
Hana keluar dari kamar mandi dengan dress rumahan warna hijau muda yang begitu pas melekat di tubuhnya. Wanita itu tersenyum sembari mengeringkan rambut panjangnya dengan handuk ketika mendapati Stefan yang sedang mengayun putranya di depan jendela kaca dikamarnya.
“Apa Theo menangis tadi?”
Suara Hana membuat Stefan menoleh. Pria tampan itu tersenyum kemudian melangkah mendekat pada istri tercintanya.
“Ya, tadi Theo sempat menangis saat mamah mencoba menggendongnya.” Jawab Stefan pelan.
Hana tersenyum. Putranya sudah mulai mengerti dengan siapa dirinya merasa nyaman.
“Hana..” Panggil Stefan menatap Hana dengan wajah seriusnya.
“Ya.. Ada apa?” Tanya Hana menyauti panggilan suaminya. Hana menatap Stefan dengan wajah polosnya.
“Dibawah ada ibunya Alan. Dia ingin bertemu dengan kita.”
Hana tertegun mendengarnya.
“Apa? ibu disini?” Tanya Hana lirih.
Stefan menganggukkan pelan kepalanya.
“Sebaiknya kamu segera bersiap. Jangan membuat orang tua menunggu terlalu lama.” Kata Stefan.
Meski ragu, namun Hana tetap menganggukkan kepalanya. Hana kemudian segera menyisir rambut basahnya. Setelah itu Hana mengikuti Stefan yang mengajaknya untuk keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah untuk menemui ibu Alan.
Sementara itu di ruang tamu.
“Bagaimana kabarnya bu?” Tanya Sera ramah. Wanita itu duduk di sofa diseberang sofa yang di duduki oleh ibu Alan.
“Kabar saya baik nyonya. Nyonya sendiri bagaimana kabarnya?” Jawab ibu Alan kemudian balik bertanya pada Sera.
__ADS_1
“Saya, seperti yang ibu lihat. Saya sangat baik bu.. Maaf kalau menunggu terlalu lama. Theo sedang sangat pintar sejak semalam, sehingga Hana tidak bisa lebih awal mandi seperti hari biasanya.” Ujar Sera mencoba membuka obrolan akrab dengan ibu Alan.
“Tidak apa nyonya. Awal awal memiliki bayi memang tidak mudah. Kita juga pernah mengalaminya dulu bukan?” Tawa pelan ibu Alan.
Sera ikut tertawa mendengarnya.
“Ya ya bu.. Itu benar sekali. Saya juga merasakan sangat kesulitan saat awal awal memiliki Stefan dulu.”
Hana menghentikan langkahnya begitu juga dengan Stefan ketika mendengar obrolan hangat Sera dan ibu Alan. Mereka berdua kembali saling menatap.
“Tidak papa. Semuanya akan baik baik saja sayang.” Lirih Stefan meyakinkan Hana. Meski sebenarnya Stefan sendiri merasa tidak yakin. Tapi Stefan tidak ingin istri tercintanya merasa cemas.
“Bagaimana kalau ibu marah dan tidak terima dengan apa yang terjadi Stefan?” Tanya Hana lirih.
Stefan tersenyum manis kemudian meraih tangan Hana, menggenggamnya erat berusaha meyakinkan Hana bahwa mereka berdua bisa melewati itu sama sama.
“Bukankah kamu bilang ibu itu orang yang baik? Kenapa sekarang kamu menjadi ragu?”
“Tapi Steff..”
“Sshhtt.. Tidak akan ada hal buruk apapun. Kalaupun ibu Alan marah, dia akan marah sama aku, bukan sama kamu.” Sela Stefan lembut.
Hana menggelengkan kepalanya. Hana tidak mau Stefan di salahkan sendiri.
“Kamu tenang saja Hana. Aku akan baik baik saja. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku. Asal kamu tau, aku bisa lebih hebat dari Hiro manapun di dunia ini jika itu sudah berhubungan dengan kamu.” Lanjut Stefan lagi.
Hana menatap wajah tampan suaminya yang tampak sangat tenang. Detik itu juga Hana sadar, untuk mendukung suaminya Hana harus bisa lebih percaya diri dengan kepala yang selalu di tegakkan.
“Ayoo..” Ajak Stefan menuntun Hana. Sedang satu tangan-nya lagi Stefan gunakan untuk menggendong Theo yang begitu anteng dalam dekapan-nya.
