
Malam ini Stefan tidak bisa memejamkan kedua matanya bahkan sampai larut malam. Stefan terus memikirkan ucapan dokter Rania tentang Alan. Stefan bahkan terus membayangkan bagaimana jika suatu saat nanti Alan datang dan membawa Hana pergi dari sisinya. Stefan merasa dirinya tidak akan bisa merelakan Hana pergi dari sisinya begitu saja. Stefan merasa terbiasa dengan Hana berada di sisinya.
“Hhh.. Bagaimana ini, kenapa dengan hati dan pikiranku?” Stefan bergumam pelan.
Hana bukan wanita yang Stefan merasa cintai. Tapi entah kenapa Stefan merasa sangat tidak rela jika harus merelakan Hana pergi dengan Alan. Rasanya ada denyutan ngilu di hati Stefan membayangkan Hana tersenyum pada Alan dan pergi bersama dengan tangan saling bertaut.
Stefan menoleh menatap Hana yang tidur disampingnya dengan sangat pulas.
Stefan berdecak. Merasa tidak nyaman karena pemikiran-nya sendiri, Stefan pun memutuskan untuk bangkit dari berbaringnya kemudian turun dan melangkah menuju pintu balkon. Stefan membuka pintu yang terbuat dari kaca tebal itu kemudian keluar dan berdiri di tepi balkon.
Stefan menarik napas dalam dalam dan menghembuskan-nya dengan kasar. Pria itu kemudian mendongak menatap lagi yang begitu gelap tanpa gemerlap bintang seperti biasanya.
Malam ini waktu terasa sangat panjang. Mungkin karena Stefan yang tidak kunjung merasakan kantuknya.
“Stefan..”
Stefan menolehkan kepalanya mendengar suara Hana. Pria itu mengeryit melihat Hana yang berdiri sambil mengucek kedua matanya di ambang pintu penghubung balkon.
“Kamu kok malam malam disini? Kenapa nggak tidur?” Tanya Hana dengan suara seraknya.
Stefan hanya diam saja. Pria itu kemudian kembali mengarahkan pandangan-nya pada langit gelap.
Sedangkan Hana, wanita dengan setelan piyama navy itu menghampiri Stefan dan berdiri tepat disampingnya.
“Langitnya nggak seindah biasanya. Nggak ada bintang.” Ujar Hana yang ikut mendongak menatap langit.
Stefan hanya tersenyum samar. Stefan juga tau itu. Langit gelap tanpa bintang karena suasana mendung malam ini.
“Kamu kenapa nggak tidur?” Tanya Hana lagi.
“Enggak papa kok. Nggak ngantuk aja.” Jawab Stefan pelan.
“Memangnya ada apa?” Hana kembali bertanya dan menatap Stefan yang terus mendongak menatap langit.
“Nanti kamu masuk angin loh Stefan. Udah nggak tidur terus malam malam begini diluar.”
__ADS_1
“Aku bukan laki laki lemah Hana.”
Hana berdecak. Stefan selain kejam juga sombong, pria itu selalu merasa hebat dan bisa melakukan apa saja yang dia mau.
“Memangnya yang bisa masuk angin cuma orang lemah doang apa? Justru yang cepet masuk angin itu orang yang kaya kamu ini. Orang gila kerja yang nggak pernah bisa membatasi waktu antara istirahat dan pekerjaan.”
Stefan mengeryit kemudian menoleh pada Hana yang melipat kedua tangan-nya di bawah dada. Sekali lagi Stefan menatap Hana dari samping.
“Hana..” Panggil Stefan pelan.
“Hemm..”
“Tentang Alan, boleh aku tau sesuatu tentang kalian?”
Hana menoleh cepat dan menatap tidak mengerti dengan Stefan. Hana pikir Stefan sudah tau segalanya tentang dirinya dan Alan.
“Apa lagi yang belum kamu tau tentang aku dan Alan? Bukan-nya kamu sudah mencari tau segalanya tentang aku dan Alan?” Tanya Hana bingung.
“Maksud aku bagaimana perasaan kamu sekarang pada Alan?”
“Perasaan aku sama Alan sekarang masih sama seperti yang dulu. Aku sayang sama dia makan-nya aku rela di samping kamu untuk Alan.”
Stefan mengangguk pelan. Secara tidak langsung apa yang terjadi pada Alan memang seperti sebuah keberuntungan untuknya. Karena dengan Alan mengalami itu Stefan bisa bertemu dengan Hana bahkan menikah dengan-nya.
