggalkan Tristan yang merasa kesal karena apa yang keduanya ucapkan.
“Dasar sok tau. Sejak kapan Amira jadi mantan aku.” Kesal Tristan kemudian kembali menatap kearah halaman luas sekolah untuk menatap Amira lagi. Namun Amira sudah tidak ada disana membuat Tristan berdecak merasa semakin kesal.
“Gara gara Joshua sama si Edo nih aku jadi kehilangan pemandangan indah pagi ini.”
Karena tidak ada lagi pemandangan menarik dihalaman sekolah akhirnya Tristan pun berlalu dari parkiran berniat menuju ke kelas. Tristan yakin Amira pasti sudah berada di kelas sekarang.
__ADS_1
Dengan gaya coolnya Tristan melangkah di koridor sekolah mengabaikan tatapan kagum para siswi yang menatapnya. Tristan sebenarnya bosan karena setiap hari menjadi pusat perhatian para kaum hawa di sekolahnya. Tristan juga sering mendapat hadiah misterius yang selalu Tristan berikan pada Joshua dan Edo. Bukan tidak menghargai pemberian dari para siswi yang mengaguminya. Tristan hanya tidak mau menyimpan barang barang yang tidak terlalu penting baginya.
Tristan berhenti melangkah ketika sampai didepan kelasnya. Benar saja, didalam kelas Amira sudah duduk di bangkunya. Tristan kembali tersenyum menatap Amira yang tampak fokus membaca buku.
Dan lagi lagi Joshua dan Edo melihat Tristan yang sedang memperhatikan Amira diam diam. Mereka berdua saling berbisik menertawakan Tristan yang selalu tersenyum seperti orang bodoh saat menatap Amira.
“Tristan.”
Tristan mengeryit saat seorang memanggilnya. Tristan langsung menoleh dan mendapati Putri yang sudah berdiri di sampingnya dengan senyuman manis yang terukir di bibirnya.
Amira yang juga mendengar suara Putri memanggil Tristan mengalihkan perhatian-nya dari buku yang sedang dibacanya kearah pintu kelas dimana Tristan dan Putri berdiri disana.
“Eh iya, ada apa?” Tanya Tristan pada Putri.
“Aku kemarin belajar bikin brownies sama mamah aku Tristan dan ternyata aku berhasil meskipun beberapa kali gagal sih. Dan ini aku bawain buat kamu supaya kamu bisa cobain brownies buatan aku.”
Tristan menatap kotak makan berwarna biru berukuran sedang yang disodorkan Putri padanya. Tristan terdiam bingung untuk menolaknya. Karena Tristan sendiri sebenarnya tidak terlalu suka dengan coklat.
Tristan menghela napas kemudian memutuskan untuk menerima kotak makan tersebut. Tristan tidak ingin membuat Putri malu karena saat ini mereka sedang berada didepan banyak siswa siswi lain-nya.
“Makasih ya Putri. Aku terima ya browniesnya.” Senyum tipis Tristan.
“Sama sama Tristan.”
“Aku masuk yah..”
Tristan kemudian masuk kedalam kelas. Tatapan-nya sempat bertemu dengan Amira namun akhirnya Tristan melengos dan melangkah menuju bangkunya yang berada dibelakang Amira.
Amira menghela napas kemudian menggelengkan pelan kepalanya dan kembali dengan buku yang sedang dibacanya.
Sementara Putri, dia sangat bahagia karena menganggap Tristan menyukainya.
__ADS_1