“Ibu..” Hana melepas pelan genggaman tangan Stefan dan langsung mendekat pada ibu Alan kemudian menyalimi dan memeluknya.
__ADS_1
Namun tidak dengan Stefan yang hanya berdiri disamping sofa tempat Sera duduk.
Setelah Stefan dan Hana berada disana, Sera pun memilih untuk menyingkir. Sera tau ibu Alan hanya ingin berbicara dengan Stefan dan Hana.
“Silahkan duduk bu..” Ujar Hana mempersilahkan agar ibu Alan kembali duduk.
“Ya nak..” Angguk ibu Alan dengan senyuman yang menghiasi bibirnya membalas tatapan Hana.
“Sebelumnya ibu minta maaf karena pagi pagi datang kesini dan sudah mengganggu waktu kalian berdua. Ibu hanya ingin menanyakan sesuatu tentang peristiwa yang sudah berlalu itu.”
Hana menelan ludah kemudian menatap pada Stefan sebentar yang sudah duduk tenang sambil menggendong Theo di sofa yang di duduki Sera tadi.
“Alan sudah menceritakan semuanya pada ibu Hana tentang tuan Stefan yang ternyata adalah orang yang sudah menabraknya malam itu.”
“Ya bu.. Saya yang menabrak Alan malam itu. Tapi saya benar benar tidak sengaja menabraknya. Malam itu juga saya sedang sangat buru buru dan Alan juga salah posisi saat mengendarai motornya. Saya sangat menyesal dengan apa yang sudah terjadi. Saya juga sangat sangat meminta maaf pada ibu juga pada Alan. karena sedikitpun saya juga tidak ingin kecelakaan itu terjadi.” Balas Stefan cepat agar Hana tidak lebih dulu bersuara untuk membelanya.
“Saya juga sadar bu apa yang saya lakukan dengan menutupi semua yang terjadi itu salah. Apa lagi saya juga membohongi Hana dengan mengajukan syarat agar Hana mau menikah dengan saya saat itu setelah saya membiayai operasi Alan. Kalau ibu mau marah dan memperkarakan semua ini saya siap. Saya akan menjalani apa yang memang seharusnya saya jalani sebagai pelaku yang hampir saya menghilangkan nyawa anak ibu.”
Mendengar pengakuan Stefan Hana hanya bisa menundukkan kepalanya. Berbeda dengan ibu Alan yang merasa tersentuh karena Stefan mau mengatakan dengan jujur apa yang telah terjadi. Stefan juga mengakui dirinya bersalah dan siap menerima hukuman jika ibu Alan berniat menuntut.
“Terimakasih atas pengakuan anda tuan. Saya sangat menghargai itu. Mungkin anak saya tidak bisa begitu saja menerima apa yang telah menimpanya. Tapi tuan, saya datang kesini bukan untuk menuntut anda. Saya hanya ingin mendengar sendiri pengakuan dari anda. Lagi pula rasanya sangat tidak pantas jika saya masih menuntut sementara anda sudah bertanggung jawab. Anda bahkan juga sudah banyak membantu keluarga kami. Saya juga yakin Alan hanya butuh waktu untuk memikirkan semua yang telah terjadi. Dan tentang syarat yang tuan ajukan pada putri saya ini..” Ibu Alan meraih dan menggenggam tangan Hana membuat Hana langsung kembali menatapnya.
“Saya sangat yakin tuan. Mungkin itu adalah cara Tuhan mempertemukan anda dengan Hana.” Lanjut ibu dengan begitu bijak.
Stefan tersenyum tipis dan menganggukkan kepala mendengarnya. Pria itu merasa sangat lega sekarang karena ternyata kedatangan ibu Alan bukan untuk menuntutnya. Melainkan hanya ingin mendengar pengakuan secara langsung dari mulutnya.
Hana tertawa sambil menangis mendengarnya. Hana merasa sangat terharu mendengar ibu Alan menyebut dirinya sebagai putrinya.
“Dan untuk kamu nak.. Ibu selalu mendo'akan yang terbaik untuk kamu. Ibu yakin kamu akan bahagia bersama tuan Stefan.” Senyum ibu Alan menatap Hana yang menangis terharu menatapnya.
“Terimakasih bu.. Terimakasih.” Lirih Hana kemudian berhambur memeluk ibu erat.
__ADS_1
Ibu tersenyum dibalik punggung Hana. Wanita itu membalas dengan lembut pelukan erat Hana padanya.