ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 174


__ADS_3

Sesampainya dirumah, Alan segera membersihkan dirinya. Pria itu begitu bersemangat membayangkan dokter Rania yang pasti mau menemaninya untuk datang kerumah Stefan.


Setelah selesai membersihkan dirinya, Alan kemudian segera mengenakan bajunya dan kembali keluar kamar menuju meja makan mendekat pada ibunya yang sedang menata hidangan makan malam sendiri.


“Aisha sama Amira mana bu?” Tanya Alan pada ibunya.


Ibu menoleh kemudian tersenyum tipis menatap putra sulung kesayangan-nya yang sudah kembali lagi ke sampingnya sejak tiga bulan yang lalu. Dan setiap menatap Alan, entah kenapa ingatan wanita itu selalu kembali ke masa dimana Alan tidak berdaya di brankar rumah sakit.


Melihat ibunya yang hanya diam dan menatapnya dengan senyuman manis, Alan pun mengeryit. Ibunya memang sering menatapnya seperti itu.


“Ibu kenapa sih setiap aku nanya apapun pasti nggak langsung jawab. Malah senyum senyum lagi.”


Ibu malah tertawa pelan mendengarnya. Wanita itu tidak menyangka peristiwa kecelakaan yang di alami oleh putra sulungnya benar benar mengubah kehidupan keluarganya. Mulai dari dirinya yang benar benar sembuh dari penyakitnya, kemudian Amira dan Aisha yang bisa sekolah tanpa harus memikirkan biaya. Dan semua itu juga tidak lepas dari jasa Hana.


“Aisha lagi ibu suruh buat beli teh. Stok teh abis Lan. Kalau Amira, dia belum pulang.” Jawab ibu.


Alan mengangguk mengerti. Pria itu kemudian menarik kursi pelan dan mendudukinya.


“Oh iya Lan, menurut kamu bagaimana Tristan?”


Alan mengeryit bingung karena tiba tiba ibunya menyinggung tentang Tristan.


“Tristan ya bu? Menurut aku dia anak yang baik. Dia juga selalu menjaga Amira dengan baik kan?”


Ibu menghela napas kemudian menarik kursi yang ada disamping kursi yang di duduki Alan kemudian mendudukinya.


“Iya.. Tapi ibu tetap khawatir sama Amira. Apa lagi Tristan itu orang kaya. Ibu takut Tristan hanya akan menyakiti Amira. Ibu takut Amira kecewa dan terluka pada akhirnya.” Ujar ibu dengan wajah sendu.


Alan tersenyum mengerti dan paham dengan ke khawatiran ibunya. Karena dulu Alan juga sangat khawatir setelah tau siapa Tristan dari dokter Rania. Tapi setelah melihat bagaimana dekatnya Amira dan Tristan juga tidak adanya sesuatu yang terjadi pada Amira, Alan yakin Tristan bisa menjaga adiknya dengan baik.


“Bu... kan nggak semua apa yang kita pikirkan itu benar. Meskipun memang Tristan itu orang kaya tapi buktinya dia bisa menjaga Amira dengan baik kan? Amira juga sepertinya sangat bahagia.”

__ADS_1


“Tapi Lan..”


“Ibu nggak perlu khawatir. Alan akan berusaha memantau mereka berdua. Alan sendiri yang akan bertindak kalau sampai terjadi sesuatu pada Amira. Ibu jangan terlalu banyak pikiran yah.. Nanti ibu sakit gimana?” Sela Alan mengusap dengan lembut bahu ibunya.


Ibu mengangguk dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Setidaknya sekarang sosok pelindung untuknya juga kedua putrinya sudah kembali ke sisinya. Alan, dia memang putranya. Tapi peran-nya lebih dari itu untuk keluarganya. Alan tidak hanya berperan sebagai anak yang baik. Alan adalah pengganti mendiang ayahnya menjadi kepala keluarga di keluarganya.


“Bu...”


Alan dan Ibunya langsung menoleh ke sumber suara dimana Aisha muncul dengan membawa apa yang memang ibu suruh beli. Gadis cantik dengan rambut yang dikuncir tinggi itu mendekat pada Alan dan ibunya kemudian duduk dikursi didepan keduanya.


“Gimana? Ada tehnya?” Tanya Alan lembut pada Aisha.


Aisha menatap Alan sebentar kemudian menatap pada ibunya.


