ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 112


__ADS_3

Pukul 10:00 Hana baru membuka kedua matanya. Wanita itu melenguh pelan kemudian menatap Stefan yang terus menemaninya dengan memeluknya.


“Stefan..” Senyum Hana merasa senang karena begitu membuka kedua matanya kembali Stefan masih berada disampingnya juga memeluknya.


“Kamu sudah bangun?”


Hana menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Stefan. Hana benar benar bahagia karena Stefan benar benar menemaninya selama dirinya tidur.


“Ini sudah hampir siang. Lebih baik sekarang kamu bangun terus mandi setelah itu sarapan dan minum susu juga vitamin.” Saran Stefan menatap Hana penuh perhatian.


Hana tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang Stefan katakan. Namun sebelum bangkit dan turun dari ranjang, Hana lebih dulu mencium kedua pipi Stefan sebagai tanda terimakasihnya karena Stefan sudah menemaninya dan memeluknya selama Hana tidur.


Stefan yang mendapat ciuman di kedua pipinya hanya tersenyum saja. Pria itu menghela napas kemudian ikut bangkit dan turun dari ranjang.


Tidak mau menunggu lama, Stefan pun memilih untuk mandi di kamar mandi yang ada di kamar Angel. Dan begitu sampai di kamar mandi Angel, Stefan mengeryit karena ternyata disana juga ada sabun dan shampo bayi seperti yang digunakan oleh dirinya dan Hana.


“Kok...”


Stefan meraih dua botol shampo dan sabun cair tersebut kemudian menghela napas. Stefan yakin itu pasti juga adalah ulah istrinya.


Stefan kemudian menebak dikamar mandi yang berada dikamar mamahnya pun pasti ada shampo dan sabun tersebut. Karena ingin memastikan sendiri, Stefan pun bergegas menuju kamar Sera yang jaraknya memang lumayan jauh dari kamarnya dan Angel. Dan benar saja, dikamar mandi yang ada di dalam kamar mamahnya juga ada shampo dan sabun tersebut.


“Ya Tuhan Hana.. Kenapa kamu bisa bertingkah begitu ajaib seperti ini.”


Stefan berdecak dan mengeluh merasa sangat kesal. Stefan bisa menerima jika hanya dirinya saja yang mengenakan shampo dan sabun tersebut. Tapi mamahnya, menurut Stefan itu sudah sangat keterlaluan.


“Loh, Stefan.. Kamu ngapain disini?”

__ADS_1


Stefan menoleh ketika mendapati Sera yang berdiri di ambang pintu kamar mandi. Stefan kemudian menunjukan dua botol shampo dan sabun bayi yang mereknya sama dengan yang ada dikamar mandinya dan Hana.


“Apa ini ulah Hana mah?” Tanya Stefan menatap Sera.


Sera menghela napas. Hana memang memberikan dua botol itu padanya juga Angel. Dan untuk menghargai pemberian Hana, Sera dan Angel kompak untuk mencobanya.


“Itu memang Hana yang memberikan pada mamah bahkan pada Angel juga. Hana bilang siapa tau mamah dan Angel mau mencobanya. Begitu.” Jawab Sera menjelaskan apa adanya.


Stefan berdecak kesal. Pria itu kemudian membuang dua botol yang di pegangnya melemparnya ke tong sampah membuat Sera terkejut.


“Stefan. Kenapa dibuang?!” Tanya Sera dengan nada tinggi sembari melangkah menuju tong sampah dan memungut kembali sabun dan shampo itu.


“Hana sudah keterlaluan mah. Dia pikir dia siapa berani mengatur segalanya semau dia disini.” Marah Stefan.


Sera menyipitkan kedua matanya mendengar apa yang Stefan katakan. Sera tau bahkan pernah mengalami sendiri bagaimana rasanya hamil muda. Bahkan apa yang Hana lakukan sekarang belum ada apa apanya menurut Sera ketimbang apa yang dirinya lakukan dulu saat mengandung Stefan.


Stefan menelan ludah menatap mamahnya yang terlihat begitu marah karena apa yang dia katakan.