“Alan itu orangnya baik. Dia suka menolong siapa saja yang butuh bantuan. Dia juga selalu ada buat aku dalam keadaan apapun. Nggak kaya kamu. Sombong, tukang maksa, selalu merasa hebat dan selalu melakukan apa apa semau kamu sendiri tanpa memikirkan orang lain. Itu egois tau namanya.”
Stefan tersenyum. Hana berani berkata begitu terus terang padanya. Hana bahkan sedikitpun tidak merasa ragu saat menjelek jelekkan-nya.
“Alan juga adalah kebanggaan keluarganya. Dia adalah tulang punggung. Dia membiayai sekolah kedua adiknya juga biaya berobat ibunya. Bahkan dengan keterbatasan-nya Alan selalu berusaha membahagiakan orang orang disekitarnya. Dan aku adalah salah satunya.” Senyum Hana mengingat bagaimana baiknya Alan pada dirinya.
“Kamu cinta banget sama dia?”
Hana tertawa mendengarnya. Sampai sekarang Stefan masih mengira bahwa hubungan-nya dengan Alan adalah hubungan sepasang kekasih.
“Memangnya kenapa kalau aku cinta banget sama Alan? Kamu cemburu?” Ledek Hana membalas tatapan Stefan.
__ADS_1
Stefan melengos merasa kesal dengan pertanyaan Hana.
“Jangan besar kepala kamu Hana. Kamu pikir kamu pantas sampai aku cemburu hanya karena kamu dan Alan? Lucu sekali.” Ujar Stefan sinis.
“Bagus deh kalau begitu. Itu artinya kamu nggak bisa melarang aku buat sering sering jengukin Alan, pacar aku.” Tambah Hana semakin memanas manasi Stefan.
Stefan melirik kesal pada Hana. Mendengar Hana mengatakan secara gamblang bahwa Alan adalah pacarnya, itu membuat Stefan merasa sangat panas.
“Kamu pikir aku cemburu?” Tanya Stefan tidak mau diremehkan oleh Hana.
Hana tertawa mendengar apa yang Stefan pertanyakan padanya. Wanita itu menggeleng kemudian menepuk sedikit keras lengan kekar Stefan.
Hal itu membuat Stefan kaget karena sambil menertawakan-nya Hana bahkan berani memukul lengan-nya.
“Kamu...”
“Ya enggak lah. Aku juga tau kamu nggak bakal cemburu. Kamu ada ada aja deh..” Ujar Hana sambil menutup mulutnya dengan sisa tawanya.
Stefan melengos lagi. Mungkin pertanyaan yang Stefan lontarkan pada Hana itu lebih pantas Stefan pertanyakan sendiri pada dirinya. Karena Stefan merasa dirinya sangat kesal saat Hana menyebut Alan sebagai pacarnya.
“Aku sama Alan itu sahabatan sejak kecil. Kami selalu bersama kemana mana bahkan sebelum Alan kecelakaan malam itu kami berdua juga abis main main di pasar malam.”
Mendengar apa yang Hana ceritakan padanya Stefan pun menyimak dengan serius. Stefan bahkan menatap wajah cantik Hana dari samping dengan penuh perhatian.
“Apa yang kamu bilang tentang aku dan Alan itu salah. Kami nggak pacaran. Tapi kami lebih dari pacaran. Kami sahabat dekat bahkan sampai keluarga Alan sudah seperti keluarga aku sendiri. Aku sayang sama mereka. Makan-nya aku rela disini demi mereka.” Lanjut Hana tersenyum tulus.
“Bukan pacar tapi sahabat yang sangat dekat bahkan sampai rela berkorban demi Alan. Apa itu artinya kamu diam diam mencintai dia?”
Hana menoleh menatap Stefan yang dari tadi memang terus menatapnya. Wanita itu berdecak dengan ekspresi kesal yang entah kenapa membuat Stefan merasa sangat gemas ingin mencubit pipi chuby nya.
“Aku? Cinta sama Alan? Ya enggak lah. Aku itu udah anggap mereka semua keluarga. Mana mungkin aku mencintai Alan diam diam. Aku nggak segila itu ya..”
Stefan menghela napas merasa sangat lega. Pria itu meluruskan pandangan-nya kedepan dengan senyuman samarnya. Stefan merasa sangat puas dan senang mendengar sendiri bahwa Hana tidak mencintai Alan.
“Cerita kamu membosankan. Aku sampai ngantuk.” Ujar Stefan kemudian berlalu dari balkon dan masuk kembali kedalam kamar dengan senyuman lebar yang menghiasi bibirnya meninggalkan Hana yang mendelik sebal karena ucapan-nya.
__ADS_1
“Dasar bule songong.” Gerutu Hana merasa sangat kesal pada suaminya.