ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 105


__ADS_3

Sera mengeryit bingung ketika mencium aroma yang sangat asing setelah Stefan dan Hana duduk dikursinya masing masing untuk makan malam bersama.


“Selamat malam daddy, mommy..” sapa Angel dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya.


Sera melirik Angel yang menyapa Stefan dan Hana dengan senyuman. Sera berpikir sebelum Hana dan Stefan berada ditempatnya, Sera tidak mencium bau itu.


“Mamah kenapa?” Tanya Hana menatap bingung pada Sera yang terlihat sedang berpikir.


“Ah enggak, nggak papa. Mamah cuma lagi bingung aja, kok tiba tiba bau bayi ya?” Tawa Sera merasa tidak jelas sendiri.


Hana ikut tertawa mendengarnya. Sedangkan Stefan, pria itu hanya bisa menghela napas. Terang saja bau bayi karena Stefan dan Hana menggunakan shampo, sabun, bahkan sampai parfum bayi yang dipilih sendiri oleh Hana tadi saat di toko.


“Ya jelas lah mah, kan aku sama Stefan pake sabun, shampo, sampai parfum bayi. Abis wanginya enak mah, nggak bikin aku mual juga.” Ujar Hana dengan tawa lebarnya.


“Apa?!”


Sera sangat terkejut mendengarnya. Wanita itu langsung menatap Stefan yang hanya diam membisu ditempatnya duduk. Bagaimana mungkin seorang Stefan mau memakai semua peralatan mandi bayi. Apa lagi sampai menggunakan parfum nya juga.


“Aku nggak punya pilihan lain. Dari pada Hana mual mual terus.” Kata Stefan dengan jujur.


Sera langsung tertawa mendengarnya. Wanita itu tidak menyangka Stefan bahkan sampai rela menggunakan peralatan mandi bayi sampai ke parfumnya. Meskipun itu wajar karena Hana akan mual jika mencium aroma sabun dan shampo yang biasa mereka kenakan, tapi menurut Sera itu tetap merasa sangat lucu.


Sementara Hana, dia juga ikut tertawa tanpa sedikitpun merasa bersalah karena sudah menindas suaminya sendiri.


Berbeda dengan Angel yang malah kebingungan dan Stefan yang hanya bisa menghela napas tidak berdaya dengan kenyataan yang ada sekarang. Hana adalah wanita pertama yang berani menindasnya dengan cara terang terangan bahkan didepan mamahnya, Sera.


Setelah Sera dan Hana berhenti tertawa, mereka pun mulai menyantap makan malamnya dengan tenang. Namun ditengah menyantap makan malamnya tiba tiba Hana mengeryit ketika rasa mual kembali menghampirinya. Hana langsung menutup mulutnya kemudian berlari ke kamar mandi yang berada tidak jauh dari meja makan.


Stefan yang melihat itu dengan segera bergerak cepat menyusul Hana. Pria itu selalu merasa kewalahan sebenarnya. Tapi apapun itu Stefan akan tetap melakukan-nya, seberat apapun dan sesulit apapun untuk Hana juga janin yang sedang berada dalam kandungan-nya.


Tidak hanya Stefan, Sera dan Angel juga segera menyusul Stefan dan Hana ke kamar mandi. Mereka berdiri didepan pintu menunggu dengan penuh ke khawatiran.


“Mommy kenapa oma?” Tanya Angel yang hampir menangis karena takut sesuatu yang buruk menimpa Hana.

__ADS_1


Sera membelai lembut pipi Angel. Sera tidak bisa menjawab apapun sekarang karena Hana sendiri masih muntah muntah didalam kamar mandi.


“Angel takut oma..”


Gadis kecil itu meneteskan air mata tanda rasa khawatir juga takutnya yang kemudian langsung di usap dengan lembut oleh Sera.


“Mommy nggak papa sayang.. Kamu nggak usah takut.” Senyum Sera menatap lembut gadis itu berusaha untuk menenangkan cucu kesayangan-nya. Rasa empati Angel memang sangat tinggi. Gadis kecil itu bahkan akan ikut menangis jika melihat orang disekitarnya menangis sejak kecil.


Setelah rasa mualnya tidak terasa lagi, Hana segera membasuh mulutnya kemudian berdiri tegak dengan napas tersengal serta kedua mata berair.


“Aku panggilin dokter ya?”