“Ada sih.. Tapi tehnya nggak seperti biasanya bu, kak. Stok yang biasanya abis. Jadi terpaksa deh aku beli yang ini.. Nggak papa kan?”


Alan menatap wajah sendu adiknya dengan tatapan geli. Aisha terlihat ketakutan karena tidak membeli teh sesuai yang ibunya inginkan.


“Kan semua teh rasanya sama kan bu? Sama sama pahit kalau nggak pake gula. Terus sama sama manis kalau dicampur gula ataupun susu.”


“Hem.. Semua teh memang rasanya sama sayangku. Tapi aromanya beda. Tapi nggak papa kok. Yang penting tehnya ada. Ibu nggak masalah meminum teh jenis apapun. Makasih banyak ya sayangnya ibu..” Senyum ibu yang tidak ingin anak bungsunya merasa bersalah.


Aisha tersenyum mendengarnya. Gadis cantik itu merasa sangat lega karena ibunya tidak marah meskipun teh yang dibelinya tidak sesuai dengan apa yang ibunya suruh beli.


“Lain kali nitip sama Amira aja bu.. Dia kan kerja ditoko depan itu. Tokonya cukup besar dan aku yakin disana lengkap kok.” Saran Alan.


Ibu menoleh pada Alan dan hanya tersenyum saja. Sebenarnya sampai sekarang wanita itu tidak tega membiarkan Amira bekerja. Tapi Ibu juga tidak ingin Amira menganggap dirinya terlalu mengekang.


Saat itu juga suara motor gede Alan terdengar. Alan, Ibu, juga Aisha menoleh kearah luar rumah.


“Itu kak Amira pulang.” Senyum Aisha.

__ADS_1


Alan kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah keluar untuk menyambut kepulangan adik kesayangan-nya. Alan juga berniat untuk menyuruh Tristan mampir dan makan malam bersama untuk kemudian berbicara empat mata dengan pemuda tampan itu.


Sedangkan ibu dan Aisha, mereka tetap duduk dikursinya masing masing. Ibu sadar ke khawatiran-nya terlalu berlebihan. Tapi instingnya sebagai seorang ibu yang tidak ingin anaknya terluka membuatnya sering kali berpikir negatif pada Tristan dan keluarganya.


Sementara itu didepan rumah, Amira turun dari boncengan Tristan. Gadis itu tersenyum menatap Tristan yang mulai membuka helm full face nya.


“Aku langsung pulang yah..” Senyum Tristan.


“Loh kamu nggak mampir dulu?” Tanya Amira pada Tristan.


”Aku...”


Tristan tidak meneruskan ucapan-nya saat melihat Alan yang keluar dari dalam rumah dan menatapnya. Hal itu membuat Tristan mau tidak mau akhirnya turun dari motornya. Pemuda itu tersenyum pada Alan yang juga tersenyum menatapnya.


“Ya udah deh aku mampir.” Katanya pelan.


Amira mengeryit kemudian menoleh kearah pintu. Gadis itu tersenyum geli saat melihat kakaknya sudah berdiri didepan pintu utama kediaman sederhana mereka.


“Pantes..” Gumam Amira yang hanya didengar oleh Tristan.


“Aku tadinya mau ngerjain tugas dirumah makan-nya nggak bisa mampir. Bukan karena aku nggak mau.” Ujar Tristan pelan yang tidak mau jika sampai Amira salah paham dengan maksudnya yang tidak mau mampir.


“Terserah kamu aja deh. Tapi nanti kalau kamu ada yang nggak ngerti dengan soal tugas dari bu Amanda kamu bisa tanya sama aku.” Senyum Amira.


“Gimana kalau aku nyalin semua jawaban-nya aja dari tugas kamu?”


Amira mendelik. Aneh rasanya jika seorang Tristan mencontek semua tugas yang diberikan bu Amanda padanya.


“Iihh.. Enggak enggak. Enak aja.” Tolak Amira dengan wajah sebal kemudian berlalu dari samping Tristan melangkah lebih dulu menghampiri Alan yang menunggunya di depan pintu.


Tristan berdecak pelan. Pemuda itu menyusul langkah Amira mendekat pada Alan kemudian menyaliminya.

__ADS_1


“Kak..” Senyum Tristan pada Alan.


“Ayo masuk.. Ibu sudah siapin makan malam.” Ujar Alan ramah yang tentu tidak bisa Tristan tolak.


__ADS_2