“Asal kamu tau Stefan. Mamah pernah merasakan apa yang Hana rasakan. Mamah pernah ada di posisi Hana. Dan perlu kamu tau juga. Apa yang saat ini Hana lakukan belum ada apa apanya ketimbang apa yang mamah lakukan saat hamil kamu dulu. Seharusnya dari posisi sekarang sebagai seorang suami itu kamu harus bisa melatih kesabaran kamu Stefan. Hamilnya Hana dan Lusi dulu memang berbeda. Karena setiap mood dan suasana hati perempuan hamil itu juga berbeda.”


Stefan menghela napas pelan. Apa yang Sera katakan Stefan anggap sangat benar. Lusi bertingkah wajar karena janin yang di kandungnya dulu bukanlah darah dagingnya. Sedangkan Hana, dia sedang mengandung benih Stefan yang membuat sisi kejam dan berani Hana muncul tanpa Hana bisa kendalikan.


“Ya mah.. Maaf..” Lirih Stefan menyesal.


Sera berdecak. Sikap Stefan benar benar membuatnya kalap. Sera bahkan sampai tidak bisa menahan diri dan memarahi Stefan yang bertingkah begitu bodoh seperti pria tidak bertanggung jawab.


“Kalau gitu aku numpang mandi disini ya mah. Soalnya Hana baru lagi mandi.”

__ADS_1


Sera menatap Stefan tajam kemudian memberikan dua botol peralatan mandi bayi itu pada Stefan yang pasti akan mengenakan-nya.


Setelah itu, Sera keluar dari kamar mandi. Wanita itu menghela napas sekali lagi. Jika sampai Stefan benar benar marah hanya karena perkara sabun, Sera bersumpah akan menjewer telinga putranya itu sampai merah tanpa ampun sedikitpun.


Setelah Stefan dan Hana selesai membersihkan dirinya, mereka kemudian menyantap sarapan paginya yang sebenarnya sudah terlewat tiga jam lamanya. Mereka hanya berdua di meja makan karena Sera yang lebih memilih bersantai sambil membaca buku di ruang keluarga setelah menyuruh pelayan agar menyiapkan sarapan untuk putra dan menantunya.


“Stefan..” Panggil Hana membuat Stefan menoleh menatapnya.


“Pulangnya nanti bawain aku permen kapas yang besar ya.. Aku pengin banget makan itu. Bisa kan?”


Stefan menelan makanan yang sudah di kunyahnya kemudian mengiyakan apa yang Hana mau.


“Tapi permen kapasnya harus dibentuk love yah.. Terus harus warna warni. Terus jangan lupa beliin aku buah buahan buat rujak juga. Mangganya harus yang mengkel ya. Harus kamu sendiri loh yang beli nggak boleh nyuruh Rico. Oke?”


Stefan menahan napas sejenak kemudian menghelanya pelan. Membeli buah buahan untuk membuat rujak sebenarnya sangat mudah dan Hana bisa menyuruh siapa saja pelayan yang ada dirumah itu. Dan lagi, buah buahan untuk membuat rujak juga sangat gampang di dapatkan. Tapi jika Stefan harus membeli sendiri itu akan sangat membuat Stefan repot karena Stefan sangat sibuk dengan pekerjaan-nya.


“Nanti catton candy nya aku beliin sesuai yang kamu mau. Tapi untuk buah rujak yang kamu mau sepertinya lebih baik pelayan atau mamah saja yang beli. Aku sibuk Hana dan aku nggak ada waktu buat pergi ke super market.” Ujar Stefan dengan ekspresi datarnya.


Senyuman dibibir Hana memudar mendengar apa yang Stefan katakan. Wanita itu kemudian langsung meletakan dengan kasar garpu dan sendok yang di pegangnya membuat Stefan tersentak.


“Ya udah kalau kamu nggak mau beliin buat aku. Yang ada di pikiran kamu itu memang cuma kerja, kerja dan kerja !!” Marah Hana dengan nada tinggi kemudian bangkit dari duduknya dan berlalu meninggalkan Stefan sendiri di meja makan.


Stefan hanya bisa menghela napas. Padahal Hana tadi begitu manis dan penurut saat bangun tidur. Tapi sekarang Hana kembali menjadi pemarah yang begitu berani padanya. Hana bahkan menatap Stefan dengan tajam tadi.


“Ada apa ini Stefan? Kenapa Hana marah marah?” Tanya Sera yang muncul karena mendengar suara meninggi Hana.


Stefan berdecak. Hana benar benar membuatnya serba salah.

__ADS_1


__ADS_2