Hana menoleh menatap Stefan yang selalu berada disampingnya jika Hana sedang mual mual. Dengan pelan Hana menggeleng. Wanita itu mengukir senyuman dibibirnya menatap Stefan yang terlihat begitu khawatir padanya.


“Aku nggak papa Stefan. Hanya sedikit mual saja.”


Stefan berdecak. Hana terus mual mual itu tandanya wanita itu sedang tidak baik baik saja menurutnya.


“Aku panggilkan Rania kesini.” Tegas Stefan tidak ingin ada penolakan.


“Tapi kan..”


“Lebih baik kita ke kamar sekarang.” Sela Stefan kemudian segera menggendong Hana dan membawanya keluar dari kamar mandi.


Sera dan Angel yang melihat itu segera mengikuti Stefan dari belakang dalam diam menuju lantai dua dimana kamar Hana dan Stefan berada.


Setelah Stefan membaringkan Hana diatas tempat tidur, Sera dan Angel segera menghampiri Hana. Keduanya duduk disamping kanan dan kiri Hana.


“Kamu nggak papa nak?” Tanya Sera dengan sangat lembut dan pelan.


“Aku nggak papa mah. Cuma tadi pas mau makan sayur tiba tiba mual. Aku nggak tahan sama baunya.” Jawab Hana pelan.


Sera menghela napas. Awal kehamilan memang selalu merasakan berbagai keluhan. Dulu juga Sera merasakan sendiri bagaimana rasanya saat dirinya mengandung Stefan.

__ADS_1


“Sabar ya sayang ya.. Mamah yakin kamu bisa kok..”


Hana tersenyum dan menganggukan kepalanya beberapa kali. Hana sendiri sadar untuk menjadi seorang ibu memang tidak mudah. Dan Hana yakin dirinya bisa melalui semua itu dengan Stefan yang pasti akan selalu berada disampingnya.


Sedangkan Angel, gadis itu langsung memeluk Hana penuh sayang.


“Angel takut mommy kenapa napa.” Lirih Angel kembali menangis dalam pelukan Hana.


Hana tersenyum kemudian mengusap usap lembut punggung Angel. Wanita itu merasa terharu karena Angel sangat menyayanginya padahal Hana bukanlah mommy kandungnya.


“Mommy nggak papa sayang..” Lirih Hana membalas pelukan Angel padanya.


Stefan menghela napas menatap Angel yang memeluk Hana. Dari dulu Stefan juga tau Angel memang sangat menginginkan sosok seorang ibu. Dan sepertinya Tuhan begitu sangat menyayangi Angel sehingga Tuhan mengirimkan Hana untuk menggantikan Lusi sebagai ibu untuk Angel.


Sekali lagi Stefan menghela napas. Pria itu kemudian meraih ponselnya untuk menghubungi dokter Rania. Stefan juga tau Hana memang bukan dokter kandungan. Tapi Stefan jauh lebih tau bagaimana kemampuan dokter cantik itu.


Stefan segera mencari kontak dokter Rania kemudian menghubunginya. Tidak menunggu lama, dokter Rania langsung mengangkat telepon dari Stefan.


“Ya Rania, aku butuh bantuan kamu sekarang. Ini sangat penting. Hana terus mual mual. Aku mau kamu kesini segera.” Ujar Stefan.


“Mual mual? Apa Hana hamil?” Tanya dokter Rania dari seberang telepon.


“Hem.. Ya. Aku mau kamu kesini sekarang tidak pake lama.” Ujar Stefan kemudian segera memutuskan sambungan telepon-nya.


Stefan kembali menoleh pada Hana, Angel, juga Sera. Lagi lagi Stefan mengingat pengalaman-nya dulu bersama Lusi. Dulu saat hamil Lusi tidak begitu sering mual mual. Lusi juga tidak terlalu banyak bertingkah. Dan sekarang Stefan berpikir mungkin Lusi tidak banyak bertingkah seperti itu karena anak yang berada dalam kandungan Lusi dulu memang bukan darah daging Stefan.


Stefan kemudian kembali mendekat pada Sera, Hana, juga Angel.


“Bagaimana Stefan?” Tanya Sera pada Stefan.


“Sebentar lagi dokter akan kesini mah.” Jawab Stefan.


“Syukurlah..”

__ADS_1


Hana hanya bisa menghela napas. Hana merasa dirinya tidak apa apa tapi Stefan juga Sera terlalu berlebihan menyikapinya. Setahu Hana mual mual saat hamil adalah hal yang wajar dan tidak apa apa.


__ADS_2